
Seusai membayar belanjaannya di kasa Mira berjalan ke luar minimarket dan mendatangi Dhewi yang sudah menunggunya duduk di bangku depan minimarket. Mira sebenarnya ragu, namun apa boleh buat. Wanita itu bahkan mengumbar senyum manisnya saat melihat Mira berjalan ke arahnya.
"Duduk dulu, Mir!" titah Dhewi saat Mira telah berada di hadapannya.
Dengan malas Mira menggeser kursinya kebelakang, kemudian mendudukkan diri di sana. Kantong belanjaan yang isinya tak seberapa karena Dhewi datang sebelum ia menyelesaikan acara belanjanya, di taruhnya di kursi kosong yang berada di sampingnya. Dhewi dengan setia menantinya hingga Mira siap untuk mendengarkan kisahnya.
"Tak terasa sudah enam bulan berlalu dari pertemuan kita yang terakhir ya, Mir? Aku bahkan sampai menangis dan mengemis padamu untuk melepaskan Jonathan agar menikahiku," ujar Dhewi memulai pembicaraan dan mengingatkan kembali tentang kenangan pahit waktu itu.
"Hhhhh ...!" Mira membuang muka ke samping, kemudian menghembuskan nafas kasarnya jengah.
"Lo di suruh Jona buat bicara sama gue?" tanya Mira to the point, "Kalian itu pasangan yang cukup aneh, ya!" ungkap Mira ceplas-ceplos.
"Hhhhahaha ... !" Dhewi tertawa dan semakin terlihat aneh, "Jadi menurutmu, dia yang menyuruhku?" tanya Dhewi lagi.
"Lantas apa keinginanmu dengan bicara sama gue?" tanya Mira dengan ketus.
"Oke, aku mulai ceritanya dari awal, ya!" Dhewi menjeda perkataannya. "Jadi sebulan setelah pertemuan kita saat itu akhirnya Nathan mau menikahi aku. Meskipun sudah menikah tapi kami tinggal terpisah. Aku tinggal bersama keluarga Nathan, sedangkan Nathan tinggal di kosannya, dan hanya sesekali pulang di siang hari dan ketika malamnya akan kembali ke kosannya. Aku akui Nathan dan keluarganya cukup baik sama aku, tapi aku tidak mendapatkan kebahagiaan seperti rumah tangga yang sesungguhnya. Sebab, antara Nathan dan aku tidak saling mencintai--- dan tak berapa lama saat usia kehamilanku meginjak tiga bulan aku mengalami keguguran." Mira terlihat kaget saat mendengarnya. "Sebenarnya Nathan adalah suami yang cukup perhatian saat aku hamil, maupun saat aku sedang mengalami keguguran ia pun menemaniku di rumah sakit. Namun, hubungan di antara kita lebih seperti patner saja. Sebulan setelah keguguran aku memutuskan untuk kembali ke kosanku karena aku merasa sungkan dengan orang tuanya. Aku dan Nathan pun semakin sibuk sendiri dan bisa dikatakan tidak pernah bertemu. Akhirnya sebulan yang lalu kami memutuskan untuk bercerai. Dan hari ini aku telah resmi bercerai dengan Nathan. Tadi selepas dari sidang perceraian Nathan hendak mengantarkan aku pulang. Saat aku meminta mampir ke minimarket tidak tahunya malah bertemu denganmu. Begitulah ceritanya, Mira," tutur Dhewi panjang lebar.
"Lagian itu salah kalian sendiri, kenapa harus hidup terpisah kalau sudah menikah? aneh banget deh!" ujar Mira menanggapi, "Seharusnya kalian tinggal bersama dan mencoba untuk saling melengkapi!"
"Tentu saja karena kami tidak saling mencintai. Sebab yang ia cintai adalah kamu, Mira. Aku pun tidak menyalahkannya, sebab aku pun mencintai orang lain. Aku berniat berbicara ini padamu karena aku merasa bersalah ikut andil dalam penyebab putusnya hubungan kalian. Dan, agar kamu tahu jika yang Jonathan cintai hanyalah kamu. Tapi semua kembali padamu, yang jelas aku hanya ingin kamu tahu apa yang terjadi selama ini," tutur Dhewi menjelaskan.
Mira terdiam mencerna kata-kata Dhewi barusan. Ada rasa senang saat mendengarnya, jika Jonathan masih mencintainya dan tidak lagi menyentuh Dhewi meskipun mereka sudah menikah. Namun, tetap saja goresan luka yang ditorehkan Jonathan padanya saat itu sulit untuk diterima akal sehatnya. Berulang kali disakiti cukup menguras hati dan jiwanya untuk menerima kembali Jonathan.
"Jonathan itu laki-laki yang bertanggung jawab. Semua orang pernah melakukan kesalahan. Jika kamu masih mencintainya juga, berusahalah untuk memaafkannya dan mulailah dari awal. Abaikan masa lalunya sebagai pelajaran berharga dan lihatlah kedepan untuk masa depan yang lebih baik. Aku pulang dulu ya, Mir. Udah mau maghrib nih."
Dhewi menggeser kursinya ke belakang, kemudian beranjak berdiri dan mengusap bahu Mira sembari berucap, "Pikirkan baik-baik. Duluan ya, Mir!"
Dhewi pun berlalu meninggalkan Mira sendiri.
****
__ADS_1
Matanya mengerjap saat kesadarannya mulai kembali. Reyna telah siuman dari pingsannya. Dia terduduk sembari memegangi kepalanya yang terasa pening. Adzan maghrib berkumandang menandakan hari mulai menjelang malam. Reyna beranjak berdiri ke luar kamar untuk mencari Reynand.
Saat menutup pintu kamarnya dan berbalik betapa terkejutnya Reyna saat menyaksikan ada seorang laki-laki yang berada tidak jauh dari hadapannya, yang sedang memanggul tubuh putranya yang terlelap di bahu laki-laki itu.
"Aduh Reynand keasyikan main sampai tertidur begini," ujar nenek sembari mengelus punggung cicitnya itu. "Minta tolong ditidurkan di kamar saya sekalian ya, nak Abi!"
Nenek beranjak hendak menuju kamarnya. Namun, terhenti saat melihat Reyna berdiri mematung di depan pintu kamarnya.
"Reyna ... kamu sudah siuman? syukurlah!" ujar nenek sembari tersenyum ke arah Reyna.
Reyna berjalan mendekat, "Ehm ... Reynand biar sama saya saja. Terima kasih sudah menjaganya!" Reyna melirik sekilas ke arah Abiyu, kemudian mengambil alih Reynand.
Abiyu hanya diam memandang wanita di depannya itu, hingga Reyna berlalu kembali ke dalam kamarnya.
"Sabar ya, nak Abi. Nenek akan bantu untuk membujuk Reyna!" ujar nenek.
"Terima kasih, Nek!" jawab Abiyu sembari tersenyum tipis.
"Iya, Om," jawab Abiyu singkat.
"Kami pergi dulu ya, Ma!" ujar Reza pada ibunya.
Nenek mengangguk sembari tersenyum menyaksikan keakraban mereka.
"Ma, aku tidak setuju jika Reyna menikah lagi dalam waktu dekat!" ujar Lena yang baru saja muncul dari dalam kamarnya.
"Memangnya kenapa, Len?" tanya nenek.
"Reynand masih terlalu kecil, Ma. Bagaimana jika Reynand terabaikan ketika Reyna menikah dan memiliki anak lagi? aku rasa ini terlalu cepat meskipun itu permintaan dari Rangga!" Lena menjeda kalimatnya. "Baru juga enam bulan yang lalu Rangga meninggal. Apa hal itu tidak terlalu cepat? tidak bisakah menunggu hingga Reynand berusia dua tahun, misalkan?" Lena bernegosiasi untuk mengulur waktu. Sebab dia sangat menghawatirkan cucunya itu.
"Mama yakin Reyna bukan seorang ibu yang tega menelantarkan anak kandungnya. Terlebih nak Abi itu cukup sabar lho selama ini diabaikan oleh Reyna saja dia tetap bertahan dan masih setia. Coba jika laki-laki lain, belum tentu mau menunggu Reyna hingga selama itu saat diabaikan, terlebih Reyna bukan gadis lagi melainkan janda beranak satu. Mama yakin nak Abi bisa menjaga Reyna dengan baik," tutur nenek panjang lebar.
__ADS_1
"Terserah Reyna saja lah, Ma. Saya cuma belum rela saja jika Reyna menjadi menantu orang lain. Terlebih mengingat Reynand masih kecil!" Lena beranjak pergi menuju dapur dan meninggalkan nenek begitu saja
Nenek menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan menantunya itu.
****
Usai dari masjid, Reza mengajak Abiyu makan bersama. Tidak ada raut kebahagiaan dikeluarga ini. Semua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Terlebih hingga saat ini Lala belum pulang dan masih tidak bisa dihubungi. Seusai makan Reza dan Abiyu bergegas berangkat untuk mencari Lala.
Abiyu menyarankan untuk mendatangi rumah Lala yang tempatnya agak jauh dari kota. Hanya itu satu-satunya yang Abiyu tahu tentang Lala. Lala pernah memberitahukan alamat tempat tinggal Parlan yang rumahnya bersebelahan dengan rumah orang tuanya. Reyna tadinya ingin ikut, tapi Reza melarangnya. Akhirnya Reza berangkat berdua saja dengan Abiyu. Mobil Abiyu pun berlalu meninggalkan rumah Reyna.
Hampir dua jam berkendara menuju jalan pedesaan yang sempit, akhirnya mereka sampai di desa tempat Lala tinggal. Setelah bertanya dengan berulang kali mengenai alamat rumah Lala akhirnya mereka hampir sampai di kediaman orang tua Lala.
Namun, begitu melihat rumah Lala dijaga ketat oleh dua orang preman di bagian depan teras rumah Lala, Abiyu tidak jadi berhenti, melainkan melewati rumah itu dan berhenti agak jauh dari rumah Lala.
"Om, rumah Lala ada penjaganya. Bagaimana ini, Om?" tanya Abiyu pada Reza.
"Iya, Bi--- sepertinya mereka bukan orang baik-baik. Jika kita nekat ke sana itu artinya kita harus melawan mereka!" tutur Reza dengan cemas.
"Begini saja, Om. Saya akan meminta bantuan teman saya yang menjadi TNI. Dia bertugas sebagai Babinsa yang areanya di sekitaran desa ini."
Reza sejenak berpikir. "Baiklah!"
Abiyu akhirnya menghubungi temannya tersebut. Beruntung temannya sedang selesai berjaga dan hendak pulang. Sehingga bisa segera menuju ke lokasi yang di kirimkan oleh Abiyu. Kini Reza dan Abiyu hanya bisa menunggu sembari mengawasi keadaan rumah Lala dari kejauhan.
___________________Ney-nna__________________
...Please Like 👍...
...Leave a Coment 🤗...
...Give a gift & vote 🌹...
__ADS_1
...Tank you! 🙏💕💕💕...