
Reyna mondar-mandir ke sana ke mari tatkala waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Sedari siang Lala tidak memberi kabar jika akan pulang terlambat. Dan, saat Reyna mencoba menghubungi handphone Lala tidak aktif.
Kali Ini pertama kalinya Lala membuatnya khawatir. Sebelumnya Lala akan memberi tahu terlebih dahulu kepada Reyna jika akan mampir ke suatu tempat untuk membeli sesuatu, atau ada pelajaran tambahan yang memungkinkan ia terlambat pulang. Namun, kali ini Lala tidak ada kabar sama sekali.
"Gimana, Reyn? Belom ada kabar dari Lala?" tanya nenek.
"Belum, Nek. Gak biasanya juga Lala pulang terlambat, Nek."
"Kamu harus lebih tegas sama anak itu, Reyn. Jangan-jangan dia mulai pacaran hingga lupa waktu!" tuduh mami.
"Gak mungkin, Mi. Setahu Reyna, Lala tidak punya pacar. Biasanya juga Lala pulang tepat waktu kok, Mi. Setiap jam tiga, dia sudah ada di rumah. Justru Reyna khawatir jika terjadi sesuatu sama Lala." Reyna merasa sangat cemas dengan situasi ini.
"Tenang dulu, Reyn. Mungkin saja handphonenya low batt." Nenek mencoba berpikir positif.
Meskipun Lala dan dirinya tidak memiliki hubungan darah, namun keduanya sudah sangat dekat seperti saudara kandung yang saling menjaga dan menyayangi.
Lala adalah adik, teman, sekaligus seorang sahabat yang baik bagi Reyna. Ia selalu ada disaat Reyna membutuhkan bantuan. Lala juga bisa menjadi pendengar yang baik saat Reyna butuh teman untuk berbagi keluh kesah, meskipun Lala tidak bisa memberikan saran.
Hal itu bisa dimaklumi sebab Lala masih anak yang baru beranjak remaja yang pastinya belum mengetahui tentang permasalahan kehidupan berumah tangga. Namun, anak itu cukup mandiri jika dibandingkan dengan anak seusianya. Tak sekalipun Lala membantah apa yang diperintahkan oleh Reyna maupun nenek.
Saat Reyna melihat ke arah luar, nampak sebuah mobil terparkir di halaman rumahnya. Sebuah mobil yang tak asing lagi siapa pemiliknya.
Nampak Reza dan Abiyu ke luar dari dalam mobil. Kemudian mereka berjalan mendekat menuju teras di mana saat ini Reyna berada.
"Assalamu'alaikum!" ujar papi Reza setibanya di muka teras rumah.
"Waalaikumussalam!" ujar Reyna dan langsung menyalami tangan ayah mertuanya tersebut dengan menempelkan punggung tangan ke keningnya.
"Papi, masuk ke dalam dulu ya, Reyn? Tentang apa yang kamu tanyakan tadi pagi sama Papi--- kamu bisa menanyakan hal itu langsung kepada Abiyu. Sehingga lebih jelas ketimbang Papi yang menjelaskan. Papi percaya kalian cukup dewasa untuk mengambil jalan yang terbaik kedepannya!" ujar Reza kemudian berlalu menuju ke dalam rumah.
Reyna mengernyitkan dahi, sebagai tanda tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh ayah mertuanya. Reyna memandang heran ke arah Reza yang menjauh dari pandangan dan meninggalkan mereka berdua di teras depan.
Reyna mengalihkan pandangannya ke arah Abiyu yang masih setia berdiri di hadapannya, menunggu aba-aba dari si pemilik rumah.
"Silahkan duduk, Kak!" ujar Reyna yang mencoba ramah, yang kemudian duduk ke bangku yang berada di sampingnya, setelah Abiyu mengangguk dan mendudukkan diri di bangku yang lain.
"Gimana tadi di kantor polisi? Apa Jono mau mengaku tentang siapa yang telah menyuruhnya, Kak?" tanya Reyna to the point tanpa menawarkan minum terlebih dahulu.
"Iya ... dia mengaku jika yang menyuruhnya adalah mantan pacar Rangga, namanya Putri," ujar Abiyu.
__ADS_1
"Putri!" seru Reyna yang begitu terkesiap mendengar nama Putri di sebut.
Reyna tidak menyangka jika Putri setega itu ingin melukai Rangga, sebab dulu terlihat sekali jika Putri sangat menginginkan suaminya untuk kembali padanya.
Apa motif Putri mencelakai Rangga! batin Reyna bertanya-tanya.
Dadanya terasa sesak mengingat kematian suaminya yang harus berakhir tragis dengan cara tidak wajar. Ia heran, mengapa Putri selalu berusaha untuk menghancurkan pernikahannya dengan Rangga. Bahkan baru sejenak ia merasakan kebahagiaan dapat memiliki keluarga kecil yang lengkap. Kini hilang sudah harapan yang pernah ia gantungkan setinggi-tingginya pada pemilik semesta alam dan seluruh isinya.
Kelopak matanya mulai memupuk air mata yang hampir pecah, namun sebisa mungkin ia menahannya, agar tidak terlihat betapa rapuhnya dirinya di depan laki-laki di sampingnya.
"Kamu yang sabar ya Reyn, Putri pasti akan segera ditemukan," ujar Abiyu mencoba menghibur Reyna saat melihat kesedihan di mata perempuan yang dicintainya dalam diam.
Mendengar kata-kata Abiyu Reyna menjadi ingat akan suatu hal. "Kak Abi, tau dari mana tempat persembunyian Jono?"
"Emm... maafkan aku, Reyn! Saat kamu bertemu dengan Jono di dekat beringin kembar sore itu, sebenarnya aku berada di sana. Aku sedang mengikutimu. Kemudian setelah kamu pulang aku mengikuti Jono hingga ia berada di rumah seorang perempuan, " ujar Abiyu jujur.
"Jadi selama ini kak Abi mengikutiku?" tanya Reyna dengan nada sedikit meninggi.
"Maafkan aku, Reyn. Aku hanya ingin menjagamu tanpa mengganggumu, " tutur Abiyu dengan lirih.
"Untuk apa Kakak melakukan itu? Aku bisa menjaga diriku sendiri, Kak!" Reyna merasa kesal dan semakin tak mengerti dengan tindakan Abiyu.
"Semua itu karena nak Abiyu peduli padamu Reyna!" ujar nenek yang tiba-tiba muncul dari dalam sembari membawa nampan yang berisi secangkir teh hangat untuk Abiyu.
Nenek menaruh nampannya ke atas meja yang memberi jarak antara Reyna dengan Abiyu. "Ayo di minum dulu, Nak!" ujar nenek.
"Terima kasih, Nek!" Abiyu mengambil cangkir dari atas meja dan meneguknya secara perlahan.
Nenek duduk di bangku panjang yang berada di hadapan mereka. Reyna merasa bersalah kepada nenek karena sengaja tidak memberi minum kepada Abiyu agar ia tidak berlama-lama berada di rumahnya.
"Saya rasa sekarang sudah tiba waktunya untuk mengatakan yang sesungguhnya kepada Reyna, nak Abi!" ujar nenek sembari memandang ke arah Abiyu.
Waktunya untuk mengatakan yang sesungguhnya? Apa maksud dari perkataan, nenek? Berarti benar dugaan aku selama ini kan, ada yang papi, nenek, dan kak Abi sembunyikan dariku! batin Reyna yang semakin penasaran.
"Detik-detik terakhir sebelum Rangga kehilangan kesadaran, Rangga meninggalkan sebuah pesan kepada nak Abi, Reyn."
Nenek mencoba memulai apa yang sulit diutarakan oleh Abiyu.
"Pesan apa? Kenapa kalian tidak memberi tahukan padaku sejak dulu? Kenapa baru sekarang kalian hendak memberitahukan hal itu padaku!?" Reyna mulai kesal sebab hanya ia yang tidak mengetahui pesan terakhir suaminya.
__ADS_1
"Tenang dulu, Reyn ...," nenek mencoba menenangkan Reyna yang mulai tersulut emosi dan hendak menangis.
Flashback On.
Ciiiiiiiiiiittttttttttt ... Braaakkkkkkk!
Terjadi kecelakaan tunggal yang mengakibatkan sebuah mobil menabrak pembatas jalan.
Abiyu segera menepikan mobilnya saat melihat langsung kejadian di depannya. Lantas ia keluar dari dalam mobilnya menuju kerumunan di depannya.
Netranya terkesiap saat menyaksikan sosok laki-laki yang menjadi korban kecelakaan tunggal tersebut. Rangga!
Seketika ia mendekat pada mobil naas itu dan mendekati pengemudinya.
"Rangga, bertahan lah sebentar. Aku akan membawamu ke rumah sakit!" ujar Abiyu.
"A-- ada yang mensabotase mobilku!" ujar Rangga.
"Sabotase!?" pekik Abiyu terkejut.
Rangga mengangguk pelan.
"Baik ... saya akan mengatakan hal ini ke pihak berwajib!" ujar Abiyu.
"M-- maaf, aku merebut Reyna, darimu!" ujar Rangga dengan susah payah.
"Merebut!? Apa maksudmu?" tanya Abiyu terkejut.
"A-- aku yang meminta pada kakek saat itu!" ujar Rangga dengan terbata-bata, "T-- tolong lindungi Reyna saat aku tak ada! A-- aku kembalikan Reyna pa-da-mu!" seketika Rangga tak sadarkan diri setelah mengatakan itu.
Hal itu disaksikan oleh orang-orang yang berada di tempat kejadian berlangsung. Kemudian ambulan dan polisi datang. Rangga segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Flashback Off.
"Enggak! Kak Abi pasti bohong! Rangga tidak mungkin berbicara seperti itu!" Reyna shock dan berteriak tidak mempercayainya setelah mendengar penuturan dari Abiyu, "Kalian pasti bohong! Itu tidak mungkin! Aku nggak akan peecaya ...."
Reyna meluapkan emosinya sembari menangis histeris, hingga tak berapa lama ia pingsan.
___________________Ney-nna__________________
__ADS_1