
Reyna merasa ada yang aneh dengan orang rumah. Sedari pagi suaminya seperti sangat sibuk menelepon sembari mondar-mandir, begitu pun dengan bunda Maya dan Fely yang terlihat sangat sibuk.
"Kak, kenapa Bunda dan Fely tidak berangkat ke resto?" tanya Reyna.
"Entahlah, Sayang. Mungkin Bunda sedang ada job di luar," jawab Abiyu masih sibuk degan handphone ditangan.
"Kak Abi dari tadi pegang HP terus sih ... sibuk banget ya?" tanya Reyna yang merasa jika suaminya pun sama sibuknya hingga dia merasa jenuh karena Abiyu seolah tak lepas dari handphone di tangan.
Abiyu menoleh kepada istrinya yang cemberut seolah mengerti jika saat ini istrinya merasa bosan.
"Maaf ya, Sayang. Hari ini aku ada pekerjaan yang sangat urgent. Begini saja, daripada jenuh di rumah kamu mau aku antar ke ruko?" tanya Abiyu kepada istrinya.
"Emm ... enggak, Kak. Aku mau bertemu Reynand saja. Sudah beberapa hari tidak bertemu dengan Reynand rasanya rindu dengan anak itu," tutur Reyna dengan wajah penuh harap.
Melihat istrinya yang mengiba membuat Abiyu tidak tiga karena ingin bertemu dengan anaknya. Sejenak Abiyu berpikir hingga merasa ini cara yang tepat untuk mengalihkan perhatian Reyna, sehingga dia lebih leluasa untuk mengurus persiapan acara nanti malam.
"Baiklah aku akan mengantarmu ke sana, Sayang. Bersiaplah!" tutur Abiyu dengan tersenyum saat melihat istrinya kembali dengan mode ceria.
"Oke, terima kasih, Kak!" tutur Reyna kemudian memberi kecupan singkat di pipi suaminya.
Saat Reyna hendak beranjak bangkit untuk bersiap-siap, dengan cepat Abiyu menahannya dengan memegangi legan tangan istrinya.
"Kecupan di pipi saja tidak cukup, Sayang!" tutur Abiyu sembari menarik tubuh istrinya hingga kembali terjatuh di sofa yang tadi didudukinya.
"Lalu harus dengan apa lagi?" ujar Reyna berpura-pura bertanya meskipun sebenarnya dia sudah mengerti apa yang diinginkan suaminya.
"Aku mau yang ini!" ujar Abiyu sembari menyapu lembut bibir istrinya dengan ibu jarinya.
"Yakin hanya itu?" tanya Reyna ingin menggoda suaminya.
Abiyu tercengang dengan pertanyaan istrinya.
Apa dia sedang menggodaku? baiklah aku akan meninggalkan sejenak urusanku dan bermain-main sebentar dengannya! ucap Abiyu di dalam hati.
"Tidak ... aku mau semuanya!" ucap Abiyu sembari mencondongkan badannya ke depan dan menarik pinggang istrinya untuk memutus jarak antara keduanya sedangkan tangan kirinya memegangi tengkuk leher istrinya agar semakin mendekat ke arahnya.
Abiyu membenamkan wajahnya pada bibir istrinya yang telah menjadi candu baginya. Hingga dia tidak mempedulikan handphonenya yang tadi ditaruhnya di atas nakas terus bergetar.
Reyna juga tidak membiarkan suaminya bekerja sendirian, dia membalas ciuman dari suaminya dengan sangat lihai. Hingga tautan itu semakin dalam. Namun, aktivitas mereka harus terhenti tatkala ada bunyi ketukan di pintu.
Tok tok tok.
"Kak, di panggil bunda suruh ke bawah!" teriak Fely dari balik pintu.
"****!" umpat Abiyu saat terpaksa harus menyudahi aktivitasnya dengan sang istri.
"Iya, sebentar lagi aku ke bawah!" seru Abiyu menanggapi perkataan adiknya.
Abiyu memandang gemas kepada istrinya yang cekikikan menertawakannya.
"Sabar ya, Kak!" ujar Reyna sembari mengusap lembut dada suaminya.
"Huft ... aku akan menagihnya nanti malam!" tutur Abiyu sembari mencubit kecil hidung istrinya.
"Iya, sudah sana temui bunda dulu!" perintah Reyna sembari mendorong pelan lengan Abiyu.
Abiyu menghela napasnya dengan kasar. Dengan berat hati dia beranjak berdiri dan melangkah ke luar dari kamarnya meninggalkan istrinya di kamar. Sedangkan Reyna bergegas bersiap untuk pergi bertemu Reynand.
****
Di kediaman Hadi Jaya.
Reyna dan Abiyu telah sampai di pelataran kediaman Hadi Jaya. Reyna dan Abiyu turun dari mobil, kemudian beranjak menuju teras rumah. Terlihat nenek dan yang lainnya berada di tempat biasa yang menjadi favorit mereka dikala pagi.
"Assalamualaikum," tutur Abiyyu dan Reyna hampir bersamaan kemudian menyalami nenek.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Reina kepada Ibu mertuanya, kemudian dia mencium pipi anaknya yang saat itu sedang berada dalam gendongan Lena.
Melihat kedatangan mamanya Reynand mengulurkan tangannya meraih baju mamanya, minta untuk digendong, dengan sigap Reyna merengkuh tubuh mungil anaknya ke dalam gendongannya.
__ADS_1
"Mama ...," ucap sang anak sembari mengalungkan tangannya pada leher Reina.
"Iya, Sayang. Mama sangat merindukan Reynand," tutur Reyna kepada putranya.
Reyna mengusap lembut pada punggung anaknya, kemudian dia menciumi wajah sang anak dengan penuh sayang. Rena mengajak sang anak untuk bermain-main dan keceriaan melingkupi keduanya.
Melihat Reyna asyik bermain dengan anaknya, Abiyu memanfaatkan hal itu untuk memberitahukan rencananya nanti malam kepada Lena dan nenek. Abiyu berharap mereka datang membawa Reynand ke tempat acara berlangsung.
"Tante, Nek, saya mohon tolong rahasiakan rencana ini dari Reyna, ya?" pinta Abiyu kepada nenek dan Lena.
"Baik Nak Abi, semoga persiapan untuk acara nanti malam lancar," ujar nenek mendoakan kelancaran rencana Abiyu.
"Terima kasih atas doanya, Nek. Jika tidak keberatan saya ingin menitipkan Reyna di sini hingga nanti sore, sebab saya harus mendatangi lokasi acara untuk memastikan semuanya berjalan dengan baik," tutur Abiyu meminta tolong.
"Baik, Bi. Tinggalkan saja Reyna di sini bersama kami, semoga persiapannya dilancarkan," tutur Lena menanggapi.
"Terima kasih, Tante," tutur Abiyu kemudian beranjak berdiri.
Usai berpamitan kepada istrinya, Reynand dan yang lain, Abiyu meninggalkan kediaman Hadi Jaya.
Seharian itu Reyna mengurus anaknya sebagaimana seharusnya seorang ibu kepada sang anak. Reyna sangat menikmati aktivitasnya bersama Reynand hingga menjelang sore.
Pukul 15.00 Abiyu datang kembali untuk menjemput istrinya. Saat melihat Reyna berjalan menjauh hendak pulang Reynand menangis tidak ingin ditinggalkan. Akhirnya Reyna kembali menenangkan sang anak sampai Reynand bisa tenang. Abiyu turut mengajaknya bermain hingga anak itu kembali ceria.
Setelah beberapa saat, Lena membawa cucunya masuk ke dalam rumah untuk mengalihkan perhatian Reynand. Disaat itu Lena dengan bahasa tubuh meminta Reyna dan Abiyu untuk segera pergi. Dengan berat hati Reyna menuruti keinginan mami untuk pulang tanpa membawa Reynand.
"Besok Reynand akan pulang bersama kita, Sayang. Jangan khawatirkan hal itu, hanya untuk kali ini saja biarkan Reynand tetap tinggal di sini," bujuk Abiyu kepada istrinya.
"Benar ya, Kak? aku sudah tidak sanggup kalau harus berjauhan dengan Reynand lagi, ketika memeluk anak itu aku merasakan ada ikatan batin yang sangat kuat di antara aku dan Reynand, aku tidak mampu untuk berpisah dengannya lagi!" tutur Reyna mengungkapkan perasaannya.
"Iya, Sayang. InsyaAllah Reynand akan segera kembali kepada kita untuk seterusnya," bujuk Abiyu agar Reyna bersabar hingga malam nanti.
Mobil segera melaju meninggalkan kediaman Hadi Jaya.
****
Abiyyu kemudian pergi setelah mengantar Reyna bersama dua orang beauty therapist ke kamarnya. Awalnya Reyna sempat bingung mengapa harus melakukan sejumlah perawatan di tubuhnya. Namun, akhirnya dia menurut saja karena ini adalah perintah bunda. Reyna hanya bisa pasrah dan mengikuti segala instruksi yang diberikan oleh seorang terapis.
Sepanjang proses yang dilakukan Reyna tidak menaruh curiga, sebab terapisnya mengatakan jika bunda juga melakukan yang sama tadi sebelum Reyna datang. Akhirnya Reyna menepis keraguan dan mencoba untuk menikmatinya, sebab hal itu memberikan ketenangan dan kenyamanan bagi tubuhnya dan berpikir ini adalah bentuk perhatian dari ibu mertuanya kepadanya.
Seusai menjalani perawatan tubuh, adzan maghrib berkumandang. Reyna melaksanakan salat di kamar sendirian. Seusai salat Abiyu juga belum kembali sejak sore tadi. Reyna hendak keluar kamar untuk mencari suaminya, bersamaan dengan itu Bunda datang dan mengajak untuk makan malam bersama.
Sesampainya di meja makan tidak terlihat Abiyu, Reyna pun bertanya-tanya ke mana perginya sang suami, kemudian dia bertanya kepada bunda.
"Abiyu sedang ada urusan, nanti kamu ikut bunda untuk mendatangi sebuah acara pesta pernikahan kerabat Bunda ya, Reyn?" tutur bunda kepada Reyna.
"Baik, Bun. Kak Abi tidak ikut, Bun?" tanya Rena kepada Bunda Maya.
"Abi sudah berada di lokasi, Abiyu didapuk menjadi panitia acara," tutur bunda menjelaskan.
"Oh, begitu!"
Reyna masih tidak menyimpan curiga, dia percaya dengan apa yang dikatakan Bunda dan kembali menyantap makanannya.
Seusai makan Bunda datang ke kamar Rena dengan membawa seorang MUA (make up artist).
"Reyn, Mbak ini yang akan membantu kamu bersiap-siap untuk datang ke acara bersama Bunda, kenakan baju ini untuk datang ke acaranya nanti, ya!" perintah Bunda sembari menyerahkan sebuah kotak besar dan sebuah kotak kecil di atasnya kepada Reyna.
"Baik, Bun!" Reyna menurut saja.
Bunda berlalu pergi meninggalkan Reyna dengan seorang MUA. Reyna kemudian membuka kotak besar tersebut, saat dibuka isinya ternyata sebuah gaun yang sangat cantik berwarna putih lengkap dengan khimar dan cadar, sedangkan pada kotak kecilnya berisi sebuah sepatu yang hanya setinggi tiga centi, berwarna putih yang nampak cantik untuk mempermudah Reyna berjalan di saat kehamilannya.
"Gaun yang sangat cantik, apa ini tidak berlebihan ya, Mbak? menurutku seperti gaun pengantin," gumam Reyna sembari membuka lipatan gaunnya dan mengangkatnya setinggi bahunya.
"Saya tidak tahu, Mbak," ucap sang perias.
"Memangnya kenapa harus didandani, Mbak? wajah saya kan tidak akan terlihat saat mengenakan cadar," protes Reyna kembali saat perias akan merias wajahnya.
"Saya hanya diminta untuk membantu berpakaian dan memakaikan aksesorisnya saja, Mbak. Make up nya juga hanya sederhana kok mbak Reyna tenang saja bahan-bahannya juga halal setelah dirias Mbak Reyna bisa tetap melaksanakan salat isya sebelum berangkat ke tempat acara," ujar seorang perias menjelaskan.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu saya wudhu dulu ya, Mbak?" tutur Reyna kepada sang perias kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Reyna merasa agak curiga dengan hal ini namun akhirnya dia tetap melakukan apa yang diperintahkan oleh periasnya.
Seusai dirias, Reyna berganti baju dengan gaun putih yang tadi diberikan oleh Bunda. Gaunnya sangat longgar tidak membentuk lekuk tubuh namun nampak elegan dan mewah dengan taburan swarovski pada bagian tertentu pada gaunnya, khimarnya juga panjang terdiri dari dua lapis, namun terlihat mewah dan jatuh saat dikenakan. Pakaian yang dikenakan menutup semua aurat dan juga tidak menerawang meskipun berwarna putih terakhir Reyna mengenakan manset ditangannya.
Adzan berkumandang Reyna segera melaksanakan salat isya' di kamarnya. Seusai melaksanakan salat sang perias kembali membantu Reyna mengenakan cadar di wajahnya. Terakhir perias itu memakaikan sebuah mahkota kecil di atas kepala Reyna.
"Kenapa harus dipakaikan ini, Mbak?" tanya Reyna bingung dengan penampilannya saat ini, ketika dilihatnya di cermin, dia bak seorang pengantin.
"Saya tidak diijinkan untuk menjawabnya, Mbak. Nanti Mbak Reyna akan tahu sendiri saat sudah sampai di lokasi acaranya," tutur sang perias kepada Reyna.
Tok tok tok!
Reyna berjalan untuk membukakan pintu. Nampak bunda dari balik pintu. Bunda juga mengenakan gamis yang cantik berwarna milo yang cukup mewah dan bagus seolah siap untuk menghadiri pesta hajatan yang mewah.
"Kamu sudah selesai, Reyn? ya ampun cantik sekali menantu Bunda!" ujar Bunda sembari melihat reyna dari atas sampai bawah.
"Kita mau ke mana,Bun?" tanya Reyna.
"Sebentar lagi kamu akan tahu, jika sudah selesai bersiap, ayo kita berangkat sekarang!" tutur bunda kepada Reyna.
Mereka semua kemudian ke luar dari rumah dan berangkat menuju tempat diselenggarakannya acara.
Sesampainya di tempat acara, mereka semua segera ke luar dari dalam mobil. Reyna melihat bagian depan tempat tersebut. Pada pintu masuk terdapat tulisan 'Welcome to walimatul ursy Abiyu dan Reyna'.
Reyna berhenti berjalan dan terpana saat melihat yang ada di depan matanya. Membaca tulisan tersebut seketika Reyna terkejut dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Netranya berembun, sebab terharu dan seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tepat di saat itu Abiyu berdiri di depan pintu masuk sembari tersenyum menyambut kedatangannya.
Abiyu berjalan mendekati istrinya berada. Sesampainya di hadapan istrinya, Abiyu berkata, "Surprise ...just for you, Reyna Hanania!" ucapnya sembari mengulas senyum di bibirnya.
Reyna menghambur ke dalam pelukan Abiyu saat Abiyu merentangkan tangannya, kemudian Abiyu mengecup pucuk kepala istrinya dengan penuh rasa sayang.
Reyna merasa sangat bahagia atas apa yang dilakukan oleh Abiyu kepadanya. Baginya ini adalah pertama kalinya dia merasakan menjadi pengantin mempelai wanita dalam ingatannya yang sekarang.
Setelah beberapa saat berlalu Abiyu menempatkan diri di samping istrinya sembari menawarkan lengan tangannya untuk digenggam oleh Reyna menuju tempat diselenggarakannya acara. Abiyu dan Reyna berjalan melewati karpet merah yang bertabur bunga, melewati tamu undangan yang berada di sisi kanan dan kirinya, menuju tempat duduk yang sudah disediakan untuk kedua mempelai.
Reyna tak henti-hentinya mengulas senyum di balik cadarnya, merasakan betapa bahagianya bisa bersanding dengan suaminya di pelaminan.
Setelah kedua mempelai duduk di pelaminan seorang pemandu acara memulai acaranya. Tamu undangan dipersilakan untuk duduk di kursinya masing-masing yang telah disediakan. Tamu yang datang adalah kerabat dekat, tetangga, karyawan resto, karyawan ruko dan beberapa teman Abiyu. Tamu undangan yang hadir dipisahkan antara perempuan dan laki-laki.
Acara dilanjutkan dengan menikmati hidangan yang telah disediakan. Seusai menikmati hidangan acara dilanjutkan dengan sesi foto bagi kedua mempelai dengan keluarga dekat. Lena membawa Reynand ke atas podium untuk berfoto bersama dengan Reyna dan Abiyu.
"Mamma ..., Papah ...," ucap sang anak saat dibawa mendekat kepada Reyna dan Abiyu.
Abiyu menggendong Reynand sehingga anak itu berada di tengah-tengah antara dia dan Reyna.
"Reyna, Mami turut berbahagia atas pernikahan kalian. Mulai malam ini, Mami serahkan Reynand kembali kepada kalian. Tolong jaga cucu Mami dengan sebaik-baiknya!" ujar Lena dengan tulus kepada keduanya.
Detik itu juga Reyna merasa sangat bahagia, sebab dia dapat berkumpul kembali dengan anaknya.
"Terima kasih karena sudah mempercayakan Reynand kepada kami, Mi. Terima kasih juga karena Mami, Papi dan Nenek sudah menjaga Reynand dengan baik selama Reyna tidak ada," tutur Reyna kemudian memeluk Lena dengan erat.
Reyna bersyukur mempunyai dua ibu mertua yang sangat baik dan menyayanginya.
Seusai itu acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama dengan kerabat dan juga tamu undangan yang hendak berfoto dengan kedua mempelai.
Mira, Gina dan Sesha naik ke atas podium untuk berfoto bersama dengan Reyna dan Abiyu, juga tidak ketinggalan Reynand yang turut serta bersama ditengah-tengah mereka.
"Reyn, aku dulu belum sempat mendo'akan pernikahan kalian bukan, aku sangat bersyukur acara ini diselenggarakan sehingga aku bisa mendo'akan yang terbaik bagi rumah tangga kalian. Barakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoirin. Aku harap kedepannya kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah dan keberkahan selalu melingkupi rumah tangga kalian hingga ke jannah-Nya," tutur Mira turut bahagia dengan pernikahan mereka.
"Aamiin, terima kasih atas do'anya, Mir. Aku do'akan juga semoga kamu dimudahkan untuk menuju pelaminan dengan laki-laki yang salih yang akan membawa kebaikan di dunia dan di akhirat," ucap Reyna seusai melerai pelukannya.
"Aamiin," ucap Mira.
Seusai sesi foto, kemudian sang pemandu acara menutup acara walimatul ursy antara Abiyu dan Reyna dengan mempersilakan pemuka agama untuk membacakan do'a.
Saat acara selesai Abiyu nampak bersyukur ketika melihat Reyna tersenyum bahagia di acara pernikahan mereka dari awal hingga akhir. Mereka pulang ke rumah dengan membawa Reynand yang kedepannya akan tinggal bersama dengan mereka.
..._____________Ney-nna_____________...
__ADS_1