Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Anak Kembar.


__ADS_3

Dimas yang sedang main game sembari menemani Qila menonton televisi, tiba-tiba di kagetkan dengan teriakan dari seorang wanita yang tak asing lagi baginya, yaitu sang istri, Cindy.


"Maaasss ...!"


"Mas, Dimaaasss ...!" teriak Cindy dari dalam kamarnya.


Dimas langsung melempar handphonenya ke sofa yang sempat di dudukinya.


"Papa ke Umma dulu ya, Qila!" ujar Dimas sembari beranjak setengah berlari menuju sumber suara dari wanita pujaannya.


"Maass, tolong akuu! Aku uda gak kuat berdiri, Mas!" teriak Cindy sembari menahan sakit akibat gejala kontraksi di bagian bawah perutnya.


"Astaghfirullahal'adzim, Sayang. Kamu kenapa?" ujar Dimas dengan membulatkan mata, saat melihat istrinya terduduk di lantai sembari memegangi perut buncitnya.


"Sepertinya aku mau lahiran, Mas. Ayo kita ke rumah sakit!" ujar Cindy dengan peluh bercucuran di pelipisnya.


"I- iya, Sayang!" Dimas beranjak mengambil kunci mobilnya yang berada di atas nakas beserta dompetnya.


Meskipun ini bukan yang pertama kalinya ia menjumpai istri yang hendak melahirkan, tapi Dimas masih merasa gugup dengan situasi genting seperti sekarang.


"Tahan dulu ya, jangan mengejan, Sayang!" ujar Dimas sembari merengkuh tubuh istrinya dalam gendongannya.


Cindy mengangguk sembari menahan sakit yang teramat sangat. Direm*snya baju yang di kenakan suaminya seolah mencari kekuatan.


Beberapa saat sebelumnya ia sedang tiduran di kamarnya, saat merasakan sangat lelah sebab kandungannya yang sudah melewati masa HPL yang telah diperkirakan oleh dokternya. Yaitu lewat lima hari dari tanggal perkiraannya. Sebelumnya Cindy sama sekali tidak menjumpai darah flek yang keluar, rembesan air ketuban ataupun tanda-tanda akan melahirkan meskipun sudah tiba waktunya.


"Astaghfirullahal'adzim, astaghfirullahal'adzim, astaghfirullahal'adzim. Ampuni dosa-dosa hamba ya Allah. Berikan lah hamba kekuatan!" racau Cindy disela-sela menahan sakit.


"Qila, tolong bawakan handphone Papa, Nak!" perintah Dimas kepada anak sulungnya.


Qila yang sedang melihat televisi beralih mencari handphone papanya, di sofa yang tadi di duduki. Kemudian, berlari mengikuti papanya yang pergi ke depan rumah.


"Buk ..., ibuuukk ...! Cindy mau lahiran, Buk!" seru Dimas memanggil ibunya.


Bu Lilis yang sedang tiduran di kamarnya, segera keluar dan mencari di mana anaknya berada.


"Sayang, cepat bukakan pintu mobilnya!" ujar Dimas pada Qila. Setelah pintu terbuka Dimas menurunkan istrinya di cabin penumpang.


"Ini Pa, handphonenya!" Qila menyerahkan handphone dari genggamannya ke telapak tangan papanya yang terulur.


"Terima kasih, Sayang!" ujar Dimas sembari mengusap pucuk kepala anaknya.


"Ada apa, Dim?" tanya bu Lilis.


"C- Cindy, mau lahiran, Bu!" jawab Dimas cepat dengan napas yang memburu dan keringat bercucuran.


Menggendong istrinya yang sedang hamil anak kembar ternyata cukup berat ditambah suasana genting yang melatar belakanginya. Bahunya naik turun menandakan napasnya yang terengah-engah.


"Tas babynya sudah di bawa yang buat bekal ke rumah sakit?" tanya bu Lilis mengingatkan.


"Astaghfirullahal'adzim, Dimas lupa, Bu!" Dimas menepuk keningnya dengan telapak tangannya, kemudian secepat kilat melesat menuju kamarnya untuk mengambil travel bag yang berisi baju ganti Cindy dan beberapa potong baju untuk baby dan perlengkapan yang harus di bawa saat akan melahirkan.


Saat Dimas kembali Bu Lilis sudah siap berada di samping Cindy untuk menemani menantunya agar tenang dan tidak panik saat terjadi kontraksi berlangsung. Sementara Qila, sudah duduk di jok depan samping kemudi.


"Pah, ayo cepet jalan. Kasihan Umma, Pah!" ujar Qila dengan mata berkaca-kaca karena takut melihat keadaan Cindy yang terus mengaduh saat kontraksi muncul.


Dimas menghembuskan nafas beratnya, kemudian menyalakan mesin mobilnya dan dengan perlahan tapi pasti melajukan kendaraannya menuju rumah sakit terdekat yang sudah ia rencanakan sebelumnya untuk proses melahirkan istrinya.


Sebisa mungkin Dimas menahan diri agar tetap tenang, sebab saat ini ia tidak boleh panik dalam berkendara. Ada enam nyawa yang sedang di pertaruhkannya termasuk dirinya sendiri. Ia harus fokus ke jalanan, meskipun rintihan demi rintihan tak henti ia dengar dari sang istri yang sedang berjuang antara hidup dan mati.


Dua puluh menit berkendara mereka telah sampai di halaman rumah sakit. Dimas memarkirkan mobilnya di depan UGD kemudian meminta bantuan seorang perawat untuk membawa brangkar menuju teras. Dimas membopong Cindy dan menurunkannya di atas brangkar. Dimas meminta satpam rumah sakit yang tentu mengenalnya untuk mermarkirkan mobilnya di tempat parkir yang sudah seharusnya. Brangkar di geledek menuju ruang persalinan. Bidan yang berjaga segera sigap untuk menyiapkan ruangan bersalin.


"Dr.Dimas, ini istrinya sudah bukaan sempurna dan siap untuk melahirkan. Dokter mau ikut ke dalam untuk menemaninya?" tanya seorang bidan rumah sakit.


Sejenak Dimas terdiam dan memandang ke arah ibunya.


Seolah tau jika anaknya meminta persetujuan, bu Lilis mengangguk mengiyakan.


Dengan segera Dimas mengikuti ke dalam ruang bersalin untuk memberi support kepada istrinya yang hendak melahirkan.


Di luar, bu Lilis dan Qila menunggu dengan harap-harap cemas. Sebelumnya, Bu Lilis sudah menghubungi abinya Cindy dan memberi kabar jika Cindy akan segera melahirkan. Tak berapa lama abi dan umminya Cindy pun datang.


"Assalamu'alaikum, Bu!" ujar umminya Cindy sembari memberi salam ke pada besannya.


"Wa'alaikumussalam. Mari duduk dulu! Dimas sedang berada di dalam menemani Cindy. Semoga semua berjalan lancar!" ujar bu Lilis.

__ADS_1


"Aamiin, ya Allah. Berikan kelancaran bagi proses kelahirannya, Cindy!" ujar ummi, sembari mengatupkan kedua tangannya ke depan mukanya.


Beberapa saat berlalu akhirnya terdengar suara riuh bayi menangis. Dan, satu menit kemudian terdengar lagi tangisan bayi kedua. Semua orang yang mendengarnya pun bersuka cita menyambutnya.


"Alhamdulillah, sepertinya sudah lahir, Bu," ujar ummi Cindy kepada bu Lilis.


Nampak Dimas yang baru ke luar dari balik pintu ruang persalinan.


"Gimana, Dim?" tanya bu Lilis kepada putranya.


"Alhamdulillah, bayinya laki-laki dan perempuan, Cindy dan bayinya selamat!" ujar Dimas dengan wajah sumringah penuh kebahagiaan.


"Alhamdulillah!" seru semua orang yang mendengar kabar baik, yang sudah di nanti-nanti.


"Pah, mana dedek bayinya? Qila mau lihat!" rengek Qila.


"Nanti, Sayang. Adeknya baru di bersihkan. Selamat ya, Qila sudah jadi kakak!" ujar Dimas sembari jongkok di depan anak sulungnya.


"Yeay, Qila punya adik baruu! Qila jadi kakak!" seru Qila dengan riang gembira.


Semua pun ikut tertawa melihat kegembiraan anak itu.


Lima hari kemudian mereka sudah pulang dari rumah sakit. Malam ini Cindy sedang kerepotan saat kedua baby kembarnya menangis bersamaan.


"Sayang, cup cup. Sebentar ya, Nak!" Cindy segera beranjak ke luar kamar mencari suaminya dan meninggalkan kedua anak kembarnya di kamarnya.


"Maas ..., mas Dimas tolong, Mas!" teriak Cindy memanggil suaminya.


Dimas berjalan tergopoh-gopoh menuju sang istri dan meninggalkan Qila yang baru saja tertidur setelah dibacakan dongeng.


"Iya, Sayang. Ada apa?" tanya Dimas saat sudah sampai di hadapan istrinya.


"Si kembar bangun tidur dan nangis berbarengan, Mas. Ayo bantuin aku mau menyusui, Mas!" ujar Cindy dengan panik.


"Iya, Sayang. Maaf tadi baru menidurkan Qila. Ayo sekarang kita ke sana, Sayang!" Dimas merangkul bahu istrinya dan segera menuju kamar mereka.


Menjadi ibu baru dan langsung di anugerahkan dua bayi kembar tentunya ini menjadi suatu hal yang baru baginya. Belum lagi ditambah harus mengurus Aqila yang juga masih membutuhkan perhatiannya.


Cindy mendatangi salah satu box bayinya dan membawa bayi itu ke dalam gendongannya. Dimas melakukan hal yang sama kepada bayi satunya. Cindy kemudian mendudukkan dirinya di sofa yang di sediakan Dimas untuk istrinya menyusui. Di susuinya bayi yang ia bawa di sebelah kanan, kemudian Dimas meletakkan bayi satunya di sebelah kiri. Dua bayi akhirnya menghentikan tangisnya dan mulai menyusu. Namun, tak berapa lama yang kiri kembali menangis karena hisapannya terlepas dan letak menyusunya kurang pas.


Dimas yang hendak ke toilet mengurungkan niatnya dan kembali mendekati istrinya.


"Aduhh, ini yang cewek apa yang cowok sih? Selalu saja gak mau tenang menyusu dan pasti selalu terlepas!" tutur Dimas sembari membenarkan posisi si bayi agar bisa pas menyusu.


"Itu yang cowok, Mas. Buruan dong, Mas. Nanti ASI-nya netes-netes ke mukanya!" ujar Cindy yang mulai panik jika bayinya mulai menangis.


Akhirnya dengan susah payah, Dimas dapat membenarkan posisi menyusu bayinya hingga si bayi bisa menyusu dan berhenti menangis.


"Sayang, besok aku carikan baby sitter saja ya. Mau satu atau dua?" tanya Dimas pada istrinya.


"Satu aja Mas, kan ada aku," jawab Cindy.


"Siapa tau, yang satu bisa buat bantu ngurus Papanya!" canda Dimas lirih.


"Apa, Mas? Coba ulangi?" tanya Cindy dengan menajamkan pendengarannya.


"Ehh, enggak, Sayang. Bukan apa-apa kok!" kilah Dimas.


"Jangan macem-macem ya, Mas. Aku dengar!" ucap Cindy dengan penuh penekanan dan mata yang memicing tajam.


"Oeekk, oeekk ...!" gantian bayi yang kanan yang terlepas hisapannya.


"Tuh kan, jadi lepas. Kamu jangan keras-keras bicaranya, Sayang!" ujar Dimas.


"Habisnya mas Dimas ngaco sih!"


"Bercanda doang, Sayang!" Dimas beranjak kemudian mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang.


Keesokannya Dimas memperkerjakan seorang baby sitter untuk membantu istrinya merawat bayi kembarnya. Sebab Cindy masih kuwalahan jika di tinggal Dimas kerja dan ibu mertuanya mengantar Qila ke sekolah.


****


"Kak, gimana? Ini sudah enam bulan dan kakak belum juga bisa menentukan akan menikahi Mira atau tidak? Apa ada wanita lain yang sedang kamu tunggu?" tanya bunda Maya kepada Abiyu.


"Kasih Abi waktu sebentaar lagi, Bun. Nanti kalau sudah waktunya tiba, Abiyu pasti akan kasih tau Bunda."

__ADS_1


"Oke, Bunda kasih waktu sebulan lagi. Kalau tidak menikah lah dengan Mira!" ucap bunda Maya dengan tegas.


"Abi, ke kamar dulu, Bun. Capek, mau istirahat!"


Abiyu beranjak menaiki tangga menuju kamarnya. Ia baru sampai di Jakarta tapi bunda sudah menagih janjinya untuk segera menikah.


Semenjak Mira putus waktu itu, Mira mulai dekat dengan bunda Maya. Dan, bunda Maya menawarkan kepada Mira untuk melakukan pendekatan dengan Abiyu. Jika keduanya cocok maka bunda akan menikahkan mereka. Mira yang tahu bagaimana kepribadian Abiyu yang dikenal baik dan paling tampan seantero deretan pemilik ruko di kawasan itu pun tak menyia-nyiakan kesempatan emas bisa dekat dengan cowok mapan yang menjadi incaran banyak gadis di kawasan tempat kerjanya itu.


Dan Abiyu dengan terpaksa menyetujui keinginan bundanya untuk melakukan penjajakan dengan Mira. Sebab jika tidak bunda akan memintanya melakukan penjajakan dengan wanita lainnya lagi.


Abiyu meminta waktu yang cukup lama yaitu enam bulan. Yang sebenarnya ia hanya ingin mengulur waktu untuk menunggu saat yang tepat hingga wanita pilihannya siap untuk dinikahi.


Sementara ini ia belum bisa menceritakan yang sebenarnya kepada bundanya, karena ia harus menunggu terlebih dulu hingga wanita yang ingin ia nikahi sudah boleh untuk dinikahi. Dan ternyata wanita itu malah menutup pintu hatinya rapat-rapat. Hingga tak ada sedikit pun celah baginya, untuk mencoba masuk dan mendekatinya. Dan, ia sudah menolaknya sebelum ia sempat mengutarakan niatannya.


Selama penjajakan dengan Mira, Abiyu hanya menganggap Mira selayaknya seorang sahabat baginya. Tak di pungkiri jika kehadiran Mira bisa membuatnya tertawa dengan candaannya. Meski hanya berkomunikasi lewat WhatsApp atau pun telepon saja. Dan, kehadiran Mira mampu mengisi hari-harinya yang sepi dan sendiri. Namun, untuk mencintai Mira itu tak akan bisa ia lakukan. Sebab, sudah ada wanita lain yang telah mengisi hatinya. Meski wanita itu tidak mencintainya, namun ia berharap suatu saat ia bisa mendapatkan hatinya meski sedikit saja.


Drrtt drrtt drrtt.


Teleponnya berdering tanda ada telepon masuk.


"Hallo. Assalamu'alaikum, Mir."


"Wa'alaikumussalam, Kak. Sedang apa?" tanya Mira.


"Gak ngapa-ngapain, Mir. Lagi nyampe rumah," ujar Abiyu.


"Kata Bunda, kak Abi di Jakarta. Kita ketemu di cafe yuk, Kak?" ajak Mira.


"Emm, gimana ya?" Abiyu sebenarnya malas keluar dan ingin beristirahat.


"Ayolah Kak, sebentar saja. Kita kan sudah lama gak ketemu. Please!" bujuk Mira dengan sedikit memaksa.


"Emm, ya sudah. Nanti jam delapan di cafe deket rumah kamu aja ya?" ujar Abiyu yang akhirnya mengiyakan keinginan Mira.


"Ishh, di situ mulu deh! Gak pengen cari suasana baru gitu kak, ketempat yang belum pernah di kunjungi kek atau yang lebih romantis gitu!?" tanya Mira.


"Apa bedanya?" Abiyu balik bertanya.


"Ya beda lah siapa tau memunculkan kesan yang lebih menarik. Terus mengukirkan kenangan indah di tempat terindah gitu!" canda Mira.


"Gitu ya!?" jawab Abiyu singkat.


"Ishh, dasar es batu!" umpat Mira lirih yang masih bisa didengar oleh Abiyu.


"Hhahaha, kamu berani ya mengatai aku kaya gitu!"


"Emang kenapa gak berani, kak Abi gak ada manis-manisnya. Untung ganteng, coba jelek...."


Mira tak melanjutkan kata-katanya.


"Kenapa kalau jelek?" tanya Abiyu.


"Ya kalo jelek buang aja ke laut! Hahahaha...!" Mira tertawa terbahak-bahak di seberang telepon.


"Kualat kamu, Mir. Ya sudah aku tutup dulu ya, aku pengen istirahat sebentar. Sedari datang langsung diajak bicara sama bunda."


"Oke, Kak. See you. Muach muach!" canda Mira.


"Assalamu'alaikum!"


"Ishh, Wa'alaikumussalam!"


Telepon ditutup.


Maafkan aku, Mira. Jangan sampai kamu memiliki perasaan yang lebih terhadapku. Karena, aku mencintai wanita lain. Wanita yang aku cintai sejak lama dan tak bisa aku lupakan.


___________________Ney-nna_________________


...Please Like 👍...


...Leave a coment 🤗...


...Give a gift & vote 🌹...


...Tank you! 🙏🙏💕💕💕...

__ADS_1


__ADS_2