Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Apa yang terjadi dengan Cindy?


__ADS_3

POV. Cindy


Aku tengah mematut diri di depan cermin, sedikit berputar ke kanan dan ke kiri. Ku kenakan gamis berwarna biru muda dipadankan dengan jilbab segi empat voal berukuran 130x130 berwarna silver yang menjulur hingga sepanjang pusar.


Tok...tok...tok...!


Terdengar ketukan di pintu diiringi suara panggilan dari balik pintu.


"Cindy, ummi Aini dan nak Fadhil sudah datang!" ujar ummiku.


"Ya, Ummi...!" jawabku dari dalam kamar.


Segera ku ambil sling bag berwarna hitam dan ku kalungkan di leher menyamping tepat sepinggangku.


Dua minggu yang lalu seusai acara khitbah ummi Aini memakaikan cincin emas di jari manisku, sebagai tanda mas Fadhil telah mengkhitbahku. Dalam islam di katakan wanita yang tengah di khitbah oleh seorang laki-laki, haram bagi seorang perempuan itu untuk menerima khitbah dari laki-laki lain setelah menerima khitbah dari laki-laki yang pertama.


Dan malam itu juga kami sepakat untuk mengadakan akad nikah sebulan setelahnya, yaitu dua minggu dari sekarang. Dan hari ini ummi Aini ibunya mas Fadhil menginginkan aku ikut serta untuk memesan baju pengantin untuk acara akad. Tepat di hari ini kami janjian akan mendatangi butik yang di kehendaki ummi Aini.


Aku keluar dari kamar kemudian menuju ruang tamu. Terlihat mas Fadhil sejenak memandangku dengan senyum tipis di bibirnya, namun tak berapa lama ia kembali menunduk. Aku mendekat pada ummi Aini untuk salim kemudian di sambut pelukan cipika-cipiki oleh ummi Aini.


"Masya Allah, cantik sekali calon mantu, Ummi," ujar ummi Aini.


Aku tersenyum ramah kepada ummi Aini. Jika aku jadi menantunya, sungguh beruntungnya aku mempunyai ibu mertua yang baik dan ramah seperti ummi Aini.


"Ya sudah Um, kita berangkat sekarang saja supaya tidak kesorean pulangnya," ujar ummi Aini kepada ummiku.


"Injih, Um. Mari berangkat!" ujar ummiku mengiyakan.


Mas Fadhil menyetir di depan, di sampingnya di temani ummi Aini. Aku dan ummiku duduk di bangku belakang. Dan kamipun berangkat ke butik muslimah yang berada di kawasan pusat kota Solo. Selang 30 menit kamipun sampai. Kami bersama-sama masuk ke dalam butik. Seorang wanita cantik setengah baya terlihat menyambut kedatangan kami.


"Assalamu'alaikum, Bulek!" ujar wanita itu menyambut kami.


"Wa'alaikumussalam, Bibah," jawab ummi Aini menyambut wanita yang di sebut Bibah oleh ummi Aini. Kuranglebih usianya sepuluh tahun diatasku.


"Oiya, ini kenalkan calon mantuku namanya Cindy dan ini Unminya," ujar ummi Aini sembari menunjuk kepadaku dan ummiku


"Cindy, ini Habibah keponakan, Ummi," aku pun tersenyum ramah kepada mbak Habibah kemudian menjabat tangannya.


"Masya Allah, cantik sekali calon mantennya," ujar mbak Habibah kepadaku.


"Mbak bisa saja!" jawabku sembari tersenyum kepadanya.

__ADS_1


"Wah cantiknya nurun dari umminya ternyata," ujar mbak Habibah kemudian salim dengan ummiku.


"Nak, Bibah juga lebih cantik," jawab ummiku.


"Nah, itu dek Fadhil. Dhil, kamu tunggu di sini dulu ya, di sana wilayah khusus muslimah," ujar mbak Habibah ketika melihat mas Fadhil masuk dari pintu utama butik.


"Beres, Mbak. Monggo dilanjut, saya tak nunggu di sini!" mas Fadhil duduk di sofa ruang tunggu setelah mempersilakan kami agar melanjutkan aktivitas kami.


Kemudian, kami masuk ke ruang tengah bagian ruang kerja mbak Habibah. Di ruang ini ia mengambil ukuran tubuhku untuk nantinya sebagai acuan membuatkan baju untukku. Mbak Habibah orangnya cukup ramah sehingga di sela-sela mengambil ukuran kami mengobrol ke sana ke mari cepat akrab. Sedangkan ummi Aini dan ummiku duduk di sofa sembari mengobrol. Sepertinya membicarakan persiapan akad nikah yang akan datang.


Tak berapa lama kami pun selesai. Mbak Habibah kemudian memanggil mas Fadhil untuk ikut bergabung dengan kami. Mbak Habibah tak perlu mengukur pakaian yang akan di kenakan mas Fadhil. Cukup meminta mas Fadhil untuk mencoba beberapa baju dengan ukuran yang sudah terstandar bagi laki-laki, mbak Habibah memperkirakan antara size M atau L. Kemudian di rasa cukup pas di salah satu ukuran, mbak Habibah cukup membuatkan pola nantinya dengan size yang sama dengan ukuran yang sudah di sepakati.


"Bulek, dek Fakhri apa kabarnya? Ngajar di Ponpes Surabaya kan kalau nggak salah?" tanya mbak Habibah.


"Alhamdulillah baik, dua minggu yang lalu dia pulang kok dengan istrinya, dan ikut serta saat khitbah di rumah nak Cindy. Tiga hari di Solo terus balik lagi ke Surabaya," ujar ummi.


"Woalahh, Bulek. Kenapa ndak diajak mampir ke sini? Padahal dulu pas nikahannya dek Fakhri saya nggak bisa datang karena habis lahiran Zahra. Sampai sekarang sudah empat tahun belum lihat istrinya mas mu, Dhil," ujar mbak Habibah berbicara dengan ummi Aini dan pada mas Fadhil bergantian.


"Kalau begitu nanti pas nikahan Fadhil mbak harus datang ya, biar di kenalkan sama mbak Hasna," jawab mas Fadhil.


"Insyaallah, mbak usahakan datang, Dhil. Anaknya dek Fakhri sudah berapa, Bulek? tanya mbak Habibah.


"Hhh, do'akan saja supaya segera diberikan momongan ya, Bib. Sudah empat tahun menikah, Fakhri belum juga punya anak. Pada hal Ummi sudah pengen gendong cucu. Semoga nak Cindy nanti segera hamil setelah menikah dengan Fadhil," ujar ummi Aini yang membuatku terperangah.


"Wealah, yang sabar ya Bulek, belum rezekinya. Insya Allah tahun depan sudah bisa gendong cucu dari dek Fadhil dan Cindy, ya Bulek?" ujar mbak Habibah.


"Nikah saja belum terlaksana sudah di todong minta cucu, ya Mbak!" ujar Fadhil sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Semuapun akhirnya tertawa.


Setelah di rasa cukup akhirnya kita berpamitan untuk pulang kepada mbak Habibah. Ummi sempat mengajak singgah sebentar untuk sholat di masjid kemudian makan siang. Keakraban ini membuat aku merasa kagum dengan perhatian ummi yang sangat menghargaiku dan ummiku. Beliau mampu menerimaku yang dari keluarga sederhana. Sedangkan keluarga mas Fadhil termasuk dalam kategori orang berada.


Ummi Aini sempat mampir di toko kue untuk membeli beberapa dus kue. Sesampainya di rumahku ummi Aini membagi kue kepada ummiku sebagai oleh-oleh yang di rumah. Dan sebagian ia bawa pulang kembali.


Namun dari obrolan ini aku menangkap, jika akulah harapan terbesar ummi Aini agar segera memperoleh cucu karena istri mas Fakhri tidak kunjung hamil setelah empat tahun menikah.


****


Keesokan harinya aku berangkat bekerja seperti biasa. Saat di pertengahan jam kerja aku merasa nyeri di perutku bagian bawah. Rasanya hampir seperti saat aku mendapat menstruasi. Pada saat menstruasi aku sering merasa nyeri yang luar biasa bahkan kadang sempat pingsan. Namun ini tidak mungkin jikan nyeri haid mengingat dua minggu yang lalu aku sudah kedatangan tamu bulananku. Semakin lama rasa nyerinya tidak tertahankan.


"Mbak..., Mbak Sari...!" teriakku memanggul rekan kerjaku saat itu.


"Ya, ada apa Cin?" tanya mbak Sari.

__ADS_1


"Mbak, tolong gantikan aku di FO, Mbak. Perutku sakit banget!" ujarku sembari memegangi perutku yang terasa sakit.


"Iya...iya, Cin, biar aku yang jaga. Tapi kamu kenapa? Mukamu pucet banget?"' tanya mbak Sari.


"Ayo aku antar kamu ke ruangan dr.Nita," ujar mbak Sari. Aku mengangguk menahan sakit.


Mbak Sari menuntunku menuju ruangan dr.Nita untuk diperiksa. Kebetulan saat itu dokter jaganya adalah dr.Nita yang bertugas di klinik dr.Dimas.


Setelah mengetuk pintu mbak Sari membuka pintu ruang praktek dr.Nita begitu ada jawaban dari dalam.


"Ada apa mbak? Mbak Cindy sakit ya kok pucat banget gitu," ujar dr. Nita begitu melihat kami masuk.


"Iya Dok, saya tinggal kedepan dulu, mungkin ada pasien yang datang," ujar mbak Sari kemudian menutup pintu dan berlalu.


"Sebelah mana yang sakit, Mbak?" tanya dr.Nita.


"Perut saya bagian bawah terasa nyeri, Dok. Seperti kram saat mens," ujarku sembari menyentuh bagian bawah perutku.


"Mbak sudah mendapatkan haid belum bulan ini?" tanya dr.Nita.


"Sudah dok, dua minggu yang lalu," ujarku.


"Kalau haid suka sakit nggak?" tanya dr. Nita.


"Iya, Dok. Sakit sekali. Saya haidnya juga nggak teratur Dok, kadang dua bulan sekali kadang pernah tiga bulan sekali baru dapat dok," ujarku pada dr.Nita.


"Aduh, siklusnya gak tentu gitu ya. Begini mbak Cindy saya belum bisa memastikan. Tapi sebaiknya mbak Cindy konsultasikan hal ini pada dokter kandungan dan melakukan USG untuk lebih pastinya," ujar dr. Nita.


"Apa ada mengarah kesuatu penyakit, Dokter?" tanyaku penuh kekhawatiran.


"Saya tidak bisa menduga-duganya. Tapi misalkan iya, akan lebih baik jika kita mengetahuinya sejak awal sebelum terlambat. Jangan cemas dulu, semoga semuanya baik-baik saja," ujar dr. Nita sembari mengusap-usap bahuku.


Tentu saja aku merasa cemas karena nyerinya tak kunjung hilang. Aku harap semoga aku baik-baik saja.


__________________Ney-nna__________________


Hai, reader's tercinta, Alhamdulillah akhirnya karya ini sudah mencapai lebih dari 10ribu kata. Dan ini adalah saat-saat yang saya tunggu. Terimakasih buat kalian semua yang selalu mendukung karya ini hingga sampai detik-detik terakhir menuju tamat. 🙏🙏🙏


Jika saya berniat mengadakan Grup Chat apakah ada yang berminat untuk menjalin silaturahmi antar pembaca karya DDCP ini dengan diadakannya GC??


Insyaallah saya akan sharing cerita tentang latar belakang terciptanya karya ini kepada kalian semua pada GC. apakah ada yang penasaran?? 🤔

__ADS_1


Tolong tuliskan komentar kalian tentang GC di bawah bab ini ya,, saya tunggu! 😘


__ADS_2