Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Pertentangan Mami


__ADS_3

Usai melaksanakan sholat subuh. Reyna berjalan menuju almari untuk mengambil baju ganti. Saat hendak masuk ke kamar mandi tiba-tiba lengan Reyna dicekal oleh Rangga.


"Reyn, tunggu." ucap Rangga.


Reyna berbalik melihat ke arah Rangga.


"Ada apa?"


"Aku harus balik ke Solo, ada rapat penting dengan klien nanti siang. Kamu ikut aku ya pulang ke Solo?" tanya Rangga.


Reyna sesaat diam, berpikir. Jika ia ikut maka Nenek akan sendirian, mengingat Mami dan Kak Windi akan pulang ke Solo pagi ini juga.


"Kakek besok sudah pulang. Nenek akan sendirian menjaga Kakek, kasian Nenek jika aku ikut ke Solo." jawab Reyna.


"Kan ada Papi, aku sudah minta ijin sama Papi buat ngajakin kamu ke Solo." bujuk Rangga.


"Masa iya sih penganten baru sudah LDRan aja. Belum juga sempet buka segel." batin Rangga.


"Papi ngijinin? Berapa hari di Solonya? Aku musti ngabarin Mira kalau mau cuti." tanya Reyna.


"Iya Papi ngijinin. Palingan tiga harian disana."


"Ya udah, berangkat jam berapa?"


"Keberangkatannya jam 9, udah dipesankan tiket sama si Doni." jawab Rangga.


"Ya udah aku mandi dulu." Reyna berbalik hendak masuk ke kamar mandi. Lagi-lagi Rangga menghentikan langkahnya.


"Reyn, mau ditemenin nggak mandinya?" goda Rangga.


"Ishh...ogah,dasar mesum! Ada Chaca tuh." Reyna buru-buru masuk meninggalkan Rangga.


Rangga tergelak melihat istri juteknya yang menggemaskan.


***


Pukul 10.20 WIB, Reyna dan Rangga tiba di Solo. Reyna begitu antusias ingin mengunjungi tempat wisata yang berada di Solo setelah browsing di internet. Saat ini mereka sedang berada di mobil jemputan yang dikirim Doni untuk menjemput bosnya.


"Lagi apa sih, dari tadi lihat handphone melulu. Emang kamu gak capek?" tanya Rangga sambil mencoba mengintip pada layar handphone istrinya.


"Emm gak begitu capek sih. Nih cuma pengen tau aja yang menarik di kota ini." Reyna menjawab sambil mendekat ke arah Rangga menunjukkan layar handphonenya.


Tangan Rangga yang sedari tadi terulur di atas jok mobil, membuat bahu Reyna yang mendekat langsung menempel pada dadanya. Ketika Rangga menoleh ke sumber suara pipi Reyna berada tepat di depannya.


Cup!

__ADS_1


Akhirnya ia tidak konsen melihat apa yang ditunjukkan istrinya melainkan lebih tergoda melihat pipi mulus istrinya yang melambai-lambai.


"Ishhh...ada pak supir juga." ucap Reyna lirih sambil menepuk lengan Rangga agar menjauh.


"Biarin aja...orang sudah halal juga."


"Nnti kalau urusan kantor udah kelar, aku tunjukkan tempat-tempat yang menarik di sini." ucap Rangga sambil mengusap kepala Reyna yang tertutup hijab.


Tak lama sampailah di pelataran rumah Rangga. Terlihat bangunan dengan nuansa modern. Terdiri dari dua lantai dengan halaman yang tidak terlalu luas. Suasana sepi, Rangga langsung masuk menuju kamarnya.


"Kita langsung naik aja, palingan Mami lagi istirahat di kamar." Rangga berjalan di depan sambil menenteng kopernya.


"Ini kamar kita, kalau cape istirahat dulu aja." mendengar Rangga mengucapkan kamar kita seperti ada yang menggelitik di dalam benak Reyna.


Reyna duduk di tepian ranjang sambil berselonjor ke bawah meluruskan kaki. Diedarkannya pandangan menampakkan kamar yang rapi dengan cat tembok warna abu di kombinasi warna hitam. Berisi pernak-pernik khas kamar cowok.


"Mau minum atau makan sesuatu gak? Biar aku mintakan sama mbak Siti ART di sini." tanya Rangga.


"Nanti aja aku ke bawah kalau butuh sesuatu." jawab Reyna.


Reyna berdiri berjalan ke arah jendela kamar yang berada di belakang. Dari sini menampakkan ada taman dan kolam renang di belakang rumah. Ia terkejut karena tiba-tiba ada tangan melingkar di perutnya. Tubuhnya serasa menegang sulit digerakkan. Rangga memeluknya dari belakang.


"Suka nggak kamarnya?" bisik Rangga di telinga kanan Reyna membuat bulu kuduknya meremang.


"Emm...suka." jawab Reyna singkat.


Klik!


Pintu suara pintu terbuka menampakkan Mami yang berdiri di depan pintu. Keduanya langsung melepaskan diri karena terkejut.


"Ga, kamu..." suara Mami terpotong.


"Ishh...Mami, ketok pintunya dulu kek." Rangga berbalik berjalan ke arah Maminya.


"Ehh masih siang juga, mana Mami tau kalau akan begini." Mami menatap Reyna tajam.


"Kamu bukannya musti ke kantor kan, buruan berangkat sana." Mami langsung keluar dan menutup pintu.


"Kamu nggak apa-apa kan Reyn, aku tinggal ke kantor sebentar?" tanya Rangga.


"Ia gak apa-apa. Gih buruan sana ganti baju." Reyna mendorong suaminya untuk segera bersiap ke kantor.


Sepeninggal Rangga, Reyna kemudian melaksanakan sholat. Selesai sholat ia merasakan perutnya yang terasa lapar. Ia kemudian berjalan keluar menuruni tangga lantas menuju ke dapur. Di dapur dilihatnya Mami sedang duduk makan siang.


"Mih, boleh Reyna temenin makan?" tanya Reyna.

__ADS_1


" Duduk aja! Siti, siapkan satu piring buat istrinya Rangga." Mami berteriak memanggil ARTnya. Terlihat perempuan setengah baya mendekat ke arah Reyna sambil meletakkan piring dan sendok di meja depan Reyna berada.


"Ini istrinya Mas Rangga ya, nama saya Siti Mbak. Kalau butuh sesuatu panggil saya saja." Sapa mbak Siti ramah.


"Ia Mbak terima kasih, saya Reyna." Reyna tersenyum kemudian duduk dan mulai mengambil makan.


Suasana hening, Reyna bisa merasakan kalau ada sedikit perbedaan saat di Jakarta dan di sini. Ibu mertuanya terlihat bersikap dingin terhadap Reyna. Tak berapa lama Mami berdiri karena telah menyelesaikan makannya dan keluar dari dapur.


"Mbak siti asli orang sini ya? Sudah lama kerja disini?" Reyna mengajak ngobrol ketika mbak Siti telah menyelesaikan mencuci piring.


"Iya mbak, rumah saya dekat kok 20 menit dari sini. Saya sudah kerja disini semenjak mas Rangga sekeluarga pertama kali pindah ke sini." ujar mbak Siti.


Terdengar suara langkah mendekat. Rupanya mami yang kembali ke dapur.


"Sit, beresin jemuran sana." titah Mami.


"Iya Buk, saya tinggal dulu ya mbak Reyna." pamit mbak Siti. Reyna mengangguk.


"Reyn, kamu dan Rangga masih sangat muda kalian baru berumur 24 tahun kan, sebaiknya kamu tunda dulu untuk memiliki anak. Rangga saat ini sedang sibuk belajar memimpin perusahaan dan pastinya akan sulit berkonsentrasi jika kalian punya anak dalam waktu dekat. Gunakan ini untuk menunda kehamilan!" tutur Mami panjang lebar.


Reyna terkejut mendengar penuturan ibu mertuanya yang memintanya menunda kehamilan. Bahkan sudah menyiapkan pil KB untuk dikonsumsi Reyna.


"Emm Reyna bicarakan dulu ya Mi, nanti sama Rangga." jawab Reyna yang tidak bisa untuk langsung mengiyakan atau menolak.


Ia masih awam dengan hal itu. Ini baru pertama kalinya ia mendapati barang ini. Masih belum mengerti apakah barang ini diperlukannya atau tidak, mengingat ia baru saja menikah dan belum pernah melakukan hubungan suami istri.


"Gimana sih kamu ini, jangan sampai Rangga tahu tentang hal ini. Kamu sebagai istrilah yang seharusnya pengertian tanpa diminta. Apalagi kalian menikah tanpa pacaran, sehingga belum saling mengenal. Bagaimana kalau seandainya nanti tidak cocok tapi sudah punya anak. Kamu nurut saja dengan perkataan Mami, ini juga demi kebaikan kamu!" ucap Mami hendak meninggalkan dapur.


Menuju pintu Mami berbalik sambil berucap, " Jangan lupa diminum setiap hari 1 tablet. Jangan sampai Rangga tahu!"


Sepeninggal Mami, Reyna terdiam tidak berselera lagi untuk melanjutkan makannya. Ia terngiang-ngiang memikirkan ucapan mertuanya. Siti yang sempat mendengar obrolan mereka barusan karena berada di ruangan samping sedang menyetrika akhirnya menemui Reyna, setelah memastikan majikannya sudah benar-benar masuk ke dalam kamarnya.


"Mbak sebaiknya jangan di minum. Apalagi mbak Reyna belum punya anak. Cukup diam tidak usah mengadu kepada mas Rangga dan jangan meminumnya. Kalau di tanya sama Ibuk, bilang saja sudah diminum." mbak Siti berbicara lirih mendekat ke arah Reyna.


"Iya mbak, terimakasih sudah memberitahu saya." Reyna memegang tangan mbak Siti.


"Yang sabar ya mbak, ini ujian buat mbak Reyna. Jangan menyerah ya mbak. Mas Rangga itu orangnya baik kok, saya lihat mbak Reyna juga orang yang baik. Pasti kalian bisa melalui rintangan dalam berumah tangga." ujar mbak Siti sambil sesekali melihat ke arah pintu dapur, memastikan tidak ada yang masuk.


"Iya mbak, sekali lagi terimakasih. Do'akan ya mbak suatu saat Mami bisa menerima saya, saya tau jika Mami sangat dekat dengan mantan pacar Rangga. Mungkin Mami kecewa karena Rangga menikahi saya." ucap Reyna.


"Mbak Reyna sudah ketemu sama mbak Putri?" tanya mbak Siti.


"Iya mbak sudah, dia datang ke Jakarta saat akad nikah kemarin. Saya bisa melihat jika Mami sangat menginginkannya menjadi menantunya." ucap Reyna dengan sedih.


"Sabar aja ya mbak, kalau sudah jodohnya mas Rangga itu sama mbak Reyna, pasti akan ditunjukkan jalannya sama Allah." mbak Siti mengelus punggung tangan Reyna.

__ADS_1


"Ya udah aku balik ke kamar dulu ya mbak. Mbak Siti lanjutin aja mbak kerjaannya." Dilihatnya mbak Siti mengangguk, kemudian Reyna pergi menuju kamarnya.


__ADS_2