
Fely dan Raka duduk-duduk di pinggir kolam ikan yang ada di belakang rumah kakek. Raka membawa kantung di tangannya yang berisi makanan ikan. Ditaburnya ke tengah-tengah hingga ikan-ikan yang tadi bersembunyi di dasar kolam bermunculan ke permukaan.
"Mas, apa di tempat ini ada historynya ?" tanya Fely.
"Em, iya sih. Dahulu waktu aku pertama kali pindah ke sini, aku sama sekali nggak punya teman, dan nggak mengenal tetangga. Aku nggak dekat sama papa juga nggak dekat dengan kakek. Mereka seperti orang asing bagiku. Akhirnya aku lebih suka menghabiskan waktu di kolam ini. Memberi makan ikan, memancing, atau hanya berdiam diri sembari menikmati suasana sekitaran kolam yang sejuk dan rindang," tutur Raka bercerita.
"Teman sekolah nggak pernah main ke rumah?" tanya Fely.
"Ada sih, tapi setelah aku SMP. Papa menyekolahkan aku di sekolah elite yang hanya anak orang kaya yang bisa bersekolah di sana. Permainan kami sama sekali tidak mengenal kotor. Aku seperti kehilangan masa kecilku yang bahagia bermain dengan teman-teman di kampung. Seperti bermain layang-layang, berenang di sungai, bermain di sawah. Semua itu tidak lagi bisa aku lakukan setelah berada di sini," tutur Raka dengan sendu.
Fely merasa iba dengan nasib suaminya yang merasa dirampas masa kecilnya. Ternyata kemewahan tidak menjanjikan kebahagian seseorang.
"Emm, Mas kenapa ya nenek Arum hanya ingin berbicara empat mata dengan kakekmu? padahal aku penasaran banget apa yang akan diceritakan oleh nenek Arum," ujar Fely mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Entahlah, bisa jadi ada sesuatu yang tidak baik untuk diumbar atau harus dijaga. Bukankah mengumbar keburukan orang lain itu tidak baik? aku yakin nenek Arum pasti punya alasan untuk hal itu," tutur Raka.
...Sesungguhnya orang-orang yang menyenangi tersebarnya perbuatan keji di kalangan orang-orang beriman mereka akan memperoleh azab yang pedih di dunia dan di akhirat....
...(QS. An-Nur ayat 19)....
"Emm, iya sih, Mas. Semoga semua baik-baik saja dan aku harap kakek bisa merestui pernikahan kita," ujar Fely.
"Aamiin," ucap Raka sembari mengusap pucuk kepala istrinya lalu memeluknya.
__ADS_1
"Oh ya, Mas. Coba pancing ikannya dong, Mas. Biar aku yang masakin hasil tangkapannya!"
"Ide yang bagus, Sayang. Ayo kita mulai!" ujar Raka seraya berdiri mengambil pancing dan umpannya.
......................
"Jadi waktu itu ada seorang Debt Collactor yang mendatangi rumah. Karena mereka tidak menemukanmu, mereka meminta mbakyu untuk membayar hutang-hutangmu. Mbakyu yang kala itu tidak memiliki uang akhirnya meminta tenggang waktu. Namun saat jatuh tempo mbakyu masih tidak memiliki uang karena mencari pekerjaan kala itu sangat sulit. Akhirnya kami meminjam pada pak lik Darmaji sebagai angsuran pertama."
"Untuk angsuran berikutnya kami masih tidak memiliki uang. Mbakyu mencoba mencari pekerjaan, namun upah buruh cuci itu nggak cukup untuk membayar angsuran. Jangankan untuk membayar hutang, untuk bertahan hidup saja kami kesulitan. Akhirnya mbakyu terpaksa menjual rumah peninggalan bapak ibu, demi membayar hutang-hutang yang kamu tinggalkan, Mas," tutur nenek Arum.
"Tapi, Rum. Setiap bulannya aku mengirim surat sekaligus sejumlah uang untuk Sekar," bantah kakek.
"Sayangnya surat itu tak pernah sampai pada mbakyu, Mas. Aku lanjutkan dulu ceritaku, Mas, nanti akan aku jawab ke mana surat-suratmu itu," tutur nenek Arum.
"Setelah itu mbakyu menyerahkan uang itu pada bank. Namun, uang penjualan rumah itu ternyata belum bisa melunasi hutang-hutangmu yang cukup besar itu, Mas. Kami bahkan sudah tidak memiliki tempat tinggal. Akhirnya kami menumpang di rumah pak lik. Pak Lik juga mencarikan pekerjaan untuk mbakyu, yaitu bekerja sebagai petani di sawahnya pak Lurah."
"Satu setengah tahun berlalu tiba-tiba kami mendapat kabar jika Mas Wirya meninggal di Singapura dan jasadnya tidak ditemukan. Mbakyu menjadi sangat sedih dan patah semangat. Beberapa minggu mbakyu bahkan sakit dan tidak berangkat bekerja. Aku pun kesulitan membayar sekolahku, akhirnya aku putus sekolah. Terlebih karena aku harus menggantikan mbakyu untuk bekerja di sawah agar kami mendapatkan uang untuk makan."
"Ketika menumpang di rumah pak lik. Bu lik memperlakukan kami selayaknya pembantu. Jadi ketika mbakyu sakit, aku harus melakukan semuanya sendirian. Itu lah yang membuatku tidak lagi berangkat sekolah, Mas."
"Hingga setengah tahun berlalu, anak pak lurah meminang mbakyu. Tadinya mbakyu menolaknya. Tapi, pak lik memaksa agar mbakyu menerimanya," tutur nenek Arum bercerita.
"Memangnya Sekar mencintainya? seharusnya Sekar bisa menolaknya!" ujar kakek menahan kekesalannya.
__ADS_1
"Tentu saja mbakyu tidak mencintainya, Mas. Mbakyu masih sangat mencintaimu. Namun, mbakyu terpaksa menerimanya. Kami tidak bisa mencoreng nama baik pak lik di hadapan pak lurah, Mas. Jika mbakyu menolaknya entah apa yang akan dilakukan oleh pak lik kepada kita, Mas."
"Pak lik memarahi mbakyu habis-habisan. Mbakyu dikatainya tidak tau balas budi, dan tidak tau caranya berterima kasih."
Flashback on...
"Sekar, kamu pikir selama ini siapa yang memberimu pekerjaan, ha? Tuan Kusumo sudah berbaik hati menjadikanmu buruh tani di sawahnya setelah aku berkali-kali membujuknya untuk memperkerjakan kamu. Kamu tahu sendiri aku hanya bawahannya di kelurahan. Jika engkau menolaknya sama saja kamu merendahkan beliau. Kamu tidak memikirkan nasibku? bagaimana jika pak lurah memecatku?"
"Pikirkan juga nasib adikmu. Jika kamu menerima Nak Edi sebagai suamimu kamu tentunya bisa menyekolahkan adikmu kembali. Mas Edi itu pemuda yang gagah dan tampan, setiap wanita menyanjungnya sebagai anak lurah, namun juga sebagai pemuda yang pintar, sekolahnya saja di Jakarta. Pak lik tidak menyangka jika dia jatuh hati padamu yang hanya seorang janda. Dia juga akan membantu membayar hutang-hutangmu, dan hidupmu akan terjamin sebagai menantu pak lurah yang kaya raya dan suami dari pemuda tersohor di kampung kita ini. Mikiro ojo mung kanggo awakmu dewe!" ujar pak lik sembari menempeleng kepala Sekar.
(Berpikirlah jangan hanya untuk dirimu sendiri)
Sekar menangis semalaman. Dia tidak ingin menikahi Edi hanya untuk memanfaatkannya. Terlebih baru setengah tahun yang lalu suaminya dikabarkan meninggal. Ada perasaan tidak percaya jika suaminya, Wirya sudah benar-benar tiada, sebab tidak bisa melihat jasadnya. Namun, atas desakan dari pak lik dan bu lik'nya setiap hari, akhirnya Sekar terpaksa menerima pinangan Edi.
Meskipun tanpa cinta, Sekar melayani suaminya dengan baik. Dia melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri yang patuh terhadap suami. Beruntungnya Edi juga memperlakukan Sekar dengan sangat baik. Seperti yang dikatakan pak lik, Edi melunasi hutang-hutang Wirya di bank dan juga membiayai sekolahnya Arum. Mereka tidak lagi mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari pak lik dan bu liknya, karena Sekar kini tinggal di rumah suaminya. Arum juga ikut tinggal bersama mereka.
Tak butuh waktu yang lama empat bulan menikah Sekar hamil. Hal itu membuat pak lurah sangat senang, karena bayi yang dikandung Sekar merupakan cucu pertamanya dari anak tunggalnya. Pak lurah mengadakan syukuran besar-besaran saat usia kandungan Sekar mencapai tujuh bulan. Seluruh warga desa dibagikannya hantaran nasi beserta lauk pauk. (merupakan tradisi jawa jaman dulu, tidak untuk diperdebatkan)
Arum yang saat itu ditugaskan mengantarkan hantaran nasi ke rumah pak liknya tiba-tiba pulang dengan menangis sesenggukan setelah mendengar perbincangan pak lik dan buliknya dari dalam rumah. Hal itu disembunyikannya kepada sang kakak karena tidak ingin kakaknya bersedih hati.
"Astaghfirullah, Mbak. Apa yang barusan aku dengar pasti akan menyayat hatimu! aku tidak sanggup membuatmu terluka! mampukah aku menyembunyikan hal ini darimu?" gumam Arum saat tiba di kamarnya.
..._______Ney-nna_______...
__ADS_1