Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Empat Bulanan


__ADS_3

POV. Fadhil


Aku merasa ada ganjalan di hati dengan tidak jelasnya alasan Cindy membatalkan khitbahnya. Aku dan Abah sempat bertemu dengan Pak Abu, abinya Cindy. Beliau mengatakan jika Cindy tetap ingin membatalkan khitbah. Alasannya ini demi kebaikanku dan keluargaku. Pak Abu pun tak mengerti apa yang membuat Cindy tiba-tiba berubah pikiran pasca menjalani operasi. Aku merasa ada yang aneh, apa ini ada hubungannya dengan operasi Cindy. Pada hal aku tidak mempermasalahkannya.


Saat pulang ke rumah, ummi memintaku sabar dan mengikhlaskan Cindy dan memulai ta'aruf dengan yang lain. Mana mungkin bisa secepat itu aku memulai dengan yang lain. Ummi pun seolah aneh, biasanya ummi paling rewel, tapi kali ini ummi dengan mudah menerima pembatalan Cindy tanpa ada komentar.


Hari demi hari aku menyibukkan diri dengan mengajar di pesantren dan mengisi kegiatan dengan para santri. Namun, saat melihat Umar, lagi-lagi aku kembali mengingat Cindy.


****


Sudah seminggu lebih pasca operasi di rumah terus, membuat Cindy merasa bosan. Akhirnya Cindy meminta ijin kepada ummi dan abi untuk pergi bekerja. Toh pekerjaannya tidak lah berat, ia hanya perlu berjaga di front office. Biasanya tugas untuk melayani dokter di kerjakan Mbak Sari dan yang lainnya. Alasannya Cindy lebih mahir dalam pembukuan, kata mbak Sari.


Dengan di antar oleh Abi pagi ini Cindy berangkat kerja. Sesampainya di klinik teman-teman menyambutnya dengan antusias. Mereka sangat mengerti dengan kondisi Cindy. Sehingga Cindy banyak mendapatkan bantuan dari teman-temannya.


"Cin, ayo makan siang dulu sama aku!" ujar mbak Sari ketika giliran jam istirahat.


"Iya, Mbak. Ayo!" ujar Cindy kemudian berjalan pelan menuju pantry bersama mbak Sari.


"Masih sakit ya Cin, bekas operasinya?" tanya mbak Sari.


"Ya masih, Mbak. Yang penting nggak di pakai buat angkat-angkat benda berat aja, Mbak," ujar Cindy.


Mereka kemudian sampai di pantry. Makan siang sudah terhidang di meja.


"Wah mbak Cindy sudah masuk kerja? Sudah sembuh, Mbak?" tanya mbak Minah ART Dimas.


"Alhamdulillah, sudah mendingan, Mbak," ujar Cindy sembari menaruh nasi dan lauk pauk ke dalam piringnya.


"Kok sedikit sekali, Mbak makannya?" tanya Minah saat melihat ke dalam piring Cindy.


"Iya, Mbak. Musti jaga pola makan pasca operasi. Kemaren selama dua minggu di rumah di masakin ikan gabus terus sama Ummi. Sekarang musti di banyakin konsumsi sayur dan buah, Mbak. Semoga nggak kambuh lagi kistanya," ujar Cindy.


"Aduh, aku jadi ngeri juga denger cerita kamu tentang kista, Cin. Semoga aku gak ngalami kaya gitu deh, Cin!" ujar Sari.


"Iya, Mbak. Semoga cukup sekali aja deh," ujar Cindy.


Di tengah makan tiba-tiba handphone Sari berbunyi.


"Iya, halo Tin, kenapa?" ujar Sari saat mengangkat teleponnya.


"Iya deh, aku segera meluncur!" ucap Sari kemudian memutus telponnya.


"Tina ya, Mbak? Ada apa?" tanya Cindy.

__ADS_1


Dengan tergesa sari meneguk tehnya yang langsung kandas dalam sekali teguk.


"Ada korban kecelakaan di depan, aku bantu ke depan dulu deh. Kamu lanjut makan aja!" titah Sari.


"Beneran gak apa-apa, Mbak?" tanya Cindy.


"Iya, dari pada kamu ikut ke sana nanti malah di suruh-suruh sama orang bahaya ntar, bekas jahitan kamu bisa luka. Udah kamu lanjutin makan aja, cuma dua orang juga kok," ujar Sari.


"Ya udah deh, Mbak. Semoga semua baik-baik aja!" ujar Cindy.


Sari kemudian berlari menuju depan klinik. Cindy kembali melanjutkan makannya.


"Minah tolong buatkan susu buat Qila ya!" titah Ibunya Dimas yang baru muncul dari dalam rumah.


Ia kemudian melihat ke arah Cindy, "Lhoh, Cindy kamu sudah masuk kerja?" tanya Bu Lilis


"Iya, Bu. Alhamdulillah sudah lebih baik," jawab Cindy.


Sembari menunggu susu yang dibuat oleh Minah, Bu Lilis duduk di pantry di depan Cindy.


"Ini buat sharing ya. Ibu dulu juga pernah operasi kista. Malahan indung telur Ibu tinggal satu, karena yang satu harus diangkat. Gak kebayang saat itu Ibu merasa down sekali karena baru satu tahun menikah dan belum punya anak, tapi harus diambil satu indung telurnya," ujar Bu Lilis.


"Subhanallah, ternyata lebih parah dari Cindy ya Bu," ujar Cindy terkejut. Ia ternyata lebih beruntung karena kedua indung telurnya masih bisa terselamatkan.


"Alhamdulillah ya, Bu. Berarti itu hamilnya dr. Dimas ya, Bu?" tanya Cindy yang mulai optimis mendengar cerita dari Bu Lilis.


"Iya, waktu hamil Dimas. Dan penderitaan saya nggak sampai di situ, Cindy. Pada saat hamil itu saya juga disertai dengan adanya kista yang berukuran kurang lebih 5cm. Saya sudah mulai was-was karena hal itu, saya rutin memeriksakan kehamilan saya ke dokter dan memantau kistanya. Atas kuasa Allah, seiring dengan bertambahnya usia kehamilan saya, kista itu malah mengecil. Saya bersyukur sekali akhirnya bisa memberikan keturunan pada suami saya. Dengan satu indung telur saya telah memiliki dua anak yang lengkap. Saya dan suami sangat bersyukur sekali akan hal itu. Jadi pada intinya saya bercerita seperti ini untuk berbagi pengalaman. Dan kamu jangan khawatir akan sulit hamil. Tetap optimis dengan kuasa Allah," ujar Bu Lilis panjang lebar.


Hal itu menjadikan Cindy bersemangat dan tidak perlu minder lagi akan kondisinya.


"Terima kasih banyak ya, Bu. Berkat cerita dari Ibu, saya lebih optimis untuk masa depan saya," ujar Cindy dengan haru.


"Sama-sama, Cindy. Oh ya, katanya Cindy mau menikah, kapan acaranya?" pertanyaan Bu Lilis yang seketika membuat Cindy kembali sendu.


"Emm, masih belum kok, Bu. Belum jodoh dengan yang kemaren sepertinya," ujar Cindy berusaha tersenyum meski getir mengingat pembatalan khitbahnya.


"Kamu yang sabar ya, Allah pasti telah menyiapkan jodoh yang lebih baik buat kamu di saat yang tepat," ujar Bu Lilis.


"Nenek, susunya Qila mana?" ujar Qila yang baru muncul dari dalam rumah.


"Astaghfirullah, Nenek sampai lupa gara-gara keasyikan ngobrol! Hhahaha....!" ujar Bu Lilis dengan tawanya.


****

__ADS_1


Saat ini usia kandungan Reyna telah menginjak empat bulan. Kemarin Reyna dan Rangga sudah memeriksakan kondisi kandungan Reyna ke dokter kandungan langganannya. Dan bersyukur sekali janinnya sehat, organ tubuhnya sudah lengkap, dan pergerakannya mulai bisa dirasakan oleh Reyna. Hanya saja untuk jenis kelaminnya belum jelas terlihat.


Sore ini Mami dan Papi datang dari Solo. Reyna begitu senang dengan kedatangan mertuanya itu. Rupanya Mami dan Nenek tengah merencanakan acara empat bulanan untuk Reyna. Nenek ingin mengadakan pengajian di rumah dengan mengundang anak yatim piatu dari beberapa panti asuhan.


"Reyna, tidak ada masalah kan dengan cucu Papi?" tanya Reza.


"Nggak kok, Pi. Cucunya Papi sangat sehat, kemarin Rangga dan Reyna sudah cek ke dokter. Alhamdulillah semua normal!" ujar Reyna.


"Reyna, kedepannya kamu jangan terlalu capek bekerja ya, ikut kelas senam buat ibu hamil, bagus lho, Reyn buat persiapan lahiran. Dulu waktu hamil Chaca, Windy males ikut senam, jadinya bayinya susah keluar gara-gara kegendutan," ujar Mami yang mengundang tawa.


"Iya, Mi. Tenang aja, nanti Rangga ajak sesering mungkin buat olahraga. Kata dokter kalau Mamanya sering olahraga sama Papanya jadi mempermudah jalan lahirnya kan?" jawab Rangga dengan candanya.


"Yeay...itu sih maunya kamu, rajin olahraga yang itu kalau sudah hamil besar dan mendekati HPL, ini kan baru empat bulan, ya jangan sering-sering di tengokin, masih rentan kandungannya. Awas ya jangan bikin Reyna kelelahan!" ujar Mami mengultimatum Rangga.


"Hhhahahahaha...!" semua pun tertawa.


****


Keesokannya rumah sudah penuh dengan anak panti yang hadir. Karena inti dari acara adalah do'a, sehingga mereka tidak mengundang tamu yang lainnya. Karena di khawatirkan akan mendatangkan sumbangan. Justru nenek menginginkan acara empat bulanan ini di adakan juga untuk memberikan santunan pada anak-anak di panti asuhan. Kebetulan selama ini nenek aktif sebagai donatur di panti asuhan tersebut.


Sesudah pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan do'a yang dipimpin oleh seorang ustadz, Acara dilanjutkan dengan makan bersama. Semua yang hadir di perkenankan untuk menyantap hidangan yang telah di sediakan.


Sedangkan keluarga besar berkumpul untuk memberikan do'a kepada Reyna.


"Reyna, semoga kandungannya sehat-sehat dan lancar hingga persalinannya nanti ya?" ujar Kakek.


Reyna meneteskan air matanya mengingat kebaikan kakek padanya. Ia dapat berada di tengah-tengah keluarga ini adalah berkat kebaikan kakek dan nenek, dan juga atas perjodohan kakek ia menikah dengan cinta pertamanya.


"Aamiin, terima kasih, Kek. Kakek sangat berjasa dalam kehidupan Reyna. Semoga kakek diberikan kesehatan dan umur panjang hingga menyaksikan anak Reyna lahir ya, Kek?" ujar Reyna sembari mencium tangan Kakek.


Kakek tersenyum sembari mengelus pucuk kepala Reyna.


Kemudian Reyna bergantian meminta do'a kepada nenek dan mertuanya.


Terakhir Reyna berhadapan dengan suaminya. Rangga mengelus-elus perut Reyna sembari mencium lembut kening Reyna kemudian mencium perut istrinya sembari berucap do'a dan harapan untuk calon anaknya.


"Sayang, sehat-sehat di perut Mama ya hingga saatnya tiba kamu lahir, semoga kelak menjadi anak yang sholih sholihah, anak yang pintar, dan bisa menjadi kebanggan Mama dan Papa. Kelak kamu harus bisa menjaga Mama lebih dari Papa, karena kamu adalah anak pertama!" ujar Rangga sembari memeluk perut Reyna yang mulai tampak sedikit membuncit kemudian memeluk erat istrinya dalam dekapannya.


Sungguh ini adalah momen yang mengharukan untuk Reyna. Ia merasa sangat beruntung mendapatkan kasih sayang dari semua anggota keluarga.


__________________Ney-nna__________________


Jangan lupa tinggalkan jejak untuk mendukung karya ini ya reader's.💓💓💓

__ADS_1


Terimakasih bagi yang selalu mendukung Reyna & Rangga, dari awal hingga pada saat ini. Semoga novel karya Neyna bermanfaat bagi pembacanya. 🙏🙏🙏😘


__ADS_2