Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Malam Pertama


__ADS_3

Suasana malam yang hangat bagi sebagian orang, namun sangat menyedihkan bagi seseorang. Acara makan bersama untuk pertama kalinya bersama suami dan mertuanya terasa sangat menyebalkan.


Bagaimana tidak, begitu sampai di meja makan ternyata ada mantan pacar Rangga yang juga ikut makan bersama. Dalam hati Reyna bertanya-tanya bagaimana bisa perempuan itu ikut pulang ke rumah ini dan apa tujuannya datang di hari pernikahannya?


"Ayo duduk, Reyn! kita makan dulu," ujar papi Reza saat melihat Reyna hanya bengong sambil berdiri.


"Eh ... iya, Om!" jawab Reyna kemudian duduk di samping kanan Rangga. Sedangkan di samping kiri Rangga ada perempuan tadi.


"Kok, Om sih! sekarang kan sudah menjadi menantu, jadi panggilnya Papi dong," ujar Reza.


"Eh, iya maaf Pa-pi," ucap Reyna gugup, karena masih merasa canggung.


"Oh iya, ini Maminya Rangga!" tutur Papi Reza sambil memegangi bahu kanan istrinya.


"Hai, Reyna. Panggil Mami saja!" ujar Lena.


Reyna beranjak sembari mengulurkan tangan ke arah ibu mertuanya itu, kemudian mencium punggung tangan beliau seraya tersenyum manis


"Iya, Mi," ucap Reyna.


"Yang ini mantan pacar Rangga, namanya Putri. Putri di sini hanya untuk menyelesaikan masalahnya dengan Rangga agar tidak ada kesalahpahaman dikemudian hari. Dia ikut pulang untuk istirahat sebentar sambil menunggu jadwal keberangkatannya, dia nanti akan kembali ke Solo. Kamu tidak keberatan kan dengan adanya Putri di sini, Reyn?" ujar Reza menjelaskan panjang lebar.


Reyna dan Putri hanya saling berpandangan. Keduanya bermuka datar tanpa ekspresi, sangat canggung untuk saling menyapa. Reyna hanya mengangguk tanpa mengatakan sepatah kata pun. Begitu pun dengan Putri yang hanya memandang ke arah Reyna sebentar dan hanya diam. Entah apa yang ada dalam pikirannya sekarang.


Bagaimana mungkin kehadiran seorang mantan yang baru saja putus tidak akan mempengaruhi posisi seorang istri yang baru dinikahi secara dijodohkan. Tentu saja hal itu menjadikan suasana menjadi kurang nyaman. Namun, demi menghormati mertuanya, Reyna memilih untuk tidak mempermasalahkannya.


Reza yang menyadari adanya kecanggungan di antara kedua perempuan itu langsung mengalihkan untuk memulai makan.


"Baiklah sekarang mari kita makan!"


Semuanya pun patuh dan mulai mengambil makanannya. Karena mami yang mengambilkan makan untuk Rangga, Reyna akhirnya hanya mengambil makanan untuknya sendiri. Sepanjang waktu makan Reyna hanya diam saja menikmati makanannya dengan perasaan penuh sesak di dalam dada.


Sesekali dia melirik ke arah ibu mertuanya yang tengah menambahkan lauk pauk yang Putri suka. Sedangkan Putri seperti yang hafal dengan makanan yang tidak disukai oleh Rangga, kemudian dengan perhatian Putri membantu menyisihkan.

__ADS_1


"Rangga, kamu kan alergi udang, ini jangan dimakan," tutur Putri seraya mengambil potongan udang di piring Rangga.


"Oh iya tadi Mami kelupaan gak dipilah dulu."


"Makasih ya sayang udah dibantuin? untung ada kamu," sambung mami sambil melihat ke arah Putri. Terlihat sekali bahwa mereka sangat dekat.


Bahkan sesekali Putri memanggil "Yank" kepada Rangga. Sedangkan, Rangga seperti yang sudang terbiasa dengan panggilan itu menurut saja merasa tidak ada yang salah.


Melihat keakraban mereka seperti melihat keluarga yang harmonis. Sedangkan keberadaan Reyna seolah terabaikan. Mau ikut nimbrung pun seperti tidak ada kesempatan. Karena, Mami selalu mengajak bicara Putri dibandingkan mencoba mengakrabkan diri kepada Reyna sebagai menantunya. Bahkan terkadang mereka menggunakan bahasa jawa yang Reyna tidak mengerti apa artinya.


Putri memang berparas cantik dengan kulitnya yang putih, ramah, dan pandai berbicara. Kehadirannya sangat mendominasi, menarik tanpa cela. Namun, hal itu wajar saja mengingat mereka sudah berpacaran semenjak SMA pastilah sangat dekat dengan keluarga Rangga. Dan di sini Reynalah yang seolah orang asing.


Diremasnya kedua tangannya di bawah meja. Reyna menahan diri untuk tidak mempedulikan mereka dan tetap bertahan di tempat duduknya, meskipun ia sudah sangat ingin berlari meninggalkan dapur dan menuju ke kamarnya. Tapi, demi menghormati ibu mertuanya dia tidak ingin menciptakan kesan yang buruk.


Selesai makan Reza berpamitan untuk bersiap pergi ke rumah sakit. Sudah saatnya untuk bergantian menjaga kakek. Sehingga nenek, Windy beserta suami dan anaknya bisa pulang.


Mami ikut ke depan mengantar papi. Kini di meja makan tinggal mereka bertiga. Reyna berdiri membereskan piring dan makanan, kemudian nampak si embak datang ikut membereskan. Sedangkan Rangga berjalan meninggalkan ruang makan. Putri beranjak berdiri mengekor di belakang Rangga.


Setelah selesai membereskan makanan di dapur, Reyna kembali ke kamarnya. Dilihatnya Rangga, mami dan Putri sedang duduk di ruang tengah sembari melihat acara televisi. Mereka asyik tertawa-tawa bersama. Reyna tidak ingin bergabung karena sudah bisa dipastikan nantinya ia hanya akan jadi pajangan di sana.


Reyna bergegas masuk ke dalam kamarnya. Hatinya benar-benar terluka. Jika kebanyakan orang berkisah yang manis-manis di malam pertamanya menikah. Sepertinya itu tidak akan terjadi pada dirinya.


Reyna mengambil wudhu, kemudian melaksanakan salat isya' terlebih dahulu. Dia ingin mengadu tentang kegundahan di dalam hatinya kepada sang Khalik. Hanya Allah lah tempatnya mengadu. Saat ia bedo'a pintu kamarnya seperti ada yang membuka dan menutupnya kembali.


Selesai berdo'a dia rapikan perlengkapan sg. Ditolehnya kebelakang rupanya Rangga sedang duduk bersender di sandaran tempat tidur sambil memainkan handphonenya.


"Kok udah salat duluan, Reyn? aku tadi nungguin kamu di ruang tengah, gak tahunya sudah di dalam kamar," ujar Rangga.


"Aku cape, pengen buru-buru istirahat," jelas Reyna seraya naik ke atas tempat tidur dan membaringkan diri di sana


"Ya sudah kamu istirahat dulu saja, Reyn. Aku mau salat dulu," ujar Rangga sambil beranjak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.


Sesaat kemudian Rangga kembali dan mendirikan salat. Melihat ke arah punggung Rangga yang sedang salat, diam-diam Reyna meneteskan air mata saat mengingat Rangga yang tadi juga mengabaikannya.

__ADS_1


Kalau seharmonis itu hubungan mereka, kenapa harus putus dan malah menikahi aku?! batinnya.


Reyna merasa tidak dibutuhkan dan tidak penting bagi Rangga. Sudah ada Putri yang sangat mengerti dan perhatian kepada Rangga.


Ketika Rangga hampir menyelesaikan salatnya, dengan segera Reyna menghapus air mata di pipinya. Kemudian, dia memiringkan tubuhnya membelakangi Rangga dan menutup mata.


Dia bisa merasakan tempat tidurnya sedikit berguncang saat Rangga naik ke tempat tidur. Namun, Reyna tetap memilih untuk berpura-pura tidur.


"Reyn, udah tidur ya?" tanya Rangga.


Tentu saja saat itu Reyna belum tidur. Namun, dia memilih untuk tidak menanggapinya. Reyna merasa tenggorokannya seolah tercekat dan lidahnya kelu tidak bisa berkata-kata.


Tiba-tiba terdengar ada suara yang mengetuk pintu kamar dari luar.


"Rangga ..., Ga ...!"


Terdengar suara Mami memanggil Rangga.


Reyna merasakan pergerakan Rangga yang beranjak dari tempat tidur menuju pintu.


"Ga, Putri udah siap tuh, buruan sana kamu anterin ke bandara!" titah mami yang masih terdengar ke dalam kamar.


"Iya, Mi. Aku ambil jaket dulu!"


Usia itu terdengar pintu ditutup.


"Reyn, aku tadi mau ngajakin kamu jalan ke luar sekalian nganter Putri ke bandara, kamunya malah udah tidur. Aku pergi dulu ya, Sayang!" gumam Rangga seraya mencondongkan badan ke arah Reyna.


Cup.


Dikecupnya kening Reyna kemudian memakai jaket dan berjalan meninggalkan kamar.


Perlakuan Rangga yang semanis itu membuat Reyna meragukan ketulusannya. Dia takut jika hal itu hanya kepura-puraan Rangga saja. Hal itu mengingatkan Reyna kepada masa lalunya, Rangga yang terbiasa bermulut manis kepada setiap wanita. Kini rasa benci terhadap Rangga pun bangkit kembali.

__ADS_1


Reyna mengintip dari jendela kamar, mobil Rangga melaju meninggalkan halaman rumah. Reyna kembali ke tempat tidur dan merenungkan nasibnya. Mungkinkah dari perjodohan ini kelak akan memberi kebahagiaan bagi dirinya jika diawal pernikahan saja sudah seperti ini.


Derai air mata membasahi pipinya. Karena lelah menangis, Reyna pun akhirnya tertidur.


__ADS_2