Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Naluri Seorang Ibu


__ADS_3

Sore itu bagai ada awan mendung yang menyelimuti hati Reyna. Bayangan sang anak yang meronta-ronta sembari meneriaki namanya, dan ingin diturunkan dari gendongan omanya yang memaksa membawa masuk ke dalam rumah, membuat Reyna terus terbayang-bayang akan suara jeritan sang anak, yang terngiang-ngiang di kepalanya.


Hatinya yang gundah gulana, mengingat bagaimana sang anak yang selalu ingin menempel kepadanya, seolah mengatakan jika anak itu sangat merindukan dirinya. Nalurinya sebagai seorang ibu seketika bangkit dan ingin mendekap erat sang anak, untuk mencurahkan kasih sayangnya, demi mengganti hari-harinya yang telah terlewati.


"Sayang, kamu mau makan sesuatu?" tanya Abiyu yang melihat Reyna yang nampak murung, sembari duduk meringkuk di sofa kamarnya.


Reyna hanya menggeleng menanggapi pertanyaan dari suaminya, kemudahan kembali terdiam sembari menatap ruang kosong di depannya. Dalam benaknya Reyna memikirkan hari-hari yang harus di laluinya tanpa sanga anak.


Abiyu yang merasa iba dengan keadaan istrinya yang terlihat sangat sedih menjadi bingung harus berbuat apa, agar istrinya tidak terus larut dalam kesedihan.


"Sayang ...," panggil Abiyu sembari merengkuh istrinya ke dalam pelukan.


Hal itu justru membuat Reyna ingin menumpahkan kesedihannya di pelukan Abiyu. Reyna meremass bagian depan kemeja suaminya dan tangisnya pun pecah.


"Reynand, Kak ... aku ingin bertemu, Reynand saat ini!" ujar Reyna di sela-sela isak tangisnya.


Abiyu mengusap-usap punggung bagian belakang istrinya untuk menenangkan.


"Iya, Sayang. Sabar dulu ya, aku akan mencari cara untuk membawa Reynand tinggal bersama kita," ujar Abiyu sembari berpikir bagaimana cara untuk membujuk Lena.


"Bagaimana caranya, Kak. Mami tidak mau menyerahkan Reynand padaku, Kak. Aku ini ibunya, aku yang melahirkannya, meskipun saat ini aku sedang sakit, tapi Reynand tetap anakku, aku yakin aku akan pulih dan mengingat Reynand kembali seiring berjalannya waktu, Kak!" tutur Reyna meluapkan kekesalannya kepada ibu mertuanya itu.


"Aku akan memikirkannya dulu, Reyn Kamu tenang dulu, ya?" ujar Abiyu lirih mencoba membujuk istrinya agar tenang.


"Apa sebelumnya mami tidak menyukaiku, Kak? Bagaimana hubunganku dengan mami sebelumnya sampai mami tega memisahkan aku dengan Reynand. Mami juga seorang ibu, seharusnya mami merasakan iba kepadaku dan mensupport aku agar aku segera kembali pulih seiring berjalannya waktu dengan berkumpul dengan keluargaku."


"Jika begini, bagaimana aku bisa tenang hidup berjauhan dengan anakku, Kak? Ikatan batin antara aku dengan Reynand cukup kuat, Kak. Setelah tadi aku melihatnya dan mendekapnya, aku merasakan mendapatkan kembali sesuatu yang hilang dari hidupku. Aku merasakan suatu kenyamanan berada di dekatnya, dan aku menyayanginya. Aku tidak rela meninggalkan Reynand di sana! Aku tidak mau berpisah dengan anakku, Kak!" seru Reyna dan semakin dalam dalam kesedihan.


"Reyna, tenanglah, Reyn! Dengarkan aku! Aku berjanji akan membawa Reynand pulang bersama kita, okey? Apa kamu percaya kepadaku?" tanya Abiyu sembari menangkup kedua pipi istrinya dan memandang lekat kepada sanga istri.


Reyna terdiam dan berhenti menangis.


"Sungguh, Kak?" tanya Reyna sembari memandang ke arah suaminya.


"Iya, Reyn. Aku akan berusaha untuk berbicara kepada om Reza agar membantu kita. Om Reza pasti bisa membujuk tante Lena agar mau menyerahkan Reynand kembali kepada kita," tutur Abiyu mengungkapkan rencananya untuk meminta bantuan kepada Reza untuk membujuk istrinya.


"Om Reza? Papinya Rangga?" tanya Reyna mencoba mengingat nama yang disebutkan oleh suaminya.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Om Reza pasti berpihak kepada kita. Makanya kamu sabar dulu, ya?" tutur Abiyu sembari menghapus air mata yang menganak sungai membasahi pipi istrinya.


Reyna mengangguk sembari menyusut ingusya.


"Ingat Reyn, di dalam sini ada anak kita yang juga membutuhkan perhatian dari kita. Kamu ingat kan apa kata dokter? Janin ini akan merasakan kesedihan ibunya, jika ibunya bersedih. Maka kamu harus bahagia agar anak kita juga tumbuh dengan bahagia di dalam sini!" ujar Abiyu sembari memegang perut sang istri, kemudian mengusap lembut perut istrinya yang membuncit.


Reyna memandang ke arah Abiyu sembari memandang sendu ke arah suaminya. "Terima kasih sudah mengingatkan aku tentang hal itu, Kak! Maafkan aku karena tidak bisa mengontrol emosiku, hingga melalaikan keadaan anak kita ...," tutur Reyna merasa bersalah, bahwa saat ini ada sebuah nyawa yang tumbuh di rahimnya yang juga harus dia jaga.


Reyna menyandarkan kepalanya di dada suaminya, untuk mencari kenyamanan. Reyna merasa bahwa Abiyu selalu bisa mengerti keadaannya.


"Iya, Sayang!" tutur Abiyu kemudian melingkarkan tangannya memeluk tubuh sang istri dan memberikan kecupan di pucuk kepala istrinya dengan penuh rasa sayang.


"Kak ...," panggil Reyna kepada suaminya sembari membenarkan posisi duduknya setelah beberapa saat diam.


"Iya, Reyn?" tanya Abiyu sembari mengurai pelukannya dan memandang ke arah sang istri.


"Emm ... menangis membuat aku lapar ...," tutur Reyna lirih dengan malu-malu.


Abiyu tersenyum, melihat istrinya yang terlihat malu-malu mengatakannya. "Iya, Sayang. Mau makan apa? Nasi, buah atau kue?" tanya Abiyu penuh perhatian.


"Seperti yang kemaren ya? Bentar aku tanyakan ke Fely dulu, siapa tahu masih ada persediaan di resto," tutur Abiyu kemudian mengambil handphone yang berada di atas meja.


Abiyu mendial nama Fely dari layar handponnya dan melakukan sambungan kepada adiknya. Dalam beberapa saat telepon tersambung.


"Hallo, Assalamu'alaikum, Kak!" ucap Fely dari seberang telepon.


"Wa'alaikumsalam, Fely. Kamu ada di resto, Kan?" tanya Abiyu memastikan keberadaan adiknya itu.


"Iya, Kak. Ini di kantor sama bunda," jawab Fely.


"Kamu masih ada persediaan dessert box kaya yang kemaren, Gak?" tanya Abiyu.


"Masih ada sih ... kenapa, Kak?"


"Reyna pengen makan itu, kamu minta bagian deliver buat kirim ke rumah, ya!" perintah Abiyu pada adiknya.


"Okey, Kak. Kak ... ini bunda mau nyambung!" ujar Fely pada Abiyu.

__ADS_1


Beberapa saat hening.


"Bi, kalian sudah pulang ke rumah?" tanya bunda.


"Iya, Bun. Kita baru saja sampai sekitar lima belas menit yang lalu," tutur Abiyu.


"Ada Reynand juga dong di rumah?" tanya bunda dengan senang akan ada keramaian seorang anak kecil di rumahnya.


"Enggak, Bun ...," Abiyu menjeda kata-katanya kemudian beranjak berdiri untuk ke luar dari kamar menjauh dari Reyna agar istrinya tidak ikut mendengar pembicaraannya dengan bunda.


"Kok, enggak! Kenapa?" Dari nada suaranya bunda nampak terkejut dan penasaran.


"Tante Lena tidak mengijinkan kami membawa Reynand, Bun," ujar Abiyu dengan sendu.


"Bu Lena melarang Reynand tinggal sama mamanya? Kenapa bisa begitu, Bi?" Bunda nampak menghembuskan napas kasarnya. "Kalau dulu sewaktu Reyna hilang dia melarang Reynand tinggal bersama kamu, karena kamu bukan ayah kandungnya, Bunda maklum. Tapi ini kenapa lagi Bu Lena tidak mengijinkan Reynand tinggal bersama mamanya sendiri?" tutur bunda dengan nada kesal.


"Tante Lena merasa Reyna tidak akan sanggup merawat Reynand dengan keadaanya yang saat ini sedang sakit, Bun. Terlebih tante Lena yang mempermasalahkan kehamilan Reyna yang jaraknya terlalu dekat dengan usia Reynand yang masih balita. Tante Lena juga mengkhawatirkan jika akan ada yang berniat mencelakai Reyna kembali dan berimbas kepada Reynand," tutur Abiyu menceritakan alasan yang membuat Lena enggan menyerahkan Reynand kepada mereka.


"Astaghfirullah, tapi kecemasan bu Lena itu terlalu berlebihan. Kita tidak tahu bahaya apa yang akan mengancam ke depan. Semua yang terjadi itu sudah menjadi takdir Allah, kenapa bu Lena sangat egois dan tega memisahkan seorang anak dengan ibu kandungnya!" ujar bunda dengan emosi yang meluap-luap.


"Iya, Bun. Bahkan Reyna sedari tadi nampak murung dan bersedih karena teringat Reynand yang menangis saat dipisahkan dengan mamanya," ujar Abiyu menceritakan kondisi istrinya.


"Keterlaluan, bu Lena itu! Kasihan sekali Reyna, Bi. Apa perlu Bunda mendatangi bu Lena ke rumahnya untuk membujuknya agar mau menyerahkan Reynand kepada Reyna?"


"Tidak perlu, Bun. Nanti Abi akan mencoba meminta bantuan kepada om Reza untuk membujuk tante Lena, agar mau menyerahkan Reynand kepada kami," tutur Abiyu.


"Ya sudah nanti bunda usahakan pulang lebih awal agar bisa menemani Reyna selagi kamu bertemu dengan pak Reza."


"Baik, Bun. Abi coba telepon om Reza dulu untuk membuat janji bertemu," tutur Abiyu.


"Baiklah. Semoga berjalan dengan baik, Bi. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam, Bun!" Telepon dimatikan.


Abiyu lantas segera menghubungi Reza untuk membuat janji bertemu nanti malam.


...__________________Ney-nna_________________...

__ADS_1


__ADS_2