Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Ganjalan di Masa Lalu


__ADS_3

Dipa menatap lekat ke arah Reyna yang berada tak jauh dari pandangannya. Reyna terlihat begitu ceria sambil mengayun gaunnya ke kiri dan ke kanan. Reyna tersenyum menatap pada layar gawai yang sedang di arahkan kepadanya. Harusnya saat ini dia merasa senang, karena menemukan kembali sahabat yang ia cari sejak lama. Namun nyatanya ia merasa sangat terluka, tatkala menyaksikan Reyna melakukan video call dengan suaminya. Harapannya pupus sudah.


Takdir memang tak berpihak kepadanya. Ia benar-benar sudah terlambat. Reyna telah menjadi milik orang. Ia bahkan tak mendapatkan kesempatan untuk bertanya apapun kepada Reyna. Saat ia ingin berbicara Reyna terlebih dulu mengangkat telepon dari suaminya.


Seusai memilih dan memutuskan gaun yang akan dipakainya nanti saat pernikahann. Reyna kemudian berganti baju diruang ganti. Reyna selanjutnya melakukan transaksi pada kasa. Kemudian berjalan menghampiri Dipa yang sedang duduk sendirian.


"Dip, apa kabar?"


"Aku seneng banget akhirnya bisa ketemu lagi sama kamu." Reyna duduk di samping Dipa. Dipa hanya menjawabnya dengan tersenyum kecil dan perlahan mengangguk. Aku terluka!


"Kenapa kamu mengganti nomor nggak kasih kabar ke aku Reyn?" tanya Dipa.


"Bukannya nggak mau, Dip. Tapi saat itu rumahku sempat dimasuki maling. Handphone, laptop, dan juga uang simpanan orang tuaku pun juga di ambil. Aku nggak tau harus gimana hubungi kamu, Dip." jawab Reyna.


"Aku sempat mencari ke rumahmu, Reyn. Tapi kamu sudah pindah!" ungkap Dipa.


"Kamu mencariku?"


"Sayang sekali yah Dip, nggak bisa bertemu? Waktu itu berselang beberapa hari, Bapak mengajak pindah ke kontrakan baru yang lebih aman." Reyna menjelaskan.


"Beb yuk buruan balik ke ruko. Nanti anak-anak pada nyariin." potong Mira yang baru datang menghampiri.


"Iya, Mir." Reyna mengangguk.


"Jika nanti ada waktu senggang kita ngobrol lagi ya Dip? Sekarang aku musti balik lagi nih ke tempat kerja." ujar Reyna. Dipa mengangguk.


"Pinjam handphone kamu Reyn?" Reyna kemudian menyerahkannya handphonenya.


Seperti dahulu Dipa melakukan panggilan ke nomornya sendiri menggunakan handphone Reyna. Reyna, tersenyum mengingat kejadian enam tahun silam saat awal-awal bertemu Dipa.


"Nih, handphonenya!" Dipa mengembalikannya pada Reyna.


"Aku balik dulu yah, Dip.?"


"Sampai jumpa lagi..! Assalamu'alaikum" Reyna berjalan keluar butik sambil berdada-dadah.


"Dip, mereka sudah pulang ya. Ayo kita juga musti bergegas ini." ucap Siska.


Namun yang diajak berbicara ternyata masih diam saja. Dipa melamun. Siska sungguh heran dengan putranya kali ini. Tatapan mata Dipa ke Reyna baru pertama kali ini ia lihat. Apa yang terjadi selama ini dengan mereka, sebab Dipa terlihat jelas menyukai Reyna.


"Sayang..!" Siska menyentuh pundak anaknya itu. "Ayo kita pulang Dip." Dipa tersadar dari lamunannya.


"Ehh...uda selesai ya, Ma?" Dipa membuka pintu kemudinya, kemudian ia masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin meninggalkan pelataran butik.


"Dip, jujurlah sama Mama!" ucap Siska datar.


"Apa Ma?" Dipa melirik sebentar ke arah Mamanya, kemudian kembali fokus melihat jalanan.


"Mama, baru pertama kali ini ngelihat kamu seramah itu kepada perempuan." ucap Siska.


"Itu perasaan Mama saja, kita dulu sahabat Ma. Jadi wajarkan kalau kami terlihat akhrab." ucap Dipa santai


"Bagus, jika memang begitu. Lagipula Reyna sudah menikah." jawab Siska.


"Sudah? Bukannya Reyna baru akan menikah, Ma?" Dipa terkesiap dengan perkataan Mamanya.


"Ya, mereka sudah melakukan akad nikah seminggu yang lalu." Mama memperhatikan jari-jemari Dipa yang mengeras mencengkeran kemudinya.


"Jelas sekali, Dip. Kamu nggak bisa bohongi Mama!" Siska geleng-geleng kepala. Dipa hanya diam, dia memang tidak bisa menyembunyikan kegelisahan di hatinya terhadap Mamanya.


"Move on, Dip. Hidup kamu masih panjang!" tambahnya lagi menasehati anaknya.


****


Sampai di ruko Reyna kemudian melaksanakan sholat maghrib berjamaah bersama Mira dan dua karyawannya. Sampai jam setengah tujuh, ternyata expedisinya belum datang juga. Reyna pergi ke resto samping, memesankan makanan untuk dua karyawannya. Sambil menunggu Reyna duduk di salah satu meja. Handphone bergetar tanda ada panggilan masuk.


"Dipa!" dibacanya tulisan pada layar handphonenya.


"Assalamu'alaikum..halo, Dip!"


"Wa'alaikumsalam. Lagi ngapain, Reyn?" tanya Dipa.


"Nih, cari makan buat karyawan yang lembur, Dip." jawab Reyna.


"Aku kesana ya? Kirim maps'nya, Reyn!" perintah Dipa.


"Ok, Dip! Aku tunggu di resto samping Ruko ya."

__ADS_1


"Oke, sip!" telepon dimatikan.


Karyawan resto menghampiri Reyna.


"Mbak, ini pesanan yang take away sudah jadi. Mbak Reyna mau makan apa?" tanyanya.


"Aku masih kenyang mbak!"


"Makasih ya, Mbak!" Reyna berdiri kemudian melangkah menuju rukonya.


Sesampainya di ruko Reyna kemudian menyerahkan kotak makanan kepada kedua karyawannya yang sedang beberes gudang. Ia kemudian naik ke atas ke ruangan Mira.


"Mir, nih makan dulu." ucapnya sambil menaruh kotak nasi ke atas meja kerja Mira.


"Makasih ya, Beb. Udah laper banget nih, cacing-cacing diperut aku udah pada demo!" Mira langsung membuka kotak makannya.


"Iya, buruan gih dimakan."


"Wah, nasi kebuli yah? Paling ngerti aja Reyn selera akuh."


"Ehh..kamu mau kemana, Beb? Nggak ikut makan juga?" tanya Mira, ketika melihat Reyna berjalan menuju pintu.


"Aku mau keluar dulu, Mir. Mau cari angin. Dah..!" Reyna langsung bergegas keluar.


Sampai di luar Reyna duduk di bangku panjang di pinggir trotoar. Ia menoleh ke kanan hingga ke kiri, sorot matanya mengitari pemandangan di sekitar jalanan. Dihiasi lampu jalan yang temaram, suara lalu lalang kendaraan yang melintas, sungguh menyenangkan. Seperti saat ini, ketika duduk menyendiri menikmati kesunyian malam. Ia melihat ke atas langit, bertaburan bintang-bintang dan indahnya pantulan sinar bulan. Dari dulu Reyna paling suka dengan suasana seperti ini.


Tak berapa lama terlihat sorot lampu mobil yang menyorot mendekat, kemudian menepi di pelataran ruko. Nampak Dipa keluar dari mobil, kemudian berjalan menuju bangku dimana Reyna duduk.


"Kamu nggak berubah ya, Reyn, dari dulu suka banget duduk sendirian menikmati malam." sapa Dipa kemudian duduk di ujung kursi panjang yang sama.


"Menyenangkan tau, Dip!"


"Saat sendiri begini seolah-olah suasana tenang, seperti dibawa menyaksikan memory yang terputar dalam otak kita, mengingat saat-saat yang penting yang pernah terjadi dalam hidup kita" Reyna menerawang jauh ke atas langit.


"Cantik!" pekik Dipa saat melihat wajah Reyna yang tersenyum sambil melihat ke atas disinari cahaya lampu.


"Apa, Dip?" Reyna menoleh ke samping ke arah Dipa.


"Ehh..itu lampunya antik!" kilah Dipa menunjuk ke lampu jalan dekat resto yang memang terlihat kuno namun sangat artistik.


Reyna mengernyitkan dahinya, "Masa sih tadi bilang itu?"


"Bentar ya, Dip?" Reyna berlari mendekat ke truk yang memuat gulungan kain.


"Mas Angga, Pak Anas, ini barangnya datang!" teriak Reyna dari depan pintu ruko, ia buka pintunya lebar agar barangnya bisa dibawa masuk.


Pak Anas muncul membawa handlift yang sudah ditaruh palet diatasnya. Satu persatu gulungan kain tersebut diturunkan oleh Mas Angga yang berada di atas truk, kemudian di serahkan ke Pak Anas yang berdiri di bagian bawah. Pak Anas menaruh gulungan kain tersebut diatas palet dan disusun secara rapi. Selang tiga piluh menit proses bongkar selesai. Reyna ikut mengecek barang-barang nya dengan surat jalannya. Setelah selesai dan semua pesanan sesuai order Reyna menandatangani surat jalannya dan membubuhi stempel di toko. Kemudian diserahkannya surat tersebut kepada sopir satu lembar, dan satu lembar lagi ia bawa. Kemudian truknya meninggalkan ruko. Pak Anas dan Mas angga mendorong handlift ke dalam gudang penyimpanan.


"Maaf ya, Dip lama?" Reyna kembali duduk di bangku panjang.


"Gak apa-apa! Ohhya..Reyn, dimana suamimu?" Dipa mengalihkan arah pembicaraan.


"Di Solo, Dip. Emm..kalau kamu masih inget sama cerita aku dulu, kamu pasti tau kok suami aku siapa." ucap Reyna


"Siapa?" Dipa nampak berpikir, " Jangan bilang temen SMP kamu yang playboy dulu, Reyn!" tebak Dipa ketika menemukan satu nama yang sering terucapkan dari bibir Reyna.


"Yes, tebakan kamu bener, Dip!" jawab Reyna mantap.


"Kok bisa!?"


"Dulu kamu bilang benci banget kan sama dia?" Dipa nampak kesal.


"Aku juga baru-baru ini ketemu lagi dengan dia, Dip. Kakek Rangga adalah Kakek angkatku. Saai itu Kakek sedang sakit, dan sangat mengkhawatirkan aku. Aku menerima perjodohan itu demi Kakek. Tapi setelah menikah teka-teki yang dulu mengganjal di benakku saat ini tentang dia, akhirnya terungkap juga. Aku telah salah sangka terhadapnya, Dip. Dia nggak seburuk pemikiran aku dulu. Setelah menikah, aku baru tau jika dulu Rangga juga menyukai aku. Banyak kesalah pahaman diantara aku dan dia." Reyna menjelaskan panjang lebar.


"Kamu bahagia Reyn, menikah dengannya?" Dipa memandang ke arah Reyna.


"Ia Dip, doakan saja yang terbaik buat aku dan dia." Reyna tersenyum malu mengatakannya.


Dada Dipa terasa sesak. Ia bisa menangkap keceriaan di wajah Reyna. Jelas sekali bahwa Reyna bahagia bersama Rangga.


"Eh.. kamu sendiri gimana, Dip? Aku seneng banget Dip, bisa ketemu kamu lagi."


"Belum ada Reyn, yang mau sama aku. Sekalinya ada yang aku suka ternyata udah ada yang punya." Dipa tersenyum kecut.


Selama ini dia masih berharap bisa menemukan Reyna dan bisa mengungkapkan perasaannya yang terpendam selama bertahun-tahun. Namun kenyataannya saat sekarang ia menemukan Reyna, semuanya sudah terlambat.


"Mbak kita pamit dulu yah?" pamit Pak Anas dan Mas Angga dari belakang.

__ADS_1


"Ohh..iya, Hati-hati di jalan, yah!" jawab Reyna.


Reyna tersenyum, "Kamu terlalu pemilih kali, Dip. Tapi aku yakin kok, suatu saat nanti yang akan jadi istri kamu pasti adalah wanita yang sangat beruntung. Dulu, dimata aku kamu adalah pria yang sempurna, kamu sangat baik, tanggungjawab, dan sangat menghargai wanita. Aku sampai nggak berani buat sekedar naksir sama kamu, karena terlalu baik. Hehehe...! Aku do'akan semoga kamu bisa mendapatkan wanita yang kamu cintai dan mencintai kamu dengan tulus, Dip."


Perlahan Dipa mengangguk melihat ke bawah. "Orang yang pernah ada dihati aku, adalah kamu Reyna." Reyna nampak terkejut mendengar ucapan Dipa. Sesaat keduanya diam. Reyna nggak tau harus berbicara apa. Jika ucapan Dipa itu benar, itu artinya tanpa ia sadari, ia tlah banyak melukai hati Dipa.


"Kamu nggak perlu merasa bersalah seperti itu Reyn, aku tau posisi kamu saat ini. Aku hanya ingin kamu tau tanpa meminta kamu untuk membalasnya. Kamu tidak mencintai aku ketika aku mencintai kamu itu bukan salah kamu. Seperti yang pernah kamu bilang dulu, ketika ada yang belum terselesaikan dimasa lalu, itu akan menjadi ganjalan dimasa depan. Karena itu aku tetap ingin mengungkapkannya agar aku bisa melangkah ke depan. Do'akan saja semoga aku lekas move on dari kamu Reyn!" Dipa tersenyum merasa beban dipundaknya terlepas.


"Kamu sungguh bijak, Dip. Aku salut atas kedewasaanmu! Maaf ya, Dip? Selama ini mungkin aku banyak salah sama kamu." Reyna tersenyum lega.


"Iya Reyn, sama-sama!"


"Yuk pulang, mau aku antar?" tanya Dipa.


"Ehmm...ehmm...!" Reyna menoleh ke belakang terlihat Mira yang berdiri di depan pintu ruko, dengan bersedekap memandangnya tajam.


"Ehh..tuh, aku udah ditungguin sama Mira. Maaf ya Mir, sampai lupa." Reyna berjalan mendekat menuju Mira.


"Wah..bilangnya cari angin tadi, nggak taunya mungut cowok di sini! Mau ditinggalin lagi aku nya, Beb!" Reyna tertawa terbahak-bahak melihat Mira merajuk.


****


Hari berganti hari. Saat sedang tidur Reyna merasakan sangat haus namun enggan untuk bangun. Ada yang membuatnya tak nyaman dalam tidurnya. Tubuhnya susah untuk digerakkan. Ia merasa ada sesuatu yang berat melingkar diatas perutnya. Matanya mulai mengerjap mencoba menyesuaikan cahaya lampu kamar.


"Hubby..!" ucapnya lirih saat menyadari Rangga tidur sambil memeluknya dari belakang.


Reyna terkejut mendapati Rangga sudah berada di kamarnya. Pasalnya Rangga mengabari bahwa ia akan pulang besok.


"Hmm...sayang, maaf membangunkanmu yah?" Rangga mengeratkan pelukannya sambil mengecupi kepala istrinya yang sangat ia rindukan.


Reyna mengubah posisinya menghadap ke Rangga.


"By, katanya mau pulang besok?" tanya Reyna.


Rangga tersenyum mendengar pertanyaan istrinya itu.


"Surprise, Sayang!"


"Kamu nggak senang liat aku pulang lebih cepat?" Rangga membelai anak rambut Reyna yang berantakan menutupi sebagian wajahnya.


"Mana mungkin, By. Aku sangat merindukanmu!" Rangga menjadi semakin gemas.


Mereka saling menatap penuh damba. Tiga hari terpisah oleh jarak membuat Rangga sangat tersiksa. Dalam benaknya hanya ingin segera menyelesaikan pekerjaan dan cepat-cepat kembali ke Jakarta. Ia sendiri sempat merasa heran, dulu tidak pernah merasakan seperti ini.


Tadi sewaktu berada di kantor, begitu urusannya selesai Rangga langsung meminta Doni untuk memesankan tiket malam ini juga untuk ke Jakarta. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu istri tercintanya.


Flashback On..


"Don, pesankan tiket ke Jakarta untuk malam ini juga." perintah Rangga.


"Bukannya besok, Bos?" ucap Doni


"Nggak, gue maunya malam ini juga!"


"Cepetan, Don!" Rangga mengultimatum.


"Ishh...begini nih kalau sudah bucin sama perempuan. Nggak sabaran!" batin Doni.


"Baik, Bos!" Doni langsung melakukan pemesanan tiket saat itu juga.


"Bos, nanti jam 9 malam yah keberangkatannya?" Doni mengkonfirmasi jadwal keberangkatan yang ada.


"Nggak bisa Sore ini, Don?" tawarnya lagi.


"Nggak bisa, bos. Fully booked!" jawab Doni.


"Arghhh....!" Rangga menjambak rambutnya kiri dan kanan sikunnya berada di atas meja sebagai tumpuan.


Doni sampai melongo melihat pemandangan di depannya. Sampai sebucin itu kah Bosnya hingga terlihat sangat frustasi karena tak bisa mendapatkan tiket sore.


Flashback Off.


Perlahan-lahan Rangga mulai mendekat pada wajah Reyna. Diciumnya bibir Reyna singkat.


"Kamu nggak capek, By?" tanya Reyna.


"Lelahku hilang, sayang waktu ngelihat kamu!" ungkap Rangga.

__ADS_1


"Hahahaha...kamu lebai banget, By!" Reyna menyentuh ujung hidung Rangga.


"Biarin..! Aku mau kamu sekarang, Hana!" Rangga melantunkan do'a kemudian ia kecupi semua yang ada di wajah Reyna. Di******** bibir Reyna dengan lembut, semakin lama sekain menuntut dan ciumannya berpindah ke mana-mama. Dan terjadilah malam panjang yang sangat mereka rindukan.


__ADS_2