
Siang itu usai mendaftarkan rencana pernikahannya di KUA, Reyna diantar pulang oleh Abiyu. Ada rasa bahagia di hati kecil Abiyu karena sebentar lagi Reyna akan menjadi istrinya yang sah. Namun, ia kembali bersedih ketika mengingat kesepakatan pra nikahnya dengan Reyna yang telah mereka sepakati.
Abiyu tahu Reyna adalah perempuan yang baik. Abiyu berharap suatu saat nanti akan ada keajaiban untuknya, yaitu mendapatkan cinta dari sang pujaan hati. Entah kapan, Abiyu akan tetap menunggu saat itu tiba. Abiyu akan berusaha mengambil hatinya Reyna pelan-pelan setelah mereka menikah nanti.
Abiyu melihat ke jam tangan yang melingkar di tangannya, menunjukkan pukul 12.00 WIB.
"Reyn, mau makan siang dulu atau langsung pulang?" tanya Abiyu saat berpaling dari jalanan dan melirik ke arah Reyna.
"Ehm ... pulang aja, Kak. Kasihan Reynand jika terlalu lama aku tinggal," jawab Reyna cepat tanpa ragu.
"Oke ... baiklah kita pulang!" Abiyu menuruti keinginan Reyna dan memacu mobilnya menuju rumah Reyna. Setelahnya keduanya hening tapa ada obrolan lagi.
Abiyu bisa merasakan jika sikap Reyna padanya masih dingin. Reyna seolah memberi isyarat untuk menjaga jarak dengannya. Abiyu akan bersabar dan mencoba mengerti. Ia tahu bukan hal yang mudah bagi Reyna untuk berpaling dari almarhum suaminya, dan itu menandakan bahwa dia wanita yang setia.
Beberapa saat berkendara di jalanan, akhirnya mereka sampai di halaman rumah Reyna. Reyna tidak buru-buru untuk turun, ada sesuatu yang ia ingin tanyakan pada Abiyu namun ia ragu.
Abiyu yang melihat Reyna diam saja di kursinya merasa aneh.
"Ada apa, Reyn?" tanya Abiyu akhirnya.
"Emm ... apa bunda sudah tahu jika kita akan menikah, Kak?" tanya Reyna.
"Belum ... aku memang berencana untuk mengatakannya kepada bunda setelah kita mendaftarkan pernikahan di KUA," terangnya.
"Ohh ... begitu. Apa bunda akan setuju Kak Abi menikah denganku?" tanya Reyna lagi.
"Bukankah bunda mengenalmu dengan baik? aku yakin bunda pasti menyetujuinya, Reyn," ujar Abiyu dengan penuh keyakinan bahwa bundanya akan merestui pernikahan mereka.
"Semoga saja, Kak. Keadaanku sudah berbeda jika dibandingkan saat dulu bunda melamarku. Aku hanya tidak ingin mengecewakan bunda untuk kedua kalinya!" ujar Reyna sendu mengingat saat iya harus membatalkan persetujuan lamaran bunda.
"Aku rasa bunda tidak akan mempermasalahkan soal statusmu Reyna. Bunda adalah ibu yang paling mengerti selama ini!" ujar Abiyu meyakinkan Reyna agar tidak sedih.
"Baiklah ... terima kasih sudah mengantarkan ku, Kak." Reyna membuka pintu mobil dan hendak turun.
Tiba-tiba Abiyu menghentikannya. "Tunggu Reyn ...!"
__ADS_1
Reyna menoleh kembali ke arah Abiyu. "Ada apa, Kak?"
"Bagaimana dengan cincin pernikahannya? apa kamu ada waktu untuk membeli cincin bersama?" tanya Abiyu.
"Kak Abi yang beli saja. Apa pun pilihan Kakak, aku akan menerimanya," ujar Reyna pasrah dan tidak mau ambil pusing soal pernikahannya nanti, "Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam!" Abiyu memandang sedih ke arah wanita yang kini beranjak menjauh dari pandangannya bahkan tanpa menoleh sekali pun.
Abiyu merasa sedih dengan sikap Reyna yang seolah tak peduli dengan persiapan pernikahan mereka. Namun, Abiyu tetap mencoba bersabar menghadapi sikap dingin Reyna kepadanya. Dia hanya bisa berharap suatu saat nanti Reyna bisa merubah sikapnya menjadi wanita yang lembut seperti diawal-awal mereka bertemu.
Aku harap suatu saat bisa melihatmu tersenyum sembari melambaikan tangan ketika kamu melepas kepergianku, dan menyambutku dengan tatapan yang mendamba seperti seorang istri yang sedang merindukan kehadiran suaminya, saat melihatku kembali di hadapanmu, Reyna! gumam Abiyu dalam hati.
Setelah Reyna tak terlihat lagi Abiyu mengalihkan pandangannya ke depan dan mulai tancap gas untuk melajukan mobilnya ke luar dari rumah Reyna.
Sebenarnya rumah ini adalah rumah yang di beli oleh Abiyu dengan uangnya sendiri. Waktu Reyna akan pindah ke Jogja, Reza meminta Abiyu untuk mencarikan rumah untuk ditinggali Reyna saat berada di Jogja. Namun, Abiyu menolak saat Reza memberikan sejumlah uang.
Flashback On.
"By, berapa harga rumahnya? saya akan meminta sekretaris saya untuk mentransfer sejumlah uang untuk membayar rumah yang akan ditempati oleh Retna dan mamaku," ujar Reza.
Sejenak Reza terdiam, namun kemudian ia tersenyum senang dengan gagasan yang diutarakan oleh Abiyu. "Pintar sekali kamu, Bi! oke aku setuju!"
"Tapi sebaiknya Om Reza merahasiakan hal ini dari Reyna, biarkan Reyna taunya rumah itu rumah yang dibelikan oleh Om Reza khusus untuk Reyna," ujar Abiyu yang tidak ingin Reyna berpikir macam-macam terhadap apa yang dilakukan oleh Abiyu.
"Lhoh memangnya kenapa kalau Reyna tahu?" tanya Reza.
"Saya rasa Reyna bukan seseorang yang mudah menerima bantuan dari orang lain, Om. Terutama soal pesan terakhir Rangga, sebaliknya Reyna jangan diberi tahu lebih dulu, Om. Saya khawatir Reyna akan membenci saya!" ujar Abiyu memohon.
"Benar juga, By. Rangga memang pernah berkata bahwa Reyna tidak suka bergantung pada orang lain. Sampai-sampai, uang bulanan yang Rangga berikan sebagai nafkah malah jarang digunakan," ujar Reza.
"Nah, begitu lah Om, yang saya tahu Reyna bukan perempuan yang suka memanjakan diri dengan uang yang dimiliki. Karena itu saya rasa dia akan menolak jika tahu Rumah itu saya yang membelinya!" ujar Abiyu menyimpulkan.
Flashback Off.
"Cie ... cie ... Mbak Reyna, yang mau nikah nih sama mas Abiyu!" goda Lala yang tidak tau tentang kesepakatan pra nikah sehingga mengira pernikahan Reyna dan Abiyu adalah pernikahan yang wajar pada umumnya.
__ADS_1
"Apa sih kamu, La! Reynand mana?" tanya Reyna sembari membuka kulkas dan menuang air putih dingin ke dalam gelas.
"Bobo, Mbak. Habis aku suapi makan barusan, terus digendong bentar bobo di pangkuan!" ujar Lala menceritakan aktivitasnya menjaga Reynand.
"Oh ... syukurlah kalau tidak rewel!" ujar Reyna.
"Aku seneng deh lihat Mbak Reyna akhirnya nikah sama mas Abiyu. Gak sia-sia kan usaha mas Abiyu selama ini. Kesabaran mas Abi akhirnya berbuah manis!" gumam Lala dengan disela-sela mencuci piring.
Hal itu didengar oleh Reyna. Dia menaruh curiga dengan kata-kata Lala barusan.
"Usaha kak Abi selama ini?" Reyna mengulangi kata-kata Lala. "Dari mana kamu tahu kalau kak Abi selama ini berusaha deketin aku, La?" tanya Reyna.
"Ya tau lah Mbak, kelihatan sekali. Mas Abiyu itu selama ini selalu memperhatikan Mbak Reyna dari jauh, memantau keadaan Mbak dan Reynand, tanya mbak Reyna lagi apa, lagi di mana!" tutur Lala mengungkapkan apa yang sering ditanyakan Abiyu padanya. " Ups ...!" Lala menutup mulutnya saat menyadari jika ia telah mengatakan yang tidak seharusnya diketahui oleh Reyna.
"Jadi selama ini kak Abi meminta kamu tinggal di sini buat memata-matai aku, La? aku pikir kamu tulus sama aku ..., ternyata kamu baik sama aku karena kak Abi yang menyuruhmu?!" Reyna terkejut dengan hal yang baru ia ketahui tentang Lala. "Pantas saja tiba-tiba ada mainan mahal untuk Reynand, terus kak Abi tau di mana Parlan berada ... waktu itu pasti kamu yang ngasih tau kita lagi di alun-alun kan ke kak Abi?!" tuduh Reyna.
"Mbak ... nggak seperti itu juga, Mbak. Tolong dengarkan, Lala dulu--- ini nggak seperti yang Mbak pikirkan ...."
Lala merutuki mulutnya yang salah bicara. Reyna jadi salah paham dengan kebaikan Abiyu dan meragukan ketulusannya selama ini. Lala meneteskan air mata saat Reyna langsung mengabaikan kata-katanya dan berlalu memasuki kamarnya. Baru kali ini ia ribut dengan Reyna hingga seperti ini.
____________________Ney-nna________________
...Please Like 👍...
...Leave a Coment 🤗...
...Give a gift & vote 🌹...
...Tank you! 🙏💕💕...
...Mampir juga ke karya author yang satu lagi ya....
...Judulnya "Cinta Di Alam Mimpi". 🙏🙏...
__ADS_1