Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Obrolan Suami Istri


__ADS_3

Fadhil baru saja kembali dari masjid di pondok pesantren, seusai melaksanakan sholat isya'. Fadhil duduk di teras rumah sembari memandangi langit malam itu. Bulan nampak bulat sempurna memancarkan cahaya terang di gelapnya malam. Kemudian, nampak sang istri datang dari arah dapur membawa secangkir teh untuknya.


"Ini tehnya, Mas," ujar Tia sembari meletakkan secangkir teh di atas meja, di depan suaminya.


Sebelum tidur Tia dan Fadhil selalu menyempatkan waktu berdua untuk mengobrol dan menceritakan kegiatan masing-masing selama seharian, atau hanya sekedar berbicara dari hati ke hati.


"Terima kasih, Dek," ucap Fadhil sembari mengambil cangkir di depannya dan meneguknya secara perlahan-lahan karena masih agak panas.


Tia mengangguk, sembari membalas tersenyum kepada suaminya. "Sama-sama, Mas!"


Sebenarnya Tia ingin menanyakan sesuatu pada suaminya, namun dia nampak ragu untuk mengatakannya. Dia tidak ingin gegabah membicarakan hal cukup sensitif itu, terlebih jika suaminya tahu hal itu adalah ide umminya.


Tia menggigit bibirnya saat merasa bingung untuk memulai pembicaraan. Dia merasa kesulitan menyusun kata-kata yang terlintas di dalam benaknya.


Usai meminum tehnya, Fadhil meletakkan cangkirnya di atas meja, kemudian beralih memandang kepada istrinya yang terlihat bersikap agak aneh dari biasanya.


"Dek, ada apa?" tanya Fadhil saat melihat istrinya nampak cemas dan sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Ehh ... em ... anu, Mas!" Tia nampak gugup dan bingung untuk menjawab pertanyaan dari suaminya.


"Ada yang ingin kamu katakan, Dek?" tanya Fadhil kemudian, saat merasa istrinya kesulitan berbicara.


Tia memandang lekat ke arah suaminya, lalu dia menganggukkan kepada dua kali.

__ADS_1


"Ayo katakan!" perintah Fadhil sembari mengusap salah satu bahu istrinya dengan lembut.


"Em ... Mas, bagaimana menurutmu tentang poligami?" tanya Tia akhirnya, mencoba berbasa-basi.


Fadhil mengernyit saat istrinya tiba-tiba menanyakan hal itu.


Sebenarnya ada apa dengan Tia? Apa terjadi sesuatu hingga membuatnya resah! batin Fadhil.


"Poligami itu dalam islam diperbolehkan, namun tidak boleh sembarangan. Ketika seseorang ingin berpoligami maka dianjurkan untuk melaksanakannya sesuai dengan syariat. Pertama seseorang suami harus mampu bersikap adil, padahal adil itu sangat sulit. Contohnya seorang suami tidak diperbolehkan lebih condong kepada salah satu istrinya yang paling di cintai, sehingga mengabaikan atau menelantarkan yang satunya. Jika seorang suami khawatir tidak mampu bersikap adil, maka sebaiknya hanya menikahi seorang istri saja, dan menghindari dari berpoligami. Sebab, ketidakadilan akan memicu datangnya siksa dari Allah."


"Yang kedua, tidak boleh lalai dalam beribadah. Seseorang yang hendak berpoligami harusnya bertambah ketaqwaannya dengan rajin beribadah. Namun, jika dengan berpoligami justru membuatnya semakin jauh dari Allah karena terlalu sibuk membagi waktu mengurus istri-istri dan anak-anaknya atau sibuk bersenang-senang dengan istri-istrinya, sehingga dia melalaikan ibadahnya, maka berpoligami hanya akan menjadikan fitnah dan mendatangkan keburukan baginya."


"Ketiga, seorang suami harus bisa menjaga kehormatan istri. Shalihahnya seorang istri tidak lepas dari tanggung jawab seorang suami, yang akan mengangkat kedudukannya atau menurunkan kehormatannya. Suami harus bisa mendidik semua istrinya secara benar, tanpa kecuali. Jika ada salah seorang istrinya dibebaskan berbuat semaunya terlebih berbuat maksiat, maka suami pun akan ikut berdosa. Terlebih mengenai kebutuhan biologisnya, seorang suami harus mampu membagi waktunya sama rata, tidak boleh ada yang dibeda-bedakan agar tidak menimbulkan kezaliman."


"Selanjutnya, tidak boleh memilih wanita yang bersaudara. Dahulu kala Ummu Habibah pernah menawarkan kepada Rasulullah untuk menikahi adiknya, dan beliau menolaknya. Sebab jika berpoligami dengan yang sedarah, akan berpengaruh bagi sistem bagi waris, dan juga statusnya di kemudian hari."


"Terakhir memperhatikan jumlahnya. Salah seorang pernah mendatangi Rasulullah dan bertanya jika dia memiliki delapan istri ketika dia pertama memeluk islam, kemudian Rasulullah bersabda, 'pilihlah empat diantaranya'. Demikian daalah beberapa syarat yang harus diperhatikan ketika seseorang memutuskan untuk berpoligami. Berpoligami juga mempermudah bagi seorang wanita untuk masuk surga. Sebab, itulah Allah mengijinkan berpoligami," tutur Fadhil panjang lebar.


"Apa Mas Fadhil punya keinginan berpoligami?" tanya Tia kepada suaminya.


Fadhil tidak segera menjawabnya, lalu dia tersenyum kepada istrinya. "Apa hal ini yang membuatmu sedari pagi resah, Dek? Mengapa tiba-tiba bertanya tentang poligami?" Fadhil balik bertanya kepada istrinya.


"Jujur saja Tia belum siap untuk dipoligami, Mas. Tia merasa belum mampu untuk berbagi suami. Namun, semua keputusan ada di tangan, Mas Fadhil. Jika Mas Fadhil menghendakinya maka Tia akan berusaha belajar untuk ikhlas," tutur Tia dengan mata berkaca-kaca sembari menunduk.

__ADS_1


"Kamu itu lucu, Dek. Memangnya aku bilang hendak berpoligami hingga kamu mencemaskan hal itu?" tanya Fadhil lagi.


"Bagaimana jika mas Fadhil di minta menikahi seorang perempuan yang telantar dan kesusahan dalam merawat anaknya seorang diri? Apa Mas Fadhil akan menyetujui untuk menikahi wanita tersebut?" tanya Tia.


Fadhil nampak terdiam dan berpikir. "Jika berpoligami adalah jalan satu-satunya dan itu adalah situasi yang mendesak, maka aku akan melakukannya karena Allah, tentu dengan persetujuan dan keridhaan istriku. Tapi, jika masih ada cara lain, Mas akan memilih cara lain saja dibandingkan dengan berpoligami. Sebab, jujur saja aku tidak punya niatan berpoligami, terlebih aku khawatir, jika nantinya tidak bisa bersikap adil. Sehingga, bukannya mendatangkan kebaikan, justru dengan berpoligami malah mendatangkan keburukan. Terlebih siksa dari Allah di akhirat nanti amatlah pedih bagi seorang suami yang tidak bisa adil kepada istrinya. Nauzubillahimindzalik!" tutur Fadhil mengungkapkan pendapatnya.


Tia mengulum senyumnya merasa lega dengan penuturan suaminya yang menyatakan tidak berniat untuk berpoligami. Namun, masih ada yang ingin dia ketahui.


"Terima kasih, Mas. Tapi, apa yang dimaksud dengan cara lain itu, Mas?" tanya Tia yang masih penasaran dengan hal itu.


"Cara lain itu contohnya bisa dengan memberikan santunan, memberikan beasiswa untuk sekolah anaknya, memberinya pekerjaan, atau menikahkan wanita itu dengan seorang laki-laki yang bersedia dan mampu untuk menikahinya. Sehingga poligami itu bukan satu-satunya jalan yang harus dilalui," tutur Fadhil mengemukakan pendapatnya. "Gimana? Apa masih ada yang ingin ditanyakan, Dek?"


"Enggak, Mas. Tia sudah paham dari penurutuan Mas Fadhil tadi, dan merasa sangat lega mendengar pendapat mas Fadhil," ujar Tia .


"Mendekatlah!" ujar Fadil kepada istrinya.


Tia menurut dan bergeser mendekat ke arah suaminya. "Ada apa, Mas?"


Fadil merengkuh istrinya ke dalam pelukannya. "Jangan mengkhawatirkan hal-hal yang tidak perlu, dan jangan menyimpan masalah sendirian. Aku ada di sampingmu untuk selalu melindungimu, Dek. Katakan padaku untuk membagi masalahmu dan menyelesaikannya bersama-sama. Aku mencintaimu, Dek!" ucapnya kemuadian mencium kening istrinya.


Tia merasa terharu dengan situasi ini, kemudian mengeratkan pelukannya pada sang suami. "Aku juga sangat mencintaimu, Mas!"


____________________Ney-nna_______________

__ADS_1


__ADS_2