
Seusai membersihkan diri Rangga merebahkan tubuhnya yang terasa letih, di atas ranjang berukuran king size di hotel bintang 4 yang terletak di kawasan pusat kota Solo. Reyna yang baru keluar dari kamar mandi selepas buang air kecil dan mencuci muka, kemudian mendekati ranjang di mana suaminya berada.
"By, capek banget kah?" ucapnya sambil mendaratkan tubuhnya di sisi ranjang yang lain.
Rangga yang awalnya menutup mata dengan lengan tangannya, kemudian menoleh ke arah Reyna berada.
"Aku ngantuk, Sayang!" ungkapnya sambil beralih tidur di pangkuan Reyna. Tangan kirinya memeluk pinggang istrinya, sementara mukanya mendusel ke perut Reyna yang masih Rata.
"Ahh...geli, By!" bulu kuduk Reyna meremang akan ulah suaminya, namun ia agak kaget mendapati suhu tubuh Rangga yang agak panas, "Badan kamu agak demam, By!"
"Aku nggak apa-apa, Hana. Cuma kecapekan saja! Nanti dipakai istirahat juga sembuh sendiri kok," ujarnya masih dengan mata terpejam.
"Kamu kan kemaren habis sakit, By. Pasti belum sembuh bener, deh! Obatnya sudah diminum belum?" tanya Reyna penuh perhatian.
"Belum, Sayang. Terakhir kali aku minum obatnya, saat di rumah Nenek," ujarnya.
"Ya ampun, By. Jangan-jangan belum makan malam juga ya?" selidik Reyna.
"Udah kok, tadi aku makan di stasiun saat menunggu keretanya tiba."
"Terus kenapa, obatnya nggak diminum?" cecar Reyna.
"Iya, sih sengaja, tadi karena ngerasa udah enakan di badan, obatnya nggak aku minum," Rangga membuka mata, dan mendongak memperhatikan wajah cantik istrinya yang nampak guratan kekhawatiran di dahinya.
"Tuh kan, malah sengaja begitu sih. Nggak sayang sama badan ini. Kalau sakit itu tandanya minta lebih diperhatiin," Reyna mencubit gemas pucuk hidung Rangga.
Perhatian Reyna membuat Rangga merasa seperti anak kecil yang sedang melakukan kesalahan dan sedang di tegur oleh ibunya. Namun, ia malah menyukainya.
"Obatnya dibawa nggak?"
"Ada kok di dalam koper!" ucap Rangga.
Reyna kemudian menggeser kepala Rangga agar tidur di atas bantal. ia beranjak menuju almari, di mana koper Rangga di simpan. Dibukanya koper, terdapat bungkusan yang berisi obat di dalamnya.
Reyna beranjak duduk di tepian ranjang. Dibukanya pembungkus pil yang menjadi obat suaminya, kemudian ia menyodorkan beberapa pil tersebut ke depan muka Rangga.
"Ayo, By. Duduk dulu!" perintahnya.
Rangga mengangguk, kemudian beranjak duduk. Iya lontarkan pil-pil itu ke dalam mulutnya.
Reyna mengambil botol berisi air mineral yang berada di atas nakas dan di berikannya pada Rangga. Rangga bergegas meminumnya.
"Terima kasih, Sayang!" dikecupnya kening istrinya.
__ADS_1
"Lain kali jaga kesehatanmu juga, By! Sekarang di pakai istirahat dulu ya," Reyna mendorong pelan bahu Rangga agar beristirahat. Reyna kemuadian ikut merebahkan tubuhnya di samping Rangga.
"Adek, sudah sebesar apa, Bunda?" tanya Rangga sambil mengelus-elus perut Reyna yang masih rata.
"Baru sebiji kacang polong, Ayah. Umurnya kan baru enam minggu, jadi masih sangat kecil!" ujar Reyna, tangan kirinya membelai lembut kepala Rangga.
"Maafkan Ayah, ya Dek. Karena kesalahan Ayah kamu harus mengalami masa-masa sulit bersama Bunda!" ungkap Rangga dengan nada sedihnya.
"Ayah nggak perlu cemas, karena adek pasti kuat. Ade akan slalu jagain Bunda!" ujar Reyna seolah janinnya lah yang berbicara.
"Maaf ya, Sayang. Aku menyesal nggak bisa jagain kamu dengan baik. Nenek kemaren khawatir banget, saat tau kamu nggak bersama aku pulang ke Jakarta. Beruntungnya Kakek kemarin nggak tau, aku nggak bisa bayangin, kalau Kakek sampai tau kejadian ini, pasti Kakek akan kecewa sama aku, karena aku nggak menjaga kamu dengan benar!" ucap Rangga penuh penyesalan. Dia harusnya waktu itu tidak tersulut emosi yang berlebihan hingga melempar handphonenya. Akhirnya permasalahan menjadi rumit karena rasa posesifnya lebih besar dari rasa percayanya kepada Reyna.
"Mari kita selesaikan permasalahan yang kemarin terjadi, dengan bicara baik-baik, By!" pinta Reyna.
Reyna dan Rangga kemudian bertukar cerita dari versi masing-masing dengan apa yang telah terjadi tiga hari ke belakang. Akhirnya benang kusut dapat diluruskan dengan baik oleh keduanya. Tetapi, Reyna tidak menceritakan kepada Rangga, kisah pilu saat datang ke rumah dan di usir oleh Mami.
Jika mengingat hal itu, hati Reyna masih terasa perih. Kata-kata mami masih membekas di hatinya. Namun, Reyna tidak menyimpan dendam dan akan memafkan apa yang telah mami lakukan terhadapnya. Dia bertekad akan menyelesaikan sendiri kesalahpahaman yang terjadi dengan mami, tanpa melibatkan Rangga. Biar lah Rangga tidak perlu tau, agar Rangga tidak marah pada mami.
Bagaimanapun mami hanya korban dari hasutan seseorang yang ingin memisahkan dirinya dengan suaminya. Reyna akan mencoba berbicara dengan mami secara baik-baik dan tenang. Reyna sudah cukup mengerti dengan karakter ibu mertuanya tersebut. Dia hanya lah seorang manusia biasa, ia tidak akan bisa merubah karakter dari seseorang.
Reyna akan terus bersabar menghadapinya. Ibu dari suaminya kini adalah ibunya juga yang harus tetap dihormati, sebagai orangtuanya juga. Jangankan dengan ibu mertua, seringkali kita pun juga sesekali di hadapkan pada masalah, dengan ibu kandung kita. Namun, hendaknya kita tidak melukainya dengan kata-kata kasar ataupun membentak hingga melukai hatinya. Cukup diam dan dengarkan saat ia berbicara, jika sudah barulah kita bicarakan dengan baik-baik. Jika dengan bicara baik-baik tetap tidak bisa, maka do'akan orangtua kita, agar Allah menunjukkan jalan yang terbaik. Semoga Allah mengetuk pintu hatinya, agar dapat menerima kita sebagai istri dari anak yang dicintainya. Reyna berharap, dengan ini mami akan mengerti ketulusan hati Reyna terhadap keluarga ini dan juga tulusnya cinta Reyna kepada Rangga. Semoga suatu hari nanti, mami bisa menyayanginya juga sebagaimana seorang ibu pada anaknya.
"Sayang, kapan jadwal periksanya lagi? Aku tidak sabar ingin melihatnya saat di usg," ungkap Rangga membuyarkan lamunan Reyna.
"Nanti saat janinnya memasuki minggu ke dua belas, By!" ungkap Reyna.
"Hemm, iya , By! Memangnya kenapa?" tanya Reyna.
"Itu masih lama sekali Sayang. Aku sudah tidak sabar ingin melihatnya!" Rangga beranjak dari tidurnya, kemudian duduk berhadapan istrinya.
Kedua tangan Reyna mencakup pipi Rangga dan mengusapnya lembut, "Baiklah, bulan depan kita bisa memeriksakannya, By!"
Dengan cepat Rangga kecup bibir istrinya itu singkat, "Terima kasih, Sayang. Sudah membuat ku, menjadi seorang Ayah!"
"Iya, By. Ini adalah buah cinta kita!" Reyna mengganguk dan tersenyum.
Rangga memandang lekat ke arah istri cantiknya. Ia sangat bersyukur karena di jodohkan dengan cinta pertamanya. Ia tidak menyesal meski menikah di usia muda. Apalagi sekarang Allah telah mempercayakan malaikat kecil buah cintanya, tumbuh di rahim istrinya.
"Aku mencintaimu, Sayang!" jari-jarinya mngusap-usap dagu istrinya lembut.
"Aku juga mencintaimu, By!" balas Reyna.
Dengan perlahan Rangga mencondongkan tubuhnya ke bawah, tangan kirinya meraih tengkuk istrinya agar lebih mendekat kepadanya. Tanpa diminta Reyna mengalungkan tangannya di leher Rangga. Kemudian diciumnya bibir istrinya lembut. Lama-kelamaan ciumannya semakin menuntut. Reyna mulai terbuai dengan ciuman yang diberikan oleh suaminya.
__ADS_1
Selama hampir seminggu tidak bertemu membuat hasrat cinta mereka lebih menggebu karena merindu. Padahal sebelumnya hampir setiap malam mereka menghabiskan malam dengan bercinta. Tanpa melepaskan pagutannya, dengan perlahan Rangga mendorong kepala Reyna hingga mendarat di atas bantal. Tangannya sudah mulai bergerilya ketempat favoritnya.
"Emphh...!" desahan yang keluar dari mulut istrinya justru menyadarkannya akan sesuatu.
Meski belum puas dengan bibir istrtrinya. Rangga kemudian melepas ciumannya dan beranjak menjatuhkan diri di samping Reyna. Di tariknya selimut ke atas untuk menyelimuti keduanya. Rangga kemudian melingkarkan tangannya di perut Reyna. Reyna nampak kebingungan dengan apa yang Rangga lakukan.
"Lhoh, By. Ada apa?" tanyanya heran. Ia memiringkan badan menghadap suaminya.
Rangga tersenyum dengan pertanyaan istrinya yang nampak lucu seoalah berharap lebih. Mukanya nampak mengemaskan sekali
"Memangnya kamu ingin yang lebih, Sayang?" godanya.
Reyna gelagapan ditanya begitu oleh Rangga. Pipinya bersemu karena malu, seolah-olah ia lah yang sangat menginginkan terjadinya malam panas diantara mereka. Reyna kembali merubah posisi tidurnya menghadap ke depan.
"Nggak, kok! Aku kan nggak bilang begitu!" Reyna cemberut seraya menarik selimut menutupi mukanya yang sudah memerah bagai kepiting rebus.
"Beneran nggak pengen yang lebih, Sayang?" Rangga bertanya lagi sambil menahan tawanya.
"Nggak, ya. Aku kan tadi cuma nanya, By!" kilah Reyna di balik selimutnya.
Akhirnya ia tertawa juga melihat tingkah lucu istrinya yang menggemaskan. Ia kemudian menarik istrinya agar mendekat ke pelukannya. Disibaknya selimut yang menutupi muka istrinya, kemudian di kecupnya kening istrinya dengan lembut.
"Sayang, sebenarnya aku juga sangat menginginkan untuk menyentuhmu malam ini. Namun, sejak tadi aku mencoba untuk menahannya. Aku berhenti karena teringat kakimu yang sedang sakit. Aku tidak ingin pergerakanku semakin melukainya jika aku memaksakan kehendakku padamu!" ungkap Rangga dengan hati-hati agar istrinya tidak tersinggung, sambil dibelainya rambut istrinya dengan lembut.
"Kamu lebih mengerti aku, By. Aku bahkan sampai lupa jika kakiku sedang sakit!" ujar Reyna jujur. Ia melingkarkan tangannya di pinggang suaminya.
"Tenang saja Sayang, nanti jika kakimu sudah sembuh aku akan memberikan extra part di setiap malamnya!" godanya sambil memeluk Reyna erat.
"Ishh...apaan sih, By. Kaya aku yang mesum aja deh!" Reyna mencubit kecil perut suaminya.
"Aww...sakit, Sayang! Kamu mah mainnya kasar begini kalau gak dapat jatah!" goda Rangga lagi.
"Ehhh...kamu menyudutkan aku terus ya, By!" digelitikinya pinggang Rangga.
"Ahh... ampun, Sayang! Cukup...Sayang!" Reyna tertawa puas karena Rangga memang paling tidak tahan geli.
Setelah lelah bercanda tawa di tengah malam. Akhirnya keduanya terlelap dengan berpelukan.
______________________________________________
Hayoo, siapa yang udah baper??
Habis senyum-senyum sendiri baca bab ini, jangan lupa kasih Like, Comment, dan kasih hadiah yang banyak buat kisah Reyna & Rangga biar di Up lagi sama author, OK! 😍
__ADS_1
Salam hangat,
Neyna