
Seindah mentari pagi yang memancarkan sinarnya yang kaya akan manfaat. Pagi itu senyum keduanya merekah menyambut hari yang cerah. Bukan suatu kemewahan, hanya sekedar perhatian kecil saja membuat yang sederhana terasa istimewa.
Sekedar mata bertemu mata, seulas senyuman, sedikit sentuhan. Hanya dari yang sedikit tersebut tapi mampu menggetarkan hati yang sedang berbunga-bunga. Sebuah ketulusan dan kesabaran mampu mengubah rasa benci menjadi cinta antara keduanya. Pagi itu keduanya nampak romantis dengan banyak cinta. Seusai sarapan pagi, Abiyu berpamitan untuk berangkat ke restoran lebih awal.
"Reyn, aku berangkat ya? " ujar Abiyu tepat berada di belakang telinga Reyna yang sedang membereskan piring di wastafel.
Reyna seketika terkejut atas kedatangan Abiyu yang tiba-tiba. "Ish ... Kak Abi ngagetin aja sih!" pekiknya.
Kemudian, dia segera mencuci tangan dan berbalik ke arah Abiyu setelahnya. "Kak Abi hati-hati, ya?" ujarnya perhatian.
"Oh ya, Reyn. Nanti ketika aku sudah selesai membereskan masalah di resto. Kita pergi ke Jakarta untuk menyelesaikan masalah dengan Mira!" ujar Abiyu kepada Reyna.
"Beneran, Kak? makasih ya Kak?" Reyna nampak sangat riang mendengar hal itu dari Abiyu. Pasalnya dia merasa ada yang mengganjal sebelum masalahnya dengan Mira terselesaikan.
"Iya, ya udah sebelum berangkat kasih bekal dulu dong!" ujar Abiyu manja.
"Bekal? apa sih Kak, jangan aneh-aneh deh! nanti kepergok sama Lala berabe!" tolak Reyna sembari membenarkan krah kemeja Abiyu.
"Lala gak ada tuh lagi di kamarnya masih siap-siap!" ujar Abiyu beralasan. Dia ingin Reyna yang menciumnya.
Reyna menengok ke arah pintu dapur memastikan jika situasinya aman. Reyna hendak berjinjit mendekat ke muka Abiyu, tapi masih ragu dan nampak malu-malu.
Gemas melihat sang istri yang tidak segera menciumnya Abiyu menunduk dan segera mendekat ke bibir Reyna. Niat hati hanya ingin memberi kecupan singkat pada sang suami, Abiyu justru merengkuh pinggang sang istri agar semakin mendekat dan menahan ciuman itu menjadi l*mat*n.
Tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. Dengan reflak Reyna mendorong tubuh Abiyu hingga terhuyung ke belakang.
Krakk.
Punggung Abiyu menerpa kursi ruang makan hingga bergeser. Bertepatan dengan hal itu Lala masuk ke dalam dapur.
"Ehh .... Mas Abiyu kenapa?" tanya Lala spontan saat sudah berada di dalam dapur.
Reyna menatap sedih pada suaminya yang terlihat menahan sakit di punggungnya.
"Aduh Kak Abi, maaf?!" ujar Reyna kemudian segera membantu Abiyu berdiri dan mengusap-usap lembut punggung Abiyu yang terkena kursi.
__ADS_1
Aduh dasar apes, minta bekal malah babak belur pagi-pagi! gumam Abiyu dalam hati.
Lala menatap iba pada Abiyu, tapi juga merasa lucu karena bisa terperosok ke bawah begitu tepat saat dia masuk ke dalam dapur. Lala menjadi curiga dengan Reyna dan Abiyu yang berdua-duaan di dapur.
"Mas Abi masih ngantuk ya, jangan-jangan?" tanyanya sembari menahan tawa.
"Ehh, kamu malah ngeledek, La!" kesal Abiyu sembari mencoba bangkit.
"Masih sakit gak, Kak? aku oles salep yang buat memar ya?" ujar Reyna merasa bersalah.
"Udah gak usah, gak apa-apa ko. Aku berangkat sekarang ya? takutnya nanti malah terlambat." ujar Abiyu sembari meringis menahan sakit.
"Ya udah, hati-hati ya, Kak!" ujar Reyna perhatian.
Tangan Reyna terulur kedepan meraih tangan Abiyu, kemudian dia mencium punggung tangan suaminya, dan Abiyu menyambutnya dengan mencium kening sang istri. Seusai itu keduanya mengulas senyum yang mengiringi langkah Abiyu meninggalkan rumah.
Lala hanya melongo saja menyaksikan kedua sejoli yang sedang dipenuhi oleh bunga-bunga asmara tersebut. Hal itu sudah kesekian kalinya dari yang bermula pasangan hambar tanpa manis-manisnya, berbaikan sedikit malu-malu, lalu bermusuhan lagi hingga kemudian berbaikan lagi dengan penuh drama yang terjadi dua hari yang lalu.
"Weys, Mbak Reyna sama Mas Abi romantis banget pagi ini? Lala curiga ... sebenarnya apa yang terjadi di resto kemarin?" tanya Lala menyelidik.
Sebab sedari pagi keduanya nampak cukup mesra. Saling menatap sembari tersenyum. Bahkan Reyna melayani Abiyu dengan sangat manis. Hingga Lala ibarat nyamuk saja diantara mereka.
"Hu...u, dasar bucin!" ujar Lala yang menduga-duga jika saat ini Reyna sudah mulai membuka hatinya kepada Abiyu. Justru dia ikut senang melihat mereka akur. Sebab Lala akan ikut repot jika mereka sedang marahan. Ujung-ujungnya Lala harus melaporkan apapun yang di lakukan Reyna pada Abiyu, seperti dua hari yang lalu.
****
Abiyu telah sampai di rumah salah satu karyawannya. Beruntung sekali bertepatan dengan itu wanita yang dicarinya sedang di teras rumah, sepertinya hendak bepergian. Dengan cepat Abiyu turun dari mobilnya dan berjalan mendekat ke arah Tantin yang sudah siap tancap gas di atas motornya.
"Tin, tunggu!" seru Abiyu menghentikan.
Tantin merasa cukup kaget saat melihat bosnya yang sedang keluar dari dalam mobil dan berjalan ke arahnya.
Itu bener Pak Abi, kan? kenapa beliau datang ke rumahku? gumam Tantin dalam hati.
"Assalamu'alaikum, Tin. Mau pergi ya?" tanya Abiyu kepada Tantin.
__ADS_1
Tantin segera turun dari motornya. "Wa'alaikumsalam Pak Abi, kok bisa tahu rumah saya?" sapa Tantin ramah.
"Iya, kan dulu pernah ke sini pas takziah orang tua kamu!" ujar Abiyu menjelaskan.
"Oiya, ya. Maaf Pak, saya lupa!" ujar Tantin sembari mengingat-ingat.
"Tidak apa-apa. Bisa berbicara sebentar gak, Tin? ada hal yang penting yang ingin saya tanyakan?" tanya Abiyu langsung pada intinya.
"Bisa, Pak. Sekarang saja kalau begitu. Tadi saya cuma mau belanja ke supermarket. Saya masih bisa belanja nanti," ujar Tantin menjelaskan. "Mari Pak masuk!" tawarnya.
"Tidak usah, sebaiknya di teras saja!" tolak Abiyu dengan lembut.
Akhirnya keduanya menuju bangku panjang yang berada di teras.
"Tin, seperti Apa kelakuan Mega saat aku tidak ada?" tanya Abiyu mengorek informasi.
Waduh, Pak Abi tanya itu lagi, aku harus jawab apa!?! dalam hati Tantin merasa takut, sebab Mega selalu mengancam agar tidak mengadu. Jika sampai mengadu maka Mega akan memecatnya.
Abiyu merasa jika Tantin nampak cemas dengan pertanyaan yang diajukannya.
"Kamu tidak perlu khawatir, saya akan menjamin kamu tetap bekerja di sana!" ujar Abiyu yang seolah tahu dengan apa yang dipikirkannya.
"Mbak Mega selalu menyuruh sesuka hati, memotong gaji jika ada sedikit kesalahan yang terjadi dan mengeluarkan karyawan jika dia tidak menyukainya, Pak ...!" ujar Tantin dengan khawatir.
"Oh jadi begitu, sikap dia selama ini di belakang saya. Saya semakin mantap untuk mengambil tindakan hari ini juga. Mulai hari ini kamu harus belajar untuk menggantikan tugas-tugas dia, Tin. Karena kamu yang paling senior di sana yang sudah mengetahui seluk beluk tentang resto dan dapat saya andalkan. Mulai hari ini saya akan memecat Mega!" ujar Abiyu dengan tegas.
"Memecat mbak Mega? memangnya kenapa, Pak?" tanya Tanti yang merasa terkejut mendengar hal itu. Sebab Mega bagaikan tangan kanan Abiyu.
"Semalam dia sudah bikin masalah dengan saya. Selama ini saya mempertahankan dia demi ayahnya yang merupakan teman baik bunda. Tapi kali ini saya tidak akan segan-segan untuk memecatnya!" ujar Abiyu dengan mantap.
____________________Ney-nna________________
...Please Like 👍...
...Leave a Coment 🤗...
__ADS_1
...GTive a gift & vote 🌹...
...Tank you! 🙏💕💕...