
Setibanya di teras rumah Abiyu menelepon Dina agar memberitahukan kepada bi Lastri jika Reyna sudah di temukan. Dan meminta bi Lastri untuk datang ke rumah.
Setelah itu Abiyu menelepon Tantin, asistennya di Resto.
"Hallo, Tin. Bagaimana kinerja satpam yang berjaga di depan resto, apa mereka dapat dipercaya?" tanya Abiyu menelisik.
"Mereka cukup berkompeten dan disiplin, Pak," ujar Tantin mengatakan yang sesungguhnya.
"Bagus, kalau begitu kamu cari satpam yang baru untuk menggantikan mereka berjaga di resto," perintah Abiyu.
"Lhoh, kenapa mereka digantikan, Pak? Kan saya bilang performa mereka bagus. Kenapa malah di pecat, Pak?" tanya Tantin yang terkejut sekaligus bingung.
"Siapa yang bilang mau memecat mereka?" Abiyu balik bertanya.
"Eh, saya kira dengan menggantikan mereka, anda akan memecat mereka, Pak," dugaan Tantin.
"Bukan, saya akan memindahkan mereka untuk berjaga di depan rumah saya mulai besok. Saya sudah menemukan istri saya, Tin. Saya ingin ada yang berjaga di rumah ketika saya harus pergi meninggalkan rumah," tutur Abiyu sembari tersenyum merasa lega saat mengungkapkan jika istrinya sudah kembali padanya.
"Alhamdulillah, saya turut merasa senang, Pak. Semoga bu Reyna dan Pak Abi selalu menjadi keluarga yang utuh dan langgeng," ungkap Tantin ikut merasa senang mendengar kabar baik dari istri bosnya.
"Aamiin, terima kasih Tantin atas do'anya. Oh ya tolong kirimkan beberapa menu makanan ke rumah saya untuk makan malam. Di rumah saya sedang tidak ada bahan makanan. Saya malas untuk ke luar dan ingin makan di rumah saja," perintah Abiyu.
"Baik. Pak. Saya akan segera meminta bagian dapur untuk menyiapkannya. Apa ada menu khusus yang bapak inginkan?" tanya Tantin memastikan.
"Terserah kamu saja, kamu paham kan yang menu yang menjadi kesukaanku," ujar Abiyu.
"Oh, iya, Pak. Baiklah, segera saya siapkan."
"Oke, terimakasih, Tin," ujar Abiyu.
"Sama-sama, Pak."
Telepon di matikan.
Abiyu kemudian masuk ke dalam rumah. Abiyu menuju dapur, dan memasak air untuk membuat teh, untuknya dan juga istrinya. Bayangannya di sore hari begini mengobrol berdua sembari minum teh mungkin dapat menghangatkan suasana. Lagipula, Abiyu menduga Reyna mungkin belum selesai mandi atau masih bersiap-siap, sehingga dia tidak ingin kehadiran Abiyu ke dalam kamar akan membuatnya tidak nyaman.
Hal itu mengingatkannya pada pertama kali mereka tinggal bersama di rumah ini saat diawal-awal menikah. Suasana canggung dan tidak nyaman, terlebih sikap dingin Reyna yang selalu menjaga jarak dan kata-katanya yang jutek.
Berbeda dengan kali ini, sikap canggung Reyna lebih kepada belum terbiasa dengannya dan terlihat malu-malu. Seperti kembali kepada saat-saat pertama kali mengenalnya. Reyna yang ramah dan tutur katanya yang lembut, yang membuatnya merasa yakin untuk melamarnya waktu itu meski baru beberapa kali bertemu.
Siapa sangka jika penolakan Reyna waktu itu, hanyalah penyatuan dari Allah yang tertunda. Takdir perlahan menuntun mereka pada ikatan suci pernikahan, kesabaran dari Abiyu membuahkan hasil di akhir penantian, karena Reyna adalah takdir yang di digariskan Allah untuk menjadi jodohnya, yang tertulis di lauhul mahfudz.
Syuuuuutttt!
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar bunyi siulan pada teko yang membuyarkan lamunannya. Abiyu segera beranjak dari duduknya, dan beranjak menuju kompor untuk mematikan teko.
Klik!
Kompor dimatikan.
Abiyu segera menyeduh teh dengan air panas dari dalam teko. Tidak lupa ditambahkannya gula dan mengaduknya dengan sendok maju dan mundur secara teratur agar gula larut dengan benar.
Dua gelas teh tersaji untuknya dan sang istri. Abiyu membawa tehnya menuju ruang tengah. Abiyu menghidupkan televisi sembari menunggu Reyna ke luar dari dalam kamar. Sembari menunggu Reyna Abiyu menghubungi bundanya.
"Hallo, Bi. Assalamu'alaikum!" ucap bunda dari seberang telepon.
"Wa'alaikumussalam. Bun, Abiyu ingin memberitahukan jika Reyna sudah ditemukan, Bun," tutur Abiyu kepada bundanya.
"Alhamdulillah, bagaimana keadaannya, Kak? Ketemu di mana?" tanya Bunda dengan antusias.
"Abiyu menemukan Reyna di pondok pesantren saat mengantar Lala, Bun. Tiga bulan lalu Reyna di buang ke hutan. Waktu itu pihak pondok sedang ada kegiatan dan menemukan Reyna. Beruntung sekali Reyna masih tertolong. Namun, Reyna mengalami amnesia, Bun. Reyna tidak mengingat masa lalunya," tutur Abiyu dengan sendu.
"Innalillahi ... yang sabar ya, Bi. Ini pasti sangat berat buat kalian. Bunda hanya bisa mendoakan semoga ingatan Reyna cepat pulih seperti sedia kala. Besok Bunda usahakan datang ke sana untuk menengok keadaan Reyna, Bi," tutur Bunda Maya.
"Tidak perlu, Bun. Rencananya Abi ingin membawa Reyna ke Jakarta untuk menjemput Reynand."
"Oh iya, Reynand kan tinggal sama maminya Rangga. Baiklah, kamu nginep di rumah Bunda apa langsung ke sana?" tanya Bunda.
"Iya, Bi. Bunda juga berharap seperti itu,Reynand masih terlalu kecil, kasihan sekali anak sekecil itu harus terpisah dari orang tuanya." Terdengar getir dari suara bunda membuat Abiyu kembali bersedih.
"Ya sudah, Abi tutup dulu ya, Bun. Sambung lain waktu. Assalamu'alaikum," tutur Abiyu mengakhiri teleponnya ketika Reyna muncul dari balik pintu.
"Iya, Bi. wa'alaikumussalam," jawab bunda, kemudian mengakhiri sambungannya.
Abiyu menyimpan handphonenya di atas meja. Dilihatnya Reyna berjalan dengan ragu untuk mendekat ke arahnya.
"Reyn, sudah selesai. Ayo duduk di sini!" ujar Abiyu sembari menepuk sofa di sampingnya duduk.
Reyna tidak menjawab, namun dia menuruti perintah Abiyu. Dengan perlahan Reyna mendudukkan diri di samping Abiyu.
Reyna kok kaya gemukan pakai baju itu! gumam Abiyu di dalam hati.
Tadinya Reyna mengenakan gamis longgar dan khimar hingga sampai lutut, yang diberikan oleh bu Salamah. Dan saat ini Reyna mengenakan khimar hingga perutnya. Sehingga dapat terlihat jika perut Reyna sedikit membuncit.
"Oh, ya. Diminum tehnya selagi hangat," tutur Abiyu sembari mempersilakan Reyna untuk minum.
"Kak Abi yang buat sendiri?" tanya Reyna sembari mengambil cangkir dari atas meja.
__ADS_1
"Iyalah, siapa lagi. Besok biar dicarikan ART dulu sama bibi," tutur Abiyu dengan melakukan hal yang sama.
Reyna mengembalikan cangkir ke atas meja dengan gelas yang masih terisi tiga perempat gelas.
"Kenapa hanya diminum sedikit?" tanya Abiyu sembari melirik cangkir teh milik Reyna.
"Tadi pagi aku sudah minum teh satu gelas. Minum minuman yang mengandung kafein terlalu banyak tidak baik bagi janin," tutur Reyna sembari memandang ke arah suaminya.
Abiyu terdiam mencerna kata-kata Reyna barusan.
"Tunggu, Reyn. Tadi kamu bilang apa? Janin? kamu hamil??" pekik Abiyu sembari membulatkan mata.
Reyna mengangguk pelan, "Kak Abi tidak tahu, aku pikir aku hamil anak Kak Abi," ucap Reyna lirih dengan raut muka sedih sambil menunduk. "Lantas aku hamil anak siapa?" tambahnya.
Abiyu seketika membuka mulutnya karena terkejut dengan kata-kata Reyna.
Abiyu memegang dagu Reyna agar mengangkat wajahnya dan memandang ke arahnya.
"Sudah berapa bulan?" tanya Abiyu dengan pelan.
"Tujuh belas minggu ...," jawab Reyna singkat.
"Alhamdulillah! Kamu mengandung anakku Reyna!" seru Abiyu sembari merengkuh Reyna ke dalam pelukannya.
"Bagaimana Kakak bisa yakin kalau ini anak Kak Abi?" tanya Reyna sembari mengurai pelukannya.
"Tujuh belas minggu berarti empat bulan kan? Kamu meninggalkan rumah ini tiga bulan, tentu saja kamu mengandung anakku, Reyna," ujar Abiyu sembari tersenyum.
"Oh, iya ya? Hehehe ... maaf!" ucap Reyna yang merasa lucu karena dia tidak mengingat bagaimana dia bisa hamil dan siapa yang telah menghamilinya.
Namun, di saat dia tahu jika kehamilannya terjadi atas pernikahan yang sah dan ada suaminya, hal itu membuatnya merasa lega.
Abiyu memegang dagu Reyna agar melihat ke arahnya. "Terima kasih Reyn, karena sudah menjaga anak kita. Aku sangat mencintaimu, Reyna!" ujar Abiyu sembari menatap ke arah istrinya.
Mendengar hal itu pipi Reyna seketika memanas, baginya itu adalah pertamakali dia mendengar ungkapan cinta dari Abiyu, dan pertamakali merasakan getaran di hatinya. Sejenak keduanya saling terdiam dan hanya sorot mata mereka yang bicara.
Jantung Reyna terasa berdebar-debar lebih kencang dari biasanya, tatkala Abiyu mulai mencondongkan tubuhnya ke depan dan jarak di antara keduanya perlahan-lahan berkurang.
Ting tong ... ting tong!
Bunyi bel di pintu membuyarkan suasana syahdu sore itu.
...__________________Ney-nna_________________...
__ADS_1