
Seusai sarapan Reyna dan Abiyu berpamitan pada bunda Maya untuk mengunjungi kediaman Hadi Jaya.
Diperjalanan Abiyu menghentikan mobilnya di di depan toko yang menjual berbagai perlengkapan bayi dan mainan anak.
"Kenapa berhenti, Kak?" tanya Reyna kepada Abiyu yang telah berhasil memarkirkan mobilnya di pelataran toko.
"Aku ingin membelikan Reynand mainan, sudah sebulan lebih aku tidak menjenguknya," ujar Abiyu sembari melepas seat belt yang melindungi tubuhnya.
Reyna terkesima mendengar kata-kata suaminya. Abiyu ternyata begitu menyayangi Reynand meskipun hanya anak tirinya.
"Ayo kita turun!" ujar Abiyu pada sang istri.
Keduanya turun dari mobil, kemudian masuk ke dalam toko. Abiyu menggandeng tangan istrinya menuju tempat mainan anak. Ada berbagai mainan di sana mulai dari yang terjangkau dan mainan yang harganya mahal.
"Reyn, menurutmu mainan apa yang cocok untuk Reynand?" tanya Abiyu kepada istrinya tanpa melepaskan genggaman tangan pada istrinya.
"Mainan yang mengedukasi saja, Kak. Itu ada lego, Kak," usul Reyna sembari menunjuk rak yang terdapat bag yang berisi lego di dalamnya.
"Dulu aku sudah membawakan mainan seperti itu. Apa ya yang lain?" tanya Abiyu sembari berpikir dan ekor matanya mengitar mainan yang di display di rak tak jauh di depan mereka.
"Mbak ... mbak!" panggil Reyna kepada salah satu SPG yang melintas.
"Iya Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang SPG.
"Mainan edukasi untuk anak satu tahun apa saja ya, Mbak?" tanya Reyna.
"Emm ... di sana, Bu. Ada banyak mainan yang diperuntukkan untuk anak satu tahun. Seperti lego, puzzle, flash card, magic learning table, piano kecil, dan masih banyak yang lainnya," ujar SPG.
"Baiklah terima kasih ya, Mbak?" ucap Reyna sembari tersenyum di balik cadarnya.
"Sama-sama," ujar SPG tersebut kemudian berlalu.
__ADS_1
Reyna dan Abiyu mengambil beberapa mainan yang cocok untuk Reynand, kemudian beralih melihat perlengkapan bayi.
"Kak, Terima kasih, ya?" ujar Reyna sembari berhenti melangkah dan memandang ke arah suaminya.
"Terima kasih untuk apa, Reyn?" tanya Abiyu yang merasa bingung karena tiba-tiba Reyna berkata seperti itu.
"Terima kasih karena Kak Abi sangat menyayangi Reynand, meski Reynand bukan anak kandung Kak Abi, tapi perhatian Kak Abi bahkan melebihi ayah kandung kebanyakan," ujar Reyna tulus.
"Aku menyaksikan Reynand tumbuh sejak dia masih bayi berusia empat bulan, saat kamu membawanya pindah ke Yogya pertama kali, hingga sekarang saat anak itu sudah berusia satu tahun lebih. Tentu saja aku menyayanginya, Reyn. Aku sudah terbiasa dengan Reynand, meskipun kita belum menikah," tutur Abiyu sembari mengingat kala itu.
"Benarkah? Apa dulu Kak Abi sering berkunjung ke rumah dan mengajak Reynand bermain?" tanya Reyna menelisik.
Abiyu menggeleng. "Kamu bahkan melarangku untuk datang berkunjung ke rumahmu dan menolak bantuan dariku. Semuanya aku lakukan secara diam-diam dengan Lala. Bahkan menjagamu dari jauh," tutur Abiyu menceritakan kisah sebelum mereka menikah.
"Apa aku sejahat itu, Kak?" tanya Reyna dengan sendu.
Abiyu tersenyum sembari membelai pipi istrinya. "Kamu tidak jahat, aku tahu saat itu kamu sedang berusaha untuk membentengi diri demi kesetiaanmu kepada almarhum Rangga. Atau mungkin kamu menghindariku karena kamu takut jatuh cinta sama aku ...," ujar Abiyu bercanda.
Reyna menusuk pinggang suaminya dengan jari telunjuknya beberapa kali.
"Ihh, apaan sih, Kak. Tambah ngaco deh!" tutur Reyna pada suaminya. "Tunggu, Kak. Aku masih penasaran, dari penuturan Kak Abi, aku merasa aku yang dulu sepertinya begitu jahat dan memperlakukan Kak Abi dengan tidak baik, tapi bagaimana Kak Abi bisa mencintai aku?" tanya Reyna.
"Aku mulai menyukaimu sebelum kamu menikah dengan Rangga. Saat pertama kali aku mengenalmu kamu wanita yang baik, sopan, ramah, lembut, feminim, sederhana, dan tentunya karena menurut aku kamu adalah wanita yang shalihah. Menurut mereka kamu tidak pernah berpacaran, karena itu aku semakin yakin untuk langsung mengutarakan keinginanku kepada bunda untuk melamarmu, dan kamu menerimanya, namun waktu itu jodoh tidak berpihak pada kita," tutur Abiyu panjang lebar.
"Benarkah? Kenapa Kak Abi tetap mencintaiku meski aku sudah menikah?" tanya Reyna lagi.
"Karena melupakan itu tidak mudah, Reyna. Orang bisa saja dengan mudah menyukai satu orang atau lebih, tapi tidak dengan melupakan." Abiyu menjeda kata-katanya. "Aku tahu aku salah karena masih mencintai wanita yang menjadi istri laki-laki lain, karena itulah aku tidak pernah berusaha untuk merebutmu juga dari Rangga. Dan, ketika aku hendak memasrahkan diri untuk menerima perjodohan dari bunda dengan wanita lain, justru saat itu Rangga menitipkan kamu padaku pada pesan terakhirnya. Karena itulah aku tetap bersabar dengan rencana Allah. Aku menunggumu hingga masa idahmu selesai dan saat itu Allah menunjukkan jalannya, bahwa kamulah jodohku," tutur Abiyu sembari tersenyum dan mengusap pucuk kepala istrinya yang tertutup khimar.
"Kak Abi begitu sabar, dan perjuangan Kakak cukup sulit hingga bisa menikahiku. Sekarang aku tahu kenapa Allah menghukumku dengan musibah yang kemarin menimpaku, aku merasakan sakit di sekujur tubuhku, aku merasa sangat sedih ketika orang-orang mengira aku dibuang oleh keluargaku, ada juga yang mengira aku wanita simpanan yang hamil diluar nikah dan dibuang, dan aku tidak bisa membela diriku dan menjelaskan apa pun karena aku tidak memiliki ingatan tentang sebenarnya yang terjadi padaku."
"Ternyata semua rasa sakit dan kesedihan yang aku rasakan terjadi mungkin karena aku mendzolimi kak Abi sebagai suamiku," tutur Reyna dengan sendu.
__ADS_1
"Allah teramat menyayangimu, Sayang. Mungkin Allah menegurmu dengan rasa sakit itu, agar dosa-dosa mu berkurang, dan Allah memberikan mu kesempatan agar kamu bisa bertaubat," tutur Abiyu lembut.
"Tolong maafkan kesalahanku, Kak!" mohon Reyna dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku sudah memafkanmu bahkan sebelum kamu hilang, Sayang. Kedepannya kita harus saling mengingatkan agar Allah selalu meridhoi langkah kita."
"Terima kasih, Kak. Tolong tegur aku jika aku melakukan kesalahan, Kak! Aku ingin mencium baunya surga dan tinggal di sana bersamamu!" tutur Reyna.
"Aamiin. Kita pasti bisa melalui segala cobaan bersama-sama. Dan, aku rasa saat ini Allah tengah memberikan hadiah atas kesabaranku," tutur Abiyu dengan mata berbinar bahagia.
"Hadiah? Apa itu, Kak?" tanya Reyna yang tidak mengerti.
"Hadiahnya adalah mendapatkan istri yang shalihah dan mendapatkan cinta darimu," tutur Abiyu sembari mencakup pipi istrinya yang tertutup cadar.
"Ekhm ... ekhm! Maaf saya mau lewat!" tutur seorang ibu-ibu yang hendak berbelanja.
"Ehh ... maaf!" ujar Abiyu sembari menarik pinggang Reyna hingga menempel di tubuhnya. "Silakan!"
"Kalau mau bermesraan itu di rumah bukan di tempat umum!" gumam seorang ibu-ibu itu sembari berjalan melewati mereka dengan raut muka jutek.
Abiyu dan Reyna berpandangan sembari menahan tawa saat mendengar omelan itu. Dan, setelah ibu-ibu itu sudah jauh melangkah, keduanya pun tertawa.
"Sudah yuk, kita bayar, Kak. Kelamaan di sini dimarahi orang lagi ntar ... bukannya belanja malah diskusi. Hehehehe!" ujar Reyna yang merasa malu berada di tempat ini.
"Gak apa-apa, kan kita juga tidak melakukan perbuatan yang tidak senonoh, dan kita pasangan halal," tutur Abiyu. "Oh, ya ... kamu nggak pengen nyicil baju bayi atau perlengkapan bayi, buat anak kita?" tanya Abiyu pada istrinya.
"Jangan dulu dong, Kak. Baru empat bulan, kita juga belum tahu kan jenis kelaminnya. Mungkin nanti kalau sudah delapan bulan baru beli-beli, Kak," jawab Reyna kepada suaminya.
"Oh, iya ya. Ya sudah kita bayar dulu belanjaan kita, habis itu kita jemput Reynand."
Reyna mengangguk, kemudian mereka berjalan menuju kassa.
__ADS_1
Usai berbelanja mereka kembali ke dalam mobil. Dan, Abiyu segera memacu mobilnya menuju jalanan, kemudian menuju kediaman Hadi Jaya.
..._________________Ney-nna________________...