Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Ketahuan


__ADS_3

Di sela-sela menuggu adzan maghrib, Reyna memulas kuku di jari tangannya dengan henna berwarna brown warna kesukaannya. Sembari menemani putranya yang sedang asyik bermain puzzle.


Bibir tipis Reyna bergumam merapal ayat-ayat murotal yang diputarnya pada speaker bluetooth demi membiasakan Reynand dan janin yang ada di kandungannya dengan ayat-ayat Al-Qur'an.


Tiba-tiba sebuah tangan melingkari lehernya dan mengecup pucuk kepalanya. Reyna tersenyum mendongak ke arah Abiyu yang baru saja menyelesaikan urusannya di restoran depan.


"Mau mandi dulu, Kak? aku siapkan air hangatnya ya?" tutur Reyna perhatian.


"Kenapa kamu tidak membiarkan aku sendiri yang mengurusnya, Sayang?" ujar Abiyu sembari duduk di samping istrinya.


"Hamil bukan berarti aku tidak bisa mengurus mu dan melayani mu dengan baik, Kak!" ujar Reyna menghambur kepelukan suaminya.


"Eh ... badanku bau keringat, Sayang. Kenapa kamu akhir-akhir ini selalu menempel padaku disaat habis bekerja, Reyn?" tanya Abiyu yang merasa heran ketika Reyna memeluknya sembari mengendus pada aroma tubuhnya.


"Aku suka bau badanmu yang sepulang bekerja, Kak. Peluh keringat dari pejuang seorang pahlawan keluarga yang berjuang tanpa lelah demi istrimu dan buah hati kita. Semakin hari aku semakin mencintaimu, Kak. Tetaplah sehat dan kuat menjaga kita!" tutur Reyna sembari tersenyum ke arah suaminya.


"Terima kasih, Sayang. I love you more, istri salihahku ...," tutur Abiyu sembari mengecup singkat bibir istrinya dan merengkuh Reyna ke dalam pelukannya penuh sayang.


"Papa ... papa ...!" Reynand yang sedikit posesif meninggalkan mainannya, kemudian berdiri dan menarik-narik kemeja Abiyu.


Abiyu dan Reyna mengurai pelukannya dengan tersenyum, kemudian Abiyu menggendong Reynand dan membawanya ke dalam pangkuan.


"Uh sini, jagoan Papa mau dipeluk juga, ya?" ujar Abiyu sembari mengecup pipi putra tirinya.


"Aku ke kamar dulu ya, Kak?" ujar Reyna sembari berdiri beranjak pergi ke kamar mereka untuk menyiapkan air hangat dan baju ganti untuk suaminya.


Sayup-sayup dalam lirih masih dapat terdengar interaksi Abiyu dengan putranya.


"Mas Reynand, seharian main apa sama, Mama? bisa jagain Mama dan adek? anak salih!"


Reyna yang mendengar hal itu merasakan sangat bahagia. Betapa semua yang terjadi dalam hidupnya adalah kehendak Allah. Bukankah Allah begitu baik, apa yang hilang dari kita adalah kehendak Allah dan ketika kita bersabar dan bertawakal Allah menukar kesedihan itu dengan kebahagiaan yang tiada tara.

__ADS_1


"Abi tidak tahu menahu, Bun. Coba nanti aku tanyakan kepada Reyna, aku rasa dia yang lebih dekat dengan Fely," tutur Abiyu dengan seseorang di dalam percakapan pada sambungan teleponnya.


Reyna yang baru saja kembali ke ruang tengah untuk memberitahukan kepada suaminya jika kamar mandinya telah siap, tanpa sengaja mendengar perkataan suaminya.


"Baik, Bun. Nanti Abi kabari ya! assalamu'alaikum," ujar Abiyu sembari melirik kepada istrinya yang baru datang, kemudian memutus sambungan teleponnya.


"Siapa, Kak?" tanya Reyna sembari duduk di samping Abiyu.


"Barusan bunda telepon. Sayang, apa ada sesuatu yang kamu ketahui tentang Fely sebelum dia kembali ke Jakarta?" tanya Abiyu.


Reyna seketika menoleh ke arah Abiyu. Sedikit ada rasa takut dengan pertanyaan suaminya. Reyna menjadi dilema dengan apa yang harus dia katakan kepada suaminya tentang hal itu.


"Em ... memangnya ada apa, Kak?" tanya Reyna hati-hati.


"Bunda bertanya, katanya semenjak pulang ke Jakarta Fely sering murung. Dari kemaren Fely lebih sering menghabiskan waktu di kamarnya dan nggak mau ikut ke resto. Bahkan dari kemarin malam Fely demam," tutur Abiyu menjelaskan kondisi adiknya yang diketahuinya dari bunda.


Deg.


"Kak Abi mandi dulu gih, keburu airnya dingin, lagi pula bentar lagi adzan maghrib, lhoh!" tutur Reyna mengalihkan pembicaraan.


"Ya udah, Papa mandi dulu ya? Reynand lanjut main sama Mama!" ujar Abiyu sembari menurunkan Reynand dari pangkuannya.


Setelah itu Abiyu segera beranjak pergi ke kamarnya untuk mandi.


Sepeninggal Abiyu Reyna mencoba mengubungi Fely. Namun, nomor Fely masih juga tidak aktif. Reyna pun semakin gelisah. Dia bingung jika nanti suaminya bertanya lagi, maka dia harus menjawab apa?


Satu-satunya cara hanya menelepon ke nomor bunda, sebab Fely pasti juga enggan untuk mengangkat telepon rumah.


Beberapa saat menunggu akhirnya telepon tersambung.


"Hallo, assalamu'alaikum, Reyn," ujar bunda di ujung telepon.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, Bun. Bunda sehat?" tanya Reyna berbasa-basi.


"Alhamdulillah, Bunda sehat. Tapi, Fely justru yang sedang sakit. Abi bilang Fely lebih dekat dengan kamu, kan? apa Fely cerita sesuatu sebelum berangkat ke Jakarta? Bunda rasa ada sesuatu yang di sembunyikan Fely dari Bunda," tutur bunda yang mengkhawatirkan anak gadisnya.


"Em, maaf Bunda boleh Reyna di sambungkan dengan Fely terlebih dahulu? Reyna akan mencoba berbicara pada Fely," tutur Reyna yang merasa harus berbicara terlebih dahulu dengan Fely.


"Baiklah, coba kamu ajak bicara Fely, sebab dia tidak mau jujur sama Bunda," tutur bunda.


"Baik, Bun!" ucap Reyna patuh.


Beberapa saat hening dan Reyna masih harap-harap cemas dalam menunggu.


"Uhukk ... uhuk ...! halo, Kak!" Terdengar Fely menjawab dari sisi telepon dengan suara serak.


"Fe, bunda bilang kamu sakit, apa ini ada hubungannya dengan laki-laki yang waktu itu?" tanya Reyna menyelidik.


"Hiks ... hiks ...! Kak, dia mau menikah dengan wanita itu, mereka sudah bertunangan dan akan segera menikah!" tutur Fely dengan isak tangis, tidak kuasa menahan sakit hatinya.


"Fe, bukankah waktu itu kamu bilang sudah menikah siri dengan dia? bagaimana mungkin dia mau menikah lagi dengan wanita lain?" tanya Reyna dengan suara sedikit meninggi menahan emosi.


"Kak, kemarin dia datang ke rumah. Dia bilang pernikahan kita waktu itu tidak sah karena tidak ada wali dari pihak Fely, seharusnya kak Abi yang menjadi wali nikah. Dia bilang nikah siri waktu itu dikatakan batal," tutur Fely menceritakan yang dikatakan Raka waktu datang mengunjunginya.


"Kenapa dia baru bilang sekarang? bagaimana jika waktu itu kalian sudah tidur bersama setelah pernikahan siri itu? bukankah dia bilang mau datang untuk melamar kamu? menyebalkan! di mana rumahnya biar aku dan Kak Abi bicara sama dia! seenaknya saja mempermainkan hati orang! katakan di mana rumahnya!" ujar Reyna dengan emosi yang meluap-luap.


"Kak Reyna akan cerita ke kakak?" tanya Fely dengan gelisah takut jika kakaknya akan marah besar padanya.


"Fely, ini Kak Abi harus tahu, masalah kamu ini nggak bisa dibiarkan begitu saja. Kak Abi dan bunda khawatir dengan keadaan kamu, sebaiknya jujur pada kak Abi dan bunda, Fe. Kamu tidak perlu takut, justru kamu rugi sendiri jika merahasiakan hal ini dari mereka. Kakak tidak ingin kamu tertipu olehnya!" tutur Reyna menasehati.


"Apa yang kalian rahasiakan?" tanya Abiyu dari belakang Reyna.


Reyna terkejut dan membelalakkan mata tatkala mendapati Abiyu sudah ada di belakangnya.

__ADS_1


...__________Ney-nna__________...


__ADS_2