
Malam itu Reyna bergegas kembali ke kamar, dengan tujuan ingin segera memberitahukan kecurigaannya, tentang orang misterius yang mengintai di restoran dan juga di rumah kepada Abiyu. Namun, saat dia masuk ke dalam kamar, ternyata Abiyu sudah lebih dulu tertidur di atas ranjang, masih dengan handphone yang berada di genggaman tangan.
Melihat hal itu Reyna menghela napasnya kemudian mendekati suaminya dan duduk di tepian ranjang di samping Abiyu. Reyna mengambil handphone milik suaminya dan meletakkan handphone tersebut di atas nakas. Lalu, Reyna menyalakan lampu tidur yang temaram, kemudian mematikan lampu kamar yang terang-benderang.
Kak Abi pasti sangat lelah hari ini. Lelah karena perjalanan jauh dan juga lelah karena beban pikiran. Meskipun kamu tidak mengatakannya, aku tahu, Kak. Kerugian akibat kebakaran itu pasti cukup besar. Hampir semua perlengkapan dapur, mesin pendingin, maupun microwave ikut terbakar.
Setelah itu Reyna berjalan menuju almari pakaian dan mengambil baju tidur. Reyna kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan dress tipis selutut tanpa lengan, berwarna pink nude yang hanya dipakainya saat hendak tidur.
Seusai dari kamar mandi Reyna berjalan menuju tempat tidur dan mendudukkan diri di tepian kasur. Disibaknya selimut tebal di atas ranjang, kemudian menariknya hingga menutupi sebagian tubuh suaminya dan juga sebagian tubuhnya bagian bawah. Reyna duduk bersandar pada sandaran tempat tidur sembari memejamkan mata, meresapi sunyinya malam.
Sebenarnya apa rencana-Mu ya Allah. Tolong lindungi keluarga hamba ini. Lindungilah suamiku dan anakku.
Beberapa saat kemudian Reyna membuka mata dan menoleh ke samping memperhatikan wajah suaminya yang tertidur dengan pulas. Ada kekhawatiran yang dia rasakan jika sesuatu yang buruk akan kembali terjadi menimpa pernikahan keduanya. Reyna kembali berpaling memandang kosong ke arah depannya. Dia kembali mengingat di malam terakhir bersama Rangga, membuatnya kembali bersedih.
Air mata keluar begitu saja membasahi kedua pipinya. Reyna melipat kedua kakinya, kemudian kedua tangannya melingkar memeluk kakinya yang terlipat. Reyna membenamkan wajahnya di sana, menumpahkan segala kesedihannya.
Apa aku ini istri yang tidak membawa keberuntungan bagi suamiku ya Allah? apa aku membawa kesialan bagi setiap orang yang berada di dekatku? aku percaya pertolongan-Mu itu pasti bagi orang-orang yang bersabar, tapi mengapa cobaan silih berganti datang tanpa henti menimpaku? orang-orang yang aku cintai dan aku sayangi, satu persatu pergi, aku telah kehilangan ayah dan ibuku di hari yang sama. Kemudian paman juga meninggal tak berapa lama setelah menikahkan aku dengan Rangga. Lalu, di saat umur pernikahanku yang baru sebentar aku telah kehilangan suamiku. Dan, terakhir kakek meninggal hanya selisih hitungan hari setelahnya.
Reyna semakin larut dalam isakan, kemudian dia membenarkan posisi tidurnya dan menangis dengan posisi miring membelakangi suaminya, hingga lama-kelamaan tanpa di sadari dia mulai tertidur.
Keesokannya, Reynand kembali rewel, hingga Reyna kebingungan untuk menenangkan putranya. Bahkan dia tidak sempat untuk memasak sarapan pagi untuk suaminya maupun untuk membuat nasi tim buat Reynand. Tanpa di duga justru Abiyu yang turun tangan menyiapkan sarapan pagi untuk mereka.
"Weys ... keren! Mas Abi ternyata jago masak ya?" ujar Lala sembari geleng-geleng melihat beberapa jenis makanan yang telah tersaji di atas meja makan.
"Gimana kamu ini, La? masa iya pemilik resto gak punya passion memasak, bisa ditipu dong aku sama karyawan aku!" ujar Abiyu sembari duduk di meja makan kemudian mengisi piring dengan lauk dan sayur.
"Iya, deh percaya Mas Abi emang hebat!" ujarnya sembari mengacungkan dua jempol.
__ADS_1
"Buruan makan, La. Jangan sampai terlambat sekolah!" ujar Abiyu sembari menuang air putih ke dalam gelas.
"Baik, Mas. Terima kasih!" ujar Lala kemudian menyuap makanan di piringnya ke dalam mulut.
Kemudian piring yang sudah tersaji tadi di taruh di atas nampan oleh Abiyu, dan dia menambahkan segelas air putih di atas nampan tersebut. Lalu, dibawanya nampan itu menuju kamarnya dengan Reyna.
Sesampainya di depan pintu, terlihat Reyna sedang menggendong Reynand sembari berdiri dan perlahan menggerakan badannya yang terayun ke kiri dan ke kanan. Reyna mampak kelelahan, namun dia hanya bisa pasrah karena Reynand selalu terbangun kembali saat di tidurkan di tempat tidurnya.
"Reyn, ayo makan!" ujar Abiyu dengan lirih agar tidak membangunkan Reynand yang sedang tidur di gendongan.
"Baik, Kak. Terima kasih, ya?" ujar Reyna sembari memelankan suaranya juga.
Reyna kemudian duduk di atas sofa di kamar itu, dan Abiyu melakukan hal yang sama. Ditaruhnya nampan di atas meja, kemudian menyendok satu suap nasi ke arah istrinya.
Reflek Reyna membuka mulut dan mengunyah tanpa suara. "Terima kasih ya, Kak? Kak Abi juga makanlah!" ujar Reyna sembari mendorong pelan sendok yang awalnya akan di arahkan kepadanya lagi, menjadi beralih mengarah ke mulut Abiyu. Jadilah mereka makan sepiring berdua. Suap demi suap silih berganti hingga habis tak bersisa.
Kamu adalah suami yang sangat perhatian, Kak. Sungguh, aku semakin jatuh hati padamu! gumam Reyna dalam hati sembari melirik ke arah Abiyu dengan seulas senyum di wajahnya.
Reyna menurut dengan semua perlakuan suaminya itu.
"Reyn, aku berangkat ke resto, dulu, ya? aku ada janji dengan pihak penyidik," ujar Abiyu disela-sela membereskan piring dan gelas ke atas nampan.
Seketika Reyna teringat oleh sosok misterius yang kemarin di lihatnya. Reyna ingin sekali melarang suaminya untuk pergi.
"Kak ...."
Mendengar Reyna memanggilnya, Abiyu seketika menoleh ke arah istrinya. "Ada apa, Reyn? ada yang kamu butuhkan lagi?"
__ADS_1
Namun, Reyna mengurungkan niatnya tatkala melihat suaminya seolah sedang terburu-buru.
Tidak, sebaiknya aku tidak mengatakannya sekarang. Kak Abi sedang sibuk dan banyak pikiran. Aku tidak ingin menambah beban pikirannya dan membuatnya semakin khawatir.
"Terima kasih untuk semuanya ... hati-hati, di jalan?" ujar Reyna sembari mengulas senyum.
Abiyu beranjak mendekati istrinya itu. Disentuhnya pucuk kepala Reyna dengan lembut, dan memberi kecupan di keningnya, kemudian kecupan singkat di bibir istrtrinya itu.
"Kamu juga baik-baik ya, di rumah? jika ada sesuatu segera hubungi aku! Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikumussalam!"
Reyna memandang kepada suaminya yang perlahan-lahan menghilang di balik pintu.
****
Ketika siangnya Reyna berniat mengantarkan makan siang untuk suaminya. Dia tahu jika suaminya pasti belum sempat makan karena Resto tutup. Reyna memasak banyak makanan untuk dibagi dengan yang lain yang bertugas di sana. Reyna kemudian melaju membawa Reynand menuju ke rumah Bibi Lastri dan bermaksud ingin menitipkan Reynand di sana.
Dengan senang hati Bi Lastri menjaga Reynand. Namun, hingga sore tiba Reyna belum juga kembali ke rumahnya untuk menjemput Reynand. Beberapa kali menelpon, namun handphone Reyna tidak aktif.
Bi Lastri mulai merasa cemas. Sayangnya Bi Lastri tidak memiliki nomor handphone Abiyu. Sehingga dia tidak bisa menanyakan keberadaan Reyna pada Abiyu. Dina lah yang memiliki nomor Abiyu. Tapi sayangnya Dina juga tidak bisa dihubungi, karena anaknya itu sedang kuliah dan fokus pada mata kuliah yang sedang diajarkan oleh dosen.
____________________Ney-nna________________
...Please Like 👍...
...Leave a Coment 🤗...
__ADS_1
...Give a gift & vote 🌹...
...Tank you! 🙏...