Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Talak


__ADS_3

"Kangmas, tolong dengarkan penjelasanku, Kangmas!"


"Kangmas, Wirya ...! hiks ... hiks ...!"


Seorang perempuan dengan perut buncit tengah bersimpuh di tanah dengan derai air mata di pipinya. Derasnya hujan yang turun membasahi seluruh tubuhnya.


Kakek merintih dengan mata terpejam.


"Tuan ..., Tuan Besar! bangun Tuan!" ucap Yahya sembari mengguncang lengan majikannya.


"Aargghhh!" pekik kakek tergagap saat membuka mata.


Lagi-lagi kakek bermimpi hal yang sama. Bermimpi kembali ke masa lampau, ketika terakhir kalinya bertemu dengan Sekar Ayu, istri pertamanya.


"Tuan, anda baik-baik saja?" tanya Yahya.


"A-ambilkan aku minum!" ujar kakek sembari mengurut dadanya yang terasa sakit setiap habis bermimpi tentang masa lalunya.


"Baik, Tuan!"


Yahya beranjak menuju nakas, lalu menuang air putih dari pitcher ke dalam gelas kosong.


"Silakan, Tuan!" ujarnya seraya menyerahkan segelas air putih kepada kakek.


Kakek menerimanya dan segera meneguknya hingga tinggal separuhnya.


"Tuan, apa perlu saya panggilkan dokter?" tanya Yahya.


Kakek menggeleng. "Persiapkan semuanya aku ingin mengunjungi makamnya," ujarnya.


"Tapi, keadaan, Anda sedang tidak baik, Tuan!"


"Jangan membantah!" ujar kakek dengan penegasan.


"Baik, Tuan!" Yahya segera beranjak menuju almari untuk menyiapkan segala kebutuhan kakek. Mulai dari pakaian, dan perlengkapan yang harus disiapkan untuk menunjang kondisinya.


Setelah segala persiapan telah dilakukan Yahya membantu kakek untuk duduk pada kursi roda, lalu mendorongnya.


"Kek!" ucap Raka yang tiba-tiba muncul.


Kakek merasa senang karena Raka masih mau datang setelah mendengar kisahnya kemarin. Dia sangat khawatir jika Raka akan membencinya setelah mendengar alasannya tidak merestui pernikahannya dengan Fely.


"Aku senang kamu datang, Raka," ujar kakek seraya tersenyum ke arah cucunya.


"Ada yang ingin bertemu denganmu, Kek. Aku datang untuk mengantarkannya," Ucap Raka.

__ADS_1


"Siapa?" tanya kakek.


"Beliau ada di ruang tamu." Setelah mengatakan hal itu Raka beranjak pergi berjalan terlebih dahulu menuju ruang tamu, lalu kakek mengikutinya dari belakang.


Sesampainya di ruang tamu, kakek melihat ke arah seorang wanita yang sedang membelakanginya. Wanita itu terlihat fokus pada pemandangan di luar jendela. Namun, pikirannya berkelana jauh pada masa lampau.


"Siapa?" tanya kakek yang seketika membuat wanita itu menoleh ke arahnya.


Kakek sungguh terkejut setelah melihat wajah tamunya. Meski termakan usia kakek masih bisa mengenali Arum Sari, adik iparnya itu.


"Arum, k-kau ...," ucap Raka dengan terbata-bata.


"Kamu masih mengingatku, Mas? aku tidak menyangka akan bertemu kembali denganmu!" ujar nenek Arum.


"Kau, bukankah kamu tinggal di Riau?" tanya kakek.


"Aku pulang saat menghadiri pernikahan mereka," ujar nenek Arum sembari melihat ke arah Fely dan Raka.


"Kamu bahkan tahu apa yang terjadi mengapa kamu tidak mencegah mereka untuk menikah?" ujar kakek.


"Untuk apa aku mencegahnya, bahkan mereka sudah ditakdirkan berjodoh, jauh-jauh hari sebelum mereka terlahir ke dunia."


"Apa maksud dari perkataan mu itu?" tanya kakek.


"Kalian bisa meninggalkan kami? aku akan berbicara dengan kakekmu," ujar nenek Arum kepada Fely dan Raka.


Fely mengangguk, lalu mengikuti suaminya.


"Kamu salah paham, Mas. Aku akan menjelaskan kesalahpahaman yang sempat terjadi," ujar nenek Arum sembari mendudukkan diri di kursi ruang tamu.


Flashback empat puluh tahun silam ....


Deru suara motor terhenti tatkala Wirya menemukan sosok wanita yang dicarinya. Motor itu berhenti tepat di sisi jalan samping pagar. Dipandanginya wanita yang sangat dirindukan dan dicintainya itu. Sungguh dia tidak sabar untuk melepas rindu dengan memeluknya dan segera memboyongnya pulang.


Kakek segera turun dari motor bebek miliknya dan memarkirkan di tepi jalan. Lalu dia beranjak membuka pagar rumah itu dan berjalan menuju ke halaman.


"Diajeng!" panggilnya dengan lembut sembari tersenyum senang setelah menemukan belahan jiwanya yang telah lama terpisah.


Sekar Ayu berpaling dari mawar merah yang tengah di siramnya dan berpaling pada sumber suara dari sosok yang tidak asing baginya.


Sekar terkesiap saat melihat laki-laki yang kini tengah berdiri seraya menatapnya dengan lekat. "Kangmas ...," gumamnya hampir tanpa suara.


Bibirnya bergetar, dan bulir-bulir air mata pun mengalir dari sudut matanya. Tubuhnya seketika melemas hingga kedua kakinya terasa tidak sanggup untuk menopang berat badannya. Akhirnya Sekar terduduk di atas tanah dan tangisnya pun pecah.


Sekar membungkam mulutnya dengan salah satu tangannya. Dia menggeleng pelan seolah tidak percaya pada sosok yang dilihatnya kini. Tidak bisa dipungkiri bahwa dia sangat merindukan sosok laki-laki yang kini berada dihadapannya itu. Laki-laki yang masih mengisi ruang dihatinya tersebut.

__ADS_1


Namun, seketika dia sadar bahwa kini dia telah menjadi milik orang lain. Setahun yang lalu dia menikah dengan laki-laki yang menjadi penolongnya meski tanpa cinta. Sekar seolah tak percaya jika yang berdiri dihadapannya saat ini adalah Wirya, suami pertamanya yang dikabarkan meninggal dan tidak ditemukan jasadnya.


"Diajeng, kau ---," ucap Wirya terhenti, sebab dia tak sanggup lagi untuk meneruskan kalimat selanjutnya.


Wirya terkejut saat melihat perut Sekar yang buncit. Seketika pandangannya berubah. Matanya nanar menahan amarah. Wirya mengepalkan tangannya menahan kekesalan. Dia merasa dikhianati oleh Sekar. Hatinya terasa sangat sakit dan hancur. Dia kecewa karena Sekar tidak bisa setia padanya.


"Maafkan aku, Kangmas! maafkan aku ...!" ucap Sekar diiringi isak tangisnya.


"Kamu telah berkhianat, Diajeng! aku memintamu untuk menungguku, tapi kamu malah menikah dengan orang lain. Pantas saja kamu tidak pernah membalas surat-surat ku. Aku susah payah mencari bantuan demi membayar hutang-hutang perusahaan agar kamu tidak menderita. Aku bekerja siang dan malam demi mendapatkan uang untuk bertahan hidup di negeri orang dan untuk mengirimu uang agar kamu tidak kelaparan saat aku tinggalkan, tapi kamu malah memadu kasih dengan pria lain. Ini kah balasanmu, Diajeng?!"


"Aku hidup di luar sana dengan susah payah demi mengusahakan masa depan kita, tapi kamu malah enak-enakan di sini menjadi nyonya. Kamu tidak tahan hidup susah sebentar saja, ha? kamu bahkan tidak bisa berjuang sedikit saja demi masa depan kita! aku kecewa padamu, Diajeng! aku tidak bisa memaafkan mu!" ujar kakek meluapkan rasa sakit yang mendalam.


"Kangmas, aku mohon dengarkan aku dulu, Mas! tidak seperti itu, Kangmas! aku bisa jelaskan semuanya, Mas!" Sekar merangkak mendekati kakek Wirya dan memegangi kakinya. Memohon agar Wirya mendengarkan penjelasannya.


"Cukup! meskipun kamu menjelaskan alasanmu kamu tidak akan bisa mengembalikan keadaan! kamu sudah merusak pernikahan kita! detik ini juga aku talak kamu! mulai saat ini kau bukan lagi istriku!"


Kakek melepaskan tautan tangan Sekar yang melingkar di kakinya, lalu mendorongnya ke belakang.


"Argh ... Kangmas!" pekik Sekar saat terjerembab di tanah sembari memegangi perutnya.


"Aku pastikan kamu akan menjanda di sisa umurmu agar kamu merasakan bagaimana aku menahan diri demi menjaga kesetiaanku kepadamu! begitu pun dengan keturunanmu! jika laki-laki dia hanya akan memperoleh janda sepertimu! Dan, seumur hidupku aku tidak mau melihatmu lagi!" ujar kakek Wirya dengan penuh emosi. Sumpah serapahnya meluncur begitu saja dari mulutnya demi meluapkan amarah.


Tepat di saat itu hujan turun dengan lebatnya. Wirya segera beranjak dari tempatnya berdiri.


"Kangmas, tolong dengarkan penjelasanku, Kangmas!"


"Kangmas, Wirya ...! hiks ... hiks ...!"


Arum yang menyaksikan hal itu dari pendopo segera berlari ke luar sembari menggamit payung ditangannya.


Sementara Wirya tetap berjalan tanpa mengindahkan seruan dari Sekar.


"Mbakyu, ayo cepat berteduh Mbakyu!" ujar Arum sembari memayungi kakaknya.


"Tunggu sebentar, Rum!" kekeuh Sekar.


"Kangmas, jika hal itu dapat membuatmu memaafkanku aku akan menerimanya, Mas. Tapi suatu saat aku akan membuktikan bahwa tuduhanmu terhadapku itu tidak benar. Aku akan berdoa, suatu saat nanti keturunanmu akan jatuh hati pada keturunanku, dan bersatunya mereka akan memutus kutukanmu!" seru Sekar ditengah-tengah derasnya hujan yang turun mengiringi langkah Wirya meninggalkan tempat itu.


Gemuruhnya petir tidak dapat menghentikan langkah Wirya meninggalkan kediaman sang kepala desa. Wirya segera memacu motornya dengan kencang.


"Ya Allah tolong kabulkan doaku!" gumam Sekar dengan terengah-engah sembari memegangi perutnya yang terasa sakit. Setelahnya dia tumbang tidak sadarkan diri.


Flashback Off.


"Kamu perlu tahu kehidupan mbakyu setelah kamu pergi, Mas. Mbakyu sangat menderita disetiap harinya. Aku adalah saksinya!" ujar nenek Arum memulai ceritanya.

__ADS_1


...________Ney-nna________...


__ADS_2