
Sebelum pulang ke rumah, Fely memperhatikan rumah yang berada di depan minimarket. Sedikit ada rasa penasaran ketika mamanya Jerry mengatakan jika rumahnya berada di seberang jalan minimarket.
Nampak rumah yang tidak terlalu besar namun terlihat rapi dan bersih dari luar, rumah itu terdiri dari dua lantai. Fely menduga-duga mungkin yang dimaksud mamanya Jerry adalah satu-satunya rumah yang dilihatnya itu. Sebab, di kanan dan kirinya adalah lahan kosong, setelah beberapa meter baru ada lagi rumah warga.
"Ada apa, Fey?" tanya Reyna ketika adik iparnya itu tak kunjung menyalakan mesin mobilnya dan malah diam saja.
"Ehh, enggak kok, Kak. Sudah di masukkan semua kan, belanjaannya? kita pulang sekarang, ya!" tutur Fely kemudian menyalakan mesin mobilnya.
"Iya, sudah semuanya, Kok!" jawab Reyna.
Perlahan-lahan mobil pun melaju meninggalkan pelataran minimarket.
****
Seusai berbelanja, Raka menyempatkan waktu untuk singgah di rumah mamanya terlebih dahulu, sebelum pulang ke rumahnya.
"Ma, ini belanjaannya ditaruh di mana?" tanya Raka sembari menenteng dua kantong kresek yang penuh dengan belanjaan.
"Taruh aja di meja, Ka. Nanti biar mama pilah-pilah dulu untuk penyimpanannya," seru mama dari arah dapur.
"Oke, Raka taruh di meja ruang tengah, Raka mau mandi dulu!" ujar Raka, kemudian naik ke lantai atas yang menjadi kamarnya semasa kecil saat tinggal di rumah ini dan sewaktu-waktu menginap di rumah mamanya.
Seusai mandi dan bersiap-siap untuk melaksanakan salat maghrib Raka kembali turun ke bawah untuk menemui mamanya.
"Mah, sudah adzan kan? yuk kita salat berjamaah!" ajak Raka kepada mamanya.
"Baik, Nak. Mama mengambil wudhu dulu," ucap mama Raka, kemudian beranjak menuju kamar mandi yang berada di samping dapur.
__ADS_1
Di rumah ini kamar mandinya hanya ada di samping dapur dan di dalam kamar Raka. Awalnya rumah ini hanya terdiri dari satu lantai, setelah itu direnovasi oleh papanya Raka menjadi dua lantai, kamar atas tadinya adalah kamar mama Raka dan suaminya ketika sesekali datang berkunjung.
Seusai mengambil wudhu, raka dan mamanya salat maghrib bersama di ruangan yang dikhususkan untuk salat.
"Ka, jangan lupa selalu mendo'akan, papamu, Nak. Do'a seorang anak adalah penyelamat bagi orang tuanya," tutur mama menasehati.
Meskipun Raka dahulunya tidak terlalu menyukai papanya, Raka selalu mendo'akan papanya, atas bujukan mamanya.
"Iya, Ma. Kenapa Mama selalu mengingatkan hal itu, seolah-olah Raka masih anak kecil saja!" gerutu Raka yang selalu cemberut ketika mamanya terlalu memikirkan papanya.
Setelah melaksanakan salat, Raka dan mama beranjak menuju meja makan untuk makan malam bersama. Ini adalah kesempatan yang paling ditunggu-tunggu oleh, Raka. Sebab, ini adalah momen yang sangat jarang bisa dilakukan olehnya. Mamanya selalu makan sendirian setiap harinya, sedangkan Raka harus makan bersama dengan orang-orang yang memberinya kemewahan, namun tidak memberinya kasih sayang.
Raka sangat merindukan makan berdua dengan mamanya seperti di masa-masa kecilnya, meski dengan lauk seadanya, namun terasa nikmat karena makan bersama dengan orang yang paling dicintai, yaitu mamanya.
Awalnya mama Raka tinggal berdua dengan Raka di rumah ini, sedangkan Raka sejak berumur sepuluh tahun diambil paksa untuk tinggal bersama dengan papanya di kediaman Wirya Subrata, kakek Raka dari papanya.
Rahma menikah dengan papa Raka atas ijin istri pertamanya yang adalah atasan dari Rahma, namun tanpa sepengetahuan keluarga besar Wirya Subrata. Saat mengetahui Rahma melahirkan anak suaminya, istri pertama papa Raka meminta Raka untuk diakui sebagai anaknya, namun Rahma tidak mau menyerahkan Raka. Semenjak saat itu papa Raka dilarang bertemu dengan Rahma dan baby Raka, oleh istri pertamanya.
Papa Raka menyetujui permintaan istri pertamanya sebab istri pertamanya mengancam akan memberitahukan kepada kakek Raka, yang berakibat papa Raka akan dicoret dari daftar ahli waris kekayaan Wirya Subrata. Akhirnya papa Raka tidak pernah datang lagi untuk menemui Rahma.
Padahal sebelum diketahui oleh kakek Raka, dulunya papa Raka sering datang ke rumah, namun setelah ketahuan oleh kakek Raka, papa Raka tidak lagi datang, dia hanya mengirim seorang utusan untuk menitipkan nafkah uang bagi kehidupan Rahma dan Raka sehari-hari dan juga untuk biaya sekolah Raka kala itu.
Lambat laun, kakek Raka mengetahui jika papa Raka mempunyai anak dari perempuan lain yang dinikahi secara siri. Hal itu memancing kemarahan Wirya Subrata. Karena papa Raka hanya satu-satunya anak Wirya Subrata, dan sekaligus satu-satunya cucu yang dimiliki adalah Raka, akhirnya Kakek memaafkan papa Raka, asalkan membawa Raka tinggal dengan keluarga mereka tanpa mama kandungnya. Hal itu dilakukan demi menjaga martabatnya di antara koleganya. Papa Raka harus tetap menyembunyikan pernikahan sirinya dengan Rahma.
Papa Raka mengambil dengan paksa Raka dari Rahma, yang datang dengan bodyguard kakek Raka. Rahma yang hanya seorang diri pun akhirnya tidak mampu mengimbangi untuk melawan mereka. Akhirnya mau tidak mau Rahma harus menerima kekalahannya.
Papa Raka mohon kepada Rahma untuk merelakan Raka demi masa depan putranya yang lebih baik, akhirnya Rahma setuju menyerahkan Raka kepada keluarga itu dengan syarat dia tetap diperbolehkan untuk bertemu dengan anaknya itu, dan kakek Raka menyetujuinya, asal Rahma tidak membocorkan kepada publik jika Raka adalah anaknya.
__ADS_1
Tiga tahun yang lalu papa Raka dikabarkan meninggal akibat pesawat yang ditumpanginya jatuh ke dalam laut. Waktu itu istri pertamanya ikut dalam perjalanan itu dan keduanya dinyatakan meninggal setelah jasadnya ditemukan.
Sepeninggal orang tuanya, Raka kini hanya tinggal dengan kakek dan neneknya saja. Setelah papa Raka meninggal dia diminta untuk menggantikan tugas papanya sebagai direktur di perusahaan kakeknya yang kelak akan menjadi ahli waris tunggal ketika kakeknya tiada.
Sudah sebulan ini kakek mendesak Raka untuk segera menikah, kakek ingin menjodohkan Raka dengan cucu sahabatnya. Namun, Raka menolak untuk dijodohkan. Kakek memberikan kesempatan kepada Raka untuk memilih calon istrinya sendiri dengan syarat bukan dari kalangan orang miskin. Jika tidak bisa menemukan calon istri dari kalangan orang berada, mau tidak mau kakek akan kembali menjodohkan Raka dengan anak sahabatnya, yang juga memiliki perusahaan sebesar perusahaan milik kakeknya.
Seusai makan malam, Raka berpamitan kepada mamanya untuk pulang ke rumah kediaman Wirya Subrata.
"Ma, Raka pulang ya?" ucap Raka dengan sendu.
Jika boleh memilih Raka ingin tinggal bersama mamanya saja. Namun, dia harus tetap mematuhi aturan dari kakeknya untuk tetap pulang ke rumah setiap harinya. Kakek adalah orang yang keras, disiplin dan cukup kejam. Namun, mama Raka tidak mengijinkan Raka untuk melawannya selama Raka tidak diminta untuk berbuat yang kriminal atau melanggar ketentuan agama.
"Secepat ini, Nak. Kamu bahkan belum menceritakan tentang gadis yang tadi bertemu di minimarket kepada mama," tutur Rahma dengan sedih untuk berpisah dengan anaknya. Sebab, dia merasa kesepian.
"Lain kali ya, Ma. Nenek sedang sakit, nenek selalu menanyakan Raka, Ma," tutur Raka.
Hanya nenek yang membuat Raka bertahan di sana, karena nenek memperlakukan Raka dengan kasih sayang.
"Baiklah, Ka. Temani nenekmu, semoga nenek segera sembuh," ucap Rahma yang mencoba untuk merelakan anaknya pergi agar tidak semakin membebani Raka.
Raka memeluk mamanya dengan erat. "Jaga diri Mama baik-baik ya, dua minggu ke depan mungkin Raka tidak bisa datang karena harus ke luar negeri," tutur Raka.
"Tentu, Sayang. Kamu juga hati-hati ya, Nak. Jaga kesehatan!" tutur Rahma melepas kepergian anaknya meskipun dalam hatinya sangat berat.
"Assalamu'alaikum, Ma," tutur Raka kemudian masuk ke dalam mobilnya.
Rahma tersenyum sembari melambaikan tangan melepas kepergian putranya, meski batinnya bersedih ketika merindukan anaknya.
__ADS_1
...__________Ney-nna__________...