
Bunda Maya menatap sedih ke arah gadis cantik yang berada di depannya, sembari memegang telapak tangan Mira dengan lembut. Sesungguhnya dia merasa iba dan tidak tega untuk mengatakan apa yang harusnya dia katakan.
Bunda Maya turut merasa bersalah karena membuat Mira harus merasakan pahitnya cinta yang bertepuk sebelah tangan atau merasa tidak diinginkan untuk kesekian kalinya. Putranya kini telah memilih jodohnya sendiri.
"Ada apa, Bun?" tanya Mira saat melihat ada sesuatu yang tidak berjalan dengan semestinya, saat melihat raut wajah bunda Maya yang nampak suram.
"Mira ... tolong maafkan, Bunda dan tolong maafkan Abiyu juga!" ujar bunda Maya lirih.
"Apa yang sebenarnya ingin Bunda katakan?" tanya Mira lagi yang merasa penasaran dengan apa yang akan dikatakan bunda Maya. Sebab bunda Maya telah menggantungkan kata-katanya.
"Mira ... maaf, Abiyu tidak bisa melanjutkan proses penjajakan diantara kalian ...."
Meskipun hal ini sudah dapat ia duga sebelumnya. Namun, ketika mendengar hal ini akhirnya terucap juga dari mulut bunda Maya, ternyata cukup untuk membuat suasana hatinya berubah.
"Hahahaha ...!" Mira menertawakan dirinya sendiri, merasa lucu dengan nasibnya kini. Dia merasa tidak diinginkan oleh seseorang yang diinginkannya. "Tak apa, Bun. Hal ini sudah aku duga sebelumnya. Sedari awal hingga terakhir kali bertemu dengan kak Abi, Mira sudah tahu jika kak Abi tidak pernah menginginkan hubungan yang serius dengan Mira. Sebab, kak Abi tidak pernah berniat melihat ke arah Mira. Pintu hati kak Abi seolah tak ada celah untuk Mira masuk ke dalamnya!" ujar Mira menumpahkan segala rasa yang berkecamuk di dalam dirinya.
"Mira ... Bunda bersalah padamu, Mir. Seharusnya Bunda tidak meminta hal itu jika akhirnya akan seperti ini!" bunda Maya semakin merasa sedih.
"Sudahlah, Bun. Mira akan baik-baik saja! Mira akan berlapang dada untuk menerima kenyataan hidup yang pastinya tidak selalu manis." kilah Mira meski pada kenyataannya ia merasa kecewa juga di hati kecilnya terdalam.
"Mira sungguh hatimu begitu baik. Kelak Tuhan pasti akan memberikan laki-laki yang terbaik untukmu!" do'a yang bunda Maya panjatkan untuk Mira.
"Aamiin ... terima kasih untuk do'anya, Bun Semoga Allah mengabulkannya!" ujar Mira tulus.
"Aamiin. Sama-sama, Mira." ujar bunda sendu.
Dia tidak tahu harus bagaimana lagi, sebab putranya sendiri yang telah mengungkapkan keinginannya untuk memilih jodohnya sendiri.
"Apa kak Abi sudah menemukan wanita yang akan di jadikan istrinya, Bun?" tanya Mira penasaran.
"Benar Mira, Abiyu akan melaksanakan akad nikah besok pagi," tutur bunda Maya.
"Besok pagi?" Mira seketika membulatkan mata merasa sangat terkejut dengan kabar yang baru sajabdia dengar.
__ADS_1
"Kamu kaget, kan? bahkan Bunda pun baru kemarin diberi tahu. Memang persiapannya sangat mendadak. Bunda pun belum tahu dengan siapa Abiyu akan menikah!" ungkap bunda Maya geram pada putranya.
"Kok bisa mendadak begitu sih, Bun?" tanya Mira yang semakin keheranan.
"Entahlah ... Bunda tidak tahu. Kita lihat saja besok seperti apa wanita yang akan dinikahi Abiyu, sebab dia tidak memberi tahu sebelumnya kepada Bunda."
"Boleh Mira ikut, Bun? Mira ingin memberikan selamat untuk kak Abi dan pengantin wanitanya," ujar Mira yang semakin antusias ingin menyaksikan pernikahan Abiyu yang terkesan terburu-buru dan mengundang banyak tanya.
"Apa kamu yakin, Mir?" tanya bunda yang ingin memastikan kembali keinginan Mira.
"Mira yakin, Bun. Sekalian pengen refreshing di Yogya."
"Baikalah, Mir. Nanti bunda pesankan sekalian tiket pesawatnya!"
****
Keesokannya mempelai perempuan telah bersiap-siap untuk dirias. tidak ada senyum kebahagiaan yang terpancar di wajah cantiknya, meski ini adalah momen penting.
Sekarang Reyna telah selesai berhias. Dia mengenakan balutan gaun berwarna putih yang nampak sederhana namun cukup elegan, yang telah disiapkan oleh Lena dan nenek sebelumnya. Reyna nampak anggun dengan riasan natural dan mahkota kecil di kepalanya.
Dirinya menyadari jika kali ini, dia kembali menikah atas keterpaksaan, atas perjodohan dan bukan karena kehendaknya sendiri. Mengapa takdir kembali membuatnya harus merasakan pahitnya sebuah acara pernikahan.
Bukankah pernikahan itu adalah sesuatu peristiwa yang sakral. Namun, mengapa kali ini ia telah kembali harus di hadapkan dengan pernikahan yang tidak dirindukan.
"Masya Allah ... Mbak Reyna cantik sekali, Mbak!" ujar Lala saat melihat Reyna yang tengah duduk di depan meja riasnya.
Reyna hanya bisa menghela napas beratnya untuk menanggapinya. Sebab, sedari tadi ia sedang menahan air matanya agar tidak jatuh. Di saat seperti ini tiba-tiba pikirannya di penuhi dengan sosok Rangga. Ia merindukan almarhum suaminya, dan berharap hari ini hanyalah mimpinya.
Andaikan saja ketika terbangun dari mimpi yang dilihatnya adalah Rangga maka ia akan memeluknya erat dan tak ingin melepasnya. Namun, semua itu hanyalah khayalannya saja. Rangga tak akan kembali padanya untuk selama-lamanya.
"Mbak, diminta tuan Reza untuk berangkat sekarang.
"Iya, La. Sebentar lagi!" ujar Reyna.
__ADS_1
Meski ini bukan yang pertama kalinya dia melangsungkan pernikahan. Namun, dia merasakan gugup seperti pertama kalinya saat hendak menikah. Ada rasa cemas, takut, malu, dan canggung. Sebab semua mata akan tertuju pada pengantinnya.
Reyna mencoba mengatur napasnya dengan menghirup napas dalam-dalam lewat hidung dan mengeluarkannya lewat mulut dengan perlahan, berulang-ulang agar merasa tenang.
Reyna kemudian keluar dari kamarnya dan berangkat dengan menaiki mobil menuju masjid tempat di selenggarakan akad nikah.
Ketika jam sepuluh tepat penghulu memulai acara ijab qobul antara Abiyu dan Reyna. Reyna di nikahkan oleh seorang wali hakim. Sebelumnya Reza mencoba menghubungi bundanya, sebab hingga saat ini belum datang. Rupanya jalanan cukup macet di hari weekend.
Pernikahan pun akhirnya tetap di langsungkan tanpa menunggu kehadiran bunda Maya. Sebab Penghulu harus segera menikahkan pengantin di tempat yang lain.
Bismillahirrahmanirrahim,
"Saudara Abiyu Arsakha bin Almarhum Ali Ahmad. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan saudari Reyna Hanania dengan maskawin nya berupa uang senilai Dua puluh lima juta rupiah dan seperangkat alat sholat dibayar tunai," ucap sang wali hakim.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Reyna Hanania binti Almarhum Herman Maulana dengan maskawin nya tersebut tunai," qobul oleh Abiyu.
Penghulu kemudian bertanya pada saksi.
"Bagaimana saksi sah?"
"Sah!" seru para saksi yang telah menyaksikan ijab qobul berlangsung.
"Alhamdulillah!" ucapnya kemudian disusul dengan tawa bahagia seluruh tamu undangan yang datang.
Bertepatan dengan hal itu Bunda Maya, Fely dan Mira baru datang. Mereka bertiga shock saat menyaksikan mempelai pengantin wanita yang duduk di samping Abiyu berada.
"Reyna!" seru mereka yang hampir berbarengan.
____________________Ney-nna_________________
...Please Like 👍...
...Leave a Coment 🤗...
__ADS_1
...Give a gift & vote 🌹...
...Tank you! 🙏...