
Himbauan!! mengandung halu di atas 18+,, bagi yang belum cukup umur skip sampai tanda ❣️Batas❣️
...-------------------------------------...
"Bolehkah aku meminta hakku sekarang?" tanya Raka sembari menatap lekat pada kedua netra istrinya dengan penuh damba.
Blush.
Pipi Fely pun seketika merona saat pertanyaan itu terlontar padanya.
"Em ... iya, tapi bisakah kita salat sunnah dulu?" tawar Fely.
"Tentu, Sayang!" ujar Raka kemudian mengendurkan pelukannya di pinggang istrinya.
Fely seketika beranjak menuju kamar mandi untuk bersih-bersih, kemudian mengambil wudhu. Saat dia ke luar dari kamar mandi, rupanya Raka sudah menggelar dua sajadah untuk melaksanakan salat bersama. Kemudian, bergantian dengan Raka yang masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Setelah itu mereka melaksanakan salat sunnah dua rakaat agar aktifitas yang mereka lakukan nantinya di rahmati oleh Allah dan membawa keberkahan. Seusai salat mereka membereskan alat ibadahnya masing-masing ke rak penyimpanan.
Kini keduanya tengah duduk berhadap-hadapan di atas ranjang. Raka membacakan doa sebelum memulai untuk menyentuh istrinya dengan intim. Kemudian, sejenak keduanya diam sembari bertukar pandangan menyelami rasa cinta yang melingkupi keduanya.
Raka mengulurkan satu tangannya untuk menyentuh bagian atas kepala Fely, kemudian membelai rambut istrinya yang terurai panjang dengan lembut, hingga aroma wangi shampoo yang menyeruak membuatnya terpikat. Raka beralih menelusuri wajah istrinya hingga berhenti pada bibir ranum Fely dan menyapunya perlahan dengan ibu jarinya.
Raka semakin berhasrat saat melihat Fely mulai menutup mata, kala menikmati sentuhan tangannya. Raka tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan mulai mencondongkan wajahnya ke depan memutus jarak antara keduanya, menyatukan bibir Fely dengan bibirnya, merasakan kelembutan bibir merah muda milik istrinya itu yang semakin lama semakin membuatnya candu.
Raka memperdalam ciumannya ketika Fely mulai membalas dan reflek melingkarkan kedua tangan pada lehernya tanpa aba-aba. Raka semakin tertantang saat Fely dapat mengimbanginya dengan cukup baik. Dia menyadari tentu hal ini bukanlah yang pertama kalinya bagi Fely.
Raka menduga untuk langkah selanjutnya pun Fely pasti sudah paham betul tentang tata cara berhubungan di atas ranjang, sebab meskipun umur pernikahan Fely dengan suami pertamanya hanya berjalan singkat, namun lagi-lagi Raka menduga jika hal ini pasti bukan yang pertama kalinya.
Justru dia merasa sedikit gugup, jika Fely akan menilai sejauh mana dia bisa memuaskannya, dibandingkan suami pertama Fely. Namun, Raka segera menepis pikirannya itu dan kembali fokus pada hasratnya yang sudah tidak kuasa ingin tersalurkan.
"Fe ... aku buka, ya?" ucapnya lirih seraya memegangi kancing teratas piama milik istrinya dan hendak melepaskannya.
Dada Fely semakin bergemuruh mendengar pertanyaan itu. Fely mengangguk dengan perlahan seraya menekan rasa malunya.
Seusai mendapat persetujuan dari Fely, Raka segera menyibak seluruh kain yang menjadi penghalang aktivitas panas yang akan mereka lakukan, hingga tinggal selembar kain saja yang menyelimuti tubuh polos keduanya. Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram mereka mulai mencecap indahnya surga dunia sebagai pasangan halal atas seijin Allah.
Raka mulai mencumbu tubuh istrinya dan mengeksplore di manapun yang dia inginkan. Hingga lenguhan demi lenguhan kecil mulai terdengar dari bibir tipis istrinya, yang membuatnya semakin menggebu.
"Sayang, sekarang, ya?" bisik Raka di samping telinga istrinya.
Fely menganggukkan kepalanya dengan pasrah sembari mengatur ritme detak jantungnya yang sudah tak beraturan.
"Fe, beritahu aku gaya apa yang kamu sukai?" tanyanya lagi yang membuat Fely seketika membulatkan mata tercengang dengan pertanyaan yang terlontar barusan.
Hah ... Gaya? maksudnya? apa Raka sedang bertanya tentang gaya bercinta? bagaimana aku bisa tahu jika ini adalah yang pertama kalinya bagiku?! gumam Fely di dalam hati.
"Kenapa kaget begitu, Sayang?" tanya Raka mengernyit saat melihat reaksi Fely.
"Terserah kamu deh!" jawab Fely sembari membuang mukanya ke samping.
Namun, sikap Fely yang demikian itu justru membuat Raka berpikir jika Fely tengah malu padanya.
"Baiklah," ucap Raka dengan tersenyum penuh arti, kemudian melanjutkan apa yang sejak tadi sudah di mulainya. Raka mengungkung tubuh istrinya tepat di bawahnya, dan terjadilah apa yang harusnya terjadi. 🙈
..._________❣️Batas❣️__________...
__ADS_1
Raka membelai lembut pipi istrinya, dan berbisik pelan di telinga Fely, "Sayang ... sudah hampir subuh, ayo bangun!"
"Emh ...!" Fely tampak menggeliat tanpa membuka matanya.
Raka tersenyum melihat tingkah Fely yang masih enggan membuka mata. Membuatnya merasa gemas dengan istrinya.
"Sayang, cepat bangun! sudah masuk waktu subuh, Fe!" ujarnya lagi saat terdengar adzan berkumandang dari kejauhan.
Baru saat itulah Fely perlahan mengerjapkan matanya dan sedikit terkejut saat melihat Raka berada sangat dekat di hadapannya. Kemudian, dia mengingat jika mereka sudah menikah dan bahkan teringat akan aktifitas mereka semalam.
Fely seketika malu saat menyadari bahwa dia tidak memakai apa pun di bawah selimut tipis yang menutupi tubuh polosnya. Sedangkan Raka sudah berpakaian lengkap dan tercium aroma sabun yang semerbak wangi pada indera penciumannya.
Fely memegangi selimutnya dengan rapat tepat di bagian atas dadanya, sembari membuang mukanya ke samping, ketika Raka kembali memandanginya dengan lekat dan tersenyum simpul ke arahnya.
"Sayang!" panggil Raka pada istrinya.
"Hmm ..., apa?" jawab Fely seraya kembali melihat ke arah Raka.
"Kemarin, kenapa nggak bilang sih kalau sebelumnya kamu masih virgin?" tanya Raka dengan hati-hati.
"Kamu juga nggak tanya, kan?" jawab Fely.
"Ya aku nggak mungkin tanya soal itu dong, Sayang. Takutnya kamu berpikiran macam-macam atau tersinggung dengan ucapan aku!" tutur Raka.
"Terus, sekarang gimana saat kamu tahu aku masih virgin?" tanya Fely.
"Mau kamu udah nggak virgin atau kamu masih virgin sebelum menikah sama aku itu nggak akan merubah apa pun, Fe. Aku tetap mencintaimu apa adanya. Hanya saja ketika semalam aku tahu kamu masih virgin, jujur saja aku seneng banget, karena itu artinya aku yang pertama melakukannya. Jadi aku seolah mendapat kejutan dari kamu, tepat di saat itu, Fe. Tank you so much, and I love you soo, Felycia," tutur Raka seraya mengecup singkat bibir istrinya.
Mendengar hal itu Fely merasa sangat bahagia karena dia dapat mempersembahkan yang terbaik bagi suaminya sekaligus cinta pertamanya.
Raka senang sekali mendengarnya, kemudian dia mengecup sekali lagi bibir istrinya itu dengan penuh rasa sayang.
"Yuk ah, bangun! keburu mataharinya terbit, Sayang," ujar Raka setelahnya.
"Gimana mau bangun, kalau kayak gini?" jawab Fely seraya melirik ke arah tangan Raka, yang mengapitnya dengan kedua tangannya.
"Oh iya, maaf!" Raka segera membenarkan posisi duduknya dan membantu Fely untuk bangun.
"Sshh ...," desis Fely saat merasakan perih di antara pangkal pahanya.
"Masih sakit, ya?" tanya Raka dengan cemas.
Fely mengangguk sebagai jawaban. "Badanku rasanya sakit semua!"
"Mau aku gendong?" tanya Raka penuh perhatian.
"Enggak ... aku bisa sendiri, kok!" tolak Fely dengan halus.
"Yakin?" tanya Raka ingin memastikan.
"Iya," ucap Fely sembari mengusap lembut pipi suaminya. "Em, bisa minta tolong ambilkan baju ganti aja di almari?" tambahnya.
"Tentu, Sayang! akan aku ambilkan!" ujar Raka seraya beranjak berdiri menuju almari pakaian dan memilih salah satu set baju yang berada di bagian paling atas.
"Sayang, yang ini gimana?" tanya Raka sembari menunjukkannya pada Fely.
__ADS_1
Fely menggeleng. "Baju rumahan aja, Ka. Di bawahnya!"
"Yang ini?" tanyanya lagi.
"Iya, boleh deh! terima kasih, Sayang!" ucap Fely yang seketika membuat Raka senang saat pertama kalinya dipanggil sayang oleh Fely.
Raka berjalan mendekat ke arah Fely dan mengecup kening istrinya. Diusapnya pucuk kepala istrinya dengan penuh sayang.
"Ayo Sayang, aku bantu berdiri!" ujarnya sembari merengkuh pinggang ramping istrinya menuju kamar mandi. Raka mengantarkan Fely hingga sampai ke depan pintu kamar mandi.
"Mau aku bantuin nggak, mandinya?" ujarnya menawarkan diri.
"No, cukup sampai di sini aja!" tolak Fely yang masih merasa malu untuk menampakkan seluruh bagian tubuhnya pada suaminya itu.
"Baiklah, hati-hati, ya! kalau butuh bantuan panggil aku!" ujar Raka.
Fely menganggukkan kepala, sembari mengulas senyumnya. Kemudian, dia perlahan menutup pintunya dan bergegas membersihkan diri agar tidak kesiangan untuk melaksanakan salat subuh.
*****
Seusai melaksanakan salat, Fely pergi ke dapur berniat hendak membuatkan minuman untuk suaminya. Sedangkan Raka memutuskan untuk duduk-duduk di teras depan, sembari melihat Reynand yang sedang belajar naik sepeda dengan didampingi oleh Abiyu. Dan, ada Alesha yang juga tengah menaiki sepeda roda tiganya.
"Senangnya masih bisa menyaksikan anak-anak Abiyu di usiaku saat ini. Dulu dia masih menangis tersedu-sedu ketika jatuh dari sepeda saat kakinya terluka dan sekarang aku masih bisa melihat cicitku bermain sepeda bersamanya," ujar nenek Arum yang tiba-tiba duduk di kursi sebelah.
"Oh, Nek ...," pekik Raka seraya menoleh ke arah sumber suara.
"Semoga saja kamu dan Fely juga akan segera mendapatkan keturunan," tutur nenek Arum sembari tersenyum ke arah Raka.
"Aamiin, terima kasih atas doa dan restunya, Nek," jawab Raka dengan sopan.
"Oh ya, coba sebutkan nama lengkapmu!" pinta nenek Arum.
Raka mengernyitkan dahinya, atas permintaan nenek Arum, tapi dia tetap menjawabnya dengan patuh.
"Raka Arvian Subrata, Nek," jawabnya.
"Berarti aku tidak salah dengar," ucapnya kemudian menjeda kata-katanya. "Siapa nama kakekmu, Nak?" tanyanya.
"Nama kakek saya---" Ucapan Raka terputus saat Fely tiba-tiba datang.
"Raka, ini tehnya!" ujar Fely sembari menaruh secangkir teh untuk suaminya. "Dan, ini untuk, Nenek!" tambahnya.
"Astaga Fely, bagaimana kamu bisa memanggil suamimu dengan namanya saja!" ujar nenek menegur Fely sembari menepuk pelan pantat Fely dengan koran yang diambilnya dari kolong meja.
"Iya, Nek. Maaf ... maaaf!" ujar Fely seraya membungkuk pada nenek Arum.
Raka seketika terkekeh saat menyaksikan istrinya yang sedang diomeli oleh nenek Arum.
Drrrrt drrrrt drrrtt.
Tiba-tiba handphone Raka bergetar saat ada panggilan masuk pada layar handphonenya.
"Maaf Sayang, aku angkat teleponnya dulu, ya," pamitnya pada Fely.
"Saya permisi, Nek!" ujarnya yang hendak pergi sembari sedikit membungkukkan badan di depan nenek.
__ADS_1
...________Ney-nna________...