
Hari ini ternyata sangat padat di tempat kerja. Reyna yang awalnya ingin menelepon Rangga, akhirnya tertunda. Dikarenakan di kantor sedang ada masalah. Bahan baku produksi, yaitu kain untuk di produksi lusa belum juga sampai hingga siang ini. Menurut pihak supplier hal itu terjadi karena terkendala expedisi yang mengalami keterlambatan pengiriman. Stock on hand hanya cukup diproduksi hari ini, jika expedisi tidak dapat mengirim tepat waktu maka akan mengalami stockout atau persediaan habis. Lead time yang tidak sesuai, akan mengakibatkan proses produksi terhenti dan mengakibatkan kerugian sumber daya. Reyna harus meninjau ulang waktu yang dibutuhkan untuk proses produksi hingga barang jadi dan siap dikirim ke customer.
Biasanya Reyna yang melakukan pemesanan. Berhubung Reyna cuti akhirnya di handle oleh Mira. Mira mengaku salah, karena ia kurang tepat saat memperkirakan waktu pemesanan sehingga terlalu mepet dengan perencanaan produksi. Yang bisa dilakukan saat ini hanya menghubungi pihak expedisi untuk ketepatan waktu pengiriman, agar produksi tetap berjalan sesuai perencanaan awal.
Setelah berkomunikasi dengan pihak expedisi, mereka berjanji bahwa barang akan tetap di didatangkan hari ini namun melebihi dari waktu jam kerja. Sehingga Reyna harus melemburkan dua karyawannya untuk menerima kedatangan barang. Barang diperkirakan baru akan datang sekitar pukul 18.00 WIB. Reyna sendiri akhirnya memutuskan untuk ikut lembur untuk memastikan kedatangan barang.
Karyawan yang dilemburkan diminta untuk membereskan gudang agar ketika barang datang bisa langsung disiapkan untuk penempatannya. Sehingga waktu tunggu karyawan lembur menjadi efisien. Sedangkan Reyna memutuskan untuk ke butik Tante Shinta terlebih dahulu bersama Mira, setelah itu baru akan kembali ke ruko.
Pukul 16.00 mereka baru bisa berkunjung ke butik karena mengurus masalah yang terjadi barusan. Sesampainya di toko langsung disambut oleh Tante Shinta.
"Sore, Tante. Maaf karena terlambat datang." Reyna cipika-cipiki dengan Shinta.
"Iya, sayang don't worry..kalian datang saja Tante sudah senang. Yuk buruan masuk aja ke galery, biar Tante nggak telat pulangnya!" sambut Tante Shinta ramah.
"Ohya Tante, ini kenalin temen aku." tunjuk Reyna pada Mira.
"Mira, Tante." ucap Mira tersenyum sambil mengulurkan tangan.
"Ohya Mira, mari dilihat-lihat koleksi Tante. Gaun buat bridesmaid juga ada lhoh, Mira!" mereka bersalaman.
Shinta berjalan di depan sambil memandu menuju barisan rak baju pengantin. Sedangkan Reyna dan Mira mengikuti dari belakang.
"Oiya Reyna, bagaimana keadaan Om Hadi?"
"Sudah di bawa pulang ke rumah kan?" Tante Shinta menengok ke arah Reyna.
"Alhamdulillah sudah lumayan membaik, Tante. Sedang berlatih jalan pakai tongkat." jawab Reyna.
"Syukurlah, kalau begitu. Coba nanti kapan-kapan Tante datang buat jenguk yah? Udah lama nggak ngobrol bersama Tante Kinasih."
"Nah, ini koleksi terbarunya. Reyna mau warna apa? Mau model yang glamour atau simple nan elegan?" Tante Shinta membuka-buka barisan gaun pengantin yang tersusun rapi berdasarkan warnanya. Sesekali mengangkatnya untuk diperlihatkan model bajunya pada Reyna.
"Emm...warna apa ya, Mir yang cocok buat aku?" Reyna nampak berpikir.
"Yang ini bagus, Beb. Warna pastel kelihatan soft." Mira mengambil satu gaun berwarna pastel dengan model simple dan elegan.
"Boleh juga sih Mir, aku suka yang simple-simple gini." Reyna mengambil gaun yang diserahkan Mira, kemudian mematutnya di depan tubuhnya.
"Cocok banget lhoh Reyna, sama kepribadian kamu yang lembut, anteng dan kalem begini. Coba dulu aja, Sayang. Ruang gantinya di sebelah kanan yah, inget kan?" Reyna mengangguk.
"Iya Tante, Reyna kesana dulu. Tungguin yah, Mir!" Reyna kemudian berlalu membawa gaunnya ke ruang ganti.
Saat menunggu Reyna mencoba baju, tiba-tiba ada sesosok laki-laki keren yang berjalan mendekat ke arah Mira. Mira yang menyadari langsung salah tingkah.
"Mah, masih lama nggak pulangnya?" ucap cowok itu sambil memandang ke arah Tante Shinta.
"Eh..jadi tuh cowok anak Tante Shinta. Keren pisan ini mah...!" batin Mira.
"Bentar lagi yah, sayang? Ini Mama masih ada pelanggan..!" jawab Shinta.
"Ya udah, aku tunggu di sana, Ma!" jawabnya datar kemudian melangkah menuju sofa panjang berada di tengah-tengah ruangan.
"Iya, Sayang tunggu bentar ya?" Tante Shinta masih sempat berteriak ke anaknya yang sudah menjauh.
"Tante, anaknya mukanya mirip banget ya sama Tante? Ganteng!" ucap Mira blak-blakan.
__ADS_1
"Masih jomblo lhoh Mir, anak tante. Coba aja deketin kalau mau. Tuh anak seperti gak tertarik gitu sama perempuan. Heran tante, cuma kerja dan kerja. Padahal tante juga pengen cepet-cepet punya anak mantu." ujar Tante Shinta sedikit berbisik, kemudian menghela nafas kasarnya.
"Wah..sayang yah Tante, ganteng-ganteng jomblo!" Mira ikut sedih.
"Mir, gimana?" tiba-tiba Reyna datang dari arah belakang. Tante Shinta dan Mira kemudian menoleh ke arah Reyna.
"Wahh...ini cantik banget, Beb!" Mira yang heboh. "Coba Beb, berputar aku ambil gambarnya." Mira mengeluarkan handphone nya kemudian memusatkan kamera ke arah Reyna. Setelah itu dikirimnya ke Rangga.
Reyna berputar dengan memegangi gaunnya, sehingga terlihat sedikit mengembang. Nampak sangat anggun dan elegan dengan senyum manisnya. Saat berbalik Reyna menangkap sesosok laki-laki yang berdiri agak jauh yang sedang terkejut memandang ke arahnya. Ia masih mengenalinya.
"Dipa!" panggil Reyna lirih.
"Reyna!" panggil Dipa hampir berbarengan.
Sama dengan laki-laki di depannya, Reyna pun terkejut melihatnya.
"Kalian sudah kenal?" tanya Tante Shinta dan Mira hampir bersamaan. Melihat bergantian antara Reyna dan putranya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Mira.
Dipa Birendra adalah laki-laki yang sangat perhatian, bertanggung jawab dan sangat baik bagi Reyna. Semasa SMA secara tidak sengaja, Dipa pernah bertabrakan dengan Reyna di warnet, membuat mereka berlanjut menjadi sahabat baik.
Flashback On...
Dipa, yang sedang buru-buru ingin mengerjakan tugas sekolahnya di warnet kala itu. Tanpa sengaja Dipa menabrak Reyna yang sedang berdiri memegang handphone. Saat itu Reyna sedang menunggu hasil print oleh penjaga warnet. Reyna hendak duduk dikursi tunggu sambil melihat ke arah handphone. Sedangkan Dipa masuk dengan berlari. Karena keduanya kurang hati-hati akhirnya mereka bertabrakan. Reyna jatuh ke lantai begitu pula dengan handphonenya yang terpelanting kemudian jatuh ke lantai. Akibatnya handphone Reyna rusak.
Dipa adalah sosok anak yang baik. Ia membawa handphone Reyna untuk di service di counter samping warnet.
"Aku Dipa, nama kamu siapa?" tanya Dipa.
"Reyna." jawab Reyna singkat.
"Aku masuk ke warnet dulu ya, mau ngerjain tugas? Nanti aku kembali kesini lagi, kamu jangan kemana-mana!" perintahnya pada Reyna. Reyna hanya mengangguk dan menatap lekat ke arah Dipa.
"Okeh, siip!" jawab si abang sambil mengacungkan jari jempolnya.
Jujur saja perkataan Dipa sedikit menenangkan. Pasalnya Reyna jelas tidak punya cukup uang untuk membayar biaya service yang pastinya tidaklah murah. Setengah jam menunggu akhirnya Dipa datang.
"Masih lama ya, Bang?" tanya Dipa kemudian melihat jam tangannya sudah pukul 15.00 WIB.
"Ini ICnya Mas yang rusak, ada komponen yang musti diganti. Saya musti beli komponen penggantinya dulu, Mas. Besok siang saya usahakan sudah jadi, Mas." si abang penjaga counter menjelaskan.
"Kamu besok pulang sekolah jam berapa?" tanya Dipa kepada Reyna.
"Jam dua." jawab Reyna.
"Okey.. mendingan kamu pulang dulu aja, besok sepulang sekolah kita ketemu lagi disini, gimana?"
"Emm..tunggu, mungkin kamu nggak percaya kalau aku besok bakalan datang atau enggak. Kamu bisa bawa handphone aku sebagai jaminannya." ucap Dipa sambil mengeluarkan handphone dari saku celananya kemudian memberikannya kepada Reyna.
"Ehh..nggak usah. Aku percaya kok..!" Reyna mendorong tangan Dipa yang membawa handphone. " Lagian HP kamu itu mahal, mana mungkin kamu serahkan begitu saja sama orang asing, kita kan baru saja kenal!" tolak Reyna.
"Okey, besok kita ketemu lagi di sini jam dua." ujar Dipa.
Reyna mengangguk, "Assalamu'alaikum." tanpa menunggu jawaban dari Dipa, kemudian berbalik berjalan menuju halte.
"Wa'alaikumsalam." jawab Dipa masih memandang ke arah Reyna pergi. Kemudian ia kembali masuk ke dalam warnet.
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB. Sudah setengah jam angkot yang Reyna tunggu belum kunjung datang. Reyna bolak-balik berdiri menengok ke jalan tapi belum juga muncul. Tiba-tiba ada motor berhenti di depannya. Ketika kaca helmnya dibuka, ternyata cowok itu adalah Dipa. Reyna tidak mengenali karena Dipa tadi tidak memakai jaket. "Hah...dia lagi?" batinnya.
"Kamu dari tadi masih di sini?" tanya Dipa.
Reyna mengangguk, "Angkotnya belum datang." jawab Reyna.
"Ayo aku antar pulang!" tawar Dipa.
"Nggak usah, palingan bentar lagi datang. Biasanya memang agak lama kalau sore, nungguin karyawan pabrik yang baru pulang, baru jalan." tolak Reyna.
"Ouh gitu ya?" Dipa nampak berpikir.
Dipa memarkirkan motornya agak kepinggir. Ia kemudian turun dari motor dan duduk di samping Reyna agak jauh.
"Ya udah, aku temenin sampai angkotnya datang." ucap Dipa.
Reyna mengeryitkan dahinya, "Kok, malah duduk di sini sih." batinnya nggak nyaman.
Sesekali Dipa mengajak berbicara tapi Reyna selalu menjawab singkat tanpa balik bertanya. Tak berapa lama terlihat angkot muncul dari kejauhan. Reyna langsung tersenyum senang. Melihat Reyna berubah riang, Dipa tersenyum heran.
"Lucu banget sih, apa sedari tadi jutek karena dia menganggap aku orang asing ya." batin Dipa.
Reyna langsung menghentikan angkotnya agar berhenti. Ia masuk ke dalam angkot kemudian duduk di bangku paling ujung dekat jendela bagian belakang angkot. Reyna sesekali sempat menengok ke belakang. Terlihat Dipa yang masih mengekor di belakang angkot. Untuk beberapa saat juga menatap ke arahnya. Tak berapa lama, kemudian ia memacu motornya lebih cepat, mendahului angkot yang di tumpangi Reyna. Reyna mengawasinya hingga tak terlihat lagi.
Keesokannya Dipa benar-benar datang membayar biaya perbaikan handphone. Reyna bisa melihat jika Dipa adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab.
"Makasih ya, Dipa? Berapa biayanya?" Dipa menoleh kaget, baru kali ini Reyna memanggil namanya setelah mereka kmaren berkenalan.
"Eh..iya sama-sama, ini kan sudah tanggung jawab aku, karena aku yang rusakin. Jadi jangan dipikirkan!"
"Reyn, boleh pinjam HPnya sebentar nggak?" tanya Dipa. Reyna menyerahkan handphonenya kepada Dipa tanpa menjawab.
Dipa melakukan panggilan ke nomornya melalui handphone Reyna. Setelah itu mengembalikannya kepada Reyna.
"Yes..yang penting dapet nomor HPnya dulu!" ucapnya dalam hati.
Kemudian mereka pulang kerumahnya masing-masing.
Ketika malamnya Dipa mengirim pesan kepada Reyna. Semenjak saat itu mereka sering SMSan atau sesekali menelepon. Semakin lama keduanya semakin akrab, selayaknya seorang sahabat. Lambat laun mereka saling terbuka untuk sharing masalah mereka masing-masing, tentang berbagai hal yang mereka alami di sekolah maupun, dirumah. Bahkan Reyna bisa terbuka bercerita tentang kisahnya bersama Rangga semasa SMP. Dan juga alasan ia jutek saat pertama kali mereka bertemu, tidak lain karena Reyna sedikit trauma dengan laki-laki playboy. Reyna takut jika nantinya, Dipa juga hanya akan mempermainkannya. Untuk itu, dari sejak awal mereka bersahabat, Reyna menegaskan agar tidak ada cinta antara mereka. Hal itu juga bertujuan agar Reyna, dapat terus bersahabat dengan Dipa. Namun tanpa Reyna sadari, rupanya Dipa menyimpan perasaan kepada Reyna lebih dari seorang sahabat. Tapi Dipa belum pernah mengungkapkannya kepada Reyna.
"Dip, pokoknya diantara kita jangan ada perasaan lebih ya? Aku nggak mau ketika pacaran dan putus karena menemui masalah, terus hubungan persahabatan kita jadi hancur!" Reyna mengultimatum.
Dipa speechless mendengar pernyataan Reyna. Akirnya dengan terpaksa Dipa menuruti keinginan Reyna, dan memutuskan untuk mencintai dalam diam. Ia tidak ingin kehilangan sosok Reyna di hatinya. Karena Dipa baru pertama kalinya merasakan cinta dalam hidupnya kepada sosok perempuan. Reyna merupakan cinta pertamanya.
Meski bersahabat, namun mereka ternyata jarang bertemu. Karena mereka beda sekolah dan sudah kelas XII, sehingga lebih fokus mempersiapkan ujian nasional. Sehingga pikiran Dipa teralihkan untuk fokus belajar mempersiapkan ujian.
Setelah lulus, Dipa melanjutkan kuliahnya di Jogja sedangkan Reyna tetap di Jakarta. Dipa sempat berperang dengan hatinya sendiri. Dalam satu hal ia tidak ingin jauh dari Reyna, namun kuliah di Jogja adalah keinginannya sejak awal. Meskipun jauh, namun Dipa tetap menjalin komunikasi dengan Reyna. Hingga nanti saat tiba waktu yang tepat, ia akan mengungkapkannya.
Tiba-tiba nomor handphone Reyna tidak dapat di hubungi. Dipa juga tidak mengenal teman-teman Reyna. Dipa sempat panik namun ia hanya bisa pasrah. Ia benar-benar menyesal, karena sekarang ia sudah hilang kontak dengan Reyna, bahkan disaat ia belum sempat mengungkapkan perasaannya. Ketika liburan semester Dipa merencanakan berkunjung ke rumah Reyna, dengan begitu ia bisa meminta nomor handphone Reyna lagi. Mencoba untuk berpikir positif alasan Reyna tidak pernah menghubunginya lagi.
Namun lagi-lagi takdir tidak berpihak padanya. Ternyata Reyna sudah pindah rumah. Rumah Reyna yang sebelumnya memang hanya rumah kontrakan. Kini satu-satunya yang menjadi harapan Dipa untuk menemukan Reyna akhirnya pupus sudah. Sehingga sulit bagi Dipa menemukan Reyna. Sampai akhirnya Dipa pasrah karena tidak tau harus mencari ke mana Reyna dan keluarganya pergi.
Flashback Off.
Dipa menatap lekat ke arah Reyna. Akhirnya sahabat yang dirindukan yang selama ini dicarinya ketemu juga. Reyna nampak lebih cantik dan terlihat semakin dewasa. "Oh tidak...tunggu..Reyna mengenakan baju pengantin? Apa dia akan.. MENIKAH?!"
__ADS_1
________________________________________
Kira-kira gimana ya readers, masih dukung Reyna & Rangga atau berharap Reyna & Dipa??