
Reyna kembali tak sadarkan diri, dan Abiyu membawanya kembali ke dalam kamar yang tadi di tempati Reyna.
"Bagaimana ini, By?" Reyna sudah dua kali mengalami pingsan, apa itu akan berpengaruh pada kesehatannya. Kasihan sekali dia harus menderita seperti itu di saat dia mengandung anaknya," tutur nenek dengan cemas.
"Saya juga kurang tahu, Nek. Nanti saya akan membawanya ke dokter jika Reyna sudah siuman. Semoga saja tidak terjadi sesuatu yang buruk," ujar Abiyu.
Tolong sadarlah, Sayang! Apa aku salah telah membawamu ke sini. Aku hanya ingin membantumu mengembalikan ingatanmu. Kamu harus kuat, Reyna! ujar Abiyu di dalam hati.
"Ada apa, Ma? Apa Reyna belum siuman?" tanya Lena yang baru masuk ke dalam kamar Reyna. Lena merasa penasaran saat melihat raut muka nenek dan Abiyu yang muram.
"Reyna tadi sempat siuman, tapi barusan kembali pingsan lagi saat berada di taman samping," tutur nenek menjelaskan apa yang tadi sempat terjadi dengan Reyna. "Di taman itu memang menjadi tempat favorit mereka. Aku rasa Reyna mengingat sesuatu yang pernah terjadi di tempat itu," tambahnya lagi.
"Benar Nek, saya rasa Reyna memang mengingat sesuatu di masa lalunya saat berada di sana." Abiyu ikut membenarkan, sebab hal itu tepat sesuai dugaannya tadi.
"Semoga saja ingatan Reyna cepat pulih ya, Ma," ujar Lena merasa iba kepada ibu dari cucunya itu.
"Tante, saya mohon ijinkan Reynand tinggal bersama kami," ujar Abiyu memohon agar Reynand dapat dibawa pulang kembali ke Yogya.
"Enggak, Bi. Sebaiknya biarkan Reynand tinggal di sini bersamaku. Apalagi Reyna saat ini sedang sakit. Apa Reyna bisa mengurus Reynand sendiri saat kamu tidak ada?" ujar Lena menolak untuk menyerahkan Reynand kepada Abiyu dan Reyna.
Beberapa bulan merawat Reynand membuatnya semakin menyayangi cucunya itu. Sehingga ketika melihat Reyna dan Abiyu datang hal itu membuatnya khawatir dan berat untuk menyerahkan Reynand kepada meraka.
"Tapi, Tante. Reyna itu ibunya ... bukannya seorang anak balita lebih baik tinggal bersama orang tuanya. Saya akan mencarikan seorang baby sitter untuk membantu Reyna merawat Reynand, Tante," tutur Abiyu mencoba meyakinkan Lena agar mengijinkan mengambil Reynand kembali tinggal bersama mereka.
__ADS_1
"Tidak, Bi. Kali ini aku tidak akan memberikan Reynand kepada kalian," kekeuh Lena yang tidak mau berpisah dengan cucunya.
"Tante, saya mohon ,Tante!" ujar Abiyu memohon agar Lena berbaik hati untuk menyerahkan Reynand kepadanya.
"Lena, kamu ini kenapa? Kamu jagan egois seperti itu dong! Reyna itu ibunya dan Reynand masih membutuhkan kasih sayang ibunya. Apa kamu mau jika dipisahkan dari anakmu?" tutur nenek yang ikut geram dengan keegoisan menantunya itu.
"Ma, coba Mama ingat! Beberapa kali Reyna mengalami hal-hal yang tidak wajar. Mulai dari meninggalnya Rangga, hingga pindah ke Yogya selalu mengalami hal-hal yang membahayakan nyawanya. Bagaimana jika ada yang ingin mencelakai Reyna lagi dan itu berimbas kepada Reynand?!" tutur Lena yang merasa khawatir jika sesuatu akan terjadi kepada cucunya.
"Len, ta--," Kata-kata nenek terpotong tatkala Lena tidak memberikan kesempatan untuk menyela dan membela keyakinannya.
"Apa kalian mau bertanggung jawab dengan hal itu dan menjamin jika cucuku akan baik-baik saja?!" seru Lena dengan keyakinan penuh bahwa Reynand akan lebih aman jika tinggal bersamanya.
Nenek terdiam mencerna kata-kata menantunya tersebut. Memang benar perkataan Lena jika mengingat hal itu dia pun akan merasa khawatir.
"Begini saja lah, Bi. Sementara biarkan Reynand tinggal bersama aku. Kamu fokus saja dulu untuk mengobati Reyna terlebih dahulu . Jika sampai suatu saat Reyna bisa pulih dengan baik, saya akan mnyerahkan Reynand kembali kepada kalian. Tapi jika Reyna masih belum sembuh, maka saya sebagai Omanya tidak mau mengambil resiko memberikan Reynand kepada kalian. Lihat Reyna saja tidak dapat merawat dirinya sendiri jika sedang kumat, apa kalian tega anak sekecil ini tinggal berdua saja di rumah, saat kamu pergi kerja mungkin ??" tutur Lena yang berkata panjang lebar demi mempertahankan hak asuh cucunya itu.
Terlebih ketika Reyna bangun nanti dan mendapati jika dia harus kembali ke Yogya dengan tangan hampa tanpa membawa Reynand bersama mereka, pasti Reyna akan merasa sangat sedih.
"Baiklah ..., Tante. Saya akan berusaha untuk membuat Reyna kembali mengingat masa lalunya, segera!" tutur Abiyu pasrah dan mengalah meski dengan enggan.
Reynand sudah dianggapnya seperti anak kandungnya sendiri, namun ketika terjadi seperti ini, dia hanya bisa menuruti ibu mertua dari istrinya itu dan pasrah pada keputusan itu.
Seusai perdebatan itu Lena dan nenek ke luar dari kamar Reyna. Kini tinggallah Abiyu dan Reyna yang masih berbaring di tempat tidur. Sembari menunggu Reyna siuman, Abiyu mengambil barang yang tadi diambilnya dari gudang bersama nenek. Abiyu memilah-milah yang dirasanya bisa menolong membantu ingatan Reyna kembali. Abiyu terpaku saat menemukan beberapa bingkai foto yang mampu membuat jantungnya berdesir. Yaitu tatkala melihat foto pernikahan Reyna dan Rangga. Di sana mereka berdua terlihat bahagia, dan Reyna mengulas senyumnya.
__ADS_1
Berbeda dengan foto pernikahannya dengan Reyna saat akad nikah Reyna nampak muram. Abiyu kemudian mencari lagi di dalam kardus itu. Abiyu menemukan sebuah buku kecil berwarna hijau, yang sudah rusak bagian kunciannya.
Abiyu melanjutkan untuk membuka sampul bagian depan buku itu.
"Ini buku diary!" gumam Abiyu sembari membuka lembar berikutnya.
Dibacanya satu persatu dan Abiyu mulai menyadari jika isi di dalam buku diary itu adalah kisah antara Reyna yang menyukai Rangga secara diam-diam semasa SMP.
"Jadi Rangga cinta pertamamu... lantas mengapa saat itu kamu menerima lamaran bunda, jika sedari awal kamu sudah menyukainya?!" gumam Abiyu dengan rasa kecewa dan perih di hatinya.
Abiyu lantas menutup buku diary itu dan meletakkan bukunya di atas meja rias, kemudian keluar dari kamar Reyna untuk untuk mendinginkan pikirannya. Dia harus tetap berlapang dada ketika mendapati kisah cinta antara istrinya dan suami pertamanya itu.
Saat berada di ruang tengah Abiyu melihat Reynand sedang bermain dengan omanya. Abiyu lantas menemani Reynand bermain. Hal itu cukup meredam kegundahan hatinya yang merasa cemburu dengan seseorang yang sudah tiada.
Hingga menjelang siang Reyna akhirnya siuman. Reyna melihat arlojinya sudah menunjukkan pukul 14.00. Mengingat bahwa dia belum sholat dzuhur, akhirnya Reyna bergegas untuk mengambil wudhu dan melaksanakan salat tanpa menggunakan mukena. Sebab, di almari ini sudah tidak ada pakaiannya maupun perlengkapan yang lain karena sudah dibereskan.
Reyna cukup mengenakan gamisnya yang diyakininya masih bersih tanpa najis, yang longgar dan panjangnya hingga menutupi kaki, khimarnya yang menjulur panjang hingga melampaui tangannya, manset hingga menutupi punggung tangannya dan menyisakan telapak tangannya saja, kemudian mengenakan kembali kaos kakinya.
Hal itu sudah cukup memenuhi syarat sahnya salat. Sehingga Reyna dapat segera melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.
Seusai menyelesaikan salat, Reyna bangkit menuju meja rias untuk kembali mengenakan niqabnya. Saat niqabnya terpasang dengan benar, Reyna melirik pada sebuah buku kecil berwarna hijau yang tergeletak di atas meja rias. Reyna tertarik untuk membukanya.
Dibukanya lembar pertama tertulis biodata dengan nama 'Reyna Hanania' dan dibawahnya tercatat alamat rumahnya yang sama persis seperti yang dia ingat di masa kecilnya, yaitu alamat rumah kontrakan pertama yang di tinggalinya bersama ke dua orang tua.
__ADS_1
"Mungkinkah ini buku diaryku ...?" gumam Reyna kemudian membuka lembar berikutnya.
...__________________Ney-nna________________...