Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Lamaran Vs OTW Ta'aruf


__ADS_3

"Mira, aku masih mencintaimu hingga saat ini ... maukah kamu menikah denganku?" ujar Jonathan yang membuat Mira lagi-lagi shock mendengarnya.


Jonathan mengeluarkan sebuah kotak yang berisi sebuah cincin berlian yang sangat cantik. Dan mengulurkannya di hadapan Mira.


Apa? Jona meminta aku menikah dengannya?! Tidak ... ini konyol! Semua orang akan menganggap hubungan kita lelucon. Berkali-kali putus nyambung, dan ketika aku sudah mulai bisa move on dari dia, mengapa Allah mengirim dia kembali datang kepadaku? Apa ini jawaban dari doa-doa ku? gumam Mira di dalam hati sembari memperhatikan cincin yang terulur di hadapannya.


"Aku tahu ini pasti akan membuatmu sangat terkejut, tapi aku sungguh-sungguh, Mira. Aku hanya punya waktu selama dua minggu di Jakarta. Setelah itu aku harus kembali ke Kalimantan karena pekerjaanku akan mengharuskan aku terus berada di sana. Mungkin hanya akan pulang sesekali dalam satu tahun. Karena itu, sebelum aku berangkat ke sana aku ingin menikahi mu terlebih dahulu, kemudian mengajakmu untuk tinggal di sana setelah kita menikah," tutur Jona menjelaskan.


Mira menutup mulutnya dengan kedua tangannya, speechless tidak tahu harus berkata apa dengan lamaran dari Jonathan yang tiba-tiba. Hal ini di luar dugaannya. Mira sama sekali tidak menduga jika pertemuannya dengan Jona kali ini akan berakhir dengan ajakan Jona untuk menikah dengannya.


"Tunggu, Jona. Ini sungguh mengejutkan. Aku sama sekali tidak ada bayangan jika akan ada obrolan ke arah itu, pada pertemuan kita kali ini dan setelah sekian lama tidak bertemu, " tutur Mira mengungkapkan apa yang dia rasakan saat ini.


"Aku tahu Ra, seharusnya aku bertahap untuk bisa mengambil hatimu kembali dan membuktikan kesungguhan ku kepadamu, namun aku benar-benar tidak ada waktu. Aku hanya bisa memberi waktu kurang dari dua minggu untukmu memikirkan hal ini. Tolong pikirkan baik-baik, Mira. Aku berharap kita bisa bersama dan tidak akan terpisahkan lagi," tutur Jonathan dengan permohonannya.


Mira memijit pelipisnya merasa pusing.


"Jona, kamu pasti tahu kan, apa yang aku alami di saat kamu harus bertanggung jawab kepada Dhewi dan pernikahan kita gagal?!" Mira menjeda kata-katanya dan kembali menerawang pada masa-masa pahitnya hubungan mereka saat itu.


"Aku dihujat dan di gunjing oleh tetangga, teman dan kerabat yang mengetahui hal itu. Ke mana aku pergi aku selalu dipandang dengan mata memicing mereka yang seolah menghakimiku. Aku yang menjadi korban tapi aku yang menanggung malu seolah aku yang melakukan kesalahan hingga calon suamiku lebih memilih orang lain ketimbang aku. Hal itu cukup membuatku stres saat itu, Jo. Dan sekarang setelah sekian lama kamu tiba-tiba datang padaku, entahlah aku tidak bisa berpikir untuk saat ini," tutur Mira dengan sendu.


Jona beranjak berlutut di depan Mira. "Tolong maafkan aku, Ra. Aku tahu aku terlalu banyak memberimu kesedihan, kedepannya aku akan berusaha untuk memberikanmu kebahagiaan, aku janji nggak akan mengulanginya lagi!"


"Ehh ... malu Jo. Jangan berlutut di situ! Nggak enak dilihat orang ...," ujar Mira setengah berbisik sembari melihat ke kanan dan ke kiri. "Cepat kembali ke tempat dudukmu!" tambahnya.


Jonathan akhirnya bangkit dan kembali duduk ke tempatnya.


"Aduh, jangan ulangi berbuat hal-hal yang konyol lagi, Jo. Meskipun kamu mau berlutut hingga hujan-hujanan dan pingsan kaya di teve, itu gak akan merubah keadaan. Aku sudah memaafkan kamu, yang lalu biarlah berlalu. Tapi untuk kembali bersama dan menikah denganmu aku masih belum bisa berpikir tentang hal itu untuk saat ini," tutur Mira menjelaskan jika dia tidak bisa memberinya jawaban untuk menolak atau menerimanya.


"Baik, Ra. Aku akan menunggumu. Jika kamu sudah tahu jawabannya, tolong beritahu aku! Aku akan siap kapan pun selama dua minggu ini untukmu. Aku berharap akan mendengar kabar baik darimu, Ra," tutur Jona dengan penuh harap kepada laki-laki di depannya.

__ADS_1


"Baiklah ...! Aku harus pulang sekarang, Jo. Aku ingin sebelum maghrib aku sudah berada di rumah, jadi aku mohon pamit sekarang!" tutur Mira kemudian meminum minumannya sebelum meninggalkan tempat itu.


"Tunggu, Ra. Bawa cincinnya!" ujar Jona sembari menyodorkan kembali cincin berlian yang bertengger pada kotak perhiasan berwarna merah itu. "Tolong pakai cincinnya ketika kamu setuju untuk menikah denganku!" tambahnya.


"Tidak kamu saja yang menyimpannya!" tolak Mira sembari menggeser kotak perhiasan ke hadapan Jona.


"Ini adalah bukti jika aku bersungguh-sungguh melamar kamu, Ra. Jadi tolong bawa cincinnya!" ujar Jona memaksa.


Mira sebenarnya ragu untuk menerima cincin itu. Sebab, dia tidak ingin seolah memberi harapan jika pada akhirnya nanti harus menolaknya. Namun, karena Jona memaksa akhirnya Mira menerimanya.


"Baiklah!" jawab Mira singkat.


Mira menerima kotak perhiasan itu kemudian memasukkannya ke dalam tasnya.


"Aku pulang dulu, Jo. Assalamu'alaikum!" tutur Mira sembari beranjak.


Jona masih memandangi ke arah Mira pergi hingga punggungnya tidak nampak lagi.


****


Sesampainya di rumah, Mira segera memasukkan mobilnya ke dalam garasi, kemudian Mira bergegas masuk ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum," serunya saat memasuki rumah.


"Wa'alaikumussalam," jawab mama dari dapur.


Saat Mira hendak memasuki kamar, mama menghentikan langkahnya.


"Tumben, pulang terlambat, Mir?" tanya mama yang meninggalkan dapur dan memilih menghampiri anaknya.

__ADS_1


"Iya, Ma. Tadi ketemu dulu sama temen," jawab Mira tanpa menjelaskan siapa yang ditemuinya.


"Oh, ya. Mama tadi udah mengambil CV'nya. Namanya--," mama tidak melanjutkan kata-katanya karena tidak ingat nama yang tertulis pada CV yang tadi di ambilnya.


"Siapa namanya, Ma?" tanya Mira menunggu kelanjutan dari kata-kata mamanya.


"Aduh, mama lupa lagi ... nanti kamu baca aja deh sendiri di laci samping teve. Yang jelas dia kerjanya di Yogja tapi kelahiran Jakarta. Dia juga belum terlalu lama mengajinya, baru beberapa bulan terakhir ini. Tapi dari fotonya good looking lhoh, Mir," tutur mama yang bercerita dengan antusias.


"Mah, kok kaya bau gosong ... Mama lagi goreng lauk, nggak?" tanya Mira sembari menajamkan indera penciumannya.


"Astaghfirullah, Mama lagi goreng ikan, Mir!" pekik mama dengan setengah berlari menuju dapur. "Ya ampun! Gosong deh ikanku!" seru mama dari dapur, yang masih terdengar dari depan kamar Mira.


Mira tertawa sembari geleng-geleng kepala mendengar seruan mamanya yang mendapati masakannya gosong. "Mama ... Mama ...!" ujarnya kemudian masuk ke dalam kamar.


Mira menutup pintu, kemudian bersandar pada balik pintu.


"Sebaiknya aku bilang sama mama nggak ya, tentang pertemuanku dengan Jona barusan? Kenapa Jona harus datang di saat aku hendak melakukan ta'aruf dengan orang lain?! Aku harus bagaimana ya Allah?!" gumam Mira sendiri dengan memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.


Mira meletakkan sling bagnya di atas nakas, kemudian bergegas masuk ke dalam toilet untuk mandi sebelum adzan maghrib berkumandang.


Diguyurnya seluruh badan di bawah kucuran air shower untuk merelaksasi otaknya agar segala kepenatan dihari ini hilang bersama aliran air. Tidak bisa dipungkiri pertemuannya dengan Jona meninggalkan kesan tersendiri.


Terlebih atas lamaran yang tadi diutarakan oleh Jona. Sedikit banyak hal itu cukup menyita ruang di benaknya. Sehingga mandi cukup membuatnya merasa tenang saat badannya kembali fresh.


Seusai menyelesaikan ritual mandinya, Mira mengambil wudhu, kemudian berganti baju dan bersiap-siap untuk melaksanakan sholat maghrib. Digelarnya sajadah dan segera dikenakannya mukena. Setelah terdengar adzan berkumandang Mira berdoa, kemudian segera mendirikan salat.


Mira melaksanakan salat dengan tuma'ninah. Dia memperlama saat ruku dan sujudnya. Seolah-olah Allah menggugurkan dosa-dosanya, ketika menundukkan diri di hadapan Allah melalui ruku' dan sujudnya. Seusai salat, Mira memanjatkan doa agar Allah menunjukkan jodoh yang tepat untuknya sesuai yang tertulis pada lauhul mahfudz.


...______________Ney-nna______________...

__ADS_1


__ADS_2