
Siang itu Raka mendatangi restoran bunda Maya. Raka datang sebelum jam makan siang. Raka mencoba melihat-lihat keadaan sembari menunggu menu yang dipesannya tiba. Belum ada tanda-tanda jika Fely sedang berada di resto.
Raka duduk manis di sudut ruangan, sembari memainkan handphonenya. Raka mengenakan jaket kulit, celana jeans, sepatu sneaker, topi dan tak lupa memakai masker untuk penyamaran agar wajahnya tidak mudah dikenali oleh pegawai Fely yang tentunya sebagian pasti sudah mengenali wajahnya sebagai Jerry.
"Permisi ... ini pesanannya, Mas, Caffe Latte dan Turkish dessert box. Selamat menikmati!" ujar seorang waitress.
"Mbak, Felynya ada?" cegah Raka menghentikan langkah waitress yang hendak pergi.
"Nggak ada, Mas. Sepertinya tidak datang, adanya Bu Maya. Mau saya panggilkan?" tanya waitress itu.
"Tidak perlu, Mbak. Terima kasih!" ujar Raka sedikit kecewa.
Mungkin Fely di rumahnya, kalau begitu aku datangi rumahnya sajalah! batin Raka.
Setelah menghabiskan kopinya Raka membayar pesanannya kemudian pergi menuju rumah Fely.
****
Sesampainya di rumah Fely, Raka segera memencet bel yang terletak di sebelah pintu. Beberapa saat menunggu akhirnya pintu terbuka dan yang membukanya adalah Fely sendiri.
"Maaf, siapa ya?" tanya Fely saat melihat tamunya yang membelakangi pintu.
Raka berbalik sembari membuka topinya seraya mengucap salam, "Assalamu'alaikum, Fe."
Deg.
Fely mengenali suaranya. Sejenak Fely diam terpaku saat Raka membuka maskernya dan nampaklah seluruh wajahnya, Raka berdiri tepat di hadapannya. Ada rasa sedih yang berkecamuk di dalam dirinya, namun tidak dipungkiri bahwa ada rasa bahagia melihat orang yang dicintainya ada di depan matanya, setelah sekian lama tidak berjumpa.
"Wa'alaikumussalam," jawab Fely nyaris tanpa suara yang terdengar.
"Apa kabar, Fe?" tanya Raka memecah keheningan.
__ADS_1
"Baik!" jawab Fely singkat tanpa memandang ke arah Raka.
"Bisa kita bicara sebentar, Fe?" mohon Raka sebab dia tahu Fely seperti enggan untuk menyambutnya selayaknya seorang tamu.
Fely berpikir sejenak, sepertinya mereka memang harus berbicara agar masalah tidak berlarut-larut.
"Kita bicara di teras saja!" ujar Fely yang tidak mungkin untuk mempersilahkan Raka masuk ke dalam rumah.
Raka mengangguk kemudian duduk di kursi teras rumah Fely.
Fely kembali masuk ke dalam rumah untuk membuatkan Raka minuman. Bagaimanapun Raka adalah seorang tamu. Dan hal itu juga digunakan Fely untuk sejenak menghindar dari Raka untuk menata hatinya saat mendapati Raka tiba-tiba datang untuk menemuinya di Jakarta.
"Minumlah!" ujar Fely ketika kembali ke teras rumah sembari meletakkan segelas minuman di atas meja. Fely kemudian duduk di kursi yang lain.
"Terima kasih," jawab Raka kemudian meminum sedikit minuman itu untuk mengurangi kecanggungan di antara mereka.
Rasanya berat bagi Raka untuk mengatakan yang saat itu ingin dikatakannya kepada Fely. Setelah melihat Fely berada dihadapannya dia seolah ingin rasanya mengabaikan nasib Maura dan keinginan Kakeknya.
" ... " Fely melirik sejenak ke arah Raka dengan tatapan datar dan kemudian berpaling tanpa mengatakan apa pun.
"Kedua soal pernikahan siri kita waktu itu aku sudah menanyakan hal itu kepada seorang pemuka agama dan mengatakan pernikahan itu dianggap tidak sah, karena tidak adanya saksi dari pihakmu dan juga harusnya yang menjadi wali adalah kakakmu karena kamu masih mempunyai kakak laki-laki," tutur Raka menjelaskan, agar tidak menjadi kesalahpahaman di antara mereka.
Seketika Fely menoleh ke arah Raka. "Itu artiya pernikahan itu dianggap batal dan aku tidak sah menjadi istrimu, begitu?"
"Benar, Fe. Pernikahan itu dianggap batal. Dan itu artinya kita tidak sah menjadi suami istri, kamu bebas untuk menikah dengan siapa saja, Fe," tutur Raka yang rasanya cukup berat mengatakan hal itu, karena egonya menginginkan dialah yang harusnya menikah dengan Fely.
"Apa itu artinya, kamu juga akan bilang jika kamu berhak menikah dengan siapa saja termasuk menikahi wanita yang dijodohkan denganmu itu?!" pangkas Fely dengan tersenyum miring ke arah Raka.
Raka menghembuskan napasnya tatkala mendengar perkataan Fely yang berkonotasi seolah-olah dia menggunakan alasan batalnya pernikahan mereka menjadi akses untuk menikahi wanita lain.
"Kenapa kamu diam saja Raka, jawab!" seru Fely dengan raut muka merah dan manik matanya yang sudah berkaca-kaca menahan rasa sakit dihatinya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Fe. Kami sudah bertunangan. Aku mencintaimu ... tapi maaf aku harus menikah dengannya demi menolongnya, Fe!" tutur Raka pada akhirnya.
"Sekarang kamu sudah boleh pergi, Raka!" pungkas Fely dan segera berdiri mengakhiri pembicaraan.
Sekuat hati Fely menahan air matanya agar tidak jatuh di depan Raka.
Raka sedikit terkejut karena Fely seolah sedang mengusirnya. Rasanya begitu berat untuk melepaskan Fely saat itu juga. Dia masih ingin tinggal untuk sedikit lebih lama karena hatinya pun cukup sakit untuk menerima kenyataan ini, bahwa mereka saling mencintai namun tidak bisa bersatu seperti harapannya di awal saat mengejar Fely.
"Dengarkan penjelasanku dulu, Fe!" ujar Raka memohon agar Fely mendengrkan penjelasannya terlebih dulu tentang alasannya menikahi Maura.
"Tidak, aku tidak mau mendengarkan apa pun lagi! apa perlu menolong seseorang harus dengan cara menikahinya? pergilah sekarang juga, Raka! bukankah penjelasan mu itu tidak akan mengubah apa pun? kamu tetap akan menikahinnya, bukan?! dan itu artinya kamu tidak akan menikahi aku seperti janjimu kemarin yang mengatakan akan datang kepada keluargaku untuk melamarku!" tutur Fely meluapkan kekecewaannya yang bercokol di hatinya.
"Aku tidak akan mengingkari janjiku kepadamu Fe, tapi aku tidak bisa mewujudkan hal itu untuk saat ini. Jika suatu saat masih ada kesempatan aku pasti akan melaksanakan hal itu!" tutur Raka merasa sangat bersalah karena tidak bisa menunaikan janjinya kepada Fely untuk saat ini.
"Apa maksud dengan perkataan mu itu Raka? kamu ingin berpoligami dan menjadikan aku istri kedua mu? jangan harap aku mau menerima hal itu, Raka!" ujar Fely dengan suara tercekat karena Raka lagi-lagi memberikannya harapan kosong.
"Bukan seperti itu, Fe!" sanggah Raka yang ingin sekali menjelaskan yang sesungguhnya dia rasakan.
"Pergilah sekarang juga!" ujar Fely dengan tegas.
"Baiklah, aku akan pergi, Fe. Sekali lagi aku minta maaf karena telah mengecewakanmu, aku mencintaimu, Fely!" ucap Raka untuk yang terakhir kali.
"Pergilah! assalamu'alaikum!"
Fely melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menengok lagi ke arah belakang dan reflek menutup pintu rumahnya dengan sedikit lebih keras.
Brakk.
Fely segera berlari ke atas menuju kamarnya dan tangisnya pun pecah seketika. Hatinya seolah hancur berkeping-keping saat ini. Cinta pertamanya telah kandas. Hatinya yang sedang rapuh sudah tidak mampu lagi menahan rasa kecewanya terhadap Raka.
Fely menjatuhkan dirinya di atas ranjangnya dan menangis sejadi-jadinya. Sakit sungguh sakit rasanya ketika laki-laki yang dicintainya lebih memilih untuk menikahi wanita lain ketimbang dirinya.
__ADS_1
...___________Ney-nna__________...