
Reyna berdiri di pinggir jalan, diam menatap ke arah balkon kamar Rangga. Berharap bisa melihat suaminya ke luar dari kamar dan berdiri di sana. Namun tak jua nampak ada pergerakan di atas sana.
"Mass...ini handphonenya ketinggalan!" terdengar teriakan Lena dari teras rumah. Ia terlihat setengah berlari menuju mobil yang terparkir di halaman rumah.
"Hati-hati di jalan, Mas!" ujar Lena saat mobil suaminya mulai menyala.
Reyna buru-buru membonceng motor Cindy, "Cin, ayok buruan jalan!"
Cindy ikut gelagapan dan buru-buru tancap gas. Sampai di ujung jalan Cindy membelokkan motornya memasuki gapura masuk kampung. Tidak sampai lima menit, sudah sampai di pelataran rumah Cindy. Halamannya cukup luas, nampak bersih dan rindang karena terdapat pepohonan di depan rumah. Bangunan rumah tidak terlalu besar dengan model simpel. Namun, dilihat dari depan rumah nampak rapi dan bersih. Diparkirnya motor di samping rumah. Reyna dan Cindy kemudian turun dari atas motor.
"Reyn, kamu kenal sama Rangga?" tanya Cindy.
Seketika Reyna terkejut dengan mata membelalak menoleh ke arah Cindy, "Hah, kamu juga kenal sama Rangga?"
"Nggak bisa di bilang kenal juga sih, tapi cukup tau lah karena dia cukup populer di sekolah!" ungkap Cindy.
"Kamu satu sekolah dengan Rangga?" tanya Reyna.
"Iya...kita satu sekolah waktu SMA. Cuma beda kelas. Kalau kamu kenal dia dari mana?" Cindy balik tanya.
"Rangga suami aku!" ucap Reyna sambil melenggang menuju pintu utama rumah Cindy.
"Eh, suami? Tungguin dong Reyn, ini beneran Rangga suami kamu??" kini giliran Cindy yang terkejut dengan pernyataan Reyna.
Pasalnya setahu dia Rangga masih awet berpacaran dengan Putri bahkan hingga lulus kuliah. Pasangan terpopuler di sekolah, hampir semua anak seangkatan dengannya pasti mengetahuinya.
"Assalamu'alaikum, Ummii...Abii...!" ucap Reyna saat sudah menjangkau depan pintu. Pintu rumah sudah terbuka sehingga terlihat bagian ruang tamunya.
"Wa'alaikumussalam!" terdengar jawaban dari dalam rumah. Kemudian nampak seorang perempuan dengan busana gamis dan jilbab panjang dengan warna senada, menyibak horden pintu bagian dalam rumah.
"Selamat sore Ummi, saya Reyna temannya Cindy," Reyna mengulurkan tangan kemudian mencium punggung tangan ummi Cindy yang dengan ramah menyambutnya.
"Sore, ayo nak Reyna silakan duduk. Ini teman kerja Cindy ya?" tanya Ummi sambil menggiring Reyna untuk duduk di ruang tamu.
"Bukan, Ummi. Reyna pasien klinik di tempat Cindy kerja," Cindy yang menjawab lebih dulu, dia baru muncul dari depan pintu. Ia taruh kue di atas meja ruang tamu.
"Ohh..begitu, ayunya nak Reyna ini. Rumahnya di mana?" tanya Ummi.
"Saya aslinya dari Jakarta, Ummi. Ini kebetulan sedang main ke Solo. Karena, kakinya terkilir, jadi belum bisa pulang ke Jakarta," ujar Reyna menjelaskan.
"Oh begitu...syafakillah ya, Reyna?" ucap Ummi.
"Aamiin, terimakasih Ummi. Ohya ini ada sedikit kue untuk dimakan sekeluarga," Reyna menyodorkan kotak kue ke depan Ummi.
"Kenapa repot-repot, jazakillah khairan ya Reyna," ungkap Ummi.
"Waiyyaki, Ummi!" jawab Reyna.
"Ummi, boleh Reyna menginap di sini malam ini?" ijin Reyna.
"Tentu saja boleh, Ummi malah seneng Cindy jadi ada temennya. Oiya, Abi dan Umar tadi sudah berangkat ke masjid. Bentar lagi kan adzan maghrib. Nak Reyna diajak masuk ya Cin, Ummi juga mau ke masjid dulu," ujar Ummi yang kemudian berdiri.
"Iya, Mi. Ayo Reyn, kita ke kamar aku," Cindy ikut beranjak dari duduknya kemudian melangkah masuk.
Ditengoknya Ummi yang sedang menutup jendela dan hendak menutup pintu, "Ummi, berangkat ya? Assalamu'alaikum!"
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam!" jawab Reyna dan Cindy berbarengan.
Sampailah mereka di kamar Cindy. Kamarnya tidak terlalu besar, namun cukup nyaman dan rapi.
"Reyn, aku mandi dulu yah? Kalau mau ambil wudhu, di samping kamar mandi ada tempat wudhu. Kamu berhutang banyak penjelasan sama aku ya, Reyn," ujar Cindy.
Reyna mengangguk, "Iya, sana buruan mandi!"
Cindy mengambil baju ganti dari almari kemudian berjalan menuju ke belakang.
"Gak nyangka kalau takdir membawa aku melewati rumahmu lagi By, mungkinkah ini petunjuk sudah waktunya kita bertemu?" gumam Reyna lirih.
Reyna melepas perban elastisitasnya, kemudian beranjak berdiri menyusul Cindy ke belakang.
Seusai sholat maghrib berjamaah bersama Cindy, terdengar suara ketukan di pintu kamar.
"Cindy, ayo ajak nak Reyna makan dulu," teriak Ummi dari balik pintu. Rupanya yang dari masjid sudah pada pulang.
"Iya, Mi. Sebentar!" jawab Cindy, "Yuk Reyn, kita makan!"
Reyna mengangguk, kemudian mengikuti Cindy ke ruang makan. Di sana Reyna bertemu Abinya Cindy dan juga Umar, adik Cindy yang masih usia SMP. Umar bersekolah di pondok pesantren. Sebulan sekali pas weekend Umar pulang ke rumah. Dan hari ini pas sekali waktunya ia berada di rumah.
Acara makan malam pun terasa hangat di keluarga ini, kali ini makannya tidak memakai sendok tapi di puluk kalau orang jawa bilang, yaitu disuap dengan tangan. Menu makannya kali ini, ummi menyajikan nasi gudangan, makanan khas di daerah Jawa Tengah. Kata ummi ini adalah special untuk menyambut kepulangan Umar yang rindu nasi gudangnya ummi. Gudangan terdiri dari rebusan berbagai macam sayur, ada daun bayam, kacang panjang, tauge dan wortel yang di iris memanjang, kemudian di campur dengan sambal parutan kelapa. Tak lupa dengan lauk pelengkapnya yaitu telur rebus belah dua dan ada tahu dan tempe. Dengan membaca bismillah semua menekuni makanan yang di hidangkan Ummi. Rasanya luar biasa enaknya.
"Alhamdulillah, Ummi ini masakannya enak sekali. Reyna baru pertama coba langsung suka," ujar Reyna saat menyelesaikan makannya.
"Jelas dong Mbak, nasi gudangan Ummi paling juara," Umar paling semangat saking senangnya bisa makan di rumah.
Reyna jadi teringat almarhumah ibunya. Rindu juga dengan masakan ibu.
"Boleh Ummi, nanti begitu bertemu dengan suami Reyna, pasti langsung di praktekkan," ujar Reyna.
"Reyna, sudah menikah Ummi. Malahan sekarang sedang hamil," ungkap Cindy.
"Alhamdulillah, kalau begitu. Habisnya perutnya masih rata belum kelihatan kalau hamil. Suaminya gak ikut ke Solo nak Reyna?" tanya Ummi, seketika membuat Reyna kembali sedih.
"Iya Ummi, baru enam minggu. Suami Reyna kemaren sedang tidak enak badan, Ummi," hanya itu yang bisa ia katakan. Tidak etis ketika menceritakan masalah rumah tangganya kepada orang lain.
"Syafakallah ya untuk suami nak Reyna?" ujar Ummi.
"Aamiin, terimakasih Ummi," ucap Reyna.
Abi dan Umar sudah beranjak membaca Al-Qur'an bersama di ruang tamu. Sementara Ummi, dan Cindy membereskan meja makan.
"Maaf ya, Ummi. Reyna nggak bisa bantu beresin," ujar Reyna.
"Nggak apa-apa, kamu kan baru sakit kakinya. Nggak boleh banyak gerak kalau terkilir begitu. Di datengin saja Ummi sudah senang," ucap Ummi sambil memindahkan piring kosong ke dapur. Reyna senang bisa bertemu ibu sebaik Ummi. Ummi adalah gambaran istri sholihah bagi Reyna.
Setelah membereskan makanan Reyna dan Cindy masuk ke dalam kamar. Cindi dan Reyna menyempatkan membaca Al-Qur'an meski hanya satu ruku'. Reyna benar-benar salut dengan keluarga ini yang taat beribadah. Reyna kemudian membuka handphone barunya. Setelah handphone di setel pengaturan awal ia menyimpan nomor Rangga, nomor telepon kantor, dan juga nomor telepon rumah kakek hanya itu yang diingatnya.
"Cin, masukin nomor telepon kamu!" Reyna menyodorkan handphonenya pada Cindy.
"Siap, ayo Reyn kamu sekarang cerita dari awal kamu bisa menikah dengan Rangga sampai kejadian yang menimpa kamu di Solo," pinta Cindy.
Reyna pun kemudian menceritakan dari awal ia bertemu dengan keluarga kakek sampai akhirnya menikah dengan Rangga, kemudian berlanjut saat ia akhirnya pergi tanpa pamit ke Jogja hingga kemalangan di stasiun yang menimpanya. Namun, ada kisah yang Reyna skip, yaitu cerita tentang ia menemui mertuanya sampai di usir. Itu adalah aib keluarga yang tidak baik untuk di umbar kepada orang lain.
__ADS_1
"Aku tidak bisa menjelaskan detailnya mengapa aku tidak pulang ke rumah mertua aku. Yang jelas aku hanya ingin bertemu suami ku dulu dan menjelaskan ke salah pahaman yang terjadi, Cin!" ujar Reyna.
"Reyna, kamu yang sabar ya, ini ujian buat kamu. Ohiya, kamu bilang handphone Rangga rusak kan? Sekarang kamu coba telepon dia Reyn, siapa tau handphonenya sudah dibenerin atau ganti handphone. Kalau nomor aku nggak yakin dia akan ganti nomor," usul Cindy.
Reyna mengangguk, kemuadian mencoba menghubungi Rangga. Telepon tersambung, Reyna bersyukur nomor Rangga aktif, namun belum juga diangkat.
"Aktif Cin, tapi nggak diangkat!" ucap Reyna matanya sudah mulai berkaca-kaca.
"Coba lagi Reyn, sapa tau tadi sedang jauh dari HP!" Cindy menyemangati.
Reyna mengangguk kemudian mencoba untuk menelpon kembali. Pada dering ke tiga telepon diangkat.
"Halo...!" air mata Reyna menetes, jantungnya berdebar-debar saking bahagianya bisa mendengar suara suaminya lagi.
"Assalamu'alaikum, By. Ini aku Reyna," ucap Reyna dengan isak tangis keharuan.
"Wa'alaikumussalam, Hana. Sayang kamu baik-baik saja kan? Kamu sekarang di mana, Sayang?" tanya Rangga terdengar nada kekhawatiran.
"Aku di Solo, By. Kamu sudah sembuh, By?" Reyna merasa bahagia mendengar perhatian suaminya, tidak ada kemarahan dari suara Rangga yang ia dengar.
"Sudah Sayang, aku pikir kamu masih di Jogja. Tadi waktu ke Jakarta kamu nggak ada, aku pergi ke Jogja mencari kamu Hana!" ucap Rangga.
"Kamu mencari aku, By? Maafkan aku By, telah membuat kesalahpahaman diantara kita," derai air mata terus-menerus mengalir di pipi Reyna, ia sangat merindukan suami tercintanya.
Cindy keluar dari kamar agar Reyna lebih leluasa berbicara di telepon dengan Rangga.
"Aku yang salah Hana karena terbawa emosi tanpa mendengar penjelasan dari kamu terlebih dahulu. Maafkan aku juga, Sayang. Aku sangat merindukanmu Hana!" ungkap Rangga.
"Aku juga sangat merindukanmu, By!" ucap Reyna dari lubuk hatinya terdalam. Ia ingin sekali bisa segera bertemu dan memeluk suaminya.
"Kamu di Solo berada di mana, Sayang. Aku akan segera ke Solo untuk menjemputmu!" ujar Rangga.
"Aku berada tak jauh dari rumahmu, By. Aku sekarang menginap di rumah Cindy satu sekolah denganmu waktu SMA, kamu kenal nggak?" tanya Reyna.
"Cindy?" sejenak Rangga terdiam berpikir.
"Ia Cindy, kalian beda kelas sih waktu SMA. Nanti aku kirim alamat ya!" ucap Reyna.
"Oiya, Cindy anak yang sering ikut lomba MIPA kan? Maaf aku baru inget. Iya, Sayang kamu jangan kemana-mana ya, aku akan jemput kamu di sana?" tutur Rangga.
"Iya, By. Kamu hati-hati ya, By! Aku mencintaimu Rangga!" ucap Reyna tulus.
"Aku sangat mencintaimu, Reyna Hanania!" balas Rangga. Sejenak mereka terdiam memaknai kata yang sempat terucap.
"Assalamualaikum, By!"
"Wa'alaikumussalam." telepon dimatikan.
πΊπΊπΊ
Jangan lupa like, comment, favorit, follow, dan vote untuk Reyna dan Rangga π
Salam sayang,
Neyna
__ADS_1