Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Menemukan Sesuatu


__ADS_3

POV Reyna.


Setelah menyelesaikan makan dan minum, kami kembali ke kamar. Aku berniat ingin membereskan pakaianku terlebih dahulu sebelum tidur. Sedangkan kak Abi sudah merebahkan diri di atas tempat tidur.


Aku berjalan menuju almari dan membukanya. Ternyata masih ada ruang yang kosong. Aku segera memindahkan baju-bajuku dan baju kak Abi yang tadi kita bawa, ke dalam almari.


"Kamu sedang apa Reyn?" seru kak Abi dari tempat tidur.


"Sebentar, Kak. Aku sedang memindahkan baju-baju ke dalam almari," jawabku pada kak Abi.


"Ya sudah setelah itu cepatlah tidur. Maaf aku sudah tidak kuat lagi, aku tidur duluan!" ucapnya lagi.


Aku menoleh ke arahnya, ku lihat kak Abi sudah memejamkan matanya. "Iya, Kak. Selamat tidur!"


Seusai merapikan baju, aku beranjak menuju tempat tidur sembari membawa pouch kecil berisi sejumlah obat yang harus aku konsumsi setiap harinya. Aku membuka laci nakas dekat tempat tidur, dan hendak menyimpannya. Namun, aku menemukan sesuatu di dalamnya yang menarik perhatianku.


Foto yang menampakkan tiga orang pemuda yang mengenakan seragam putih abu-abu dengan banyak coretan warna-warni di bagian kemeja putihnya. Aku mengenali salah satu diantaranya.


"Pemuda ini! Bukankah dia pemuda yang waktu itu ...!" gumamku lirih sembari memandang ke arah kak Abi dan foto pemuda yang berada di posisi bagian tengah, secara bergantian.


Flashback On...


"Reyn, kamu dan Dina tunggu dulu di sini, ya? Bibi mau membeli ikan dulu di pasar daging sebelah sana. Kalian jangan ke mana-mana, ya!" pesan bi Lastri kepadaku.


Saat itu aku dan kedua orang tuaku sedang berlibur ke Yogya, untuk berkunjung ke rumah paman dan bibi. Pagi harinya, Bibi membawaku ke pasar tradisional yang tak jauh dari desa tempat tinggal bibi. Bibi berniat untuk berbelanja sayur mayur dan bahan untuk memasak.


Saat itu Dina merengek meminta dibelikan dawet yang sedang di jajakan oleh penjual di pasar.


"Bu Tini, minta dawetnya dua mangkuk, ya. Yang satu nggak pakai ketan dibanyakin cendolnya untuk si Dina, dan satunya untuk keponakanku ini komplit, ya?" tutur bi Lastri kepada penjual dawet yang bernama Tini.


"Woo, ya," jawab bu Tini.


"Saya titip mereka dulu ya, Bu. Saya mau belanja dulu di pasar daging." tutur bibi.


"Ya, Tri. Cepet lho ya!" tutur bu Tini saat bibi sudah beranjak pergi menuju tempat tujuannya.


Aku dan Dina mulai menyantap dawet sembari bercanda-tawa dengan Dina, hingga tak terasa semangkuk dawet habis tak bersisa. Tak berapa lama punya Dina juga habis, namun bibi tak kunjung datang juga.


"Ya ampun, yang di beli apa to Tri! sejam belanja kok gak balik-balik!" ujar si penjual mulai mengomel.


Aduh ... bibi ke mana saja, sih. Aku sudah tidak tahan mau pipis! gumamku di dalam hati.


"Din, kamu di sini dulu, ya? Mbak gak tahan pengen ke toilet," ujarku pada Dina.


"Aku ikut saja deh, Mbak," ujar Dina sembari memegang lengan tanganku.


"Kamu di sini saja, nanti ibumu mencari bagaimana? Mbak hanya ke toilet sebentar," bujukku pada Dina.

__ADS_1


"Ya, sudah. cepet ya, Mbak?" ujar Dina sembari melepaskan genggaman tangannya,


Aku menjawabnya dengan mengangguk, kemudian segera beranjak pergi. Karena aku tidak tahu di mana letak toiletnya, kemudian aku bertanya kepada orang penjual di pasar yang aku lewati.


Setelah sedikit berputar-putar mencari akhirnya aku menemukan toiletnya dan bergegas masuk ke dalam. Saat aku ke luar dan hendak pergi ada seorang bapak-bapak yang mencegahku.


"Bayar, dulu dek. Ini WC umum," ujar laki-laki paruh baya itu.


Aku mencari uang di saku celanaku. Beruntung sebelum berangkat ke pasar ibu membekaliku uang dua puluh ribu.


"Berapa, Pak?" tanyaku pada penjaga toilet itu.


"Dua ribu!" jawabnya.


Aku segera menyodorkan uang itu ke hadapannya. Kemudian bapak itu menyerahkan uang kembalian kepadaku. Aku berjalan pelan sembari menghitung uangnya.


Saat aku hendak memasukkan uang tersebut ke dalam kantongku, tiba-tiba saja ada seorang ibu-ibu yang merampas uangku dan membawanya lari.


"Heh ... uangku!" teriakku terkejut sembari menatap pada pencopet itu pergi.


Dengan segera aku berlari mengejarnya. Saat pencopet itu menerobos pagar, aku mempercepat lariku hingga jarak kita semakin dekat. Karena terburu-buru hendak meraih bajunya aku terperosok saat mengikutinya menerobos pagar.


Aku merasakan sakit yang luar biasa di kakiku, hingga aku tak mampu berdiri. Aku menangis sembari melihat pencopet itu pergi. Pencopet itu berbalik saat menyadari aku sudah tidak mengejarnya. Saat aku perhatikan, ternyata wanita itu kurang waras.


Dia menjulurkan lidahnya sembari berjoged-joged mengejekku. "Wek ... wek ... wek ...wek ...wek!"


"Kamu nggak apa-apa?" Sebuah suara yang tiba-tiba aku dengar.


Aku melihat ada sepasang kaki memakai sepatu yang berada tepat di depanku. Aku mendongak ke atas melihat ke arah orang tersebut. Ada seorang pemuda yang berdiri di depanku.


Aku segera menghapus air mataku yang sempat ke luar.


"Bisa berdiri nggak?" tanyanya lagi sembari berjongkok di depanku.


Aku diam saja, namun aku mencoba untuk beranjak berdiri.


"Aww ...!" pekikku saat merasakan kakiku terasa ngilu. Aku merunduk memegangi kakiku yang terasa sakit.


"Kenapa?" tanyanya lagi dengan nada kekhawatiran.


"Kakiku sakit ...," ucapku sembari meringis menahan sakit.


"Jangan-jangan kakimu terkilir!" Dia beranjak berdiri, kemudian memegang lengan tanganku.


"Kakak mau apa?" tanyaku sembari memandang heran kepadanya.


"Membantumu berdiri ... memangnya mau melakukan apa?!" ujarnya seperti hendak memarahiku.

__ADS_1


"Oh ...," ucapku lega. Hampir saja aku berpikiran yang tidak-tidak padanya.


"Kamu bisa berjalan sendiri nggak ke bangku itu?" ujarnya sembari menunjuk ke arah tempat duduk taman yang berada kurang lebih dua meter dari tempatku berdiri.


"Bisa," jawabku singkat.


Perlahan-lahan aku berjalan sembari menahan sakit yang teramat sangat saat aku melakukan gerakan di kakiku.


Tiba-tiba pemuda itu memapah ku saat menyadari jika aku kesulitan berjalan.


Aku terkejut dengan tindakannya itu, namun aku tidak menolak bantuannya. Aku hanya diam sembari melangkah perlahan dengan bantuannya menuju bangku itu.


Setelah duduk, aku mengedarkan pandangan ke arah sekitar tempatku berada. Ekor mataku mengitari tempat yang asing bagiku. Aku baru menyadari keberadaan ku yang ternyata sudah cukup jauh dari tempatku semula. Aku seperti berada di sebuah taman kota.


Astaghfirullah kenapa aku bisa ada di tempat ini. Dina dan Bibi pasti akan bingung mencariku! gumamku di dalam hati.


"Kenapa juga kamu musti repot-repot mengejar orang gila tadi?" tanya pemuda itu.


"Mana aku tahu kalau dia orang gila!" ujarku membela diri.


Tiba-tiba dia berjongkok sembari melepaskan sendal yang aku pakai.


"Eh ... kakak mau apa?" tanyaku saat dia menyentuh kakiku.


"Aku hanya mengecek kakimu, jangan berpikir yang aneh-aneh. Lagi pula kamu masih anak sekolah dasar, kan? Masih bau kencur, memangnya aku mau melakukan apa? Dari tadi kamu berpikiran yang bukan-bukan terus sama aku!" omelnya padaku.


Apa dia bilang? Aku anak bau kencur! Huuh ...! batinku kesal.


"Enak saja, aku sudah SMP!" sanggahku kepadanya.


"Kelas berapa?"


"Kelas VII!" ujarku singkat.


Mendengar jawabanku dia malah tertawa terbahak-bahak.


"Hahahaha ... ternyata nggak ada bedanya, ini kan baru tahap penerimaan siswa baru, itu artinya kamu baru saja masuk ke SMP kamu belum mendapat pelajaran di SMP. Ilmunya masih setara dengan anak SD," ejeknya lagi yang membuatku semakin kesal walau kata-katanya benar.


Dia beranjak berdiri kemudian pergi meninggalkan aku tanpa berkata apa pun.


Aku memandang heran ke arah punggungnya yang semakin menjauh.


"Dia mau kemana?" gumamku sembari memandang heran ke arahnya.


..._______________Ney-nna_____________...


Terima kasih buat semua teman-teman dan reader's yang telah mendukung karya Neyna πŸ™πŸ™πŸ™mohon maaf karena akhir-akhir ini tidak dapat membalas komentar kalian satu-persatu. Karena kesibukan reallife dan membagi waktu untuk menulis. Tapi komentarnya pasti Neyna baca kok πŸ˜‰πŸ‘Œ

__ADS_1


Mohon dukungannya selalu, dan jangan lupa untuk like dan komen setelah baca novel ini. Karena dukungan kalian sangat berarti buat author. πŸ™πŸ™πŸ™πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ˜˜


__ADS_2