Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Packing koleksi Mira


__ADS_3

Keesokannya di rumah Mira.


Akhirnya Dipa tahu alasan Mira yang tidak bisa memberikan haknya di malam pertama mereka. Dipa melaksanakan salat subuh sendirian sementara Mira, kembali tidur setelah mengatakan jika dia mendapatkan tamu bulanannya tadi malam. Akhirnya Dipa harus bersabar menunggu selama kurang lebih satu minggu.


Mira nampak sangat lelah karena begadang semalaman setelah menjalani acara resepsi yang dilanjutkan bermain uno stacko bersama Dipa. Dan ujung-ujungnya dia kalah juga dari Dipa.


Seusai salat subuh Dipa pun sebenarnya masih sangat mengantuk, namun sungkan mau ke luar kamar sendirian tanpa Mira. Akhirnya dia tetap di kamar dan iseng-iseng melihat-lihat sebentar ke arah pernak-pernik dholpin yang ada di kamar Mira.


Setelah di cermati ternyata pernak-pernik itu semua mempunyai catatan kaki, seperti dari siapa dan kapan benda itu didapatkan. Dipa mengeceknya satu-persatu koleksi istrinya itu. Dan, dari sekian banyak pernak-pernik itu ternyata banyak sekali yang dia temukan bertuliskan pemberian dari Jonathan, bahkan dari bertahun-tahun yang lalu. Itu artinya cukup lama juga Mira mengenal Jonathan.


Tak berapa lama terlihat Mira bangun dari tidurnya.


"Emh ... hoaam! maaf kamu nungguin aku, ya? badanku rasanya sakit semua karena kecapekan, akhirnya jadi malas bangun," tutur Mira mengemukakan alasannya.


"Iya, nggak apa-apa, aku tahu kamu pasti kecapekan," tutur Dipa mencoba memahami istrinya.


"Oke, wait aku mandi dulu!" tutur Mira sembari beranjak ke kamar mandi.


Seusai mandi Mira kebingungan karena terburu-buru masuk ke dalam kamar mandi tanpa membawa baju ganti. Dia lupa karena biasanya sebelum menikah dia berganti baju di dalam kamar bukan di kamar mandi.


"Astaga, aku lupa nggak bawa baju ganti sih! aduh gimana ini?!" ujar Mira kebingungan.


Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka sedikit menampilkan kepalanya saja yang mengintip ke luar kamar.


"Dip!" panggil Mira.


Mendengar namanya dipanggil, lantas Dipa menoleh ke arah sumber suara. Dipa beranjak berdiri dan berjalan menghampiri istrinya.


"Ada, apa?" tanya Dipa setelah berada di depan kamar mandi.


"Bisakah kamu ke luar sebentar?" tanya Mira dengan raut muka memelas seolah sedang memohon.


Sepertinya Mira nggak bawa baju ganti nih! aku kerjain dulu lah! gumam Dipa di dalam hati usil ingin mengerjai istrinya.


"Kenapa aku harus ke luar?" tanya Dipa sembari memperlihatkan raut muka istrinya.

__ADS_1


"Emm, itu aku ... ayolah Dip, sebentar saja!" tutur Mira dengan mengiba.


"Enggak ah, aku kan juga belum mandi, mendingan aku mandi dulu sebelum ke luar kamar," tutur Dipa.


"Huaaa ... Dipa, aku lupa nggak bawa baju ganti. Please kamu ke luar dulu sebentar, aku uda mulai kedinginan, nih!" ujar Mira akhirnya berkata jujur.


"Ya sudah ke luar saja bawa handuk dan segera ambil bajumu, memangnya kenapa aku harus ke luar? bahkan aku berhak melihat semuanya!" tutur Dipa masih ingin menggoda istrinya.


Jadi dia bener-bener nggak mau ke luar, ya sudah lah pasrah! batin Mira.


"Huuhh ...!" keluh Mira kemudian segera membuka pintu dan ke luar dari dalam kamar menuju almari bajunya.


Dipa melongo saat melihat Mira dengan beraninya ke luar kamar mandi dan melewatinya begitu saja, dengan hanya mengenakan handuk yang hanya menutupi sebagian tubuhnya mulai dari bawah ketiak sampai setengah pahanya. Bahkan hingga terlihat ada yang menyembul di bagian depan.


Dipa menelan salivanya dengan susah payah, saat menyaksikan hal itu, hingga ada yang terbangun di bawah sana. Dengan segera Dipa berpaling, sebab takut khilaf dan tak bisa mengendalikan dirinya untuk menyergap Mira yang sedang berada pada zona merah.


Mira dengan cekatan membuka almarinya, kemudian mengambil baju ganti yang dia butuhkan dengan segera. Setelah itu Mira kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti baju.


"Hhhhh!" Dipa menghembuskan napas beratnya yang sempat tertahan dengan segera.


Gak nyangka, nyalinya besar juga! huh, mana bikin bangun lagi! batin Dipa menyesal telah menggoda Mira.


"Paling tidak kamu masak nasinya dulu, Mir setiap pagi, habis itu baru potong-potong sayurnya sekalian goreng lauknya, tapi karena kamu pemula fokus satu-satu dulu saja deh, takutnya malah lauknya gosong nggak jadi makan ntar," tutur Mirna. "Sekarang buatkan minum dulu buat suamimu!" titah mama.


"Bikin apa, Ma? teh apa kopi?" tanya Mira.


"Itu sesuai selera, kamu bisa bikin salah satunya, baru nanti kamu cari tahu apa yang lebih dia sukai maka itulah yang kamu siapkan setiap pagi!" jawab Mirna.


"Oke deh!" ujar Mira kemudian menyeduh kopi untuk Dipa sembari menguap.


"Memangnya tidur jam berapa sampai udah mandi masih ngantuk saja kamu?" tanya Mirna menelisik.


"Semalem sampai jam satu pagi baru tidur gara-gara main Uno Stacko, Ma!" tutur Mira.


"Apa? jadi yang semalem itu kamu main Uno?" tanya mama seolah tidak percaya.


"Iya, habisnya Dipa gak bisa tidur, ya udah Mira temenin main Uno," jawab Mira jujur.

__ADS_1


"Astaghfirullah! mama pikir kamu teriak-teriak karana ...." Mirna tidak melanjutkan kata-katanya.


"Ya enggak lah, Ma. Orang Mira semalem kedatangan tamu. Ya udah gagal deh ngerasain MP kaya penganten baru lainnya," tutur Mira mengatakan yang terjadi.


"Hahaha ... kasihan banget nih si Dipa. Tapi harusnya bisa nyicil yang lainnya dulu Mir, nggak musti main uno juga, dasar kamu nih ke kanak-kanakan! udah sana anterin kopinya!" titah mama.


"Biarlah orang dia juga nggak minta. Hehehe ...! udahlah mau anter kopi dulu!" tutur Mira kemudian beranjak pergi meninggalkan dapur.


Mira hanya geleng-geleng kepala saja menanggapi tingkah anaknya.


Setelah masakannya siap mereka sarapan bersama. Rencananya Dipa akan membawa serta Mira untuk tinggal di Yogya sore ini juga.


"Ma, nanti sore saya berniat untuk membawa Mira pulang kembali ke Yogya, ya?" ujar Dipa meminta izin kepada mertuanya.


Mirna nampak terkejut karena harus merelakan anaknya pergi secepat itu. Dia pikir mereka akan tinggal beberapa hari lagi di rumah ini. Namun, karena Dipa sudah merencanakan seperti itu, akhirnya Mirna merelakannya.


"Mama pikir kalian akan tinggal beberapa hari lagi di sini sebelum ke Yogya, tapi ya sudah jika Dipa harus segera kembali ke Yogya. Kalian harus selalu mengabari Mama jika ada sesuatu ya? ingat harus sabar dalam menghadapi masalah, jaga komunikasi dengan baik, mencoba untuk saling melengkapi. Mama harap kalian berdua bisa membina rumah tangga dengan baik!" ujar Mirna memberi wejangan bagi keduanya berharap rumah tangga anaknya berjalan dengan baik dan kelak di antara mereka akan tumbuh cinta.


"Iya, Ma. Aamiin. Terima kasih atas nasehatnya!" tutur Dipa menanggapi mama mertuanya.


Seusai sarapan, Mira menyiapkan barang-barang yang hendak dibawanya, Dipa pun membantu istrinya untuk berkemas barang-barang yang akan dibawa ke Yogya.


Melihat istrinya yang tengah memasukkan beberapa pernak-pernik koleksinya yang berkaitan dengan dholpin. Secepat kilat Dipa mencegahnya.


"Mau dibawa ke mana mainan kamu itu?" tanya Dipa.


"Rencananya ingin aku bawa sebagian ke Yogya. Bolehkan?" ujar Mira.


"Baiklah sekarang kamu ke mari kan yang mau dibawa, biar aku yang memasukkannya ke dalam kantong besar!" titah Dipa yang ingin membantu istrinya agar acara packingnya segera selesai.


Dengan senang hati Mira segera mengambil dua kantong besar dan memberikannya kepada Dipa. Mira merasa beruntung sekali karena Dipa sangat mengerti keinginannya.


Setelah usai packing, Dipa mengajak Mira untuk pergi ke luar rumah. Dipa membawa salah satu kantong yang berisi koleksi pernak-pernik dholpin Mira.


"Lhoh kok, kenapa koleksi dholpin aku dibawa?" tanya Mira merasa heran karena Dipa menaruh satu kantong koleksinya di bagian jok belakang mobil.


"Ini yang udah aku pilah-pilah. Satu kantung ini semua yang dari Jonathan," tutur Dipa menjelaskan.

__ADS_1


"Terus mau dibawa ke mana?" tanya Mira mulai gelisah.


...____________Ney-nna____________...


__ADS_2