Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Istimewa


__ADS_3

Sebuah mobil melaju kencang di atas aspal memecah jalanan kota dengan kecepatan tinggi. Wirya dan asistennya hendak pergi ke rumah Fely untuk menggagalkan acara akad nikah Raka dan Fely. Namun, sayangnya hal itu gagal karena ada kesalahan.


"Bergegaslah! jika sampai terlambat kamu akan menanggungnya!" seru tuan Wirya dari jok penumpang.


"Baik, Tuan!" jawab si sopir.


"Yahya, bisa-bisanya kau sampai telat memberitahuku jika hari ini tanggal pernikahan mereka! cari mati, kau!" omelnya pada asistennya yang berada di jok depan samping sopir.


"Maaf Tuan. Tapi, tadi malam saya sudah memberitahukannya kepada anda Tuan," jawab asistennya.


Aku harus banyak bersabar, sepertinya Tuan Wiryo sudah mulai pikun! batin asistennya.


Tak lama mobil berjalan dengan pelan. Sang sopir menepikan mobilnya ke pinggir jalan.


"Heh ... kenapa berhenti di sini! kita bisa terlambat!" seru tuan Wiryo yang merasa geram karena sang sopir malah berhenti.


"Maaf, Tuan besar. Sepertinya ada yang tidak beres pada mobilnya. Saya akan turun dan mengeceknya, Tuan!" Sopir itu membuka pintu mobilnya dan segera turun dari bangku joknya untuk mengecek bagian yang dirasa tidak beres.


Sopir itu merasakan ada yang salah dari suara mobilnya yang tidak biasa. Dia melongok pada bagian bawah mobil, rupanya salah satu ban mobil itu kempes. Dia mendekat dan memperhatikan lebih jeli pada bagian ban yang kempes. Ternyata sebuah paku yang cukup besar tertancap pada ban mobil itu.


"Maaf Tuan, ban mobilnya bocor, ada paku yang tertancap. Saya akan segera menggantinya," ujarnya seraya membungkukkan badan, kemudian berlalu pergi untuk memperbaiki ban yang bocor.


"Sial! bagaimana hal seperti ini bisa terjadi!" ujar kakek sembari memukul bagian belakang jok di depannya.


Setelah ban berhasil di ganti Wirya dan anak buahnya segera melesat menuju rumah Fely. Namun, sayangnya prosesi ijab kabul telah usai. Dia terlambat karena Raka dan Fely sudah menikah secara sah. Kakek Raka kembali pulang dengan tangan hampa dan kekesalannya.


****


Acara berlanjut dengan ramah tamah. Semua tamu dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang sudah tersedia di meja panjang. Sedangkan Fely dan Raka terlihat sibuk dengan menyambut tamu-tamu yang datang, juga untuk diambil fotonya.


"Lala ...!" sapa seseorang dari arah arah belakang.


"Uhuk ... uhuk ...!" Lala yang sedang menyantap sup manten pun sampai tersedak, tatkala ada yang menepuk bahunya dari belakang.


"Minum dulu, La. Nih!" ujar Lastri seraya mengambilkan gelas yang berisi minuman yang berada di hadapan Lala.


Lala menyabet gelasnya dan meminumnya dengan segera.


"Ya ampun, La. Maaf ya bikin kamu kaget?" ujar Lastri sembari mengusap punggung Lala secara perlahan.


"Iya, Budhe. Nggak apa-apa, kok!" ucap Lala sembari tersenyum.

__ADS_1


Lala segera mengulurkan tangannya ke hadapan Lastri. Dan, Lastri pun sigap membalasnya untuk berjabat tangan.


Lala segera mencium punggung tangan Lastri. "Sehat, Budhe?" tanyanya.


Lastri sejenak terkesima dengan tindakan yang dilakukan Lala yang sangat sopan terhadapnya, terlebih Lala yang sekarang sudah semakin dewasa dan semakin cantik. Apalagi dengan kerudung lebar yang dikenakan oleh Lala, membuat gadis itu nampak sangat anggun.


"Alhamdulillah, Budhe sehat, La. MasyaaAllah, kamu tambah cantik aja, La. Bikin Budhe pangling," ujar Lastri sembari duduk di samping Lala.


"Bisa saja sih, Budhe. Kak Dina mana, Budhe?" tanya Lala.


"Tuh, duduk di meja depan sama keluarga yang lain," ujar bi Lastri sembari menunjuk ke arah meja yang dikhususkan untuk keluarga.


Terlihat Dina melambai ke arah mereka, dan Lala pun membalasnya. Sedangkan Dino yang berada di samping Dina hanya menoleh sebentar, kemudian membuang mukanya ke arah lain, seolah-olah bukan hal yang menarik untuk dilihat.


Mas Dino, ngeselin banget sih dari dulu nggak berubah! batin Lala.


"Yuk La, gabung ke sana saja! kamu kan juga sudah seperti keluarga sendiri," ujar Lastri seraya hendak menarik tangan Lala.


"Eh ... sup Lala gimana, Budhe?" tanya Lala dengan terkejut.


"Bawa aja sih, La!" ujar Lastri memaksa.


Akhirnya Lala menurut saja dengan perintah Lastri. Lala berjalan perlahan sembari memegangi supnya dengan hati-hati agar tidak tumpah.


"Hehe ... maaf, Mbak!" ujar Lala sembari nyengir.


Lagi-lagi Dino yang tidak sengaja bersitatap dengan Lala membuang mukanya dengan angkuh. Lala sampai bingung dibuatnya. Entah salah apa dia hingga Dino begitu tak suka padanya.


Mereka kemudian segera menyantap hidangan yang tersedia sembari sesekali bercerita tentang kisah yang terjadi setelah lama tidak berjumpa.


Seusai acara jamuan, Fely mengajak Raka menuju kamarnya untuk beristirahat.


"Ini, kamar aku!" ujar Fely setelah mempersilakan Raka masuk.


"Bagus kamar kamu," ujar Raka menanggapi seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang tergolong bagus dengan fasilitas lengkap dengan barang-barang yang bernilai tinggi. "Tapi, kamu nggak keberatan kan jika kedepannya kita tinggal di rumah mamaku?" tanya Raka.


"Iya, tentu saja. Tapi sesekali menginap di sini tidak apa-apa, kan?" tawar Fely.


"Tentu, Fe. Mau menginap di mana aja nggak masalah, asalkan kita terus bersama," jawab Raka yang seketika membuat Fely tersipu.


Fely tidak menyangka jika mulai saat ini dia harus berbagi kamar dengan Raka. Dan, kedepannya ke manapun ia pergi harus dengan sepengetahuan dan ijin dari Raka sebagai suaminya.

__ADS_1


"Iyah ...," jawab Fely singkat sembari tersenyum malu. "Oh iya, aku mau mandi dulu ya? gerah banget pengen buru-buru ganti baju!" ujar Fely meminta ijin.


Raka mengangguk sebagai jawaban. Mau aku bantuin melepas hijabnya?" tanya Raka perhatian.


"Em ... enggak perlu, aku bisa sendiri, kok," ujar Fely kemudian segera beranjak menuju meja riasnya. Fely masih merasa canggung saat berada sangat dekat dengan Raka.


"Baiklah!" ujar Raka kemudian duduk di sofa yang berada di ruangan itu sembari membuka ponselnya.


Fely segera melepas satu persatu hiasan yang tadi sempat tersemat pada hijabnya. Setelah semua yang menghalangi telah dia bereskan. Dengan perlahan Fely melepas hijabnya dan nampaklah auratnya yang selalu ditutupnya dengan rapat di balik hijabnya itu.


Rambutnya yang tadi diikat ia biarkan terurai dan menyisirnya. Dari cermin di hadapannya Fely bisa melihat jika Raka selalu memperhatikannya membuat Fely jadi salah tingkah. Fely segera mengambil baju ganti, kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Tanpa Fely ketahui sebenarnya Raka sejak tadi menahan untuk tidak menghampirinya, meski dia sangat terkesima dengan kecantikan istrinya. Raka bersabar demi memberi kesempatan bagi Fely untuk membersihkan diri terlebih dahulu.


Seusai Fely menyelesaikan mandinya dan sudah berganti baju, kemudian gantian Raka yang membersihkan diri.


Waktu pun berjalan dengan cepat hingga malam menjelang. Keduanya masih sedikit canggung karena belum terbiasa. Namun, Raka selalu berusaha membuat Fely merasa nyaman bersamanya.


"Raka, mengenai mahar yang tidak kamu sebutkan tadi boleh aku tahu apa isinya?" tanya Fely yang penasaran dengan isi maharnya. Sebab Raka harus repot-repot menyembunyikan isinya agar tidak diketahui oleh orang lain.


"Tentu saja boleh, Fe. Itu memang khusus untukmu!" tutur Raka. "Sebentar!" ujarnya kemudian beranjak berdiri untuk mengambil kotaknya yang masih bertengger di atas nakas.


Raka memberi tahu passwordnya, yaitu susunan tanggal di hari pernikahan mereka.


Dek!


Kait pada kotak pun terbuka. Dengan perlahan Fely membuka kotaknya. Nampaklah sejumlah uang yang sangar banyak.


"Uang?! kenapa uang?" tanya Fely terkesiap saat melihat isinya adalah uang.


"Inget nggak waktu kita telponan waktu itu? aku sempat bertanya tentang mahar apa yang kamu inginkan dan kamu menjawab satu milyar. Saat itu aku terkejut dengan jawaban kamu, karena hal itu sesuai dengan yang aku niatkan untuk maharnya. Tapi kamu malah menjawabnya dengan bercanda untuk maharnya. Untuk itulah aku ingin memberi sebuah kejutan buat kamu, Fe," tutur Raka menjelaskan panjang lebar.


"MasyaaAllah ...!" pekik Fely sembari menutup mulutnya dengan kedua tangan. Netranya berkaca-kaca, merasa haru karena Raka berusaha untuk mewujudkan ucapannya yang waktu itu, meskipun dia hanya asal berucap dengan bercanda. "Terima kasih, Raka!" tambahnya.


Raka segera merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya. "Kamu adalah wanita yang istimewa buat aku, Fely. Kamu berhak untuk mendapatkannya. Bukankah Rasulullah pun memberikan contoh dengan memberikan mahar yang istimewa kepada istrinya, semua itu tentu karena beliau sangat menghargai seorang perempuan."


"Tapi, bukankah kemarin kamu bilang kamu sedang kesulitan uang dan kehilangan pekerjaan? kamu lebih membutuhkan uangnya dari pada aku, Raka," ujar Fely mengurai pelukannya.


"Semua niat baik aku dimudahkan oleh Allah, Fe. Aku mendapatkan jalan keluar atas masalahku. Aku sudah mendapatkan suntikan dana bagi usahaku, dan aku mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan jobdeskku. Uang ini adalah hakmu, pergunakan sebaik-baiknya. Aku percaya padamu!" tutur Raka meyakinkan istrinya.


Fely mengangguk dengan penuh haru. Dia merasa sangat tersanjung akan usaha Raka untuk memenuhi mahar yang pernah terucap tanpa sengaja olehnya.

__ADS_1


"Sekarang berhentilah menangis! kamu sangat cantik terlebih jika kamu tersenyum, Fe," ujar Raka menjeda kata-katanya sembari mengusap air mata di sudut netra istrinya. "Bolehkah aku meminta hakku sekarang?" tanya Raka sembari menatap lekat pada kedua netra istrinya dengan penuh damba.


..._________Ney-nna_________...


__ADS_2