
Seusai makan aku menghampiri nenek di dapur. Kulihat nenek sangat telaten menata kue kedalam toples. Nenek bilang dengan membuat kue bisa menghilangkan stress karena tidak ada kegiatan. Saat membuat bentuk bermacam-macam kue, ada kepuasan tersendiri jika hasilnya bagus. Besoknya nenek akan membagikannya pada teman-temannya di grup senam lansia.
"Nek nanti sore, boleh ya Reyna keluar bentar sama Mira? Katanya minta ditemenin buat beli kado."
Reyna merangkul bahu nenek dari belakang. Reyna memang sangat dekat dengan sang nenek.
"Padahal tadi Rangga minta ijin mau ditemenin kamu cari oleh-oleh pesenan maminya. Besok Rangga sudah balik lagi ke Solo."
"Loh memang Rangga tinggal di Solo?"
"Iya, papi Rangga musti ngurusin perusahaan kakek yang di Solo. Setelah lulus kuliah Rangga bantuin papinya di sana, yah itung-itung sekalian belajar jika nanti menggantikan kakek di pusat."
"Ohh...,terus gimana dong nek?Reyna sudah telanjur janji sama Mira."
Rengek Reyna sambil memegang lengan tangan nenek. Dalam hati iya ngeri sendiri jika sampai harus pergi berdua dengan Rangga.
"Gimana kalau beli kadonya sekalian sama Rangga? Habis dari situ bisa langsung sekalian cari oleh-oleh nya."
Reyna nampak berpikir sejenak, yah kalau sudah begini gak bisa beralasan lagi. Takutnya malah mengecewakan nenek. Akhirnya Reyna menangguk setuju.
Sementara itu di gasebo kakek sedang duduk santai bersama Rangga.
"Ga, gimana perusahaan di Solo? Kakek harap kamu cepat belajar supaya kelak bisa menggantikan kakek di pusat."
"Lancar kek, kan ada Papi. Rangga pasti berusaha sekuat tenaga kek, buat nyaingin ilmunya Papi buat memimpin perusahaan."
"Baiklah, kakek percayakan sama kalian. Kalo jodoh gimana Ga?"
"Kalau yang itu Rangga belum kepikiran kek buat berumah tangga. Belum nemu yang pas."
__ADS_1
"Ga, kakekmu ini sudah tua. Sebelum kakek meninggal kakek ada tanggung jawab yang belum terpenuhi, yaitu menyerahkan Reyna pada laki-laki yang akan menjaga dan melindunginya. Reyna sudah kakek anggap seperti cucu kakek sendiri. Reyna anak yang baik dan berbakti pada orangtua. Kakek yakin Reyna pasti bisa jadi istri yang baik buat kamu."
"Kek, apaan sih main jodoh-jodohin! kaya jaman Siti Nurbaya aja. Belum tentu juga Reyna mau sama aku."
Rangga masih menanggapi perkataan kakek dengan santai. Menikah belum ada dalam pikirannya.
"Kalau Reyna mau bagaimana?"
Tantang kakek. Rangga langsung mendelik tidak menyangka jika kakeknya serius.
"Reyna pasti nggak mau kek nikah sama aku. Reyna dulu benci banget sama aku."
"Baiklah, kalau begitu kita sepakat Ga. Jika Reyna mau, berarti kamu juga setuju menikahi Reyna."
Kakek langsung berdiri meninggalkan cucunya yang kebingungan sendirian. Kakek merasa lucu dengan tingkah cucunya. Yang awalnya ingin menjahili Rangga, rupanya kalau dipikir-pikir bagus juga jika Ranggalah yang menjadi pendamping Reyna. Dengan begitu Reyna menjadi sah menjadi anggota keluarga besar trah Hadi Jaya.
"Eh kakek apa-apaan sih, semaunya sendiri."
Terlihat nenek datang dari arah pintu.
"Ga, nanti sore kamu temenin Reyna dan temannya beli kado yah? Sekalian aja pulangnya beli oleh-oleh buat mami kamu.
"Ish nenek, Rangga kesini karena rindu dengan kakek dan nenek. Kok malah disuruh pergi-pergi sih."
"Nenek khawatir, takutnya nanti pulang malam mereka. Kasian Mira habis nganter Reyna nanti balik sendirian malam-malam."
"Ya udah, nanti Rangga anter. Rangga mau istirahat dulu nek."
Rangga meninggalkan nenek di taman untuk hendak pergi kekamar.
__ADS_1
Rangga membuka pintu kamar dan langsung tidur diatas kasur. Karena kecapekan iya langsung terlelap.
Habis membuat jus jeruk Reyna masuk kedalam kamarnya. Reyna terkejut melihat Rangga sedang tidur dikasurnya.
"Aaaaarrggghh...!"
"Rangga ngapain kamu tidur disini...!"
Reyna berteriak sambil mendekat ketempat tidur memukul-mukul kaki Rangga dengan guling.
Rangga menggeliat, ditariknya tangan Reyna mendekat hingga terjatuh diatasnya dan dipeluknya tubuh Reyna seperti guling.
"Sini Cha bobo sama Om."
Rupanya Rangga ngelindur.
"Aaaaarrggghh Rangga banguuuun!
Lepasin gue!"
Reyna meronta-ronta berusaha melepaskan dekapan Rangga.
Rangga kaget masih terbengong-bengong duduk diatas kasur sambil mengumpulkan nyawanya yang belum sepenuhnya kembali.
Reyna langsung melompat berdiri. Saat itu juga muncul kakek dan nenek dari balik pintu.
"Eh kalian ngapain berduaan di dalam kamar?"
Kakek melotot memandang kami bergantian.
__ADS_1
Nampak lah Reyna yang sedang merapikan baju dan hijabnya. Rangga masih duduk dengan mulut menganga.