Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Bertemu Ummi Aini


__ADS_3

Malam yang indah bagi seorang Dimas Pradana. Pencapaian yang luar biasa meski tertatih-tatih untuk memb**** gawang lawannya. Setelah babak pertama gagal karena Cindy keburu menangis dengan histeris saat gawangnya hampir kem*sukan bola. Akhirnya Dimas mengakhiri permainan dengan skor 0-0. Namun saat malam tiba, penantian Dimas tidak sia-sia karena di babak kedua ia berhasil menj**** gawang dengan pema**san yang cukup panjang, saat sang keeper lengah terbuai akan permainan Dimas.


"Sayang, sakit banget ya?" tanya Dimas sembari mengusap peluh air mata yang sempat mengalir di pipi cantik istri barunya.


Cindy mengangguk pelan, kemudian merapatkan diri di pelukan Dimas.


"Sakitnya hanya di awal kok, yakin deh kedepannya gak bakalan sakit lagi," Dimas membelai lembut rambut Cindy untuk menenangkan.


Lagi-lagi Cindy hanya mengangguk. Masih antara terkejut, senang, sedih, malu, dan menahan sakit di bagian intinya. Ini pengalaman pertamanya. Semua seolah masih terasa mimpi baginya. Namun, rasa perih yang terasa membuat ia sadar bahwa realitanya ia sudah tidak virgin lagi.


Sekejab ia merasa sangat sakit saat tubuh mereka menyatu. Namun tak berapa lama hal itu terbayar saat melihat reaksi Dimas yang merasa puas akan pencapaiannya. Dengan penuh kerelaan Cindy memasrahkan diri pada Yang Maha Kuasa. Sebab ia melakukan ini atas ikatan suci yang halal di mata Allah.


Dimas terus menghujaninya dengan pujian dan kecupan sayang. Cindy merasa seolah sangat dibutuhkan dan di cintai. Tak ada prasangka. Yang ada hanya ia semakin jatuh kedalam kenikmatan cinta yang Dimas berikan. Ia tak mampu berkutik hanya pasrah merasai sentuhan demi sentuhan yang diberikan.


"Sayang aku bantu memakai baju dulu ya, habis itu kita tidur," ujar Dimas.


Dengan memegangi selimut, perlahan Cindy mencoba untuk bangun.


"Aww...!" pekiknya saat gerakannya menimbulkan rasa sakit di bagian intinya kembali muncul.


"Sabar ya, besok pagi pasti jauh lebih baik!" ujar Dimas sembari membantu untuk memakaikan baju.


"Iya , Mas. Aku juga gpp kok. Cuma kaget saja dengan sensasi perih yang timbul saat bergerak," ujar Cindy.


"Ya sudah, sekarang kita tidur ya," ujar Dimas sembari mencium kening istrinya kemudian memeluk Cindy dalam dekapannya.


Dimas merasa beruntung karena lagi-lagi berkat bantuan Reyna dan Rangga, ia bisa menikmati malam panjang bersama istri barunya.


****


Satu bulan berlalu mereka melewati hari-hari yang bahagia. Masih berasa pada tahap indahnya menjadi pengantin baru. Hubungan yang sedang dalam manis-manisnya pacaran dengan kekasih halal. Dimas merasa gairah hidupnya kembali menyala, jiwa mudanya bangkit. Seusai bekerja pun selalu pulang tepat waktu.


Pagi itu seusai membantu Qila bersiap untuk sekolah, Cindy kembali ke kamarnya untuk menyiapkan kebutuhan Dimas.


Cindy menaruh kemeja dan celana panjang di atas ranjang. Kemudian, menyiapkan kaus kaki dan sepatu yang akan di kenakan suaminya.


Tiba-tiba Dimas memeluk Cindy dari belakang setelah menyelesaikan mandi paginya.


"Sayang, pakaikan bajuku!" titah Dimas.


"Bagaimana cara memakaikan baju, Mas. Kalau kamu terus saja memelukku dan tak mau melepasnya," ujar Cindy yang membuat Dimas terkekeh.

__ADS_1


"Hhhhahaha, iya deh aku lepasin," Dimas merenggangkan pelukannya kemudian memutar balik istrinya hingga berhadapan. Dan, tangannya masih melingkar di pinggang istrinya.


"Apa bedanya kalau seperti ini, Mas. Justru kamu akan memulainya lagi. Yang tadi habis subuh juga masih kurang? Aku musti mandi berapa kali dalam sehari, Mas," keluh Cindy karena setiap berdekatan Dimas akan mengulangi aktivitas panasnya kembali.


"Hhhahaha...kali ini nggak akan kebablasan lagi, Sayang. Aku bisa terlambat kalau sampai aku berani menyentuhmu lagi," Dimas beralasan.


"Semakin hari kamu semakin manja, Mas. Bahkan setiap pagi harus aku juga yang pakaikan baju. Qila saja sudah bisa pakai baju sendiri," ujar Cindy sembari memakaikan kemeja suaminya.


Tanpa aba-aba Dimas men*ium bibir istrtrinya, hingga Cindy tak bisa berkata-kata, "Kamu semakin bawel, bibirmu semakin menggoda, Sayang!"


"Ishh, mas Dimas, selalu saja begitu. Nanti aku telat nganterin Qila lagi kaya kemaren. Kan nggak enak sama ustadzah kalau sering telat," Cindy memperingatkan. Sebab sudah dua kali dalam sebulan Qila telat berangkat sekolah karena Dimas selalu menggoda Cindy.


"Iya deh maaf, gak akan lagi!" Dimas mengalah.


"Oh ya, Mas. Nanti sore aku minta ijin mau mengikuti kajian di majelis ya. Biasanya pulangnya jam lima, nanti Qila aku ajakin juga," tutur Cindy.


"Jam berapa berangkatnya?" tanya Dimas sembari memngenakan kaos kaki.


"Ba'da Azhar, Mas. Nanti Cindy sekalian pengen ketemu Ummi di sana," Cindy menenteng tas Dimas agar tidak terlupakan.


"Ya sudah nanti berangkatnya minta dianter supir klinik saja, terus pulangnya aku jemput!" ujar Dimas.


"Aku naik motor aja Mas, biar tidak merepotkan!" Cindy merasa lebih nyaman saat mengendarai motor sendiri, bebas mau kemana saja tanpa musti menunggu yang nganter siap atau menunggu hemputan datang.


"Iya deh pak Dokter!" canda Cindy.


"Eh, sekarang kamu mulai berani ya, Sayang kaya gitu ma aku, dulu cuma di ajak bicara aja uda gemetaran!" ejek Dimas.


"Enak aja, mas Dimas sih nyeremin, Cindy kan gemetaran karena takut!" kilah Cindy.


"Masih nggak mau ngaku lagi!" Dimas mendekat kemudian menggeletiki pinggang Cindy.


"Aww... ampun, Mas. Hentikan, Mas! Stooopp!" tubuh Cindy ambruk di ranjang akibat ulah Dimas.


****


Di majelis Cindy duduk tenang mendengarkan pembelajaran dari seorang ustadz. Bagi laki-laki tempatnya di depan. Sedangkan perempuan di belakang. Terdapat pembatas yang memisahkan antara jama'ah putra dan putri. Sedangkan Qila duduk di sampingnya dengan tenang.


Seusai kajian Cindy keluar mencari umminya di dekat gerbang keluar. Sebab saat kajian ummi berada di barisan depan, sedangkan ia berada di barisan belakang. Sehingga belum sempat bersua dengan umminya.


Saat berada di luar ia mendapati umminya sedang berbicara dengan ummi Aini dan ada seorang wanita lainnya di samping ummi Aini. Sejenak Cindy diam memperhatikan mereka. Rasanya agak canggung untuk bertemu dengan ummi Aini.

__ADS_1


"Ini lhoh, Dek mantuku, istrinya Fadhil. Alhamdulillah sudah hamil dua bulan," ujar ummi Aini.


"Oh iya mbak, Alhamdulillah!" ujar umminya Cindy.


Drett drett drett.


Handphone Cindy bergetas tanda ada panggilan masuk. Dilihatnya tulisan pada layar tertulis 'SuamiQ'. Cindy segera mengangkat panggilan dari Dimas.


"Hallo, Assalamu'alaikum, Mas!" ujar Cindy.


"Wa'alaikumussalam. Aku sudah menunggu di depan, di seberang jalan!" ujar Dimas.


"Baik, Mas. Aku pamitan sama Ummi sebentar!" jawab Cindy.


"Oke!" telepon di matikan.


Dimas sudah berada di depan, mau tidak mau Cindy harus menyapa mereka terlebih dahulu sebelum pulang. Ransanya tidak etis jika melewati begitu saja. Akhirnya Cindy menggandeng tangan Qila untuk mendekat kepada umminya.


"Assalamu'alaikum, Ummi!" ujar Cindy sembari meraih tangan umminya dan mencium punggung tangan ummi.


"Wa'alaikumussalam!" jawab mereka semua.


Kemudian Cindy beralih pada Ummi Aini, "Apa kabar Ummi?" ujarnya sembari mencium tangan ummi Aini kemudian bersalaman dengan wanita di samping ummi Aini yaitu istri Fadhil.


"Baik nak Cindy, ini siapa?" tanya ummi Aini saat melihat Qila.


"Itu anaknya Cindy, bawaan dari suaminya!" ujar umminya Cindy.


"Ouhh, nak Cindy sudah menikah? Selamat ya, nak!" ucap ummi Aini sambil menepuk pundak Cindy pelan. Cindy mengangguk mengiyakan.


"Baru sebulan yang lalu kok, Mbak!" ummi Cindy menjelaskan.


"Ouhh, Alhamdulillah ya, semua sudah mendapatkan jodohnya masing-masing. Semoga dengan ketulusan nak Cindy merawat anak suaminya nantinya akan membawa berkah, dan dipercaya untuk bisa hamil dan merawat anak dari rahimnya sendiri. Jika sulit mendapatkan momongan pun setidaknya sudah ada anak, sehingga tidak perlu repot-repot hamil dan melahirkan tinggal merawatnya saja."


Kata-kata ummi Aini bagaikan sindiran yang menusuk ke relung hati Cindy. Sejenak mata Cindy membulat mendengar perkataan ummi Aini.


"Umma, ayoo kita pulang!" Qila menarik-narik tangan Cindy.


Cindy kembali tersadar, "Ummi Cindy sudah di tunggu mas Dimas di depan. Cindy pulang dulu ya? Assalamu'alaikum!" setelah mencium tangan umminya Cindy bergegas pergi menuju mobil Dimas.


Di dalam mobil Cindy terus terdiam memikirkan perkataan ummi Aini. Rasanya ingin menangis namun ia tahan. Saat ini hatinya sedang kalut. Namun, tidak mungkin untuk menumpahkan kekesalannya saat ini juga.

__ADS_1


_____________________Ney-nna________________


__ADS_2