
Setelah dua puluh menit berkendara, Fely dan bunda Maya telah sampai di tanah pekuburan umum yang terletak di pinggiran desa, di tanah kelahiran neneknya.
Seusai mengucap salam mereka masuk ke area makam untuk melakukan ziarah pada makam kedua orang tua bunda Maya. Mereka berdua berjongkok di antara dua gundukan tanah yang sudah ditumbuhi rumput di bagian atasnya.
"Bun, apa perlu kita cabut rumput-rumputnya?" tanya Fely kepada bunda.
Ziarah makam memang tidak menjadi tradisi bagi keluarga mereka, sehingga Fely kurang paham akan hal itu. Namun, Fely tidak pernah melewatkan sekalipun untuk mendoakan almarhum ayahnya, suaminya, dan kakek neneknya yang telah tiada di penghujung doanya seusai melaksanakan salat.
"Tidak Sayang, nanti seusai berdoa cukup rapihkan saja yang sudah tinggi dan sisakan sebagian, kemudian ambillah dedaunan yang sudah kering. Rumput-rumput yang masih basah ini berguna bagi jasad yang berada di dalam kubur, biarkan pusaranya tetap ditumbuhi tanaman hidup dengan harapan semoga Allah meringankan dosa-dosa mereka," ujar bunda memberitahu.
"Baik, Bun," ucap Fely patuh.
"Sekarang mari kita berdoa," ucap bunda kemudian menengadahkan tangannya ke atas dan mulai melatunkan doa.
Tidak lupa bunda Maya menghadiahkan surat Alfatihah dan surat-surat pendek bagi kedua orang tuanya dan tidak lupa untuk memohonkan ampunan bagi kedua orang tuanya, agar dosa-dosa mereka diringankan oleh Allah.
__ADS_1
Rasulullah SAW bersabda, jika manusia itu meninggal dunia, maka akan terputus amalnya kecuali tiga hal, yaitu shadaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak salih yang mendoakannya. (HR. Al-Bukhari)
Tanpa mereka ketahui ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan mereka dari jauh yang bersembunyi di balik pohon yang menjulang tinggi.
"Tuan, sebaiknya kita pergi sekarang, sepertinya mereka hampir usai berdoa," ujar asistennya.
Laki-laki tua itu berjalan perlahan sembari menghentakkan tongkatnya ke tanah sebagai pijakannya. Dia kembali pulang dengan perasaan yang tidak menentu di dalam hatinya.
Tak urung hal itu membuatnya kembali mengingat masa lalunya yang mampu merubahnya menjadi pria dingin dan kejam. Kebencian telah menggerogoti hati nuraninya terhadap wanita miskin.
****
"Tuan, ini kopinya?" ujar seorang asisten setianya sembari menyimpan secangkir kopi hitam di atas meja.
"Hmm !" jawabnya tanpa kata tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.
__ADS_1
"Ada yang Anda inginkan lagi, Tuan?" tanya seorang asisten tersebut.
"Tidak ..., Kau keluarlah!" titahnya.
"Baik, Tuan, saya permisi," ujar asistennya.
Laki-laki tua itu meneguk sedikit minumannya, kemudian kembali melanjutkan untuk membaca buku yang sejak kemarin belum diselesaikannya. Sebuah novel berjudul Keturunan Ke Tujuh karya author Reo Ruari Onsiwasi. Hatinya mulai goyah setelah membacanya, di sana dikisahkan bahwa takdir seseorang tidak lepas dari pendahulunya, dan takdir dari keturunannya nanti tidak lepas dari perilakunya semasa hidup.
Hingga malam menjelang beliau tidak dapat tidur memikirkan hal itu. Bagaimana kata-katanya bisa berbalik menyerangnya. Ketika kutukannya kembali mengarah kepada keturunannya.
Bagaimana mungkin dia rela untuk kehilangan satu-satunya keturunannya jika pernikahan itu tetap terjadi. Beliau tidak ingin kehilangan cucu kesayangannya. Hingga semalaman beliau tetap terjaga memikirkan tentang nasib Raka kedepannya.
...___________Ney-nna_______
__ADS_1
...