Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Sedikit petunjuk tentang Reyna


__ADS_3

"Tunggu!"


Reyna menghentikan langkahnya dan kembali menoleh ke arah Cindy. Reyna berbalik, kemudian memandang ke arah Cindy.


"Ada apa?" tanya Reyna sembari menunggu reaksi selanjutnya dari Cindy.


Cindy melangkah maju mendekat ke arah Reyna berdiri. Saat sdah berhadapan, Cindy menatap lekat ke arah mata wanita di depannya itu.


Apakah dia benar Reyna yang aku kenal? Tapi mengapa Reyna tidak mengenali aku? Aku harus memastikannya!


"Maaf, Ukhti ... bolehkah saya melihat wajah anda?" tanya Cindy meminta ijin dengan sopan.


Sebab, setiap orang memiliki hak asasinya masing-masing, yang tidak bisa diperlakukan dengan seenaknya begitu saja. Membuka cadar tentunya harus dilakukan dengan kerelaan dan ijin, dari orang yang bersangkutan.


Reyna mengernyitkan dahi mendengar permintaan Cindy yang terkesan cukup aneh. Namun, akhirnya Reyna mengangguk mengiyakan hal tersebut.


"Bisakah anda membukanya di sini saat ini juga?" tanya Cindy lagi.


"Baiklah!" ucap Reyna kemudian dengan sedikit ragu, namun dia tetap melepas ikatan cadar di bagian belakang kepalanya.


Cindy membulatkan mata saat melihat wajah di balik cadar yang tadi dipakai oleh perempuan di hadapannya itu di lepas. Sungguh mengejutkan saat melihat wajah Reyna berada tepat di hadapannya. Namun, Cindy sangat penasaran, mengapa Reyna tidak mengenaliku? gumamnya di dalam hati.


"Reyna, astaghfirullah ... jadi yang dari tadi di hadapan aku ini beneran kamu!" tutur Cindy riang ketika menemukan Reyna, dan menghambur memeluk Reyna dengan erat. "Kok, kamu nggak ngenalin aku, sih, Reyn? Jahat deh kamu, Reyn!" tutur Cindy sembari melerai pelukannya.


"Maaf, tapi saya benar-benar tidak mengenali, anda," ungkap Reyna jujur. "Apa anda mengenal saya?" tanyanya.


Cindy semakin terkejut dibuatnya. Bagaimana mungkin Reyna sama sekali tidak mengenalinya. Meski pun mereka sudah lama tidak bertemu, tapi Cindy merasa tidak banyak yang berubah dari fisiknya. Hal ini sungguh aneh baginya.


"Jika anda mengenal saya, tolong ceritakan siapa saya!" ujar Reyna kepada Cindy.


"Hah ... maksudnya gimana, Reyn?" tanya Cindy bingung karena Reyna malah menyuruhnya untuk menceritakan dirinya sendiri.


Aneh banget sih ini, Reyna tidak mengenaliku dan malah meminta untuk menceritakan tentang dirinya! maksudnya apa sih? batin Cindy.


Mendengar pembicaraan antara Reyna dengan Cindy, membuat bu Salamah akhirnya angkat suara.


"Reyna, mengalami amnesia, Nak!" ujar bu Salamah mengungkapkan kondisi Reyna.


"Amnesia!" pekik Cindy dan Dimas hampir bersamaan. Mereka sangat terkejut mendengar hal itu.


"Innalillahi ... lantas apa yang terjadi dan mengapa Reyna bisa berada di sini, Bu?" tanya Cindy yang keheranan dengan amnesianya Reyna dan kenapa malah berada di pondok pesantren bukan di rumah orang tua Rangga atau di Jakarta.

__ADS_1


"Sebaiknya kita bicarakan hal ini di kantor pimpinan pondok saja, Nak," usul bu Salamah.


Akhirnya mereka semua pergi ke kantor pimpinan pondok. Kebetulan saat itu ada Ustadz Maulana dan ada Ustadz Fadhil.


"Assalamu'alaikum, Ustadz," ucap bu Salamah yang memimpin untuk masuk terlebih dulu.


"Wa'alaikumussalam, ada apa Bu Salamah, dan--," ucapan Fadhil terhenti saat melihat Cindy dan Dimas turut hadir bersama bu Salamah.


"Mereka mengenali, Reyna, Nak Fadhil!" ujar Bu Salamah memotong perkataan Fadhil, seolah tahu apa yang Fadhil ingin tanyakan.


"Oh, begitu? Syukur alhamdulilah akhirnya ada yang mengenali Ukhti Reyna. Mari, silakan masuk! kita bicarakan hal itu di dalam saja," ujar Fadhil.


"Mas, sebaiknya mas Dimas saja yang masuk, biar aku yang jaga anak-anak," ujar Cindy lirih sebelum masuk.


"Tidak, kamu yang lebih mengenal Reyna dari pada aku, lebih baik kamu yang masuk, biar aku yang di luar sembari mengawasi anak-anak, " ujar Dimas pengertian.


"Mas, yakin?" tanya Cindy memastikan jika suaminya tidak keberatan.


"Iya, aku percaya padamu!" ujar Dimas sembari mengusap pucuk kepala Cindy.


Cindy tersenyum dengan sikap Dimas yang sangat dewasa dan pengertian. "Baiklah, aku masuk dulu ya, Mas? Kalau ada apa-apa Mas Dimas panggil aku, ya?"


Cindy kemudian masuk ke dalam kantor mengikuti bu Salamah dan Reyna. Mereka semua duduk di ruang tamu kantor ustadz Maulana.


"Nak Cindy, bagaimana kabar abimu?" tanya ustadz Maulana basa-basi.


"Abi sedang kurang enak badan, Ustadz. Makanya ini Cindy yang diminta menjemput Umar," ujar Cindy menjelaskan maksud kedatangannya ke pondok pesantren.


"Mari kita do'akan Abu bersama-sama!" titah ustadz Maulana sembari melihat ke arah putranya. "Allahumasyfi Abu, allahumasyfi Abu, allahumasyfi Abu, semoga abinya nak Cindy segera diberikan kesembuhan ...," ucap ustadz Maulana memimpin doa untuk abinya Cindy.


"Aamiin, jazakumulloh khoiron, atas do'anya!" ujar Cindy berterimakasih kepada semua yang telah mendoakan abinya.


"Oh ya, mengenai yang tadi bagaimana? Nak Cindy mengenali Nak Reyna, begitu?" tanya ustadz Maulana menggaris bawahi perkataan bu Salamah tadi.


"Iya, Ustadz. Saya mengenal Reyna cukup baik selama dia di Solo," ujar Cindy.


"Apa kamu tahu jika Reyna lahir di Jakarta?" tanya ustadz Maulana kepada Cindy.


"Iya, saya tahu Reyna asli dari Jakarta dan rumah orang tua Reyna berada di Solo, Ust. Beberapa kali saya datang ke rumahnya, tapi setahu saya Reyna tinggal di Jakarta sejak beberapa bulan yang lalu. Dan kurang lebih hampir setahun ini saya tidak pernah bertemu dengan Reyna," tutur Cindy menjelaskan.


"Begini Nak Cindy ... Reyna ini pertama kita temukan di hutan. kebetulan Fadhil dan beberapa santri sedang melakukan tadabbur alam. Salah satu santri kami melihat kejadian yang menimpa Reyna.Ada dua orang laki-laki yang melempar Reyna masuk ke dalam jurang. Kami berusaha menolongnya dan Alhamdulillah, Reyna masih dapat diselamtkan. Namun, keadaannya saat itu sangat memprihatinkan. Nak Reyna mengalami banyak luka di sekujur tubuhnya, dan cedera yang cukup parah di kepalanya. Dan, hal itu menyebabkan Reyna mengalami amnesia sebagian di masa lalunya. Hanya masa kecilnya saja yang masih tersisa. Sehingga, kami kesulitan untuk melacak keberadaan keluarganya. Sebab, tidak ada petunjuk apapun tentang identitasnya," tutur ustadz Maulana menceritakan apa yang terjadi pada Reyna.

__ADS_1


"Innalillahi wa innailaihi rojiun!" pekik Cindy sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Cindy merasa sangat terharu dengan apa yang terjadi kepada Reyna.


Siapa yang telah tega melakukan hal itu kepada Reyna? Di mana Rangga? kenapa dia membiarkan hal itu terjadi kepada Reyna! batin Cindy dengan sejumlah pertanyaan yang bercokol di benaknya.


"Reyn, aku turut bersedih dengan apa yang telah menimpamu!" ujar Cindy sembari memeluk Reyna yang berada di sampingnya.


"Nak Cindy mengenal keluarganya?" tanya ustadz Maulana memastikan.


"Saya mengenal suami dan mertuanya, Ust. Setahu saya keluarganya cukup baik dan tidak ada masalah dengan keluarga itu saat terakhir kali kami bertemu. Oh ya, Reyna mempunyai anak laki-laki yang bernama Reynand. Jika saya tidak keliru usianya saat ini masih satu tahun," tutur Cindy menyampaikan apa yang dia ketahui tentang Reyna.


"Alhamdulillah, akhirnya ada petunjuk tentang keluarga Reyna. Sehingga jelas juga dengan janin yang saat ini berada di kandungan Reyna. Saya berharap keluarganya baik-baik saja. Apa anda bisa meminta keluarganya untuk datang ke mari? Saya ingin memastikannya bahwa Reyna akan aman ketika berkumpul kembali bersama keluarganya. Mengingat polisi sampai detik ini belum menemukan orang yang telah berusaha mencelakai Reyna, sehingga saya tidak ingin gegabah untuk melepas Reyna kepada keluarganya begitu saja," tutur ustadz Maulana.


"Reyna hamil?" pekik Cindy terkejut.


Innalillahi, lagi-lagi Reyna harus mengalami nasib yang malang di awal kehamilannya, sama seperti saat pertama kali aku mengenalmu, Reyna!


"Iya, Nak. Reyna sedang hamil empat bulan," tutur bu Salamah memberitahu.


Cindy tidak tahu haruskah bersyukur atau bersedih dengan hal itu, dia hanya bisa menggenggam tangan Reyna dan menatapnya dengan sendu.


"Benar yang dikatakan Abah saya, Dek. Sebaiknya minta keluarganya untuk datang kemari saja. Dan sementara biarkan Reyna tetap berada di pondok pesantren. Saya yakin di sini jauh lebih aman bagi Reyna untuk saat ini," ujar Fadhil menambahkan.


"Baiklah. Kebetulan saya hendak menjenguk abi saya. Dan, rumah orang tua Rangga cukup dekat dengan rumah abi. Saya akan mampir ke sana untuk memberitahukan hal ini kepada mereka. Semoga semua baik-baik saja," tutur Cindy menjelaskan rencana selanjutnya. "Saya pamit dulu. Nanti saya akan mengabari anda jika sudah menemui keluarga Reyna."


"Baik, Nak Cindy. Kami tunggu kabar baiknya," ujar ustadz Maulana sembari tersenyum merasa lega. Akhirnya ada secercah harapan yang Allah tunjukkan setelah sekian bulan tidak terpecahkan.


"Saya mohon pamit karena suami dan anak-anak saya sudah menunggu di luar. Assalamu'alaikum," ujar Cindy berpamitan.


"Wa'alaikumussalam!" jawab semua yang ada di sana.


Cindy memeluk Reyna sebelum pergi. Dia sangat terharu dengan pertemuannya kali ini dengan Reyna. Tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini terhadap Reyna.


"Jaga kesehatanmu, ya, Reyn! Jika mas Dimas ada waktu untuk mengantar, aku akan usahakan datang untuk menjenguk," ucap Cindy sembari melerai pelukannya terhadap Reyna.


"Baik, Cindy. Terima kasih banyak atas bantuannya. Meski aku tidak ingat seperti apa hubungan pertemanan kita di masa lalu, tapi aku yakin kamu orang yang baik," ujar reyna sembari tersenyum dan tangan mereka masih saling bertautan dalam genggaman.


"Sama-sama, Reyn. Kamu juga sangat baik dan telah berjasa besar untukku. Karena, kamu aku bisa dekat dengan mas Dimas dan akhirnya menikah. Kamu adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki Reyna!" ungkap Cindy dengan netra yang mulai berembun, menahan tangis yang hampir pecah mengingat masa lalunya, disaat-saat tersulit, dan akhirnya kini bahagia bersama dengan keluarga kecilnya.


Seusai pertemuan itu Cindy pulang dan dia menceritakan apa yang tadi diketahuinya dari Reyna kepada suaminya. Dimas pun sama terkejutnya dan merasa iba dengan kejadian yang menimpa Reyna. Mereka kemudian memutuskan untuk mampir terlebih dahulu ke rumah orang tua Rangga untuk menceritakan apa yang terjadi kepada Reyna. Mungkin saja saat ini Rangga dan keluarganya sedang bingung mencari keberadaan Reyna dan mereka mengalami kesulitan, karena Reyna mengalami amnesia.


____________________Ney-nna________________

__ADS_1


__ADS_2