Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Firasat Abiyu


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


...Berjalan menikmati hembusan angin...


...Dedaunan yang melambai jatuh dan gugur...


...Langit yang meredup mengakhiri teriknya hari...


...Namun, angan-angan ku tetap kosong...


...Tanpa ada siapa pun yang ku rindu...


...Tak ada tempat berbagi kasih...


...Karena semua tentangmu......


...Tentangku......


...Tentangnya......


...Telah hilang dari memoryku....


...🍁🍁🍁...


Sore itu Reyna berjalan sendirian menyusuri pekarangan ponpes yang cukup luas. Untuk sampai di gerbang ponpes dia masih harus berjalan 200 meter lagi. Meski nampak jauh di pelupuk mata, namun dengan berjalan setapak demi setapak membuat langkahnya ringan seolah tanpa beban, meski dia tengah berbadan dua.


Senyum terkembang di balik cadarnya, tatkala ada segerombol burung walet terbang di atas awan yang melintas membentuk formasi indah berbentuk huruf V. Jiwa kekanak-kanakan pada dirinya seolah bangkit. Hanya dengan sesederhana itu sudah membuatnya merasa senang. Dia berputar, membuat gamisnya yang lebar berayun seirama dengan gerakannya. Indahnya berjalan sore sendirian menikmati sunyinya hari.


Tak terasa kini langkahnya telah sampai di gerbang pondok pesantren. Terlihat Pak Tatang sedang minum kopi sembari mendengarkan siaran ulang kajian rutin melalui siaran radio di atas nakas pos penjagaan.


"Assalamu'alaikum," ucap Reyna sembari berdiri di ambang.


"Wa'alaikumussalam. Nak Reyna, ada yang bisa dibantu?" tanya Pak Tatang sembari menaruh kembali cangkir kopinya ke atas nakas.


"Maaf, Pak. Mau pinjam motornya boleh?" Reyna balik bertanya.


"Boleh-boleh, Nak. Tunggu sebentar ya, saya ambilkan!" ujar Pak Tatang kemudian mengambil salah satu kunci yang tergantung pada paku yang tertancap di tembok.


"Iya, Pak. Sebelumnya terima kasih," tutur Reyna kemudian beranjak ke depan pos penjagaan dan duduk di bangku sembari menunggu Pak Tatang mengambil motornya di tempat beliau memarkir motornya.

__ADS_1


Reyna mengernyitkan dahi, tatkala melihat Pak Tatang berjalan kembali dengan tangan kosong. Bertepatan dengan itu ada mobil hendak ke luar dan berhenti di samping pos penjagaan.


Pak Tatang menepuk jidatnya saat melupakan sesuatu. "Aduh, Nak. Maafkan saya! Bapak kelupaan ... tadi motornya dipinjam sama Ustadz Azka dan belum kembali sampai sekarang ...."


"Wah, masih lama nggak ya, Pak?" tanya Reyna dengan kecewa.


"Wah, saya kurang tahu, Nak. Tapi perginya memang sudah agak lama, apa ditunggu saja dulu sebentar?" Pak Tatang memberi ide.


Abiyu turun dari kendaraannya saat melihat wanita yang tadi bertabrakan dengannya ada di pos penjagaan.


Abiyu berjalan memutari depan mobilnya, kemudian bertanya, "Mbak yang tadi, kan?" tanyanya.


Reyna berpaling dari Pak Tatang dan menoleh ke arah Abiyu. Reyna menganggukkan kepala menjawab pertanyaan laki-laki di hadapannya tersebut.


"Sekali lagi saya mohon maaf atas kejadian tadi siang!" ucap Abiyu tulus.


Reyna kembali mengangguk kemudian berucap, "Terima kasih.... "


Mendengar suara itu Abiyu menatap lekat ke arah mata wanita di depannya.


Suara itu sangat familiar di telingaku. Aku rasa aku tidak salah dengar? Aku menjadi penasaran dengan wanita ini, dan sangat ingin mendengar suranya lagi. Seperti suara....


"Iya, Pak. Memangnya kenapa, Pak?" Abiyu balik bertanya.


Pak Tatang tidak langsung menjawab, namun ia beralih berbicara pada Reyna, "Mbak, bareng saja sama Mas ini, nanti pulangnya saya jemput. Dari pada nunggu Ust Azka, jangan-jangan nanti masih lama," tuturnya.


Reyna tidak menjawab, dia merasa ragu.


"Oh, Mbak ini mau pergi tapi tidak ada kendaraan? Mari saya antar, " ucap Abiyu menawarkan diri.


"Tolong antarkan dia sampai klinik kesehatan yang berada ujung gang itu ya, Mas?" tutur Pak Tatang meminta tolong untuk Reyna.


"Oh, iya Pak. Kebetulan jalan saya juga searah, " tutur Abiyu. "Mari silahkan!" tambahnya.


"Ayo, Nak. Cepatlah naik, jangan sungkan!" tutur Pak Tatang menasehati.


Reyna akhirnya menyetujui hal itu, karena takut terlambat. Dr. Arif sudah mengatakan jika menjelang salat kliniknya akan di tutup. Reyna melangkah menuju pintu penumpang di bagian belakang, kemudian membukanya dan masuk ke dalam.


Melihat hal itu, Abiyu hanya pasrah saja. Kemudian dia berpamitan kepada pak Tatang.

__ADS_1


"Saya, permisi dulu, Pak." ujar Abiyu kemudian beranjak menuju mobilnya.


Abiyu menghidupkan mobil dan perlahan-lahan mobil itu telah melaju ke jalanan. Sesekali Abiyu melirik ke arah Reyna melalui spion motor. Reyna nampak diam dan asyik dengan memandangi pemandangan di luar jendela.


Abiyu sebenarnya ingin mengajaknya mengobrol, namun sungkan karena wanita yang berada di belakangnya itu seolah memberi batasan yang cukup jelas antara keduanya. Namun, Abiyu mempunyai firasat tentang wanita di dalam cadar itu.


Tak berapa lama mereka sudah sampai di klinik kesehatan tersebut. Abiyu membaca tulisan yang tertera di papan bagian atas klinik.


Praktik dokter spesialis saraf


dr. Arif Budiman, Sp. S(K)


"Maaf, benar di sini kliniknya?" tanya Abiyu hingga menghentikan langkah Reyna yang hendak turun.


"Iya, terima kasih sudah memberikan saya tumpangan, saya permisi. Assalamu'alaikum!" tutur Reyna kemudian segera turun dan berlalu meninggalkan Abiyu.


"Wa'alaikumussalam. Suara itu, ya Allah. Aku yakin itu suara Reyna. Tapi aneh sekali, jika itu Reyna ... mengapa dia tidak mengenali aku? Dan sedang apa dia bersembunyi di pondok pesantren itu?!" gumam Abiyu lirih sembari terus memperhatikan wanita itu masuk ke dalam klinik.


"Sebaiknya aku ikut masuk dan mencari tahu tentang dia!" gumam Abiyu sembari turun dari mobilnya dan beranjak menuju dalam klinik dengan mengendap-endap agar wanita itu tidak mengetahui jika diikuti.


Reyna menyapa seorang perawat yang berjaga di front office kemudian langsung masuk ke dalam ruangan dokter.


Abiyu ikut masuk ke dalam klinik secara perlahan-lahan. Anehnya tidak ada pasien lain yang mengantre dan suasana klinik sepi.


"Maaf Pak, jam praktek dokter Arif sudah habis sejak satu jam yang lalu, anda bisa kembali lagi besok," tutur perawat itu saat melihat Abiyu masuk ke dalam klinik.


"Saya mengantar wanita yang baru saja masuk tadi, Mbak!" tutur Abiyu sembari menunjuk ke arah di mana wanita yang di duga sebagai Reyna tadi pergi.


"Oh, anda yang mengantar, Mbak Reyna? Mari silakan duduk dulu di kursi tunggu, " ujar seorang perawat sembari menunjuk pada deretan kursi tunggu yang kosong.


Reyna?? Aku tidak salah lagi, perawat tadi benar-benar menyebut Reyna kepada wanita tadi. Aku semakin yakin jika wanita itu memang Reyna. Ya Allah, pertemukan aku dengan istriku.


Perawat itu nampak membereskan ruang kerjanya pertanda akan segera pulang.


"Maaf, kalau boleh apa penyakit mbak yang tadi itu, Mbak?" tanya Abiyu pada perawat itu.


"Anda siapanya? Sebaiknya anda bertanya langsung saja ke orangnya. Mohon maaf saya tidak bisa memberitahukan rekam medis pasien, karena itu bersifat rahasia dan bukan hak saya untuk membocorkan kondisi pasien, " tutur perawat itu dengan tegas.


Abiyu merutuki kebodohannya yang terlalu blak-blakan mengorek informasi tentang Reyna. Seharusnya dia tadi menahan diri agar perawat itu tidak curiga. Dan, harusnya dia tadi berbasa-basi terlebih dahulu. Akhirnya sekarang Abiyu tidak bisa melakukan apa pun kecuali pasrah menunggu Reyna hingga dia ke luar dari ruang pemeriksaan dokter.

__ADS_1


___________________Ney-nna_________________


__ADS_2