
Sudah berulang kali Abiyu melakukan sambungan kepada mami Rangga, namun tidak ada jawaban sama sekali. Abiyu terdiam sejenak sembari menghembuskan napasnya berusaha untuk sabar dan berpikir untuk mencari jalan ke luar. Kemudian Abiyu teringat pada Reza. Abiyu segera melakukan panggilan kepada Reza. Beruntung sekali Reza langsung menjawab teleponnya. Abiyu menghidupkan loud speaker di handphonenya.
"Hallo, Bi. Assalamu'alaikum," ujar Reza dari seberang telepon.
"Wa'alaikumussalam, Om. Bisa minta waktunya sebentar, Om?" tanya Abiyu kepada Reza.
"Kebetulan sekali aku sudah selesai dari rapat. Ada apa, Bi?" tanya Reza yang merasa ada hal penting.
"Om, ini saya sedang berada di Solo. Saya sudah menemukan Reyna," ujar Abiyu memberi kabar.
"Reyna sudah ditemukan? Alhamdulillah! Bagaimana keadaannya? Dan sedang apa Reyna berada di Solo?" tanya Reza dengan segudang pertanyaan yang bercokol di benaknya. Sebab hal itu cukup mengejutkan bagi Reza.
"Alhamdulillah, keadaan Reyna sehat, Om. Tapi, kabar buruknya Reyna mengalami amnesia. Sehingga dia tidak mengingat masa lalunya, termasuk tidak mengingat siapa saya," tutur Abiyu dengan sendu.
"Innalillahi, kenapa bisa begitu, Bi?" Reza terkesiap dengan kabar buruk yang telah menimpa Reyna.
"Untuk lebih jelasnya nanti Abiyu kabari di lain waktu, ya, Om. Sekarang yang ingin Abiyu tanyakan, apakah Om mengenal teman Reyna yang bernama Cindy?" tanya Abiyu.
"Cindy?" ucap Reza sembari mengingat-ingat siapa pemilik nama tersebut.
Abiyu mengalihkan panggilan mode video call. "Om, alihkan ke mode video call ya, Om!" perintah Abiyu.
Reza menerima permintaan itu, sehingga kini Reza dapat melihat wajah Cindy saat Abiyu mengarahkan layar handphone ke arah Cindy. Dan sekarang handphone Abiyu dipegang oleh Cindy.
"Assalamu'alaikum, Om Reza, masih ingat dengan Cindy, Om?" tanya Cindy pada laki-laki setengah baya di depannya.
"Wa'alaikumussalam. Oh iya, saya ingat. Cindy yang waktu itu memberikan terapy untuk istri saya, yang kemudian menikah dengan seorang dokter, bukan?" tanya Reza memastikan.
"Benar, Om. Cindy turut berduka atas meninggalnya Rangga, ya, Om. Semoga almarhum husnul khotimah!" tutur Cindy turut berduka cita.
"Aamiin. Terima kasih, Cindy. Jika Rangga ada salah tolong dimaafkan!" ujar Reza, terlihat sendu ketika mengingat putranya yang telah tiada.
Cindy menganggukkan kepala sembari tersenyum kecil. "Om, benarkah sepeninggal Rangga, Reyna menikah lagi?" tanyanya.
"Iya, Cindy. Yang tadi itu ... Abiyu kan suami Reyna. Sebenarnya ada apa?" tanya Reza yang merasa bingung.
__ADS_1
"Pihak pondok pesantren menemukan Reyna berada di hutan yang dibuang ke jurang, hingga Reyna mengalami amnesia, Om. Kebetulan sekali adik Cindy nyantri di sini. Sehingga saya bertemu dengan Reyna. Cindy mendatangi rumah Om, tapi katanya sudah lama pindah ke Jakarta. Sehingga Cindy tidak bisa memberitahukan tentang keberadaan Reyna kepada Om dan tante. Dan, saat ini saya di beri info jika ada yang mengaku sebagai suami Reyna. Karena itu saya diminta dari pihak pondok untuk memastikan jika mas yang barusan ini adalah benar-benar suami Reyna dan bukan orang yang hendak mencelakai Reyna," ujar Cindy sembari melirik sejenak ke arah Abiyu yang tersenyum sinis sembari membuang mukanya ke samping. Seolah menyatakan jika tidak mungkin dia yang hendak mencelakai Reyna.
"Oh, tidak-tidak. Kamu bisa mempercayakan Abiyu kepada Reyna. Abiyu memang suami kedua Reyna. Dan, saya ikut dalam menyaksikan akad nikah diantara mereka. Bahkan Rangga sendiri yang telah memilih Abiyu untuk menikahi Reyna setelah kepergiannya. Abiyu adalah laki-laki yang baik dan bertanggungjawab," tutur Reza menjelaskan sosok Abiyu.
"Baiklah, Om. Saya percaya kepada anda. Terima kasih karena sudah meluangkan waktunya untuk mengkonfirmasi hal ini, Om bisa kembali bekerja. Assalamu'alaikum," ujar Cindy menyudahi obrolannya.
"Baik, Cindy, sama-sama. Wa'alaikumussalam!" telepon ditutup.
Cindy kemudian mengembalikan handphone milik Abiyu. "Maafkan, saya tidak mempercayai anda, semua ini saya lakukan karena saya harus memastikan Reyna berada bersama dengan orang yang tepat," ujar Cindy kepada Abiyu.
"Benar, Mas Abiyu. Kami selaku pihak pondok pesantren juga memohon maaf atas ketidak nyamanan ini, hal ini harus kami lakukan semata-mata, karena kami ingin memastikan bahwa Reyna bersama dengan keluarganya yang sesungguhnya," tutur ustadz Fadhil.
"Tidak apa-apa, Ust. Justru saya sangat berterima kasih karena kalian menjaga istri saya dengan sangat baik saat berada di sini. Untuk kedepannya, ijinkan saya membawa Reyna pulang," tutur Abiyu memohon ijin.
"Tentu, Mas Abiyu. Saya akan merelakan nak Reyna untuk berkumpul kembali dengan keluarganya. Tolong jaga istri anda baik-baik. Apa pelakunya sudah diketahui?" tanya ustadz Maulana.
"Sudah ada dugaan, namun pelakunya belum tertangkap, Ust. Saya mohon do'anya semoga pelakunya dapat segera tertangkap dan dihukum seberat-beratnya!"
"Aamiin!" semua orang mengaminkan ucapan do'a Abiyu.
"Tia, sebenarnya dokter Arif berpesan agar kita tidak membahas tentang masa lalu Reyna terlebih dahulu saat di depannya, karena dikhawatirkan, Reyna akan kembali merasa tertekan dan down seperti semalam," ujar bu Salamah yang merasa khawatir dengan keadaan Reyna.
"Lantas bagaimana ini, Ummi?" tanya Tia yang juga bingung karena takut jika kondisi Reyna semakin memburuk.
Cindy yang sedang ke luar ruangan dan hendak menelepon suaminya, tanpa sengaja ikut mendengar obrolan mereka.
"Maaf, Mbak, Ummi, saya tadi tidak sengaja ikut mendengarkan obrolan kalian. Jika tidak keberatan bawa saja Reyna ke mari dan saya akan mencoba berbicara dengan Reyna? Saya akan berusaha berbicara pelan-pelan kepadanya!" tutur Cindy memberi ide.
Bu Salamah dan Tia saling berpandangan. Kemudian, Tia mengangguk kepada bu Salamah.
"Saya setuju dengan, Ukhti Cindy, Ummi, " ujar Tia yakin Cindy akan melakukan yang terbaik untuk Reyna.
"Baiklah, ayo kita jemput Reyna ke mari," tutur bu Salamah sembari melangkah pergi menuju pondok putri.
Setelah beberapa saat Reyna di bawa menuju kantor. Reyna, agak bingung dengan situasi ramai di kantor ustadz Maulana. Bahkan ada laki-laki yang kemarin mengantarnya ke klinik. Dalam hati Reyna bertanya-tanya ada apa hingga dia dibawa ke pertemuan ini.
__ADS_1
Abiyu memandang lekat pada netra istrinya. Dia merasa terharu karena dapat bertemu kembali dengan istrinya setelah berbulan-bulan terpisah. Ingin rasanya untuk meluapkan kerinduannya yang teramat sangat dengan memeluk istrinya itu. Namun, dia harus menahannya agar Reyna tidak terkejut dengan situasi ini.
Cindy meminta semua orang untuk meninggalkan ruangan agar dia dan Reyna dapat berbicara dan hanya meninggalkan Abiyu bersama dengan mereka di ruangan.
"Reyna," ucap Cindy dengan lembut sembari menggenggam kedua tangan Reyna.
Reyna memandang ke arah Cindy, kemudian melirik sekilas ke arah Abiyu yang berada di belakang agak jauh dengan posisi mereka.
"Sebenarnya ada apa, Cin?" tanya Reyna kemudian.
"Reyna, waktu itu aku pernah mengatakan jika suamimu bernama Rangga bukan?" tanya Cindy perlahan.
Reyna mengangguk mengiyakan. "Lalu?" tanyanya.
"Reyna, malam itu aku mengunjungi rumah mertuamu. Dan aku mendengar kabar jika mertuamu sudah setahun pindah ke Jakarta setelah kematian Rangga," tutur Cindy kepada Reyna.
"Meninggal? Jadi suamiku sudah meninggal? Kenapa?" tanya Reyna penasaran.
Meskipun dia tidak ingat mengapa dia bisa menikah dengan temannya semasa di SMP itu, dan apakah dia dulu mencintai Rangga, namun Reyna merasa sedih, karena itu berarti dia adalah seorang janda. Dalam benaknya Reyna bertanya-tanya, lantas siapa ayah dari anak yang dikandungnya ini jika Rangga sudah satu tahun meninggal dunia?
"Iya, Reyna. Suamimu meninggal karena kecelakaan mobil saat akan berangkat bekerja. Barusan aku berbicara dengan ayahnya Rangga, beliau membenarkan tentang hal itu, dan beliau mengatakan jika Mas Abiyu ini adalah suami keduamu," tutur Cindy sembari menunjuk ke arah Abiyu.
Reflek Reyna melihat ke arah Abiyu. Abiyu juga melakukan hal yang sama, dia memandang ke arah Reyna dengan netranya yang berembun.
"Kalian bicaralah, aku akan ke luar!" tutur Cindy kemuadian ke luar dari ruangan kantor.
Sejenak keduanya saling bersitatap tanpa ada kata yang ke luar. Yang ada hanya hati Abiyu yang berbicara, bahwa dia teramat sangat merindukan istri tercintanya. Sedangkan di sisi lain, Reyna bingung harus berbuat apa meskipun tahu jika Abiyu suaminya. Namun, dari sorot mata Abiyu, Reyna bisa merasakan ketulusan hati laki-laki di depannya itu. Sorot mata yang meneduhkan dan penuh damba. Hal itu membuat hati Reyna menghangat merasa jika dirinya dicintai.
Abiyu berpindah duduk mendekat di samping Reyna. "Maaf ... karena aku tidak bisa menjagamu dengan baik, hingga kamu harus mengalami hal ini!" tutur Abiyu dengan sendu sembari menggenggam jemari Reyna. "Boleh kah aku memelukmu?" tanya Abiyu kepada Reyna.
Reyna merasa kata-kata itu tidak asing baginya. Dia kemudian mengangguk mengiyakan karena menyadari jika yang hendak menyentuhnya adalah seseorang yang halal baginya.
Perlahan Abiyu mencondongkan tubuhnya ke depan, kemudian merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Abiyu menumpahkan rasa rindunya terhadap sang istri. Dia merasa terharu dengan pertemuannya kali ini dan setitik air mata lolos dari sudut matanya. Dia sangat bersyukur karena Allah telah memberinya kesempatan untuk berkumpul kembali dengan istrinya yang telah lama hilang.
__________________Ney-nna________________
__ADS_1