
Guratan senja di langit sore menandakan tiba waktunya untuk Fely pulang ke rumah belakang untuk membersihkan diri dan beristirahat sejenak. Baru lima langkah keluar dari ruangan kantornya Feli dihentikan oleh teriakan Tantin.
"Bu Feli tunggu sebentar, Bu!" seru tantin dari dalam Resto.
Feli yang berada di lorong belakang jalan menuju ke rumah belakang akhirnya menghentikan langkahnya, kemudian berbalik saat mendengar ada yang meneriakkan namanya.
"Oh, Mbak Tantin. Ada apa, Mbak?" tanya Felly sembari menghadap ke arah wanita yang tergopoh-gopoh menghampirinya.
"Bu, t-tadi sewaktu Bu Fely pergi ke ruangan kantor ada seorang laki-laki yang bertanya tentang Bu Fely. Sepertinya dia pernah mengenal Bu Fely sejak berada di Jakarta. Dia menitip salam untuk Ibu. Tadi duduknya di meja paling ujung," tutur Tantin menjelaskan tentang pemuda yang tadi menitipkan salam kepadanya.
"Dia bilang nggak namanya siapa, Mbak?" tanya Fely mencari tahu.
"Dia tidak menyebutkan namanya, Bu. Katanya Bu Fely pasti sudah mengenalnya," ujar Tantin sembari mengingat-ingat yang disampaikan laki-laki tadi.
Mengenalnya? apa cowok yang barusan aku lihat, ya? aku lupa lagi siapa sih sebenarnya? bikin penasaran saja! gumam Felly di dalam hati.
"Emm ... ya sudah, Mbak Tantin. Terima kasih ya atas infonya, saya kembali dulu pulang ke rumah. Jika tidak ada sesuatu yang penting, tolong jangan ganggu keberadaan saya di rumah belakang, saya ingin mengistirahatkan diri sejenak!" perintah Fely serta memperingatkan kepada asistennya agar tidak menggangu jika tidak ada yang benar-benar penting.
"Baik, Bu. Nanti akan saya sampaikan kepada Andika yang akan bertugas menggantikan tugas saya di sift dua. Sebab, sebentar lagi saya juga akan segera pulang," tutur Tantin memberitahu.
"Oh iya, baiklah Mbak Tantin hati-hati di jalan, ya! saya duluan ya, Mbak ...," pamit Fely, kemudian berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju rumah belakang.
"Ya, Bu," seru Tantin mengiringi langkah bosnya, kemudian dia kembali ke resto untuk serah terima pekerjaan kepada temannya, kemuadian bersiap-siap untuk pulang.
****
Keesokannya restoran tetap buka meskipun weekend. Fely tetap masuk bekerja meskipun ini hari Sabtu. Sebab, ketika weekend justru pengunjung restoran meningkat daripada hari biasanya.
"Mbak Tantin tadi kamu mencari saya? katanya ada yang mau dibicarakan, tentang apa, ya?" tanya Feli kepada asistennya itu.
"Benar, Bu. Begini Bu ... seorang asisten juru masak kita yang bernama Yuni mengajukan cuti sebab tak lama lagi dia akan melahirkan, kemudian saya memindahkan seorang waiters untuk menggantikan tugasnya menjadi asisten juru masak sebab dia sudah cukup lama kerja di sini sehingga cukup paham tugas-tugas yang sering dilakukan asisten juru masak, akibatnya kita kekurangan satu orang waiters. Kemudian, saya membuat pengumuman rekruitmen di media massa, ada satu pelamar yang sudah mengirimkan data dirinya melalui email, hari ini saya memanggilnya untuk melakukan tes dan interview. Saya memintanya datang di jam 09.00 untuk melakukan tes dan interview," tutur Tantin menjelaskan tentang masalah SDM yang sedang dialaminya.
"Baiklah, Mbak Tantin. Kamu coba untuk tes keahliannya, jika dirasa dia mampu untuk bekerja, kamu masukkan saja tidak apa-apa, nanti jika jatah cutinya Mbak Yuni habis, kita bisa tetap memperkerjakan dia jika kinerjanya bagus," tutur Fely mempercayakan hal itu kepada asistennya. "Aku masuk ke ruanganku dulu ya, Mbak Tantin? nanti kalau ada sesuatu hal yang penting, kamu beritahu aku!" tambahnya.
__ADS_1
"Baaik, Bu," jawab Tantin patuh.
Pukul 09.00 seorang pelamar yang sudah membuat janji tes dengan Tantin datang. Kemudian Tantin segera memeriksa berkas dan melakukan interview terhadapnya.
"Astri kamu kan seorang mahasiswi yang belum lulus kuliah, lantas apa kamu bisa masuk kerja mengikuti sift?" tanya Tantin kepada pelamar kerja.
"Saya mengambil kuliah malam, Bu. Saya bisa bekerja di sift satu," ujar Astri.
"Baiklah Astri saya akan melakukan tes terlebih dahulu, jika hasilnya bagus kamu bisa langsung masuk kerja hari ini untuk di training, sehingga besok kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan ketika pertama kali datang," ujar Tantin kepada pelamar kerja.
Waktu terus bergulir Tantin sudah melakukan tes dan hasilnya cukup bagus, dia juga memenuhi syarat. Akhirnya Tantin memintanya untuk langsung bekerja pada hari itu untuk menjalani training.
Pada jam sebelum makan siang, Tantin melihat ada laki-laki yang kemarin datang dan menanyakan tentang Fely. Dia datang lagi untuk memesan makanan sebanyak lima belas porsi untuk take a way. Kebetulan saat itu Tantin melihatnya, dia segera menuju kantor untuk memberitahukan hal itu kepada Fely.
Tok tok tok!
"Ya, silahkan masuk!" seru Fely dari dalam ruang kantornya.
"Apa dia mencari ku?" tanya Fely.
"Tidak juga sih, Bu. Tapi, orangnya ada di depan, siapa tahu Ibu ingin menemuinya," tutur Tantin.
"Baiklah, sebentar lagi saya akan keluar!" jawab Fely.
Seusai memberitahukan hal itu Tantin kembali ke depan.
"Siapa sih, bikin penasaran saja?!" gumam Fely sendiri.
Setelah membereskan pekerjaannya Fely, kemudian meninggalkan ruangannya dan beranjak untuk ke depan resto.
Terlihat seorang laki-laki mengenakan kaos berwarna putih dan celana jeans duduk di salah satu meja resto sambil memainkan handphone di tangannya.
Feli terkejut saat teringat akan siapa orang itu, kemudian dia segera menghampirinya.
__ADS_1
"Jerry! kamu Jerry kan?!" pekik Fely saat sampai di hadapan laki-laki tersebut sambil menunjuk ke arah nya.
"Mbak Feli masih mengingat saya? apa kabar, Mbak?" tanya Jerry alias Raka.
"Kamu ngapain di sini? waktu itu kenapa kamu tiba-tiba saja tidak masuk kerja tanpa keterangan?" tanya Fely memberondong pertanyaan.
"Saya jawab satu satu ya, Mbak Fely? saya sedang menjalankan perintah dari atasan saya untuk memesankan makan siang. Maaf saat itu saya buru-buru berangkat ke Yogya, karena mendapatkan panggilan kerja di perusahaan yang saat ini memperkerjakan saya," tutur Raka.
"Memangnya sekarang apa pekerjaan kamu, kalau saya boleh tahu?" tanya Fely.
"Saya hanya sopirnya pak direktur, Mbak. Nih, di suruh beli makan siang untuk rapat," tutur Raka menjelaskan kedatangannya di restoran kali ini.
"Masa sih, kemaren kamu kaya lagi meeting kan dengan seorang klien?" tanya Fely yang tidak percaya.
"Kemarin itu saya diminta menggantikan asisten direktur untuk menemani makan siang saja, Mbak. Pura-puranya gitu! berarti akting saya kemarin cukup meyakinkan ya, Mbak? hehehe ...," ujar Raka kemudian menertawakan dirinya sendiri.
Ah ... masa sih cuma pura-pura emang bisa ngerti apa kalau diajak ngomong bisnis sama klien? mencurigakan! gumam Fely di dalam hati.
"Sebentar saya ambilkan gaji kamu yang tiga hari itu!" tutur Fely hendak beranjak ke dalam kantornya.
"Tunggu, Mbak! untuk gajinya sudah saya ikhlaskan jadi hal itu cukup saya jadikan batu loncatan untuk mendapatkan pengalaman kerja yang sangat berharga bagi saya, jadi tidak usah dibayar!" ujar Raka.
"Ya, nggak bisa begitu, Jerry. Itu adalah hak kamu. Kamu berhak mendapatkannya meskipun sekarang kamu sudah mendapatkan gaji yang lebih besar," tutur Fely.
"Boleh tidak saya menukar gaji saya dengan yang lain?" tanya Raka.
"Menukar? dengan apa?" tanya Fely.
"Temani saya makan siang di restoran anda sekarang!" tutur Raka.
Fely seketika membulatkan mata dengan permintaan mantan karyawannya itu.
...____________Ney-nna___________...
__ADS_1