Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Nasehat Nenek


__ADS_3

Pov. Reyna


Baru sampai di ruko, Mira langsung mengikuti ku masuk keruangan. Kepo menanyakan ini itu. Dia paling penasaran bagaimana dengan malam pertama ku. Tentu saja tidak ada yang spesial. Kita bukan sepasang kekasih yang lalu menikah. Butuh proses untuk ke tahap itu.


Aku menceritakan tentang kejadian malam itu, saat makan malam bersama mantan. Mira ikut emosi dan bersungut-sungut heboh. Dia memang sahabat terbaik yang paling mengerti. Namun saat aku menceritakan sikap Rangga tadi pagi. Mira berbalik di pihak Rangga. Aku juga sepemikiran, kalau dipikir Rangga memang memperlakukan ku cukup manis saat kita berdua. Bahkan saat mengantarkan ku tadi pagi.


Flashback On...


Aku melepas seat belt saat kita sampai di depan ruko. Saat aku hendak beranjak membuka pintu mobil Rangga mencekal tangan kanan ku. Aku berbalik melihat ke arahnya.


" Ada apa?" tanyaku.


"Salim." sejenak aku terdiam memperhatikan tangan kanannya yang mengulur ke arah ku. Baiklah aku menunduk mencium punggung tangannya.


Saat hendak kulepaskan tangannya, ia malah mendekat mencium pipiku. Eh...! mataku membulat. Aku terkejut dengan pergerakannya yang begitu cepat, jantungku berdebar dan pipiku menghangat. Namun ia malah tersenyum melihatku.


"Mulai sekarang biasakan, Reyn." ucapnya sambil mengusap kepalaku yang tertutup hijab. Pipiku semakin memanas.


"Emm aku masuk dulu, Assalamu'alaikum" aku langsung berbalik, masih ku dengar dia membalas salam ku.


Aku buru-buru membuka pintu mobil dan langsung masuk menyembunyikan mukaku yang merona karena malu.


Flashback off


Author. Pov


"Ieyhh...so sweet tau Beb!"


"Tuh kan bener felling aku. Rangga itu sejak awal ada perasaan sama kamu, Beb." ujar Mira.


"Tau deh Mir, secara dia putus sama pacarnya baru beberapa hari yang lalu. Aku masih ragu semudah itu kah ia berpaling dari mantan pacarnya." Reyna kembali murung jika mengingat itu.


"Tapi Beb, bisa jadi memang sebelumnya mereka ada masalah." opini Mira.


"Udah ah jangan bahas dia lagi Mir, kerja-kerja balik gih sana keruangan kamu." Reyna mendorong tubuh Mira perlahan agar cepat keluar.


Waktu pun berlalu, dilihatnya jam di dinding menunjukkan pukul setengah 1. Reyna sudah selesai sholat dan membereskan meja kerjanya. Ia memutuskan untuk menunggu Rangga di bawah. Tiba-tiba handphonenya berbunyi. Dilihatnya ada telepon dari nomor yang tidak dikenal.


"Halo!" diangkatnya telepon tersebut.


"Udah siap?" terdengar suaranya seperti familiar.


"Ini siapa?" Reyna balik tanya.


"Coba lihat ke bawah, aku tunggu di bawah." telepon dimatikan.

__ADS_1


Reyna mengernyit, siapa yang udah nunggu dibawah. Diambilnya tas selempangnya kemudian bergegas keruangan Mira untuk memberitahukan kepulangannya. Baru kemudian turun ke bawah.


"Mas, ada yang bisa dibantu Mas?" tanya Gina pegawai kasir di ruko milik Reyna.


"Saya sedang menunggu istri saya Mbak. Bentar lagi pasti turun." jawab Rangga.


"Owh istrinya kerja di sini ya?" Gina mulai kepo, ia penasaran suami siapa keren begini. Apalagi saat datang dilihatnya turun dari mobil mewah. Baru pertama kali ini dilihatnya datang ke ruko.


"Iya Mbak. Maaf bisa saya menunggu di sana." Rangga menunjuk kursi sofa di pojok ruangan.


"Iya Mas, silahkan." jawab Gina. Beberapa kali diliriknya Rangga yang asyik memainkan handphone.


Rangga duduk di sofa sudut ruang tunggu. Tak berapa lama terlihat Reyna sedang menuruni tangga, kemudian berjalan mendekat ke arah Rangga. Reyna menengok kanan kiri, yang dilihatnya hanya ada Rangga, Gina dan dirinya.


Rupanya Rangga yang menelepon, pantas saja suaranya sangat familiar. Dihampirinya Rangga yang sedang berdiri menyambutnya.


"Kita pergi sekarang." ucap Rangga sambil tersenyum.


"Iya, bentar." Reyna berjalan ke meja kasir.


"Gin, aku pulang duluan ya, kalau ada yang nyariin dari supplier langsung kasih tau Mira biar di handle sama dia." titah Reyna.


"Iya mbak." Gina mengangguk cepat. Sejumlah pertanyaan bercokol dalam benaknya.


Rupanya laki-laki barusan adalah suami bosnya. Pasalnya tidak ada karyawan yang mengetahui kalau bosnya sudah menikah. Apalagi sempat ia dengar jika bosnya sedang dekat dengan Pak Abiyu anak pemilik resto samping.


"Duh...mau juga dong cowok kayak suami mbak Reyna." gumam Gina.


Gina sampai mengintip ke depan pintu ruko yang berbahan kaca sehingga bisa melihat ke luar. Saat akan berbalik dilihatnya Abiyu yang sedang berdiri dan bersandar pada mobil yang terparkir di depan resto, melihat ke arah mobil sepasang suami istri itu mulai menghilang. Oh Tuhan.


"Itu kan Pak Abiyu! Jadi kasihan gitu ngelihatnya ." gumam Gina dari balik kaca.


Terlihat sangat jelas bahwa muka Abiyu sedang menunjukkan kekesalan. Dengan tergesa ia masuk ke dalam mobilnya kemudian meninggalkan pelataran resto.


****


Setelah makan siang Rangga dan Reyna langsung menuju ke rumah sakit menjenguk Kakek. Kini mereka sedang berjalan dilorong rumah sakit.


"Ga, sejak kapan kamu menyimpan nomor HP aku?" tanya Reyna.


"Sejak kepulangan ku pertama kali di Jakarta." jawab Rangga. Pertama kali.


"Tau dari siapa?" Reyna semakin penasaran.


"Dari Mira, waktu di mall."

__ADS_1


"Jadi waktu itu kalian asyik ngomongin aku." Reyna berhenti berjalan.


"Iya Reyn." Rangga merasa lucu mendapati muka Reyna.


"Dasar ya, kalian itu nyebelin banget waktu itu."


Reyna cemberut.


"Permisi-permisi." ada perawat yang sedang mendorong brangkar untuk memindahkan pasien.


Dengan cepat Rangga mendorong tubuh Reyna minggir ke tepian membentur tembok. Sejenak keduanya diam saling berpandangan dengan posisi saling berhadapan. Kala mendengar ada orang yang berlarian di lorong mereka pun kembali melanjutkan berjalan dengan pikirannya masing-masing.


Sedari tadi Reyna dibuat terkesan dengan perhatian Rangga. Sejak turun dari mobil Rangga terus saja tak melepaskan genggamannya pada Reyna. Bahkan sampai masuk kedalam kamar Kakek pun Rangga tidak melepasnya.


"Assalamu'alaikum Nek, Kakek sedang tidur ya?" tanya Reyna.


"Wa'alaikumsalam. Iya, baru saja tidur setelah meminum obatnya." Nenek melihat ke arah tangan mereka yang bertautan.


"Ya sudah aku langsung balik ke kantor saja ya, nanti sepulang dari kantor aku jemput." ucap Rangga.


Reyna mengangguk dengan cepat. Tangan kanan Rangga mencium tangan Nenek kemudian dengan cepat beralih mencium kening Reyna. Ehh Reyna terkejut saat ia melakukannya di depan Nenek juga.


"Aku balik dulu ya. Assalamu'alaikum."


Rangga masih sempat tersenyum memandang ke arah Reyna, kemudian melepas genggamannya dan berbalik berjalan keluar.


Reyna masih terbengong memandanginya, hingga sosoknya menghilang di balik pintu. Baru setelahnya menjawab salam dari Rangga.


"Duduk sini Reyn." ucap Nenek.


"Iya Nek." Reyna menghampiri Nenek kemudian duduk di sebelahnya.


"Nenek lihat kalian begitu akur. Nenek benar-benar senang melihatnya." terpancar kebahagiaan diraut wajah Nenek.


"Emm iya Nek. Semenjak menikah Rangga memperlakukan Reyna dengan baik." Reyna mengakuinya.


"Syukurlah kalau begitu. Bukalah hatimu untuk menerima perlakuannya sayang. Nenek bisa melihat Rangga menyayangi kamu." Nenek mengelus pundak ku.


"Iya Nek, Reyna akan berusaha menyayangi Rangga sepenuh hati." tutur Reyna.


"Reyn, mulai sekarang berbaktilah pada suami mu, layani semua kebutuhannya. Kamu jangan pernah menolak jika Rangga meminta haknya sebagai suami. Hal itu bisa menguatkan pernikahan kalian nanti."


"Kalian juga harus saling terbuka dan saling percaya. Jangan sampai ada yang disembunyikan dengan pasangan. Dengan begitu kalian bisa menghadapi rintangan sebesar apapun."


"Nenek tau kalian adalah anak-anak yang baik, semua orang mendapatkan ujiannya masing-masing. Jika mendapatkan cobaan suatu saat nanti bersabarlah, jangan terbersit keinginan untuk berpisah. Semua pasti ada jalannya." nasehat Nenek.

__ADS_1


"Iya Nek, Reyna akan selalu mengingat pesan Nenek. Terimakasih ya Nek." Reyna memeluk Nenek.


__ADS_2