Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Kejutan di awal pernikahan


__ADS_3

Pov Mira.


Semua orang mempunyai kisah tersendiri tentang sebuah pernikahan, begitupun dengan ku. Hakekat pernikahan adalah bersatunya dua insan laki-laki dengan perempuan, tempat sebagai ibadah panjang untuk memperoleh pahala yang diridhoi oleh Allah. Ada yang menganggap menikah itu adalah sesuatu yang sangat special, ada juga yang menganggap sebuah pernikahan itu adalah hal biasa, bahkan ada juga yang terbiasa menikah.


Bagiku yang pernah gagal menikah, Aku merasa sangat bersyukur atas tercapainya pernikahanku kali ini. Sebab, akhirnya aku dapat merasakan indahnya sebuah momen di mana Aku dihalalkan oleh seseorang yang kini menjadi imamku. Aku takjub dan terharu menjalani prosesi sakralku menuju halal.


Setiap kata yang aku dengar dari mulutnya, ketika mengikrarkan sebuah ijab Qobul yang menjadikan aku sah baginya membuat hatiku bergetar. Rasa syukur yang teramat sangat atas nikmat Allah, ketika hadirku menyempurnakan sebagian dari agama nya dan begitu pula sebaliknya.


Kedepannya dialah penuntun jalanku dalam mengarungi bahtera rumah tangga, yang diridhoi oleh Allah. Ku gantungkan harapan, semoga kelak akulah satu-satunya baginya begitupun dengan sebaliknya hingga ke jannah-Nya.


Dipa Birendra, mulai detik ini ku sematkan namanya di hati ku sebagai tempatku mencurahkan kasih sayang sebagai lawan jenis. Suamiku yang harus aku patuhi, aku jaga martabatnya, dan layani dengan segenap jiwa raga


Seusai ijab qobul, mamaku dan mana mertuaku, mengiringku menuju kursi kosong di sebelah suamiku. Kami disandingkan untuk menandatangani buku nikah, yang menjadikan aku dan dia sah di mata negara. Seusai guratan pena pada buku aset penting, kami saling berhadapan. Netra kami bertemu, aku merasakan sorot matanya yang membuat hatiku menghangat, entah mengapa jantungku berdegup kencang jarak kita hanya sejauh uluran tangan.


Mama Shinta menyodorkan sebuah kotak perhiasan yang di dalamnya ada sepasang cincin emas yang membuat aku terkesima dan terkejut karenanya.


Sebuah cincin emas dengan permata berbentuk dolphin dibagian tengahnya, nampak sangat cantik dengan desain yang elegan. Tidak hanya itu mama Shinta juga memperlihatkan satu set perhiasan lainya seperti kalung dengan liontin dholpin, gelang dengan ukiran dholpin.


Masyaallah, betapa bahagianya aku saat tanpa bertanya, dia sudah menyiapkan kejutan indah ini untukku. Dipa tahu apa yang aku suka. Aku semakin lope-lope padanya dan ingin memeluknya saat ini juga, namun aku menahannya karena banyak pasang mata yang melihat ke arah kita.


Dipa mengambil cincin bagianku, dan menyematkannya di jari manisku. Sentuhan kecil itu sukses membuat hatiku berdesir.


Kini tiba giliranku untuk memasangkan cincin di jari manisnya, aku sedikit gugup terlebih ketika sekilas aku melirik ke arahnya yang sedang memandangiku. Aku rasa detak jantungku semakin tak terkendali. Tanganku pun sedikit bergetar, namun aku berhasil menyematkan cincin di jarinya.


Seusai itu mama mengarahkanku untuk mencium tangannya.


Astaga, dia akan tahu jika tanganku sedingin es di kutub utara!


Kulihat dia mengulurkan tangannya ke depan dan aku pun menyambutnya, kemudian ku cium punggung tangannya takzim. Saat itulah aku merasa Allah telah meninggikan derajat ku sebagai seorang wanita, dengan menjadikan aku sebagai istri dari laki-laki yang berada di hadapanku.

__ADS_1


Saat aku menegakkan kepalaku tangannya kirinya menyentuh bahuku untuk menahan pergerakanku dan dan detik detik berikutnya dia mengecup keningku.


Aku menutup mata merasakan ada aliran hangat dari kepala yang menjalar ke seluruh tubuhku. Aku pun merasakan jika saat ini pipiku memanas karena perlakuannya. Dan jangan ditanya, irama jantungku saat ini berdentum sangat kencang bagai genderang perang.


Dag dig dug dag dig dug ...🎶🎶


Seusai itu dia melihat ke arahku sembari mengulas senyum.


Saat sedekat ini aku menyadari jika Dipa, maksudku suamiku ternyata cukup tampan.


"Berpandangannya dilanjut nanti lagi, ya, Mas, Mbak. Sekarang di ambil fotonya dulu berdua sembari memegang buku nikahnya ya!" titah seorang fotografer membuyarkan romantisme yang baru saja bertebaran di antara kita.


Kami pun melaksanakan sederet acara lanjutan hingga sejenak rasa canggung di antara kita memudar oleh riuhnya para tamu yang datang.


Aku tidak ingin melewatkan sedetikpun momen ini dan ingin memaknainya dengan benar. Kedepannya aku adalah seorang istri, dan aku mempunyai tanggung jawab sebagai seorang makmum dalam sebuah ikatan suci pernikahan.


Detik ini aku berdoa semoga Allah meridhoi pernikahanku dengan seseorang yang saat ini telah resmi menjadi suamiku. Ya Allah, tuntunlah jalan kami menuju rumah tangga yang sakinah mawadah dan warohmah, karuniakanlah kami dengan putra-putri yang saleh dan salehah, Aamiin.


"Mira ..., selamat ya! aku seneng banget akhirnya bisa menyaksikan kalian menikah, ini benar-benar kejutan buat aku, dua sahabatku menjadi satu dalam ikatan pernikahan. Aku ikut bahagia dengan pernikahan kalian. Semoga Allah meridhoi pernikahan kalian dan segera dikaruniai keturunan yang saleh salehah, aamiin!" tutur Reyna.


"Aamiin, terima kasih atas do'anya, dan terima kasih karena sudah datang ya, Reyn. Hai, Reynand ... ganteng sekali!" jawabku sembari mengecup pipi Reynand.


"Onty, segera dibuat ya temen buat adeknya Reynand!" ujar Reyna mengkode tentang momongan.


"Oke siap, Reynand, nanti Onty lembur ya biar nanti pas udah gedenya bisa dijodohin sama kamu!" ucapku yang semakin ngawur.


"Ehh, dasar kamu, Mir!" ucap Reyna sembari menepuk lenganku.


Aku lihat kak Abi mengulas senyum kemudian bersalaman dengan Dipa.

__ADS_1


"Selamat ya atas pernikahan kalian!" tutur kak Abi sembari bersalaman dengan Dipa yang juga aku dengar.


Dipa pun menyambutnya dengan baik, "Terima kasih!" jawabnya sembari tersenyum ke arah kak Abi.


"Selamat ya, Dip!" ucap Reyna kepada Dipa.


"Terima kasih, Reyn!" jawab Dipa sembari menggenggam tanganku.


Seketika aku menoleh ke arah Dipa. Entah apa maksudnya, namun hal itu sukses membuatku merasa nyaman, padahal aku tidak menyimpan rasa cemburu kepada Reyna juga.


"Reyn, nanti datang ya, ke acara walimahannya!" ucapku kepada Reyna.


"Insyaallah, Mir. Kita usahakan untuk datang. Fely titip salam buat kamu, dia nggak bisa datang karena ada acara penting di resto," tutur Reyna.


"Oh, iya. Gak apa-apa, Reyn," jawabku pada Reyna.


"Eh, kalian nanti setelah nikah mau tinggal di mana? Dipa kerja di Yogya dan Mira kerja di Jakarta, sudah obrolan ke sana, kan?" tanya kak Abi yang seketika membuatku dan yang lainnya terkejut.


"Oh, iya. Astaghfirullah kenapa kita kelupaan buat bahas itu ya, Mir. Kamu ikut aku tinggal di Yogya, kan?" tanya Dipa kepadaku.


"Terus ruko, gimana dong? siapa yang urus Reyn kalau kita di Yogya semua?" aku balik bertanya sama Reyna.


"Eh, iya ya, aku juga gak kepikiran hal itu karena kamu yang ngurus selama ini, kebiasaan duduk manis di rumah ini, Mir," jawab Reyna yang juga baru ngeh.


"Pindahkan saja ruko ke Yogya dan kalian bisa mengelola bersama!" ujar kak Abi memberi saran.


"Karyawan kita gimana, Kak? diboyong semua ke Yogya? auto tekor kita musti boyong keluarga mereka juga dong!" jawabku dengan bercanda.


"Hahahhaha ...!" kami pun tertawa bersama-sama.

__ADS_1


..._____________Ney-nna____________...


__ADS_2