Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Kebiasaan Serupa


__ADS_3

POV. Lala


Bagaikan siluet senja disore hari, kurasakan kehadiranmu begitu mengesankan, memberi warna dengan guratan yang indah. Namun hanya sekejap saja dan lalu pergi, menghilang digelapnya malam. Mungkinkah kehadiranmu hanya untuk membuatku merasa kecewa dan terluka. Kau pergi begitu saja tanpa kata….


Aku mengetik beberapa kata pada layar dan beberapa saat menghapusnya. Aku mencoba memulai lagi dan lagi-lagi menghapusnya. Begitu terus berulang-ulang hingga aku merasa letih. Bukan fisikku melainkan hatiku. Merasa tidak baik dengan hatiku yang baru pertama kali ini aku rasakan. Apa begini rasanya di ghosting?


Mulanya aku merasa nyaman akan perhatian seseorang, merasa dianggap dan dibutuhkan. Namun hanya sekejap dan kemudian hilang. Semua bentuk perhatiannya salah sasaran, ternyata bukan untuk diriku melainkan untuk orang lain. Apakah kesalahpahaman itu adalah salahku sepenuhnya? Sedangkan kau hanya menduga-duga tanpa pernah bertanya.


Lantas tidak bisakah kau menganggap Laluna itu adalah Laluna yang dengan tulus menghadirkan rasa nyaman untukmu. Tanpa perlu kau tahu siapa Laluna itu dalam nyata.


Mengapa kau harus datang di saat itu, jika kau hanya akan datang dan lalu pergi. Bahkan aku menyayangimu dengan tulus sebagai teman baikku.


Dan kini kau telah menutup segala akses dan tak mau berteman lagi denganku, hanya karena Laluna itu bukan seseorang yang kau inginkan. Dan dengan sesuka hatimu kau berhak untuk mengabaikanku. Jika begitu, mengapa tidak kau bawa saja luka hatiku bersamamu, sehingga jejakmu tak akan berbekas di benakku.


Aku buka platform aplikasi baca yang biasanya, rupanya ada private chat dari Zakira. Teman baikku yang lain di dunia halu. Kemudian aku membukanya.


"Wow ... banyak sekali chatnya!" pekikku ketika melihat sederet pesan yang isinya curhatan darinya.


"Huhh ... buat apa aku terlalu memikirkannya yang telah mengabaikanku, hingga aku hampir saja mengabaikan teman yang benar-benar peduli padaku!"


Sejenak hatiku merasa terhibur dengan berbalas pesan dengan Zakira. Hingga malam mulai larut, Zakira mengatakan ingin menyudahi obrolan kami karena sudah tiba waktunya untuk beristirahat. Lantas bagaimana dengan aku? aku kembali merasakan kesunyian dan sendiri.


Disaat seperti ini tak urung aku kembali mengingatnya. Betapa sakit hati ini, hingga satu chapter yang ingin aku torehkan ke dalam sebuah kisah, masih stuck diangka 300 kata. Aku mengalami yang namanya writer block. Sehingga kerangka karangan yang sudah tersusun rapi sejak tadi pagi menguap begitu saja, bagaikan guratan pensil yang terhapuskan.


Jam di dinding menunjukkan pukul 01.30. Aku terkejut sewaktu melihatnya, mengapa secepat ini? sudah menjelang pagi dan aku belum menghasilkan apa-apa.


Akhirnya aku bangkit dari duduk dan menuju kamar mandi yang berada di samping dapur. Dengan segera aku mengambil air untuk wudhu, dan hendak kembali ke dalam kamar. Ku dirikan salat sunah di sepertiga malam.

__ADS_1


Aku merasa ada satu kenyaman di dalam hati ketika melafazkan do'a kepada Yang Maha Kuasa, hatiku menjadi lebih tenang dan terasa ringan. Kemudian aku beranjak membaringkan diri untuk beristirahat terlebih dahulu. Sebab ketika melakukan sesuatu, maka kita harus melakukannya dengan hati yang bahagia. Dan memasrahkan hasilnya kepada Allah. Tiada keberhasilan tanpa ikhtiar yang sungguh-sungguh. Dan, memaksakan kehendak ketika pikiran sedang kalut hanya akan membuang waktu dengan percuma.


****


Ketika Adzan subuh berkumandang Reyna dengan perlahan membuka mata dan mengitari tempatnya berada ketika bangun dari tidur.


"Astaghfirullahal'adzim!" seru Reyna sembari menutup mulutnya dengan kedua tangan saat terkejut menyadari dirinya berada dalam satu ranjang yang sama dengan Abiyu.


Bukankah tadi malam aku sedang duduk menyandar di sandaran tempat tidur? apa kak Abi yang membenahi posisiku?! batin Reyna bertanya-tanya.


Namun, saat memperhatikan ke samping ia mendapati pemandangan yang tak biasa. Dua laki-laki di sampingnya tengah tidur dengan berhadap-hadapan, bahkan dengan pose tidur yang sama. Reyna merasa takjub dibuatnya.


Andai saja kamu yang berada di sana, By! ucapnya dalam hati sembari memandang ke arah Abiyu dan Reynand yang tertidur dengan lelepanya.


Reyna mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Dia lantas berdiri dan menuju kamar mandi untuk bersih-bersih dan mengambil wudhu.


"Tunggu, Reyn?" tutur Abiyu dengan suara berat khas bangun tidur. Dan, hendak beranjak masuk ke dalam kamar mandi namun tertunda.


"Hah ... apa Kak?" Reyna bertanya tentang pertanyaan Abiyu yang tidak terlalu jelas di dengar.


"Tunggu, kita salat bersama!" ujar Abiyu kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.


Reyna menunggu sembari menggelar dua sajadah. Hal serupa yang sering ia lakukan saat melaksanakan salat bersama dengan Rangga. Tak lama kemudian Abiyu kembali dengan rambut yang basah terkena air wudhu. Hal yang sama yang dilakukan oleh Rangga.


Reyna menatap sedih karena terus menerus mengingatkan kepada Rangga. Padahal keduanya adalah orang yang berbeda dan mempunyai karakter yang jauh berbeda.


Seusai melaksanakan salat, lagi-lagi Reyna reflek mengulurkan tangannya ke depan dan baru menyadari tindakannya saat Abiyu sudah menggenggam tangannya. Akhirnya karena sudah kepalang tanggung ia tetap meneruskan mencium punggung tangan Abiyu dan dengan cepat beranjak berdiri untuk menghindari bersitatap dengan netra Abiyu yang berada di hadapannya.

__ADS_1


Abiyu hanya tersenyum melihat tingkah Reyna yang cepat berubah. Antara ingin menjaga jarak dengannya dan tanpa sengaja melaksanakan kebiasaan yang sering dilakukan dengan pasangannya.


Reyna melipat mukenanya kemudian menjumpai putranya yang ternyata sudah bangun. Sedangkan Abiyu yang sudah tau apa yang akan dilakukan oleh Reyna ketika Reynand bangun dari tidurnya, akhirnya beranjak keluar dari kamar tanpa diminta.


Usai sarapan Reyna dan Abiyu mengantar bunda Maya dan Fely ke bandara. Sebab bunda Maya akan kembali ke Jakarta pagi itu juga.


Saat sedang berdua saja, sebelum berpisah bunda Maya sempat berpesan kepada Reyna satu hal.


"Reyn, martabat seorang istri adalah menjaga kehormatan suaminya. Jika sedang menghadapi masalah, jangan berlarut-larut. Segera selesaikan dengan menjalin komunikasi yang baik. Jangan sampai suami tergoda untuk jajan di luar. Jika suami sampai melakukan hal itu, ada dua faktor yang mendasarinya. Pertama karena ia tidak puas dengan pelayanan sang istri atau yang kedua sang istri yang sengaja mengabaikan kewajibannya hingga suaminya berpaling. Bunda harap pernikahan kalian diridhoi oleh Allah. Bunda pulang dulu ya, jaga diri baik-baik!" ujar bunda sesaat sebelum berangkat.


"Em ... iya, Bun. Terima kasih nasehatnya!" ujar Reyna kemudian memeluk mertuanya.


Saat sudah berada di pesawat Fely mengungkapkan keresahannya. "Bunda, sebenarnya aku kurang setuju jika kakak menikah dengan kak Reyna, Bun!"


"Kenapa, Fe?" tanya bunda Maya.


"Terlihat dengan jelas Mbak Reyna tidak mencintai kak Abi, Bun. Aku tidak rela kakakku menderita dengan pernikahannya!" ujarnya dengan cemberut.


____________________Ney-nna_________________


...Please Like πŸ‘...


...Leave a Coment πŸ€—...


...Give a gift & vote 🌹...


...Tank you! πŸ™...

__ADS_1


__ADS_2