Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Liburan ke Pantai


__ADS_3

Cindy menyusun bajunya dan juga baju suaminya ke dalam koper. Setelah perdebatan panjang tadi pagi antara Rosa, Dimas dan Qila akhirnya di putuskan pergi liburan bersama satu keluarga. Tidak jadi honeymoon, tapi piknik satu keluarga ke pantai.


Flashback On...


"Umma, Qila mau ikut. Qila nggak mau sama Nenek dan tante Rosa!" rengek Qila.


"Iya, Sayang," dibelainya rambut Qila lembut.


"Memangnya Qila gak pengen dibuatkan dedek bayi sama Umma dan Papa? Nanti Qila tante Rosa ajak main di Game Zone deh!" bisik Rosa di telinga Qila.


"Gak, mauuu...! Mau ikut sama Umma dan Papa!" rengeknya lagi dan tetap kekeuh ingin ikut.


"Sudahlah, Ros. Jangan kamu paksa dia. Tidak usah pergi honeymoon juga tidak masalah, di rumah juga bisa honeymoon!" ujar Dimas sekenanya.


"Aduh, mas Dimas gak peka deh. Dulu kenapa waktu nikah sama mbak Shila honeymoon ke Bali sekarang sama mbak Cindy cuma di rumah aja, mas Dimas gak ada manis-manisnya deh jadi pengantin baru. Semua perempuan itu berharap sesuatu yang indah yang spesial saat honeymoon dengan pasangan. Yang kaya gitu bakal dikenang seumur hidup, Mas. Habis itu mungkin aja hamil, terus melahirkan. Akhirnya cuma di rumah terus buat ngurus baby. Udah gak bisa lagi tuh merasakan saat-saat indah hanya berdua saja. Jangan mentang-mentang mas Dimas sudah tua ya gak punya gairah jiwa muda lagi!" tutur Rosa panjang lebar.


'Oh, jadi mas Dimas dan istri pertamanya dulu honeymoon ke Bali!' batin Cindy.


Pandangan Dimas dengan Cindy pun bertemu. Dimas merasa kata-kata Rosa barusan mempengaruhi Cindy. Terlihat Cindy diam dan tatapannya datar. Pada hal dari kemarin yang ia lihat dari Cindy, gadis itu selalu tersenyum malu saat menatapnya.


"Eits dah, anak kecil sok tahu. Kaya yang udah pernah nikah aja kamu! Ngomong kaya gitu durhaka ya, sama kakak sendiri juga ngatain kaya gitu! Kali ini cutiku hanya tiga hari, jadi gak bisa jauh-jauh juga," ujar Dimas.


"Papa aku mau piknik, Qila mau piknik!" Qila menggoyang-goyangkan lengan tangan papanya.


"Iya, Sayang. Sebentar ya Papa mau bicara sama Umma dulu!" Dimas membelai pipi anaknya, kemudian memberi isyarat dengan gerakan di kepala agar Cindy mengikutinya.


Sesampainya di dalam kamar, Dimas membawa Cindy duduk di ujung ranjang.


"Cindy, kamu jangan memikirkan kata-kata Rosa tadi ya, aku bukan bermaksud mau membedakan antara kamu dan Shila. Keadaannya dulu dan sekarang kan berbeda. Tapi bukan berarti aku...," ucapan Dimas terpotong saat Cindy mengunci mulut Dimas dengan jari telunjuknya.


"Mas, maaf aku potong. Mas Dimas tidak perlu menjelskan apa pun ke aku, dan mas Dimas gak perlu memperlakukan aku sama seperti mas Dimas memperlakukan mbak Shila. Aku juga gak perlu tahu tentang apa yang kalian lakukan dulu. Itu adalah kehidupan rumah tangga kalian pada masa itu, yang bisa mas simpan sebagai kenangan mas Dimas bersama mbak Shila. Aku nggak akan keberatan, itu adalah hak mas Dimas. Bagi aku, dengan situasi sekarang rasanya egois jika kita pergi bersenang-senang berdua dan meninggalkan Qila. Jka ingin liburan, ya sudah kita pergi bersama-sama. Kita ajak Ibu dan Rosa juga. Dengan begitu mas Dimas tidak hanya menyenangkan hati istri tapi juga membahagiakan anak, orangtua, dan adik mas Dimas. Insyaallah pahalanya jauh lebih besar buat mas Dimas," tutur Cindy panjang lebar.


Dimas tertegun dengan kata-kata istrinya. Ia begitu kagum dengan kebijakan Cindy. Ia tidak mementingkan dirinya sendiri, melainkan juga semua orang. Dimas bahkan hingga tak bisa menyangkal kata-katanya.


Dimas mengusap pucuk kepala istrinya sembari tersenyum, "Terima kasih, Cindy. Baiklah sekarang kamu ingin pergi berlibur kemana?" tanya Dimas.


"Emm, sebenarnya aku ingin sekali pergi ke pantai, Mas. Tapi sebaiknya kita tanyakan juga dengan yang lainnya dahulu, Mas," ujar Cindy.

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita keluar," Dimas menggandeng Cindy menuju ruang tengah dimana yang lain menunggu.


Flashback Off.


Siang itu juga selepas dhuhur mereka berangkat dengan mengendarai mobil. Tujuannya kali ini sudah diputuskan akan mengunjungi pantai, kebetulan yang lain setuju dengan ide Cindy. Rosa yang merekomendasikan untuk berlibur ke pantai Watu Karung, daerah Pacitan, Jawa Timur. Katanya ia sudah bosan ke pantai yang ada di Jogja.


Dua jam setengah berkendara dari Solo, Jawa Tengah dengan jalanan yang sempit dan curam. Akhirnya mereka sampai juga di salah satu penginapan yang sudah di booking terlebih dahulu oleh Rosa lewat online.




Dimas melakukan check-in ulang kepada resepsionis kemudian mereka diantar menuju kamar yang telah dipesan sebelumnya. Rossa memilih dua, Deluxe standar room dengan satu kamar bertema honeymoon dengan bed Quen size dan kamar mandi dalam bernuansa batu alam dan shower terbuka di bagian atapnya.



Rosa mendorong Dimas dan Cindy untuk segera masuk ke dalam kamar, kemudian mengajak Qila ikut ke kamarnya.


"Bentar lagi kita ke pantai ya, Mas!" ujar Rosa sembari menutup pintu.


Dimas hanya geleng-geleng kepala menatap kepergian adiknya. Bisa-bisanya Rosa mempunyai ide untuk memesan kamar bertema honeymoon untuknya dan Cindy. Namun jika dipikir-pikir ide Rosa sungguh brilian.


Dimas menaruh kopernya kemudian bersih-bersih sejenak di kamar mandi. Saat ia keluar ia melihat Cindy yang sedang menuang teh di atas cangkir.


"Mau minum gak, Mas?" tanya Cindy saat melihat suaminya muncul.


"Emm, iya boleh," Cindy menuang kembali teh ke dalam cangkir yang lain dan memberikannya kepada Dimas.


"Gimana, kamu suka nggak tempatnya?" tanya Dimas di sela-sela menikmati tehnya.


"Suka banget, Mas. Makasih ya mas, udah ngajakin aku ke sini? Pantainya indaaah banget, gak sabaran pengen buru-buru ke pantainya!" ujar Cindy dengan antusias.


Dimas tersenyum dengan sikap yang di tunjukkan Cindy barusan. Ini adalah pertama kalinya ia melihat sisi kekanak-kanakan istri mudanya. Kalau seperti ini jadi kentara sekali jarak perbedaan usia mereka, yaitu sepuluh tahun. Usia Cindy dua puluh empat tahun, sedangkan Dimas tiga puluh empat tahun.


"Ya sudah kita sholat dulu habis itu kita jalan-jalan ke pantai," ujar Dimas.


Sebenarnya Dimas sangat letih setelah berkendara selama dua setengah jam lebih. Namun, ia tidak tega untuk mengecewakan istrinya. Dimas berharap nanti saat berada di pantai ia bisa rehat sejenak.

__ADS_1


Mereka kemudian sholat berjamaah bersama di dalam kamar. Seusai sholat Cindy mengetuk-ngetuk lengan Dimas.


"Mas...mas...!" Dimas yang hendak berdzikir lantas segera menoleh kepada istrinya.


Saat menoleh ia melihat tangan Cindy terulur kepadanya lantas menyadari apa yang Cindy inginkan. Dimas mengulurkan tangan kanannya pada istrinya itu. Dan, Cindy menyambutnya dengan membungkuk dan mencium punggung tangan suaminya.


Seperti ada yang menyengat ke dalam hati saat Cindy melakukan itu. Sebelumnya ia tidak pernah melakukan hal serupa saat bersama Shila.


Seusai berdo'a Cindy buru-buru merapikan mukena kemudian menyimpannya. Lantas ia merapikan hijabnya di depan kaca. Dimas merasa aneh dengan istrinya yang sangat cekatan melakukan persiapan malah terkesan terlalu bersemangat.


"Mas, aku sudah siap. Yuk, Mas ke pantai sekarang!" ujar Cindy tanpa malu-malu.


Dimas hanya mengangguk sembari tersenyum.


'Cindy, kalau kayak gini ternyata gak ada bedanya, sama Qila!' gumam Dimas di dalam hati sembari mengikuti istrinya.


Saat Cindy akan mengetuk pintu kamar Rosa, bersamaan dengan itu pintu terbuka.


"Eh, mbak Cindy sudah siap?" ujar Rosa.


"Iya, yuk berangkat sekarang!" ajak Cindy.


"Okey , let's go Qila!" ujar Rosa sembari mengandeng tangan Qila.


Cukup dengan berjalan sejauh tiga menit mereka sudah sampai pada bibir pantai Watu Karung.




Pantai yang sangat indah dan terlihat masih sangat alami, dengan hamparan pasir putih dan banyaknya karang-karang. Tempatnya tenang karena tidak terlalu banyak pengunjung. Berdasar sumber yang di peroleh dari tuan rumah homestay barusan, jika kebanyakan yang datang adalah para peselancar dari manca negara yang hendak melakukan surfing di pantai. Sebab di pantai Watu Karung ini ombaknya cukup besar jika di bandingkan dengan pantai-pantai yang lain yang berada di pesisir pantai Jawa Timur. Sehingga sangat cocok bagi yang suka berselancar di gulungan ombak pantai.


Cindy, Qila dan Rosa segera berlari ketika hampir sampai. Dimas dan Ibunya hanya tersenyum melihat mereka bertiga sembari berjalan dengan santai.


"Dim, istrimu jauh lebih muda dari kamu. Ibu yakin nantinya kamu gak akan betah jauh-jauh dari dia," ujar Bu Lilis sembari menapaki jalan menuju pantai.


"Ibu, ada-ada saja sih. Memangnya apa bedanya jika menikah dengan yang sebaya seperti aku dan Shila," ujar Dimas.

__ADS_1


"Nanti juga kamu bakalan tahu kalau sudah merasakannya!" ujar Bu Lilis yang membuat anaknya tersenyum heran.


____________________Ney-nna_________________


__ADS_2