
"Oh iya, Bunda tadi mau bilang apa soal rencana agar Reynand bisa ikut pulang bersama dengan kami?" tanya Abiyu sembari melerai pelukannya.
"Jadi gini, Kak. Bunda sudah pikirkan ini masak-masak, Bunda yakin dengan ide ini bu Lena dengan pak Reza pasti mengijinkan Reynand di bawa ke Yogya. Tapi, Bunda butuh persetujuan dulu dari Fely," tutur bunda.
Fely yang baru muncul dari kamarnya ikut mendengar hal itu menjadi penasaran. "Hayoo ... apa nih yang butuh persetujuan dari, Fely?"
"Astaghfirullahal'adzim!" pekik bunda kaget, saat Fely tiba-tiba muncul dari arah belakangnya. "Fely, kamu ngagetin Bunda aja deh!"
"Hehehe ..., maaf Bun! Tapi, Fely nggak sengaja lhoh!" tutur Fely sembari memeluk bundanya. "Tadi ngomongin Fely ada apa?" tanyanya.
"Ayo semua duduk dulu!" titah bunda sembari menggeser kursi dan mendudukkan diri.
Abiyu dan Fely mengikuti bundanya duduk di samping kirinya dan kanannya bunda.
"Jadi gini, Fely demi mengambil hak asuh Reynand kembali ke pada Reyna dan Kakakmu, Bunda minta tolong Fely berbesar hati untuk ikut pindah ke Yogya, ya? Kamu kan sudah lulus kuliah, sekarang waktunya kamu untuk belajar memimpin restoran sendiri. Adek belajar mengelola resto yang berada di Yogya sama Kakak.Gimana menurut Adek? Mau nggak?" tanya Bunda kepada anak perempuannya.
Fely nampak terdiam berfikir. "Fely jauh dari Bunda dong!" jawab Fely dengan sendu.
"Dek kamu sudah lulus kuliah lhoh, ini saatnya kamu belajar untuk mandiri, jauh dari Bunda kan ada Kak Abi dan Kak Reyna di sana," tutur bunda dengan lembut membujuk anaknya.
"Terus Bunda yakin bisa mengelola resto sendirian?" tanya Fely lagi yang merasa khawatir karena bunda harus sendirian di Jakarta.
"Kan cuma sementara!" jawab Bunda.
"Terus siapa yang akan mengelola selanjutnya, Bun?" tanya Abiyu yang ikut menyimak.
"Ya Kakak, dong!" jawab bunda cepat.
"Tadi Bunda bilang Kakak suruh ngajarin Fely mengelola resto di Yogya. Kok Kakak juga gantiin Bunda juga? Emang Kakak amoeba bisa membelah diri?!" protes Fely yang kemudian mendapat sentilan di jidatnya oleh Abiyu.
"Aduhh ... Kakak, jahat banget sih sama Fely! Sakit tauk!" pekik Fely yang mengaduh akibat ulah kakaknya.
"Habisnya siapa suruh ngatain Kakak Amoeba!" tutur Abiyu yang tidak terima.
"Hahahaha ...! Sudah-sudah! Kalian itu sudah besar, masih saja bertengkar!" Bunda melerai pertengkaran kedua anaknya.
__ADS_1
"Begini ya, Bunda jelaskan jangan ada yang bertanya dulu sebelum Bunda selesai berbicara!"
Bunda menjeda kata-katanya, kemudian setelah melihat kedua anaknya sudah tenang bunda kembali berbicara
"Jadi Bunda minta Fely ikut ke Yogya bersama Kakak itu untuk serius belajar mengelola resto, dengan begitu kan Kakak bisa bisa lebih banyak waktu juga untuk mengurus Reyna dan Reynand. Setelah Fely sudah bisa mandiri, Kakak balik lagi ke Jakarta untuk mengurus resto yang di Jakarta. Bunda bisa pensiun di rumah sekaligus bantuin Reyna ngurus cucu."
"Nah, untuk sementara Kakak tinggalnya pindah di rumah Kakek dulu di belakang resto. Jadi meskipun Kakak Kerja, kan cuma di depan. Jadi sewaktu-waktu Reyna membutuhkan bantuan Kakak, kan tinggal berjalan ke rumah belakang atau Reyna yang jalan ke depan resto. Gimana?" tanya bunda setelah menjelaskan panjang lebar.
"Abiyu setuju, Bun! Ide Bunda brilian banget deh!" tutur Abiyu dengan wajah sumringah.
Bunda menoleh ke arah anak perempuannya. "Gimana, dek?"
Sementara Fely masih terdiam dengan muka masamnya."Bunda, Fely gak yakin mampu berjauhan dari Bunda. Trus kalau nanti ada masalah gimana?" tanya Fely yang masih belum yakin untuk mengelola resto sendiri.
"Nanti, Bunda utus Ricky buat bantu kamu di sana deh, kalau Kakak pindah ke sini ...," bujuk bunda Maya dengan mengirimkan asisten kepercayaan bunda, yang bekerja di resto pusat di Jakarta.
"Bener ya, Mas Ricky bakal bantuin aku mengelola resto yang di Yogya?" tuntut Fely dengan semangat.
"Iya, masa Bunda tega gitu aja melepas kamu di sana tanpa ada yang bantu. Bunda kan sudah memikirkan hal ini semalaman supaya hak asuh Reynand kembali ke Reyna," tutur bunda Maya dengan optimis bahwa idenya akan berhasil.
"Kak Reyna ...!" pekik Fely yang pertama kali melihat Reyna muncul dari balik pintu.
"Sayang, sudah selesai ya mandinya? Ayo kita sarapan!" ujar Abiyu sembari berdiri dan menyiapkan kursi untuk diduduki istrinya.
Reyna berjalan menuju kursi yang telah disediakan oleh Abiyu dengan diam kemudian segera duduk.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Bun? Hingga kalian harus merencanakan hal itu?" tanya Reyna kepada bunda Maya.
"Benar dengan apa yang kamu duga, Reyn. Bu Lena dan pak Reza masih belum mengijinkan Reynand untuk tinggal bersama dengan kalian. Tapi kamu jangan khawatir, dengan ide Bunda yang satu ini pasti mereka tidak bisa menyanggah lagi jika Reynand akan aman tinggal bersama kalian. Karena Fely akan membantu kalian mengelola resto di Yogya," ujar bunda sembari menepuk pelan bahu Reyna.
"Tapi, Fely beneran nggak keberatan, kan?" tanya Reyna sembari menoleh ke arah adik iparnya itu.
Fely yang tadinya diam sembari berpikir ulang dan tiba-tiba di sebut namanya pun terkejut. "Ehh ... I-iya, Kak. Fely setuju, kok!" ucap Fely dengan gelagapan.
"Alhamdulillah, terima kasih ya, Fe. Kamu emang adek aku yang paling baik, deh!" tutur Reyna sembari memeluk Fely.
__ADS_1
"Iya, Kak. Sama-sama!" Fely membalas pelukan Reyna dengan melingkarkan tangannya di pinggang kakak iparnya.
"Ya sudah yuk makan, yuk!" ujar bunda sembari membalikkan piring yang berada di hadapannya.
Reyna dan Fely ikut melakukan hal yang sama. Abiyu menggeser kursi dan kembali duduk. Saat dia hendak membalik piringnya, Reyna menghentikannya.
"Kak, Abi mau langsung makan? Nggak mandi dulu?" tanya Reyna kepada suaminya.
"Ya ampun, jadi dari tadi Kakak belum mandi? Pantesan dari tadi kaya ada bau-bau aceem di sini!" ejek Fely.
"Masa sih, orang masih wangi juga! Nih ... nih!" ujar Abiyu sembari beranjak berdiri dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan mendekat ke arah adiknya.
"Huwaaaaa, Kakak! Bau tau mandi dulu sana!" ucap Fely sembari mendorong kakaknya keluar dari ruang makan.
Aduh kalian itu setiap ketemu pasti berantem terus kalau berjauhan pasti rindu!" tutur bunda sembari geleng-geleng kepala dengan tingkah polah anaknya yang sudah dewasa tapi masih saja bertengkar karena hal-hal sepele, namun momen seperti itulah yang membuat rumah terlihat hidup dan akan dirindukan bagi orang tuanya ketika mulai menua.
Sepeninggal Abiyu Reyna bunda dan Fely mulai menyantap makanannya. Sementara Reyna masih duduk diam di tempat duduknya.
"Reyna kamu nggak makan?" tanya bunda kepada Reyna yang masih belum menyuap makannya.
"Sebentar, Bun. Reyna menunggu Kak Abi," tutur Reyna dengan malu-malu.
"Ya ampun, Kak Reyna setianya sama Kakak!" tutur Fely yang memuji kesetiaan kakak iparnya hingga rela menahan lapar demi makan bersama dengan suaminya.
"Inget itu Fey, perlu di contoh buat bekal ilmu kalau sudah berumah tangga!" tutur bunda Maya.
"Yaelah, keburu cacing-cacing di perut mati kali, Bun! Hehehe ...," canda Fely.
"Nanti kamu jadi ikut ke resto kan, Reyn?" tanya bunda.
"Iya Bun, jadi. Reyna pengen berkunjung juga ke ruko usaha Reyna," tutur Reyna.
"Baik, Sayang!" ucap bunda.
..._____________Ney-nna_____________...
__ADS_1