
"Ra-ka ... Ra-ka ...!" seru kakek dari dalam kamar.
Mendengar ada keributan di luar kamarnya, Wirya terbangun dari tidurnya.
"Tuan, anda sudah bangun?" tanya Yahya asisten kakek yang segera masuk saat mendengar suara dari dalam kamar kakek.
Kakek terlihat mengangguk untuk menanggapi. Sedangkan, Raka dan Fely mengikuti dari belakangnya.
"Mas, tahan emosi! kakekmu sedang sakit," ujar Fely sembari memegangi lengan tangan suaminya.
Raka mengusap punggung tangan istrinya seraya mengangguk. Setelah itu Raka berjalan mendekat ke tempat tidur sang kakek.
"A-ada apa?" tanya kakek dengan terbata-bata.
"Kek, apa salahnya untuk merestui pernikahan kami? aku sangat mencintai Fely, begitu pun sebaliknya. Mengapa kakek bersikeras memisahkan kami?" ujar Raka dengan mata memerah menahan air mata.
Dia tidak menyangka jika kakeknya begitu keras kepala menentang pernikahannya dengan Fely hingga melakukan segala cara untuk memisahkan dia dan Fely.
"Raka ... Kakek melakukan hal itu demi kebaikanmu, aku sama sekali tidak membenci istrimu," ujar kakek dengan lirih.
"Mendekatlah, Nak!" ujar kakek sembari menoleh pada Fely yang masih berdiri tak jauh dari ambang pintu kamarnya.
__ADS_1
Raka seketika ikut menoleh pada istrinya. Fely nampak kaget dan perlahan beranjak mendekati tempat tidur si kakek setelah Raka menganggukkan kepala.
"Iya, Kek," ujar Fely dengan sedikit ragu. Dia berdiri tepat di samping si kakek.
"Aku tahu kamu perempuan yang baik, Nak. Tapi, aku harus tetap memisahkan kalian demi kebaikan Raka. Hal ini bukan karena kamu yang bersalah. Namun, ini adalah salahku," tutur kakek dengan hati-hati.
Sejak pertama melihat gadis pada foto yang ditunjukkan oleh anak buahnya saat menyelidiki Fely pertama kali, kakek langsung teringat akan istri pertamanya yang wajahnya sangat mirip dengan Fely.
Fely mengernyit heran dengan kata-kata si kakek. Masih belum mengerti dengan maksud dari ucapan beliau. Dalam diam Fely mencoba menerka-nerka apa yang menjadi alasan si kakek tidak merestui pernikahan mereka.
"Dahulu ada seorang gadis desa keluarga miskin yang sangat cantik. Banyak pemuda yang ingin memperistrinya, namun ditolaknya. Mendengar hal itu dari seorang kawan, aku merasa penasaran dengan kembang desa dari kampung sebelah itu. Aku meminta pada temanku untuk memperkenalkan gadis itu denganku. Dan, ternyata aku jatuh hati padanya sejak pertama kali melihatnya. Dia adalah cinta pertamaku.
Aku langsung yakin untuk memperistrinya. Siapa sangka dia langsung menerimaku saat aku meminangnya. Dan, kami pun menikah," tutur kakek memulai ceritanya.
Sebelumnya kakek tidak pernah menceritakan tentang masa lalunya. Tentu saja karena sejak kecil dia tidak terlalu dekat dengan sang kakek.
"Bukan, Raka. Nenekmu adalah istri keduaku."
"Pada awal pernikahan kami sangat bahagia. Aku sangat memanjakannya. Apa yang dia inginkan selalu aku penuhi. Namun, tak berapa lama aku mendapatkan cobaan. Pamanku melakukan korupsi dengan uang perusahaan. Ayahku syok hingga meninggal karena memikirkannya. Kemudian aku yang melanjutkan untuk mengelola perusahaan itu."
"Namun, tidak berapa lama perusahaan peninggalan orang tuaku itu bangkrut, karena mengalami surplus pendapatan hingga meninggalkan banyak hutang. Kala itu aku menitipkan istriku pada keluarganya yaitu adik dari orang tua istriku, karena dia sudah tidak memiliki orang tua lagi. Sementara aku pergi ke sana ke mari untuk mencari bantuan kepada para kolegaku, hingga yang terakhir aku ke Singapura. Waktu itulah aku bisa bangkit kembali atas bantuan dari kakeknya Maura."
__ADS_1
"Setelah aku berhasil mendapatkan investor, aku segera pulang ke Indonesia. Hari itu juga aku langsung mendatangi rumahnya. Namun, ternyata rumah peninggalan orang tua istriku itu sudah di jual. Lantas aku berniat untuk mendatangi rumah pak liknya yang tidak jauh dari rumah istriku."
"Namun, belum juga sampai, di rumah pak liknya, aku melihat sosok istriku dengn sangat anggun tengah menyirami bunga di halaman rumah seorang kepala desa. Hatiku seketika hancur berkeping-keping saat melihat perut buncitnya. Dia tengah hamil besar. Jelas janin yang dikandungnya itu bukan anakku, karena aku sudah pergi selama tiga tahun lamanya. Pantas saja selama tiga tahun itu istriku tidak pernah membalas surat-suratku."
"Saat itu dia mengatakan jika dia telah menikah dengan orang lain. Aku syok dan merasa sakit hati mendengarnya menikah lagi dengan anak orang kaya di kampung itu. Luka hatiku yang teramat dalam membuatku kelewat emosi. Aku sangat marah kepadanya. Aku tidak menyangka jika dia tidak setia padaku. Emosiku yang memuncak membuatku menjadi tak terkendali. Aku menyumpahinya dengan sumpah serapah. Aku katakan padanya jika dia dan keturunannya yang perempuan akan menjadi janda, sedangkan yang laki-laki hanya akan mendapatkan istri seorang janda pula."
"Wanita itu bernama Sekar Ayu, nenekmu, Nak. Dia istri pertamaku yang memberi luka sangat dalam bagiku. Dan, merubahku menjadi pribadi yang kejam sebagai pelampiasan rasa marahku padanya. Aku menjadi sulit percaya kepada setiap wanita miskin. Itulah mengapa aku sulit untuk menerima mamamu, Raka."
"Saat aku menyelidiki Fely pertama kali. Aku tahu jika kutukanku terbukti. Ternyata tak hanya Sekar yang akhirnya menjadi janda, namun anak perempuannya juga menjadi janda yaitu ibumu, kakakmu mendapatkan istri seorang janda, begitu pun dirimu yang sempat menjadi janda tak lama setelah pernikahanmu dengan suami pertamamu. Karena itulah aku harus memisahkan kalian, agar Raka selamat dari kutukan itu. Aku tidak ingin Raka mengalami nasib buruk karena menikah denganmu."
"Tolong bercerai lah, sebelum terlambat! aku mohon bercerai lah dengan segera demi kebaikan kalian. Bukankah cinta tidak harus saling memiliki. Setidaknya kamu masih bisa melihat Raka dalam hidupmu dengan menceraikannya. Aku mohon berkorban lah demi Raka! aku mohon bebaskan dia dari kutukan itu!" tutur kakek dengan penuh harap sembari meneteskan air mata. Dia tidak ingin kehilangan satu-satunya keturunannya.
Raka dan Fely terkesiap mendengar kisah masa lalu dari si kakek. Hal itu sungguh sangat sulit untuk diterima nalarnya. Cinta mereka sungguh besar, bahkan penuh dengan perjuangan yang panjang. Benarkah cinta tidak harus saling memiliki. Haruskah mereka berpisah lagi setelah perjuangan yang mereka lakukan demi bersatu kembali. Adilkah ketika kesalahan dari pendahulunya dilimpahkan pada keturunannya?
Segala tanya membuatnya hatinya bergemuruh. Air matanya tak terbendung lagi. Mengapa takdir mereka begitu rumit. Mengapa sulit sekali untuk menyatukan cinta mereka. Benarkah berpisah adalah satu-satunya cara? batinnya semakin perih akan hal itu.
"Enggak, Kek. Nggak mungkin! umur seseorang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Jika memang itu akan terjadi padaku aku rela. Aku tidak akan menceraikan Fely!" Raka dengan sangat emosi menarik tangan istrinya dan membawanya pergi dari kediaman kakek.
Hal itu tidak mungkin dilakukannya. Sebab, dia sangat mencintai istrinya. Raka menjadi semakin membenci kakeknya.
Mengapa harus kita yang menanggung kesalahan mereka! aku tidak akan menceraikan Fely! racaunya di dalam hati.
__ADS_1
...______Ney-nna______...