
Dari semalam setelah sampai di Solo, Rangga masih belum keluar kamar.
Tok..tok..tok..!
"Ga, kamu nggak sarapan?" tanya Mami dari balik pintu. Namun tak ada jawaban dari dalam.
"Sayang, kamu nggak kenapa-napa kan?" tanya Mami lagi. Masih tak ada jawaban.
"Mami masuk ya..!" ucap Mami kemudian membuka pintu kamar Rangga dengan perlahan.
Terlihat Rangga yang masih meringkuk di dalam selimut tebalnya.
"Ga, dari semalam kamu belum bangun?" Lena terkejut mendapati anaknya yang tidak seperti biasanya, ia duduk di tepian kasur mencoba menyibak selimut yang di kenakan anak laki-lakinya.
Rangga mulai terusik, perlahan ia mulai merubah posisi tidurnya, " Apa.. sih, Mi!"
"Ini udah siang, Ga. Tumben banget sih jam segini masih tidur aja," ucap Mami.
"Semalem aku nggak bisa tidur, Mi. Habis subuh baru bisa tidur!" ujar Rangga masih dengan mata tertutup.
"Sarapan dulu ya, atau mau Mami ambilin?" tanya Mami perhatian.
"Selimutnya siniin, Mi. Rangga kedinginan mau tidur lagi!" tolak Rangga yang masih kekeuh ingin tidur. Badannya terasa dingin.
"Dingin gimana sih, ini udah siang lhoh!" Mami menyentuh dahi Rangga dengan punggung tangannya, "Masyaa Allah, Rangga. Ini badan kamu kenapa panas begini!"
Mami mengecek suhu tubuh Rangga dengan mencakup kedua pipi Rangga, leher dan telapak tangan Rangga panas semua.
"Rangga nggak apa-apa, Mi. Paling cuma kecapekan. Dipakai istirahat bentar nanti juga baikan sendiri," kilahnya.
"Ya nggak bisa gitu dong, Ga. Kamu musti minum obat turun panas, ini sih suhu badan kamu panas banget. Bentar Mami, ambilkan makan sama obatnya. Nanti kalau nggak berkurang Mami telpon Dr. Hery biar datang ke rumah memeriksa kamu," ujar Mami panjang lebar.
Lena langsung pergi meninggalkan kamar Rangga untuk mengambilkan makanan dan obat turun panas. Sesampainya di bawah ia bertemu dengan Reza yang hendak berangkat ke kantor.
"Mas, bukannya Rangga kemaren menemui klien di Surabaya?" tanya Lena.
"Iya, harusnya kemaren pagi sudah bisa pulang, kenapa bisa pulang larut malam dia?" Reza merapikan jasnya dan mengambil kunci mobil.
"Aku lebih heran lagi kenapa pulangnya ke sini, istrinya kan di Jakarta, udah gitu pulang-pulang badannya demam gitu," ujar Lena.
"Rangga sakit?" tanya Reza beralih melihat ke arah istrinya sedikit terkejut.
"Iya, tuh badannya panas banget, aku sih curiga nggak biasanya dia mengurung diri di kamar kayak gitu. Kalau sakit biasanya manja-manja minta diladenin sama aku. Ini malah kayak yang disembunyikan, pasti lagi ada masalah!" Lena mengambil obat di kotak p3k kemudian beralih ke meja makan mengambil makan untuk anaknya.
"Mih, kalaupun Rangga sedang ada masalah dengan istrinya, Mami jangan ikut campur. Salah-salah malah memperkeruh suasana!" Reza memperingatkan.
"Yah tergantung masalahnya apa, Mami kan seorang ibu, Mami harus memastikan kebahagiaan anak kita!" ujar Lena kekeuh.
"Ahh sudahlah, aku mau berangkat ke kantor!" ia lebih baik menghindar dengan sikap istrinya yang keras kepala, dari pada berdebat ujung-ujungnya malah bertengkar.
"Iya lah, masalah rumah biar aku yang urus. Hati-hati mas!" Lena menyalami suaminya.
"Ya, assalamu'alaikum," ucapnya sambil berlalu pergi.
"Wa'alaikumsalam," Lena bergegas menaiki tangga menuju kamar Rangga sambil membawa nampan di tangannya. Sesampainya di kamar Rangga, Lena duduk di tepi ranjang.
"Ga, ayo bangun kamu musti sarapan dulu habis itu minum obat," Lena menaruh nampan di atas nakas dan beralih menyibak selimut Rangga.
"Taruh aja, Mi. Nanti aja makannya, Rangga pengen tidur!" tolak Rangga.
"Eh, nggak bisa!"
"Kamu musti minum obat, ini kalo dibiarkan kamu bisa tambah sakit," bujuk Lena.
Lena memaksa Rangga untuk duduk. Dengan malas Rangga menuruti Maminya, duduk bersandar pada sandaran tempat tidur.
Dengan telaten Lena menyuapi anaknya, "Nah, makan yang banyak biar cepet sembuh!"
__ADS_1
Namun baru dua suap nasi, Rangga sudah kesulitan untuk menelan makanannya. Secepat kilat Rangga berlari menuju kamar mandi. Perutnya terasa mual dan ingin muntah. Akhirnya dua suap nasi dimuntahkannya kembali.
"Eh, kenapa sih, Ga. Malah dimuntahkan begitu!" Lena menjadi semakin khawatir, di tekan-tekannya leher bagian belakang Rangga.
"Cukup, Mih. Rangga nggak mau makan lagi!" selesai memuntahkan makanan yang baru saja dimakannya kemudian ia kembali berbaring mengubur dirinya di dalam selimut.
"Kapan terakhir kamu makan?" tanya Lena.
"Kemaren, breakfast di hotel sebelum check out!" jelasnya.
"Kenapa nyampe sini larut malam, habis dari hotel kamu kemana?" Lena semakin heran.
"Ke Jakarta!" jawabnya singkat.
"Udah nyampe Jakarta kenapa maksa pulang ke sini?" Mami menyibak selimut Rangga yang menutup bagian kepala.
"Sebenarnya ada apa sih, Ga? Kamu ada masalah sama Reyna?" tebak Mami.
Namun tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Rangga.
"Oke kalau kamu nggak jawab, Mami artikan diamnya kamu itu sudah menjawab bahwa hal itu benar adanya," Lena membiarkan Rangga tidur. Ia tahu suasana hati putranya saat ini sedang tidak baik.
Tulilit...tulilit..tulilit..
Terdengar suara handpone berbunyi agak jauh.
"Mami tinggal dulu, handphone Mami bunyi," Lena kembali meletakkan nampan di atas nakas dan bergegas menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar dilihatnya layar pada handphone bertuliskan nama Reyna. Lena kemudian mengangkat telpon.
"Ya hallo!"
"Assalamu'alaikum, Mi!" ucap Reyna.
"Wa'alaikumsalam!" Lena berjalan menutup pintu agar Rangga tidak mendengar.
"Iya, ada. Lagi tidur dia nggak enak badan. Kalian lagi ada masalah?" selidik Lena.
Reyna terkejut dengan pertanyaan mertuanya. Pasalnya dia sendiri juga tidak tahu menahu dengan apa yang sedang terjadi antara dirinya dan suaminya. Rangga yang tiba-tiba tidak bisa dihubungi. Ia tidak tahu dimana letak kesalahannya.
"Rangga sakit, Mi?" tanya Reyna.
"Iya, badannya demam. Gimana sih ini suami sakit malah kamu sebagai istrinya nggak tau!" ujar Mami ceplas-ceplos.
"Maaf, Mi. Sejak berangkat ke Surabaya Reyna belum bertemu lagi, jadi Reyna nggak tau. Reyna telepon nggak bisa karena handphonenya nggak aktif. Barusan kata Nenek handphone Rangga rusak," ucap Reyna sedih.
"Ya sudah, nanti Mami bilang ke Rangga kalau kamu telepon," telepon di matikan.
"Sebenarnya ada apa sih di antara mereka? Rangga kemaren ke Jakarta, tapi Reyna bilang nggak ketemu. Jadi pusing begini sih aku!" gerutu Lena.
***
Reyna berdiri termenung di dekat jendela. Mengingat kata-kata Mami barusan, bahwa Rangga sakit membuat hatinya resah.
Ya, Allah apa yang sesungguhnya terjadi dengan suamiku. Aku ingin sekali menemuinya, aku sangat merindukanmu, By!
"Reyn, ada apa? Bibi perhatikan dari kemarin kamu kelihatan murung terus," tanya Bibi Lastri.
"Rangga sedang sakit, Bi. Reyna ingin sekali menemuinya," ucap Reyna.
"Ya sudah kamu pulang saja ke Jakarta. Suamimu pasti sedang membutuhkanmu," ujar Bibi sambil menyentuh bahu Reyna lembut.
"Tapi, Rangga sedang berada di Solo, Bi," Reyna duduk di kursi badannya terasa lemas.
"Ya, sudah kamu pulang ke Solo saja, kan lebih dekat dari sini," usul Bibi.
"Oiya, benar juga ya, Bi. Kenapa Reyna nggak kepikiran begitu dari tadi," Reyna menjadi lebih bersemangat untuk segera menemui suaminya.
__ADS_1
"Sekarang kamu siap-siap dulu Reyn, mau naik apa?" tanya Bibi.
"Naik kereta aja Mbak, seru lho ke Solo naik kereta," Dina ikut nimbrung.
"Emm... boleh juga ide kamu Din," ujar Reyna.
"Kamu antar Mbakmu sampai stasiun, Din," titah Bibi Lastri.
"Iya, Bu," Dina beranjak memakai jaket dan mengambil kunci motornya.
Reyna berganti pakaian kemudian membawa kopernya ke luar kamar. Bibi dan Dina sudah menunggu di halaman rumah.
"Reyna pamit ya, Bi!" dipeluknya Bibinya dengan erat.
"Iya, Reyn. Ingat nanti begitu sampai kamu harus kabari Bibi!" Bibi melerai pelukannya.
"Iya, pasti nanti Reyna kabari Bibi. Assalamu'alaikum!" ucap Reyna kemudian membonceng Dina yang sudah berada di atas motor.
"Wa'alaikumsalam. Din, hati-hati bawa motornya," teriak Bibi saat Dina menyalakan motornya.
"Beres, Bu," jawab Dina sambil melajukan motornya. Reyna berdada-dadah kepada Bibinya.
"Masyaa Allah, kenapa tadi nggak suruh Dina mengantar sampai di Solo saja. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Reyna di kereta atau di Solo. Kemarin kan sempat pingsan di pesawat," gumam Bibi khawatir, baru kepikiran setelah motor Dina sudah tidak terlihat lagi.
****
Dr. Hery akhirnya datang untuk memeriksa Rangga atas permintaan Lena. Hal itu ia lakukan karena Rangga tidak makan dan kondisinya semakin lemah.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Lena.
"Nggak apa-apa kok, Bu. Ini mas Rangga sedang capek, asam lambungnya naik sehingga perutnya terasa mual. Ini sudah saya berikan obatnya, untuk mual diminum sebelum makan, yang lain sesudah makan tiga kali sehari pagi, siang, malam. Ini saya tambahkan vitamin untuk daya tahan tubuhnya. Antibiotiknya harus dihabiskan ya?" Dr. Hery menjelaskan.
"Baik Dok, terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk datang kemari," ucap Lena mengantar kepulangan Dr. Hery hingga teras rumah.
"Iya, Bu. Sama-sama. Saya permisi!" Dr. Hery berlalu menaiki mobilnya.
tulilit... tulilit... tulilit!
Terlihat ada panggilan dari Putri, Lena langsung mengangkatnya.
"Hallo, Put?"
"Iya, hallo Mih, kabar Mami baik?" tanya Putri.
"Iya, Sayang. Mami baik! Kamu ke mana aja nggak pernah datang ke rumah Mami?" tanya Lena.
"Maaf, Mih. Kemarin-kemarin Putri sibuk pemotretan, ini rencana juga mau ke rumah Mami. Mami ada di rumah kan?" tanya Putri.
"Aduh, Mami seneng banget kamu mau mengunjungi Mami. Mami di rumah, Sayang. Rangga juga ada, tengokin gih dia baru sakit," ungkap Mami.
"Rangga, di rumah, Mih?" Putri memastikan.
"Iya, Sayang. Buruan gih ke sini," ujar Mami.
"Okey, Mih. Meluncur!" ucap Putri.
"Okey, Sayang. Mami tunggu!" telepon di matikan.
Lena nampak sumringah menanti kedatangan Putri.
🥀🥀🥀
Akankah Reyna dan Putri bertemu di rumah Rangga??
Semangat menanti kisah selanjutnya yah... 💪
Jangan lupa like & komentarnya,, dipersilakan bagi yang mau berbagi hadiah dan vote'nya 😍😍
__ADS_1