
"Ga, nenek mau bicara serius sama kamu. Apa kamu menyukai Reyna?" Tanya nenek.
Rangga nampak lama berfikir, ia tidak tau harus menjawab apa. Pertemuannya dengan Reyna adalah hal yang tak terduga.
"Kamu tidak bisa menjawab pertanyaan nenek?" Nenek masih menunggu.
"Maaf nek aku...." Rangga dapat merasakan kalau saat ini suasana hati nenek sedang tidak baik.
"Kalau kamu tidak menyukainya, secepatnya kamu beresin barang-barang kamu dan besok segera pulang ke Solo."
Nenek hendak berdiri namun Rangga menahannya.
"Tapi nek, kenapa Rangga harus segera pergi? Nenek marah sama aku?" Rangga bertanya sambil memegang tangan neneknya.
Nenek menghela nafasnya kasar dan kembali duduk. "Ga, kamu dan Reyna sama-sama cucu nenek, nenek menyayangi Reyna seperti cucu nenek sendiri. Kalau kamu tetap disini, kehadiran kamu hanya akan menyakiti hati Reyna. Nenek bisa melihat ada sesuatu yang terjadi antara kalian dimasa lampau dan hal itu mempengaruhi pertemuan kalian kali ini. Jika kamu tidak sungguh-sungguh ingin menjalin hubungan dengannya, nenek mohon jangan sakiti hatinya dengan memberinya harapan palsu." Nenek menghela nafas kasar.
"Nenek melihat apa yang terjadi barusan. Untuk apa berbuat seperti itu jika kamu tidak mencintainya. Sebaiknya kamu segera pulang dan jangan pernah hubungi Reyna lagi."
Selesai berbicara, nenek kemudian pergi meninggalkan kamar Rangga.
Rangga termangu dengan kata-kata nenek. Ia menyadari tindakannya tadi salah. Ia bangkit dari tempat tidur mencoba berjalan dengan perlahan. Masih sedikit sakit untuk berjalan, namun ia paksakan mengambil koper dan mengemasi baju-baju gantinya. Ia memutuskan akan pulang besok pagi.
Keesokan paginya Kakek sedang duduk-duduk santai sambil membaca koran di ruang tengah bersama nenek. Melihat Rangga menenteng koper, kakek pun bertanya. "Ga, kamu mau pulang?"
"Iya kek, aku akan pulang sekarang." Jawab Rangga.
"Memangnya sudah sembuh?" Tanya kakek.
"Sudah, kek." Jawab Rangga singkat.
"Bilang sama papimu untuk segera melamar Reyna." Rangga terkejut, rupanya nenek belum memberitahu tentang percakapannya kemaren. Saat itu juga Reyna sedang berada didepan pintu kamarnya hendak berangkat kerja. Ia pun terkejut mendengar apa yang diucapkan kakeknya.
"Kebetulan sekali, itu Reyna. Kesini nak kakek ingin bicara." Kakek memanggil Reyna.
Perlahan Reyna berjalan mendekati mereka. Kemudian ia duduk di samping nenek.
"Reyna, kamu mau kan menikah dengan Rangga?" Tanya kakek.
"Maafkan Reyna kek, Reyna tidak bisa menikah dengan Rangga." Reyna menjawab dengan tegas. Kakek nampak terkejut.
Rangga tidak menyangka jika Reyna juga menolaknya.
"Tapi kenapa Reyna?" Selidik kakek.
"Nenek jg tidak setuju, mereka tidak saling mencintai, Pa." Nenek memandang kakek penuh harap untuk tidak melanjutkan perjodohan.
__ADS_1
"Cinta bisa datang ketika mereka mulai terbiasa, Ma. Buktinya banyak yang awalnya ta'aruf akhirnya bahagia." Kekeuh kakek.
"Kakek boleh menjodohkan Reyna dengan siapa saja yang menurut kakek baik untuk Reyna, tapi tidak dengan Rangga."
Reyna berucap dengan penuh ketegasan.
Rupanya saat kemarin malam Nenek berbicara dengan Rangga, Reyna tidak sengaja mendengar saat akan melewati kamar Rangga. Hatinya terluka, merasa Rangga hanya mempermainkannya.
Rangga terkejut dengan perkataan Reyna. Ia melihat ada kebencian dimata Reyna.
"Kek Reyna berangkat kerja dulu, keburu siang." Reyna meninggalkan tempat itu setelah mencium tangan kakek dan nenek
Semua diam terpaku menatap kepergian Reyna.
Sesampainya di ruko Reyna memarkirkan sepeda motornya. Tiba-tiba ada yang memanggil dari arah kanan.
"Nak Reyna, tumben baru datang." Tanya Bunda Maya, pemilik restoran yang ada di sebelah ruko Reyna.
Reyna berjalan menghampiri. "Eh Bunda, iya nih tadi ada urusan yang musti diselesaikan dulu di rumah." Jawab Reyna sambil mencium tangan bunda.
"Reyna, terimakasih ya baju yang buat seragaman kemaren temen-temen bunda pada suka loh, katanya bahannya adem enak dipakai. Ukurannya juga enak bisa pilih sendiri, jadi gak perlu repot mermak dulu ke penjahit."
Bunda bercerita sambil memegang tangan Reyna. Bunda sangat baik kepada Reyna. Hal itu mengingatkan Reyna pada ibunya yang telah meninggal.
"Iya sama-sama bun, Reyna tunggu ya orderan selanjutnya." Jawab Reyna ramah.
"Bunda." Tiba-tiba ada seorang laki-laki muda dan tampan berjalan mendekati bunda. Kemudian mencium tangan bunda.
"Sayang, kamu dari bandara langsung kemari." Bunda terlihat sangat dekat dengan laki-laki itu.
"Iya, bun. Pengen ketemu bunda dulu jadi langsung kesini." Tutur laki-laki itu.
"Eh iya Reyn, kenalin ini Abiyu anak pertama bunda."
Reyna mengulurkan tanganya. "Reyna..."
"Panggil saja Abi." Abiyu menjabat tangan Reyna.
"Bunda, Reyna masuk dulu ya sudah ditunggu sama Mira, duluan ya kak." Pamit Reyna.
"Iya sayang." Jawab bunda sambil tersenyum.
"Bi, bagaimana menurut kamu, cantik tidak? Reyna anaknya baik banget sama bunda."
Bunda mempengaruhi.
__ADS_1
"Bunda apaan sih, udah ah ayo masuk." Mereka berlalu.
Sementara di ruko, Reyna langsung masuk kedalam ruang kantornya dan duduk lesu dikursinya. Mira yang melihat kedatangan Reyna langsung masuk mengikuti Reyna.
"Kenapa beb, kayak yang lesu gitu? Kamu habis diapain sama Rangga." Eh tau aja ni anak kalau Reyna lagi ada masalah sama Rangga.
"Ish kamu sok teu ya Mir."
"Eh tau dong, nih barusan Rangga nanyain kamu uda sampai belum? Baru juga ditinggal udah kangen aja."
"Lhoh memangnya dia tau nomor handphone kamu?" Reyna terkejut.
"Taulah, kemaren waktu kita nyari kado dia minta tukeran nomor. Tapi yang ditanyain tentang kamu mulu." Tutur Mira.
"Kamu cerita apa Mir, sama dia?" Reyna mulai was-was, pasalnya temennya yang satu ini suka bocor kalau dikorek-korek.
"Tenang aja beb, baru obrolan ringan aja kok. Biasa aja kaya kesibukan kamu apa aja, terus lagi deket sama siapa. Kalau aku perhatiin kayaknya dia suka deh Reyn, sama kamu."
"Kamu tuh jadi cewek jangan gampang percaya sama mulutnya lelaki Mir, cowok playboy kaya dia gak bisa ditebak kapan bohong dan kapan berkata jujur." Reyna mulai kesal mengingat kejadian kemarin.
"Tok...tok...tok."
Terlihat Fely dibalik pintu kaca. Fely anak kedua dari bunda Maya.
"Ehh Fely, bawa apaan ini?" Mira membukakan pintu menyambut kedatangan Fely.
"Ini menu terbaru di resto kak, Fely yang bikin. Cobain gih enak gak." Anak ini setiap ada menu baru pasti ke ruko buat tester.
"Wah enak ni kayaknya, Fe." Mira mulai ngiler lihat dessert bikinan Fely.
"Ehh kak Reyna, tadi sudah ketemu kakak aku belum?" Tanya Fely.
"Sudah, memangnya kenapa?" Reyna bertanya.
"Ganteng tidak? Kakak aku masuk kriteria gak?" Fely menyelidik.
"Bunda itu cantik, sudah pasti anaknya ganteng dan cantik kaya kamu nih lucu dan imut. Maksudnya kriteria, kriteria apa dulu nih?" Reyna menjawab.
"Ehh memang nya kakak kamu sudah pulang Fe? Dulu aku pernah lihat sekali pas ke resto jemput tante Maya. Behh mana ganteng pisan Fe kakak kamu. Cocok sih aku bilang kalau sama Reyna. Sama-sama lempeng anaknya." Mira nimbrung dengan bocornya.
"Apaan sih kamu Mir, ada adeknya nih, nanti kalau dibilangin sama kakaknya gimana coba." Reyna menanggapi.
"Aku sih setuju aja kalau sama kak Reyna, kak Reyna mah kakak ipar idaman. Cantik dan baik." Tutur Fely.
"Ehh apaan sih main setuju aja. Ini yang musti dikomen dessert nya apa kakaknya nih? Malah aku dibawa-bawa." Reyna mulai sewot dengan muka cemberut.
__ADS_1
"Hahhahahahaa... !" Fely dan Mira tertawa-tawa.