
"Kau baik-baik saja kan Ki maafkan aku belum bisa ke rumah sakit" ucap Bella sambil menatap layar ponselnya yang memperlihatkan keadaan Rizki.
"Tak apa aku mengerti kau sedang mengandung bagaimana keadaanmu, kau tidak apa-apa kan kau tidak dicelakai kan siapa orang itu kenapa tiba-tiba menculikmu seperti itu, apakah itu musuh Tuhan Adi"
"Aku juga baru tahu sekarang kalau dia sepupunya mas Adi. Untung saja kau mengingatkannya aku jadi ingat padanya. Apa yang dilakukan mas Adi padanya, aku selama diculik olehnya tidak diperlakukan dengan kasar aku takut dia diapa-apakan oleh mas Adi" Bella diam sejenak dan memikirkan bagaimana nasibnya Sean "keadaanku baik-baik saja Ki, kau harus segera sembuh ya terima kasih atas semua bantuanmu selama ini, kau selalu saja membantuku dan juga mas Adi kau percaya padanya kan kalau dia bisa menjaga ku "
Rizki diam belum menjawab, bahkan tatapan Rizki seperti melihat kearah seseorang lalu fokus lagi menatap Bella " Ya doakan saja aku cepat sembuh ya, aku percaya kalau Tuan Adi bisa menjagamu, bahkan saat kau bilang dia langsung mencari mu, 24 jam kau langsung ketemu olehnya aku percaya kalau dia bisa menjagamu dan menyelamatkanmu kapanpun itu tapi kau harus selalu hati hati aku takut kau akan mengalami ini lagi"
"Syukurlah kalau kau percaya pada mas Adi, kau bersama siapa disana sampai-sampai kau celinga-celinguk dulu saat akan menjawabku. Memangnya ada siapa apakah ada seseorang yang menjagamu atau ada seseorang yang membatasi kata-katamu"
"Ada aku Bell " tiba tiba saja Arzan nongol
"Kukira siapa jangan kau takut takuti Rizki jika hanya ingin menakut nakuti Rizki saja lebih baik kau pulang"
"Kau jahat sekali Bella "Arzan langsung menghilang
"Besok aku akan menemuimu Ki, nanti aku yang tunggu kamu ya rumah sakit"
"Nggak usah Bel kamu lagi hamil nggak apa-apa aku nggak masalah kok sendiri tenang aja"
"Gak,gak bisa aku akan tetap ke sana dan menjaga kamu, sekarang kamu tidur dan usir Arzan dari rumah sakit kalau recokin kamu doang ya, kalau emang dia mau jaga ya udah tali aja lehernya" ucap Bella sambil tertawa
"Parah kamu ya Bel awas aja kalau nanti ketemu"
"Wlee gak akan " Bella langsung mematikan sambungan senyummu masih belum luntur namun tiba-tiba dia mengingat kembali Adi kenapa tak ada menghubungi.
__ADS_1
Memangnya dia tidak mau memberikan ucapan selamat tidur good night sayang, ya kata-kata itu menyebalkan sekali untuk mengatakan itu saja tak ada, kalau misalnya dirinya yang menelpon mas Adi gengsi juga sih harusnya kan laki-laki yang berbicara seperti itu, saat pacaran dengan Alvaro selalu dia yang mengatakan itu aku mencintaimu.
"Sudahlah lebih baik tidur saja dasar mas Adi menyebalkan, awas saja kalau ketemu aku bejek bejek kepalanya itu awas ya "
***
Sedangkan Adi sendiri dia sedang mondar mandir dikamarnya, sambil memegang hpnya.
"Apakah aku harus mengatakan selamat tidur pada Bella, apakah aku harus menelponnya dan mengatakan kata-kata cinta tapi itu sangat memalukan masa sih seorang mafia berkata seperti itu pada wanita, meskipun tidak mengatakan kata-kata itu aku tetap mencintainya kan, tidak-tidak aku tidak akan mengatakan aku tak akan pernah bisa "
"Tapi kalau misalnya aku tidak mengatakan itu apakah Bella tidak akan marah dia kan masih belia, maksudnya masih umur pacaran gitu 18 tahun. Tapi aku ini kan sudah tua sudah 31 tahun masa iya mengatakan aku cinta kamu good night, sampai ketemu besok i love you itu akan sangat memalukan dan akan merusak citra aku sebagai mafia kejam"
"Huuff kenapa menjadi bingung seperti ini"
Adi duduk di sisi tempat tidurnya dan membuka ponselnya lalu melihat nomor Bella mengetik sesuatu menghapusnya kembali, mengetiknya lagi lalu menghapusnya lagi terus saja seperti itu tak ada beresnya.
Tok tok tok
"Siapa lagi yang menganggu, aku sedang pusing kenapa ada yang menanggung ku apa dia tak sayang nyawa"
Adi membuka pintu dan didepannya ada Zack yang sudah membawa senjata.
"Kau mau apa bawa senjata kekamarku Zack "
"Tuan tadi berteriak apakah ada penjahat di kamar atau ada apa"
__ADS_1
Adi masuk lagi dan membaringkan badannya "tidak ada semuanya baik-baik saja, kau jaga saja di luar aku baik-baik saja aku sedang kesal saja makanya aku berteriak jangan sampai Sean kabur dan jangan sampai dia bunuh diri, awasi dia terus-menerus aku ingin menyiksa Sean perlahan-lahan jangan sampai dia mati dengan tenang"
"Baik tuan "
Zack menutup pintu dan meninggalkan tuannya sendirian, Adi mengusap wajahnya, kenapa begitu sulitnya berbicara seperti itu pada Bella, bahkan saat dulu dirinya mengatakan kepada Bella kalau dirinya mencintainua detak jantungnya begitu berdebar-debar dan rasanya akan copot saja.
"
"Nih makananmu, cepat makan dan jangan rewel " ucap anak buah Adi
Sean menatap makanan itu, hanya nasi dan telur saja dan tadi dilempar otomatis kotor lah gila kan. Mana mungkin dirinya memakan itu.
"Kau membuat makananku kotor aku ingin yang baru dan ganti itu, aku tidak dudi memakan makanan kotor seperti itu"
"Tidak ada itu sudah jatahmu semuanya sudah kebagian jatah dan tidak akan ada lagi ganti-ganti makanan, makanlah yang ada kau ini sudah jadi tahanan tapi tetap saja mengomel, ayo maka yang ada"
Sean malah mendendangnya tak sudi dirinya memakan itu, sudah hanya makan seadanya lalu kotor menjijikan sekali.
"Hey tuan kenapa kau tidak memakannya"
Sean menatap ke sebelah sejak kapan ada orang "aku tidak mau aku tidak Sudi memakan itu"
"Seharusnya kau makan saja karena kita akan diberi makan satu kali dua hari, kau pasti akan kelaparan"
"Apa, apa Adi segila itu " ucap Sean yang kaget
__ADS_1
"Ya memang seperti itu makanya ayo Tuan makan, setelah itu kita tidak akan tahu hidup kita akan menjadi apa karena satu persatu orang yang ada di dalam jeruji besi ini yang menghianati Tuan Adi akan hilang. Dan aku juga tidak tahu kemana hilangnya orang-orang itu, jadi lebih baik kau makan itu ya jangan sia-siakan makanan di sini karena meskipun kau meraung raung kelaparan kau tidak akan diberi makan sebelum waktunya"
Sean diam, dirinya harus merencanakan pelarian dari sini, lalu membalas semua apa yang telah Adi lakukan dengan melakukan seperti ini juga, agar Adi tahu rasanya seperti apa.