
"Bagaimana Aliya perasaanmu sudah lebih baik"
Aliya menatap Galang yang duduk di sampingnya, mereka berdua sedang ada di kamar Aliya. Galang datang kemari saat mendengar Aliya pulang.
"Tidak tahu, perasaanku tidak membaik sama sekali. Aku sangat bingung dengan masalah ini. Apakah aku harus berterus terang semuanya tentang kecelakaan ini, kalau aku lah yang melakukan tabrak lari itu aku tidak sengaja melakukan itu. Sinta yang menyeberang tanpa lihat kanan kiri dulu, dia juga sama bersalahnya kan "
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ini bukan sepenuhnya salahmu "
"Tapi di sini aku sudah membuat Andaru benci padaku, aku sudah menghianati cintaku pada Andaru dengan membuat seolah-olah Andaru yang bersalah di sini. Bahkan saat tadi interogasi aku melemparkan semua masalah ini pada Andaru, jelas-jelas ini aku yang salah. Aku kehilangan akan kehilangan Andaru, aku tidak bisa dibenci oleh Andaru seperti ini "
Aliya malah menangis, Aliya berjalan ke arah meja belajarnya dan mengambil gunting "Apa yang ingin kamu lakukan. Jangan gegabah berikan gunting itu padaku"
"Lebih baik aku pergi saja, agar tidak ada yang tersakiti disini. Aku tidak mau Andaru sampai di penjara, nanti kamu beri penjelasan saja pada semua orang kalau akulah pelakunya. Aku lebih baik pergi saja daripada harus dibenci selama-lamanya oleh Andaru "
"Di sini masih ada aku, aku ada di sini bersamamu. Jangan gegabah kemari kan guntingnya "
"Tidak, tidak mau aku lelah hidup. Aku tidak akan pernah bisa hidup tanpa Andaru. Aku tidak akan pernah bisa hidup bahagia tanpa Andaru, aku akan lemah tanpanya "
Galang dengan mudah merampas gunting itu dan melemparkannya keluar jendela "Masih ada aku di sini. Aku di sini sangat mencintaimu apakah kamu tidak melihat cintaku ini"
Aliya mengelengkan kepalanya "Jangan berbohong padaku, jangan main-main denganku Galang kamu adalah satu-satunya orang yang aku punya sekarang, satu-satunya orang yang peduli padaku. Jangan seperti itu untuk membuatku bahagia. Jangan mencintaiku, aku tidak pantas untuk dicintai oleh siapapun"
Galang memeluk Aliya dengan erat "Tapi aku memang mencintaimu. Aku mengatakan yang sejujurnya, dari dulu aku sudah menyimpan rasa cinta ini padamu tapi kamu malah terus saja mengejar Andaru, sampai kapan kamu akan mengejarnya hah. Sampai kapan aku mengejarmu, semuanya ada batas waktu untuk seseorang mengejar orang yang dicintainya"
Aliya melepaskan pelukan Galang, dia menatap mata Galang dan berkata "Ini hanya sebuah perasaan yang datang tiba-tiba saja, aku tahu mungkin sekarang kamu mencintaiku, ingin mengungkapkan perasaanmu padaku, ingin melindungiku untuk menjadi pacarku, tapi setelah kamu mendapatkan aku pasti kamu akan pelan-pelan melupakan aku seperti Andaru, tidak mencintaiku lagi. Tolong jangan lakukan itu aku tidak punya siapa-siapa lagi hanya kamu yang ada di sampingku, selama ini hanya kamu yang selalu mendukung apa yang aku lakukan"
"Aku berkata jujur aku tidak akan pernah melakukan itu. Aku tidak akan pernah mengecewakanmu, aku akan selalu ada disampingmu dan aku akan selalu mencintaimu. Aku sudah menyimpan rasa cinta ini dari dulu Aliya dari semenjak kita kecil"
"Aku tahu kamu yang selalu ada untukku saat kecil Galang, tapi tidak seharusnya kamu mencintaiku. Aku tahu kamu selalu ada saat aku sakit, saat aku dimarahi oleh kedua orang tuaku saat Kakakku sedang menyiksaku ataupun apapun itu kamu selalu ada untukku, tapi jangan mencintaiku. Aku tidak mau pertemanan kita hancur karena sebuah kata cinta saja, aku tidak mau itu tolong jangan seperti ini"
"Beri aku kesempatan, aku akan membuktikan semuanya padamu kalau aku memang mencintaimu. Aku memang tulus mencintaimu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu"
"Stop Galang, stop jangan bilang lagi jangan berkata seperti itu lagi kita tidak boleh ada hubungan apa-apa aku tidak mau itu sampai terjadi"
Aliya melangkah ke pojokan tempat tidur dan menangis lagi di sana. Dia tak menyangka kalau Galang selama ini menyimpan rasa pada dirinya.
Dirinya tidak mau Galang mempunyai rasa padanya, yang ada nanti malah kacau sekarang saja persahabatannya dengan Andaru hancur karena sebuah cinta, karena sebuah perasaan.
"Lebih baik kamu pergi saja dari sini Galang. Terima kasih karena kamu mau menghiburku "
"Aku sangat mencintaimu Aliya. Jangan egois aku memang benar-benar mencintaimu"
__ADS_1
"Tolong jangan katakan itu lagi. Tolong jangan berbicara itu lagi aku tidak bisa bersamamu. Tolong keluar dari kamarku. Tolong jangan membuatku makin merasa bersalah di sini, aku tidak mau persahabatan kita hancur tolong mengertilah Galang"
Tanpa banyak bicara lagi Galang mengambil tasnya dan dia membanting pintu dengan keras saat keluar. Aliya menangis sejadi-jadinya rasanya sangat menyakitkan ditinggalkan oleh laki-laki yang dicintainya lalu sekarang sahabatnya yang kecewa.
Dirinya tidak mau mengulangi apa yang pernah dirinya lakukan, sekarang dirinya sudah sangat tergantung pada Andaru, cintanya terlalu dalam pada Andaru sampai-sampai dirinya tidak bisa keluar dari rasa cinta itu.
...----------------...
Andaru datang kerumah Paman Dion bersama Aksa dan juga Cempaka "Lebih baik kamu Cempaka diam saja di dalam mobil, biarkan aku Andaru yang keluar kamu di sini saja nanti yang ada kamu malah disalahkan oleh dia"
"Baiklah, aku akan tunggu kalian berdua di sini coba tanya baik-baik jangan pakai emosi ya"
"Tentu kami akan bertanya baik-baik"
Mereka berdua keluar berdua, mengetuk pintu rumah paman Dion dan dia langsung keluar. Paman Dion kaget saat melihat Andaru ada di sini. Apalagi ada dua sangat membingungkan.
"Ada apa kalian berdua ada di sini, bukannya seharusnya dipenjara. Kamu adalah orang yang telah menabrak Sinta. Kenapa masih bebas berkeliaran seperti ini ?"
"Aku tidak pernah melakukan itu, kamu yang telah melakukan ini kan menjebak aku dengan menyimpan semua sidik jariku, dapat dari mana kamu sidik jariku sampai-sampai bisa melakukan ini dan kamu juga sudah memeras uang orang lain apakah itu baik"
Paman Dion malah mendorong Andaru. Dia memanggil semua warga "Hei hei kemarilah datang kemarilah, ini adalah orang yang tabrak lari itu dia adalah orang yang telah menabrak Sinta. Kemarilah datang-datang kemarilah cepat lihatlah orang ini"
"Tidak usah mengelak lagi, jelas-jelas kamu yang telah melakukan itu, terus saja mengelak tidak pernah mengaku, kamu itu adalah pelaku sebenarnya jangan terus mengelak. Lihatlah dia tidak tahu malu datang kemari ke sini dan berbicara padaku menuduh yang tidak-tidak. Lihatlah dia"
Orang-orang sudah keluar, bahkan membicarakan Andaru. Aksa yang geram langsung mendorong paman Dion "Jangan kamu mengotori otak mereka dengan kata-katamu yang busuk itu, sudah jelas-jelas kamu yang telah melakukan ini. Kamu sudah menjebak kakakku dasar laki-laki licik, kamu tahu tentang masalah ini. Tapi kamu menyimpan semuanya untuk kamu jual"
"Lihatlah lihatlah dia tidak sopan padaku. Bahkan dia mendorong ku seperti itu, apakah baik anak sekolah mendorong orang tua seperti aku seperti ini. Lihatlah mereka berdua adalah pelakunya, makanya mereka marah-marah padaku. Padahal aku ingin keadilan untuk keluarga kita Sinta, untuk tetangga kita Shinta tapi dia malah seperti ini dasar penjahat tak mau mengaku "
Nenek Sinta yang juga mendengar teriakan itu langsung keluar "Siapa-siapa, apakah dia pelakunya. Apakah dia pelakunya. Kenapa kamu melakukan itu pada cucuku, kamu tidak bertanggung jawab. Lihatlah cucuku sekarang tidak bisa berjalan, kenapa kamu tidak mengakui kesalahanmu "
"Ini semua salah faham. Ini semua tidak benar ini adalah kelakuannya dia, dia telah memfitnah aku" teriak Andaru sambil menunjuk paman Dion.
Tapi orang-orang malah terus saja berbicara, mereka terus saja mengolok Andaru, menyalakan Andaru bahkan sampai ada yang mendorong Andaru. Untung saja di sana ada Aksa yang menahannya. Cempaka yang melihat semua itu langsung keluar dari dalam mobil.
"Kamu sudah membuat cucuku seperti itu. Kamu tidak bertanggung jawab anak muda seharusnya dari awal kamu bertanggung jawab atas semua itu, bukannya diam saja dan menunggu polisi untuk menjemputmu"
"Aku tidak pernah bersalah dalam masalah ini, aku sini untuk mencari keadilan di sini aku yang dijebak. Aku dijebak oleh laki-laki tua ini "
Sinta yang dibantu keluar oleh tetangganya segera menatap mereka,lalu berteriak sekencang-kencangnya "Diam semuanya, diam di sana bukan Andaru yang salah, semuanya diam Andaru adalah teman sekolahku, dia tidak mungkin melakukan itu. Jadi kalian jangan gegabah menuduh orang lain seperti itu"
Semua orang langsung diam tidak ada yang bicara, neneknya Sinta bahkan sudah sangat lemas dia sampai di papah oleh warga-warga yang lain. Aina yang memang dekat rumahnya di sana segera memberikannya air minum.
__ADS_1
"Andaru tidak bersalah. Dia adalah orang baik, mana mungkin dia melakukan itu aku tahu bagaimana sifat sikap Andaru. Jadi jangan gegabah bubar lah jangan membuat masalah"
Orang-orang langsung saja bubar bahkan Pamana Dion pun pergi. Dia sangat ketakutan kalau semuanya sampai terbongkar bisa habis dirinya.
Cempaka juga hanya diam saja menatap Sinta yang membela kakaknya, sebegitu pedulinya dia pada kakaknya.
"Maafkan tentang tetanggaku yang seperti itu, mereka memang tidak tahu apa-apa makanya mereka langsung menghakimi mu, langsung seperti itu. Aku meminta maaf atas nama mereka"
Andaru masih saja diam, dia memijat kepalanya. Kenapa menjadi rumit seperti ini, ingin mencari keadilan sendiri malah dituduh seperti ini oleh mereka semua.
Sepertinya memang Dion itu orang yang licik, dia tidak bisa dikalahkan dengan cepat harus dengan uang mungkin dikalahkannya atau mungkin dengan ayahnya saja. Tidak tidak jangan sampai dirinya meminta bantuan pada ayahnya.
"Kamu mau kan memaafkan mereka, jangan marah padaku ya"
"Aku tidak marah padamu, aku disini sedang mencari keadilan saja, di sini aku tidak bersalah tapi aku dituntut bersalah"
"Ini pasti Ayu pelakunya, dia pasti yang telah melaporkan mu ke kantor polisi "tunjuk Sinta sambil menatap Ayu yang ada di belakang Andaru.
Andaru yang sudah pusing dengan pertengkaran Sinta dan juga adiknya , memegang kursi roda Sinta dengan erat "Cukup jangan terus salahkan adikku, dia adalah adik kandungku dia adalah saudara kembarku. Namanya bukan Ayu dia adalah Cempaka, mungkin baru sedikit orang yang tahu karena itu kemauannya. Jangan terus salahkan adikku, di sini bukan dia yang bersalah. Di sini dia mencari keadilan untukmu Sinta. Tolong jangan selalu menyudutkan adikku dalam segala hal dalam segala masalah"
Andaru menegakkan kembali badannya "Mungkin dari awal kamu sudah terlalu berharap padaku, tapi kamu sudah tahu kan semua kebenarannya kalau semua yang melakukan itu adalah Galang bukan aku. Maafkan teman-temanku juga yang telah mempermainkanmu seperti itu ya, intinya kamu jangan terus-menerus menyalahkan adikku dia berjuang mati-matian untuk keadilan mu, tapi kamu tidak menghargainya. Tolong hargailah apa yang dia lakukan jangan terus membuatnya kecewa dengan kata-katamu itu"
"Terima kasih karena kamu telah menolong ku hari ini, bantuanmu sangat membantuku untuk lepas dari para tetangga yang tadi terus memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya tidak usah aku jawab. Karena bukan aku pelakunya di sini"
Andaru menarik tangan Aksa dan juga Cempaka yang masih diam di sana. Mereka pulang meninggalkan tempat itu, selama di perjalanan juga Andaru hanya diam saja memikirkan bagaimana caranya dirinya agar bisa menang dalam sidang nanti.
Kalau misalnya dirinya mengatakan pelakunya adalah Aliya pasti Galang tidak akan pernah mau menjadi saksi, dia pasti akan terus membela Aliya. Dirinya di sini sendirian dan Adiknya juga pasti mau menjadi saksi tapi tidak ada bukti juga.
Bagaimana ini kalau Ayahnya tahu, pasti habis dirinya ayahnya tidak akan pernah mengampuninya kalau sampai tahu tentang masalah ini, berurusan dengan Polisi itu sangat dijauhi oleh ayahnya tapi dirinya malah berurusan dengan Polisi.
...----------------...
Lagi-lagi Sinta hanya bisa meneteskan air matanya "Ternyata pembelaanku tidak berguna ya, Andaru apa kamu tidak bisa mencintaiku, kenapa kamu tetap saja membela Ayu. Bahkan dia juga mengatakan kalau Ayu adalah adiknya, hidup ini sangat rumit sekali"
Sinta membawa kursi rodanya ke dalam rumah. Dia tidak memperdulikan neneknya yang sedang tidak sadarkan diri dan sekarang ada di rumah Aina. Dia malah pulang ke rumahnya sendirian.
Sinta masuk ke dalam kamar dan menatap foto Andaru yang selalu terpampang di dalam lemarinya "Sebenarnya apa aku harus berubah seperti Ayu dulu agar kamu mencintaiku Andaru. Apakah aku harus seperti itu dulu baru kamu mencintaiku, baru kamu menerimaku, baru kamu mau bersamaku apakah harus seperti itu dulu"
"Apakah sulit mencintai aku, padahal aku selalu baik padamu. Aku selalu membelamu bahkan aku mengesampingkan tentang kecelakaan itu demi menyelamatkanmu. Aku di sini tidak tahu siapa yang salah dan siapa yang benar tapi di sini aku membelamu Andaru, aku tidak memperdulikan kasusku itu, aku hanya peduli padamu. Aku tidak mau kamu dipenjara"
"Aku mau kamu selalu ada di sampingku. Tapi semua itu mustahil kamu tidak akan pernah ada disampingku sampai kapanpun, kamu malah terus ada bersama Ayu, kamu bersamanya terus menerus tanpa memikirkan perasaanku. Aku begitu menginginkan mu Andaru "
__ADS_1