Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia

Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia
Bab 299 Kemunduran sang pelindung


__ADS_3

"Kamu tidak akan menungguku lagi Cempaka "


"Aku harus sekolah Andaru, kamu tahu sendiri kan, kamu juga hari ini pulang kan nanti juga kita akan bertemu di rumah"


"Tapi, sehari saja kamu bolos untukku hanya sehari Cempaka"


"Tidak bisa, kamu pulang sama mamah nanti ya, aku ga bisa bolos. Aku pengen terus masuk sekolah. Tenang aja aku ga akan kabur kok "


"Peluk "


Cempaka malah memasang wajah curiganya. Aksa yang ada disamping adiknya mengusap wajahnya "Peluk saja dia kakakmu "


"Aksa kamu membuat bedakku luntur "


"Hemm, pantes saja tangan ku ini putih ternyata bedak dari wajahmu "


Cempaka memukul bahu Aksa dan memeluk Andaru cukup lama "Sudah aku mau berangkat dengan Bianca, dadah semuanya "


Cempaka langsung berlari dari ruangan Andaru. Cepat-cepat mendekati Bianca yang sudah menunggunya diluar.


"Kamu juga Aksa akan pergi kesekolah "


"Tentu saja aku harus pergi ke sekolah, kamu di sini kan sama Mama nanti. Mama cuman pergi sebentar nanti juga dia balik lagi"


"Hemm "


"Mau dipeluk juga "


"Ogah "


"Yaelah sama cewek aja mau dipeluk, giliran gue adik lo juga tapi lo ga mau gue peluk"


"Beda "


Tapi Aksa yang memang jahil malah memeluk kakaknya Andaru dengan erat, sampai-sampai Andaru berteriak. Karena bukan saja dipeluk tapi juga dicium.


"Sialan awas ya, tangan gue sembuh habis lo"


Aksa malah tertawa dan keluar dari ruangan kakaknya yang menyebalkan itu. Biar saja Andaru marah yang terpenting hatinya puas membuat Andaru marah.


Sedangkan Paman Dion yang sudah muak dengan kelakukan kepala sekolah dan tuan tuan menyebalkan itu akan segera bergerak.


"Kalian tidak bisa mempermainkan ku, aku akan bergerak. Enak sekali kalian mengancam saudaraku bahkan kalian berani melukainya "


Paman Dion keluar dari rumahnya, dia sudah memakai pakaian rapih. Akan memata-matai s pelaku yang sudah dirinya ketahui.


...----------------...


Aliya melihat Sinta yang keluar dari kamarnya, dia hanya duduk dan diam saja. Sinta yang sudah dekat dengan Sinta langsung berbicara apa yang ingin dia bicarakan dari tadi.


"Aku sudah siap. Bisakah kita ke rumah sakit dulu untuk melihat Andaru, kudengar Ayu menunggu Andaru di rumah sakit"


"Tidak usah lah, kita langsung ke sekolah saja"


"Hanya sebentar mungkin tidak apa-apa melewatkan satu pelajaran. Aku ingin melihat keadaan Andaru "


Aliya langsung merubah ekspresinya menjadi menyeramkan, menatap Sinta dengan sinis "Kamu ini seperti pacarnya Andaru saja "


"Tidak bukan begitu, Andaru kan pernah kemari melihat keadaan ku. Aku hanya ingin melihat keadaanya juga ya hitung-hitung hutang budi"


"Andaru baik-baik saja. Aku sebagai pacarnya sudah datang ke sana dan sekarang aku memberikan informasi padamu, jadi kau tidak usah datang ke sana"


"Hemm, baiklah "


"Sekarang kita harus fokus untuk menghancurkan Ayu. Kamu tahu kan tujuan awal kita itu apa jangan melenceng ke mana-mana dulu, kamu juga jangan terlalu dekat dengan pacarku Andaru dia hanya milikku tidak akan pernah bersama siapapun selain aku "


Lagi-lagi Sinta hanya diam saja. Tak berani membantah kata-kata dari Aliya. Untung sekarang dirinya hanya perlu diam saja dan tak banyak bicara.


...----------------...


Sesuai apa kata-kata dari Bu Bahar dan juga Pak Renaldi mereka berkumpul di lapangan. Meski ada yang masih berkumpul ditempat lain.


Seperti Galang, dia dan teman-temannya hanya melihat dari kejauhan "Ada apa lagi ini, apakah belum selesai juga "


"Entahlah menyebalkan sekali dua guru itu "

__ADS_1


Bu Bahar yang melihat Pak kepala sekolah datang langsung tersenyum "Selamat pagi Pak"


"Pagi Bu Bahar "


"Pak biar aku jelaskan, kenapa di lapangan ini ada sebuah kaca besar, kami akan_ "


"Lakukan saja apa yang kalian mau. Aku tidak peduli"


Pak kepala sekolah langsung saja masuk kedalam sekolah, sedangkan Bu Bahar malah jadi binggung ada apa dengan kepala sekolah. Biasanya dia ingin selalu tahu.


"Baiklah kemari berkumpul kenapa kalian malah diam disana, ayo kemarilah jangan sungkan-sungkan "


Mereka segera berkumpul, pak Renaldi menatap semua muridnya meski ada beberapa yang belum datang tapi tak masalah.


"Baiklah kalian lihat kan di depan kalian semua ada kaca besar dan kalian bisa mengungkapkan sesuatu yang selama ini kalian pendam. Aku disini tidak mau ada pembulian lagi, karena menurutku orang yang membully itu adalah orang yang lemah"


Pak Renaldi segera berdiri menghadap kearah kaca "Aku kasih contoh. Aku adalah Renaldi guru bahasa Indonesia disekolah ini. Mungkin kalian tidak tahu kalau aku ini pernah akan dikeluarkan dari sekolah dan aku sangat takut sekali tapi aku bisa menanganinya dan kembali mengajar"


Sengaja Pak Renaldi melakukan itu, agar muridnya jujur tentang pembullyan yang pernah mereka lakukan pada teman-temannya.


"Siapa yang akan mencoba " tanya Pak Renaldi


Alex langsung maju "Aku ingin mencoba Pak "


"Silahkan "


"Aku Alex, mulai sekarang aku tidak akan kalah. Aku tidak akan menurut lagi "


Galang yang mendengar itu malah menahan tawanya, Galang sampai meledek Alex "Sudah Pak "


Alex mundur dan menatap teman-temannya yang hanya diam saja "Baiklah siapa lagi yang akan mencobanya "


"Saya Pak "


Galang maju dan menatap wajahnya sendiri "Baiklah aku akan mengakui sesuatu. Sebenarnya aku matanya buram, tidak bisa melihat kalau aku tidak menggunakan kontak lens, kalau aku memakai kacamata aku akan sangat malu tapi itu bohong" Galang langsung tertawa diikuti oleh teman-temannya.


"Hei kita sedang tidak main-main " teriak Pak Renaldi


"Ada yang mau lagi " mereka semua diam.


"Kenapa kita tidak mencobanya pada ibu pengacara saja Pak"


Pak Renaldi langsung menyuruh Cempaka mendekat kearahnya "Kemari Ayu, kemarilah "


Aksa langsung mengandeng adiknya dan mendekati mereka semua. Aliya juga sama bergabung dengan yang lain.


"Kamu bisa mengungkapkan sesuatu disini Ayu "


Ayu diam saja, masih menatap kaca itu, tapi Aliya langsung menyela " Baiklah biar aku yang berbicara, Ayu adalah perebut pacar orang, yang gatal pada pacar orang dan hanya bisa menggoda pacarku saja"


"Siapa yang merebut pacar orang, yang aku tahu kalian sudah putus dan kalian tidak ada hubungan lagi. Jangan terus mengaku-ngaku dasar tidak tahu malu "


"Jangan bawa masalah pribadi kalian disini " ucap Pak Renaldi mencoba untuk melerai mereka.


"Lebih baik kalian semua bubar, untuk apa mau mengikuti pelajaran seperti ini tidak ada gunanya juga" setelah mengatakan itu Aliya pergi diikuti oleh teman-temannya.


"Kalian ini mau ke mana, pelajaran belum selesai kembali kemari"teriak Bu Bahar yang marah.


"Sudah Bu tidak penting "jawab Abigail yang mengikuti Aliya.


Sinta sendiri dia hanya diam saja disana. Dia tak mengikuti Aliya. Bahkan Aliya juga tidak memperdulikannya.


Aliya meninggalkan Sinta begitu saja. Sinta yang kebingungan hanya bisa diam dan tak bertanya pada teman-temanya.


Cempaka juga hanya menatap Sinta saja, tak ada niatan untuk mendekatinya atau menyapa Sinta. Aksa menarik tangan adiknya dan membawanya duduk tak jauh dari guru-guru mereka dan juga teman-teman meraka.


"Kalau tahu begini aku tak akan masuk sekolah "


"Sudahlah hadapi saja. Jangan mengeluh seperti itu "


"Aku kesal saja dengan tingkah Aliya yang terus saja semena-mena "


"Yang sabar, nanti juga dia akan malu sendiri "


"Hemm "

__ADS_1


"Yang dikursi roda itu bukannya temanmu "


"Iya "


"Lalu kenapa kamu tidak mendekatinya, sepertinya dia sangat kesepian "


"Biarkan saja, dia sedang dekat dengan Aliya aku tidak mau menganggu, biar dia sadar dulu saja sendiri. Kalau dia masih menganggap ku sahabat dia akan kembali lagi padaku. Sudah lelah aku mengemis terus padanya "


Aksa memeluk Cempaka dari samping, teman-teman meraka langsung menatap aneh pada Cempaka. Kenapa bisa Aksa yang super dingin dan pendiam bisa sedekat itu dengan Ayu.


...----------------...


Sedangkan Pak kepala sekolah dia sedang membereskan barang-barangnya, mulai sekarang dia akan keluar sudah pusing dengan perintah yang diberikan oleh ayahnya Aliya yang terus saja menyuruh dirinya melindungi Aliya.


Memang belum bicara pada Tuan Adi, tapi setelah disini dirinya akan bicara dan menemui Tuan Adi kenapa dirinya bisa keluar dan mengatakan seluruhnya pada Tuan Adi.


Brak pintu ruangan Pak kepala sekolah dibuka dengan keras, Pak kepala sekolah hanya menatap anak didinya itu.


"Apakah kamu tidak melihat. Apa yang dilakukan oleh kedua guru itu, seharusnya kamu bertindak bukannya diam saja di sini"


"Untuk apa, aku membiarkan mereka untuk bebas, mulai sekarang aku akan mengundurkan diri aku tidak akan ada di sekolah ini lagi dan mungkin kamu bisa memanfaatkan kepala sekolah yang lain bersama ayahmu. Aku mundur dan tidak akan pernah datang lagi kemarin, aku sudah lelah dan aku juga sudah tua. Sudah saatnya aku pensiun"


"Apa yang kamu katakan, jangan bercanda seperti ini"


"Semuanya sudah ketahuan, bahkan pamannya Budi sudah tahu siapa pelakunya, dia merekam saat motor-motor kalian masuk ke sekolah. Terutama punya dirimu. Karena kesalahanmu aku harus selalu melindungimu, perintah dari Ayahmu itu. Tapi mulai sekarang aku tidak akan pernah melindungimu lagi. Kamu adalah pelaku dari tabrak lari itu Aliya. Seharusnya dari awal kamu itu menyerahkan dirimu ke kantor polisi, tidak bersembunyi seperti ini. Kalau Tuan Adi tahu mungkin kamu akan dikeluarkan dari sekolah ini"


"Apa jangan main-main " Aliya sudah sangat ketakutan bagaimana ini.


"Ayahmu akan sendiri, aku tidak akan membantunya lagi maka sekarang pergilah dan aku tidak akan ikut campur lagi masalah kalian. Aku sudah tidak tahan diperbudak oleh kalian berdua lebih baik kamu urus saja masalahmu sendiri"


"Tidak mungkin "


"Apa yang tidak mungkin ? "


Aliya langsung saja pergi dari hadapan Pak kepala sekolah, Aliya mencari Galang dan membuka pintu kamar mandi laki-laki ternyata benar. Galang ada disana bersama teman-temanya.


"Ada apa Aliya. Ini kamar mandi laki-laki apa kamu salah masuk "ucap salah satu teman dari Galang


"Sudah kalian semua keluar keluar keluar sana keluar "orang di sana keluar kecuali Galang.


"Ada apa denganmu ini "tanya Galang setelah teman-temannya keluar.


"Semuanya sudah hancur, kepala sekolah mengundurkan diri dan dia tidak akan ada lagi di sekolah ini. Kamu tahu pamannya Budi itu sudah mengetahui kalau orang yang telah menabrak perempuan lumpuh itu adalah aku, semua gara-gara kamu Galang kalau saja kamu tidak menyuruhku menggunakan motor itu mencobanya dan ikut kalian mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi"


"Hei hei kenapa menyalakan aku, lebih baik kita cari solusinya bukan kamu terus menyalahkanku atau kamu suruh ayahmu saja. Bukannya Ayahmu yang terus menutupi kasus ini kan dari dulu"


"Enak sekali kamu bicara, aku harus mati-matian meminta perlindungan dari Papiku. Lebih baik sekarang kamu yang bekerja dan meminta bantuan pada ayahmu sendiri aku lelah. Aku tidak mau dipenjara ya, aku tidak mau Galang "


"Sudah sudah kita cari cara, kita cari cara bagaimana menutup kasus ini lagi tanpa ada orang yang tahu. Aku akan berfikir lagi "


"Pikirkan caranya yang terbaik, kita tak akan bisa memanfaatkan kepala sekolah itu lagi. Aku takut kalau dia mengadu pada ayahnya Andaru bisa habis aku. Aku tidak mau hubungan aku dan keluarga Andaru malah jadi buruk"


"Tidak usah takut, saat kita menabrak Sinta mereka semua ada dan kamu juga memakai helm Andarukan, pasti polis juga akan mencari helm itu kamu tidak usah takut. Kamu tidak akan dituduh. Yang ada Andaru yang akan dituduh nantinya"


"Tetap saja dari perawakannya bisa ketahuan, kamu ini bodoh apa bagaimana sih Galang "


"Kamu hanya perlu percaya padaku saja, sudah jangan seperti ini aku yakin semuanya akan baik-baik saja tidak usah khawatir ya"


Galang memeluk Aliya dengan erat, Aliya sudah sangat ketakutan tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Bagaimana ini apakah dirinya harus bicara lagi pada ayahnya. Apakah ayahnya akan marah.


Pintu dibuka kembali, ternyata itu Keisha yang ke sana dia menekuk wajahnya saat melihat Galang berpelukan dengan Aliya. Memang seperti ini tingkah mereka berdua dari dulu.


"Sepertinya para perempuan sekarang suka masuk kamar mandi laki-laki ya "celetuk Galang sambil melepaskan pelukannya dari Aliya.


"Sebenarnya juga aku tidak mau masuk ke sini, tapi karena kata teman-temanmu kalian ada di sini maka aku mencari kalian ke sini. Ayo cepat pergi ke lapangan lagi kita akan pergi ke tempat yang tak pernah kita datangi"


"Maksudnya apa ke mana" tanya Aliya yang sudah bisa mengendalikan dirinya.


"Aku juga tidak tahu, pokoknya kita harus pergi sekarang mereka sudah ada yang jalan sebagian kita hanya perlu menyusulnya saja"


Setelah mengatakan itu Keisha segera pergi meninggalkan mereka berdua. Galang dan juga Aliya pergi dari kamar mandi itu untuk mengikuti ke mana gurunya akan membawa mereka lagi.


Sekarang Aliya tidak bisa membantah lagi, orang yang selama ini melindunginya sudah mau keluar dari sekolah.


Saat mereka masuk ke dalam mobil dan pergi Paman Dion ada di sana dan mengikuti mereka berdua. Ingin tahu kemana pelaku itu pergi dirinya harus membalaskan apa yang pernah terjadi pada saudaranya Budi.

__ADS_1


__ADS_2