Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia

Menjadi Istri Kedua Seorang Mafia
Bab 196 Siapa mereka


__ADS_3

5 Tahun kemudian setelah kematian Cempaka.


"Jadi gimana nih kita balapan jadikan "


"Jadilah masa engga " jawab Andaru dengan sombong.


"Oke, kalau misalnya yang menang dapet apa nih " tanya Galang pada Andaru.


"Kalau misalnya yang menang, gue kasih nih motor kesayangan gue gimana-gimana mau ga "


"Beneran ga, nanti tiba-tiba ga dikasih lagi " jawab Aksa pada sang kakak


"Beneran Aksa, kamu ga percaya sama kakakmu sendiri"


"Percaya deh percaya, tapi kita gimana cara keluar dari rumah, kalau mama tahu kita habis balapan kayak gitu"


"Tenang aja Aksa kita nanti balapan sore oke, deal nggak sore, jangan malam deh pokoknya gue nggak mau buat mama gue lihat kalau gue balapan lagi. Bisa-bisa dia marah-marah dan nggak kasih gue uang jajan lagi"


"Siap anak mamah " teriak teman-teman Andaru dengan kompak.


"Sialan lo, yang penting mamah gue baik, ayo udah sekarang kita masuk kelas dulu "


"Iya iya ayo "


Mereka berbondong-bondong berjalan kearah kelas mereka. Datang seorang perempuan dengan dandanan modisnya mengandeng Andaru.


...----------------...


"Ayo joget Yu, kita sebentar lagi lulus yang heboh Ayu " .


"Hahaha iya sebentar lagi kita lulus Sin, aku senang banget "


Mereka berdua berjoget-joget dengan riang, mereka begitu bahagia dan sangat menikmati tarian mereka yang kesana kemari tak karuan.


"Eh eh Ayu kita udah telat ayo kita harus pergi sekolah"


"Masasih ini asik lo Sin, kita lagi asik "


"Iya nanti saja, ayo cepat "

__ADS_1


Sinta menarik tangan Ayu untuk pergi sekolah, mereka berdua berlari dengan riang seperti tak ada masalah sedikit pun.


Saat sampai sekolah Ayu dan juga Sinta langsung duduk di bangkunya " Lagi chat-an sama siapa Sin, kok serius banget sih. Nggak biasanya dapat gebetan baru ya"


Sinta menyimpan ponselnya dan tersenyum pada Ayu" Emm, enggak kok, nggak lagi deket sama siapa-siapa kok"


"Masa sih, tapi kok senyum-senyum sendiri sih Sin "


"Aku nanti mau sekolah di SMA Nusa Bangsa Merah Putih , pasti disana akan sangat menyenangkan "


"Kamu yakin Sinta, di sana tuh orang-orang elit semua. Memangnya kamu bisa masuk ke sana bukannya aku ngeremehin kamu Sin, aku tahu kamu pintar tapi kan di sana beda lingkungannya sama kita"


"Tenang aja, aku bisa beradaptasi di sana, pokoknya kamu juga harus masuk sana kita pakai beasiswa. Kita harus bisa punya nilai yang gede dan masuk sekolah itu. Kamu tahu sendiri kan SMA Nusa bangsa merah putih itu terkenal banget sama laki-lakinya yang ganteng-ganteng"


Ayu mendelikan matanya dan melipat tangannya " Jadi masuk sekolah SMA Nusa bangsa merah putih itu gara-gara laki-lakinya ganteng-ganteng, bukan karena pelajarannya nih. Apa kamu lagi deket sama laki-laki di sana sampai-sampai mau sekolah di sana Sin, ayolah jujur sama aku"


"Ya nggak juga sih, ya karena pelajarannya juga dan itu menjamin kita untuk sukses ke depannya. Nanti juga kamu bakal tahu kok"


"Kamu tuh malah bikin aku penasaran tahu "tiba-tiba saja pandangan Ayu tertuju pada sebuah pin yang tertempel di depan seragam Sinta. "Tunggu-tunggu ini bukannya pin sekolah SMA Nusa bangsa merah putih ya, dapat dari mana kan kamu aja belum masuk sana. Ih beneran deh ada yang disembunyiin kan dari aku kamu lagi dekat sama siapa Sinta nggak asik ah kamu mah"


"Pokoknya aku nggak lagi deket sama siapa-siapa ayu percaya sama aku "


Sinta malah tersenyum dan kembali mengambil ponselnya lalu fokus kembali membalas chat dari seseorang, Ayu yang mulai kesal dengan sahabatnya itu hanya bisa diam saja.


...----------------...


Ayu yang dari tadi dikacangin dari masuk sekolah sampai pulang, langsung merebut ponsel Sinta.


"Hayoo ini sama siapa "


Ayu mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi, Sinta yang tubuhnya tak setinggi Ayu mencoba untuk meraihnya.


"Ayolah Ayu jangan main-main kayak gitu ga lucu "


"Ambil aja kalau bisa, makanya jangan diemin aku kayak gitu. Kamu ini sama aku tuh kayak sama siapa aja kita tuh sahabat, tapi kamu nggak kasih tahu apa-apa sama aku. Padahal aku selalu ceritain apapun keadaan aku sama kamu dan lagi deket sama siapapun itu, tapi kamu sendiri nggak pernah cerita apa-apa sama aku. Tangkap aja ke sini kalau bisa"


Ayu menjulurkan lidahnya dan berlari menyebrang meninggalkan Sinta.


"Ayo sini Sinta ambil ponsel mu, kita lihat siapa pacar baru mu "

__ADS_1


"Ahh, jangan dong Ayu nanti juga aku kasih tahu ke kamu kok"


"ya udah makanya kata aku juga sini dong maju-maju jangan diam aja di situ , ambil hp-nya ayo sini-sini"


Sinta tanpa pikir panjang dan lihat kanan kiri langsung menyebrang, tiba-tiba saja gerombolan motor datang dan brak.


Ayu yang melihat Sinta ditabrak oleh salah satu motor itu syok, Ayu sampai melepaskan ponsel Sinta dari genggamannya.


Ayu melihat orang yang menabrak Sinta, tapi helm mereka menutupi wajah mereka. Hanya mata saja yang bertatapan dengan Ayu.


"Sintaaaaa " teriak Ayu dengan histeris.


Ayu berlari kearah Sinta, dan komplotan motor itu pergi begitu saja, para warga juga baru pada datang.


"Sinta bangun, maaf aku minta maaf, aku ga sengaja"


Ayu memangku kepala Sinta yang sudah penuh darah, apalagi kaki Sinta juga sudah penuh darah, Sinta sudah tersengal sengal, sekarang dari hidung dan mulut Sinta mengeluarkan darah.


"Sinta maafin aku "


Ayu memeluk kepala Sinta, Ayu melihat ada warga yang mengejar mengunakan sepeda motor.


"Tolong siapa saja telepon ambulans "


"Bangun Sinta aku minta maaf, aku minta maaf Sinta "


Tapi, Sinta sudah tak sadarkan diri, Ayu menguncang tubuh Sinta " Bangun Sinta maafin aku, aku minta maaf kalau aja aku tadi nggak main-main mungkin semua ini nggak akan pernah terjadi maafin aku"


Ambulans datang dan langsung menangani Sinta, ayu juga ikut masuk membawa sepatu, tas dan juga ponsel Sinta yang tadi terjatuh.


Selama didalam ambulans tak henti hentinya Ayu menangis dan mengenyam tangan Sinta dengan erat.


"Aku minta maaf Sinta, aku sungguh minta maaf jangan tinggalin aku, aku ga mau ditinggalin sama kamu "


"Aku emang bodoh, aku nggak mikirin ke depannya akan terjadi apa. Maafin aku karena aku yang ingin tahu tentang hubungan kamu malah buat kamu celaka kayak gini, kalau aja aku tadi nggak rebut ponsel kamu mungkin semua ini nggak pernah terjadi, maafin aku Sinta maaf"


Ayu memeluk setengah tubuh Sinta dan menangis kembali, bahkan sekarang sampai menjerit memangil manggil nama Sinta.


Hallo semuanya, makasih yang udah pada baca novel ku ini. Tadinya aku mau buat yang keduanya tentang anak-anak Bella terpisah. Tapi, jadinya aku gabung aja disini semoga kalian suka.

__ADS_1


__ADS_2